Sunday, May 22, 2011

Nasihat Bijak Seorang Sahabat

Kau and aku gak beda banyak dalam perkara relationship. Halangan terbesar, khususnya kita laki-laki, masalah ego/pride/arrogance, especially waktu kita salah. Kita gak mo ngaku. But the true test of being a real gentleman kalo kita bisa humble ourselves, admit we're wrong and say I'm sorry. Bro, luangkan waktu lebih dlm doa dan menyembah, minta Tuhan tunjukkan waktu yg tepat tuk bertemu dgn Livia dan mohon Tuhan lembutkan hati bukan hanya hati Livia and hati kau juga.

Kalian berdua terluka sama dalamnya, walau kita sebagai laki-laki mungkin menyangkal, tapi bayangkan peranko/stamp dan amplop/envelope yg sudah dilekatkan begitu rupa, waktu dikoyakkan, keduanya terkoyak sama parahnya. So, it's very simple, bro. Don't make it more complicated than it already is. Kamu berdua emang marah, jengkel, emosi, dll. Tapi di atas segalanya, kalian berdua saling cinta. Kalau tidak, maka gak akan marah atau jengkel. Tapi cinta yg begitu besar di antara kalian yg bikin marah dan jengkel begitu besar pula.

The challenge is, look beyond the negative and hang on the positive that really matter. Tak ada pernikahan yg takkan diuji dgn isu perselingkuhan. Dan pernikahan yg realistis bukanlah pernikahan yg tidak pernah ada selingkuh tetapi pernikahan yg melewati lembah perselingkuhan dan menjadi pernikahan yg lebih kokoh. Aku blom menikah tapi bisa berkata demikian krn pengalaman intim dgn Tuhan. Hubungan realitis dgn Tuhan bukanlah hubungan tanpa dosa setelah keputusan utk bertobat. Tapi hubungan intim yg realistis dgn Tuhan itu diwarnai dgn banyak perbantahan dan kemurtadan yg tak berbeda dgn perselingkuhan antara suami dan istri. Tapi setiap kali kita murtad dan kembali, satu hal terjadi, hubungan intim dgn Tuhan itu semakin kuat. Kita semakin menyadari betapa cintanya Tuhan dgn kita, dan tak ada suatu kemurtadan yg bisa buat Tuhan tidak cinta dgn kita. So same thing with marriage.

Set your eyes on what really matter. Everything else is just a distraction from devil to destroy and prevent the perfect plan and will of God to happen in your blessed and happy marriage life. And that's what happened in the first place, aku berani yakin selingkuh ini besar kemungkinannya berawal dari kau kehilangan arah dan tujuan in what REALLY matters in LIFE & MARRIAGE that led you to selingkuh. Dan iblis tak perlu waktu panjang. Kasus kau tak banyak beda dgn Daud-Betsyeba. Hanya perkara DETIK, bukan jam/hari/bulan, buat kita jatuh dlm dosa bentuk apapun.

Expect miracle and you will receive it, also don't forget to ask for guidance from the Lord and comfort while enduring this turbulent period in your NORMAL, REALISTIC MARRIAGE.

Last thing, don't feel that you fail. Selingkuh itu normal dan wajar tuk terjadi, tak perlu digembar-gemborkan, NEEDLESS TO OVERRATE. Semakin kita anggap besar selingkuh itu, semakin rumit penyelesaiannya. Namun tidak berarti, it's okay to selingkuh. Don't get me wrong, IT'S NOT OKAY but selingkuh does not make you less than a man or a bad husband. It does not define anything about you at all. Just look at it as 'THINGS HAPPEN'. You are a righteous man of God. You are a precious child of God. Nothing of your action will make God value you less or look down on you. You are FOREVER righteous, precious and priceless but NOT by any attribute of yours but by Christ's love and sacrifice on the cross. So keep that in your heart. You'll be fine and I'm looking forward to hear your happy resolution story. Take care and keep in touch.
 
Your LOVING brother, Zech

Wednesday, May 18, 2011

Urgent Message From Hyang Mi Moon - April 16, 2011

Vision from the Lord - Earthquake and Tsunami in California

Calamity coming to California! Repent!!!

After the nightly prayer services, we had a time of impartation in which we received and accumulated more fire from Pastor Kim, Yong Tae.

Pastor Kim, Yong Tae said a prayer over us for blessings and for deeper revelation. He asked that the word be revealed with more wisdom and prophecy.

Within a couple minutes, I saw a vision. I saw a yellowish golden colored street with gem stones. “It is heaven!!” I thought to myself. But in within that moment, my body flew up into the air and I was above California.

In front of my eyes, I was witnessing the scene of a horrific earthquake and tsunami. The calamity was overwhelming the state of California (But I am not sure if the initial earthquake is going to shake the whole state or parts of it). The scene included cliffs on the shore crumbling with buildings and trees being engulfed by water.

A great and fearful event was occurring right in front of my eyes. My flesh, soul, and spirit were shouting with one voice. “Noooooooo!!! Noooooooooooo!!!!” What was being shown to me was too great to bear. I could not do anything but scream. My whole being was screaming. As I screamed, my body and soul trembled in fear.

I saw people dying. They were dying in vain. I saw the empty stares of the people. They did not have time to scream. They died as they were swallowed by the tsunami. Some attempted to escape by car. Some were running to escape. I saw the horrible fearful expression on their faces and eyes. It was a melting pot of terror and pandemonium. Chaos began to reign.

The Love in His Heart emanated toward us and those who did not believe in Him. His Heart was torn into million pieces as it dripped blood. As the Lord held His blood dripping Heart, He said,
Above the horrific scene, I saw the Heart of Father God. His Heart was torn into a million pieces.

Full Message Click Here

Monday, May 9, 2011

Syarat-Syarat Memasuki Ruang Mahakudus & Mengalami Zaman Kemustahilan

Bahan Renungan: Yesaya 43:18-19

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Saat ini adalah sebuah zaman yang berbeda, waktu-waktu akhir, zaman porsi ganda untuk mempersiapkan umat Tuhan menghadapi kedatangan-Nya yang ke-2. Dan untuk momen super khusus tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menjadi perenungan bagi kita semua, supaya kita tidak saja menjadi penonton, namun terlibat bahkan penuntas dari segala sesuatu yang Tuhan rencanakan dari semula.

"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah memperhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!"

Syarat pertama untuk kita semua bisa menikmati segala sesuatu yang Tuhan sediakan saat ini adalah tidak lagi mengingat-ingat baik itu keberhasilan maupun kegagalan atas apapun yang terjadi terutama berkaitan dengan pelayanan kita. Keberhasilan di masa lalu hanya untuk kemuliaan nama-Nya, perkara-perkara yang akan terjadi di masa depan sangat mungkin berbeda dengan apa yang pernah kita alami dan lalui. Begitu pula kegagalan di masa lalu tidak boleh menyebabkan diri kita trauma untuk melangkah tanpa ragu bagi Dia.

Syarat yang kedua adalah tidak "memberhalakan" segala sesuatu yang sepertinya sudah menjadi "tradisi" terutama dalam ritual pelayanan kita. Tuhan adalah pribadi yang tanpa batas, sangat tidak layak untuk kita batasi oleh apapun yang biasanya sudah menjadi kebiasaan kita. Jalan yang terbaik adalah selalu berkonsultasi dengan Roh Penolong (pikiran Bapa sendiri) dan mentaati apapun yang dikatakan-Nya. Dan seperti biasanya apapun yang diperintahkan-Nya sering kali bertolak belakang dengan logika manusiawi kita. Kuncinya hanya iman yang tanpa ragu untuk mentaati tanpa mempertanyakan-Nya.

"Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara."

Syarat yang ketiga adalah memiliki mata setajam rajawali untuk melihat dengan ketepatan apapun yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. Melihat apapun peluang yang sudah Tuhan sediakan, bukan saja apa yang ada pada kita, melainkan juga apapun yang akan Tuhan berikan bagi kita. Untuk dapat melihat perkara-perkara adi kodrati ini, selayaknya orang percaya berdoa dan meminta dengan kerendahan hati dan kesungguhan untuk dapat melihat tepat sesuai yang Tuhan kehendaki untuk kita melihat.

Syarat yang keempat adalah memiliki kerendahan hati untuk dapat sealalu mengikuti ke manapun Tuhan melangkah. Tuhan membuat jalan di padang gurun, karena di padang gurunlah Tuhan hendak menggelar berbagai perkara. Jalan yang dibuat dengan langkah-langkah-Nya di padang gurun hanya dapat kita ikuti hanya dengan memperhatikan langkah-Nya setapak demi setapak tanpa melepaskan fokus kita kepada-Nya. Karena jejak di padang gurun hanya bertahan beberapa saat saja sebelum terhilang dihapus angin gurun. Dan diperlukan penundukkan diri yang seutuhnya agar dalam setiap langkah selalu menyenangkan hati-Nya.

Saturday, May 7, 2011

Jurnal SHRK Mei 2011 - Hari ke-3

Bahan Renungan: Kitab Yunus

Sesi kotbah didahului dengan penyampaian pesan oleh saudara Joshua (adik dari Stephen Timothy). Disampaikan beberapa poin penting mengenai Destiny, di antaranya adalah:

  • Bahwa Destiny tidak harus sesuatu yang besar, semua ditentukan sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan pribadi lepas pribadi. Ada yang memang direncanakan Tuhan untuk menjadi raja seperti Daud, Salomo, Yusuf. Ada juga sebagai nabi seperti Elia, Elisa, Musa. Ada juga sebagai pahlawan seperti Yonatan, Triwira Daud, Mordekhai. Namun ada pula yang berperan kecil seperti pembawa pedangnya Yonatan, Hakim Tola, Eliezer (hamba Abraham).
  • Bahwa Destiny membutuhkan proses sampai selesai dan berkesinambungan (tidak mengalami perhentian) hingga kita mencapai garis akhir seperti yang Tuhan tetapkan, dan proses itu bisa berlangsung hampir seumur hidup seseorang. Namun ada orang-orang yang berhasil menjalankan proses tersebut contohnya, Daud, Tuhan Yesus, Rasul Paulus. Dan ada pula yang gagal, contohnya ialah Saul, Esau, Kain.

Yunus Yang Jauh Dari Hadapan Tuhan

Nabi Yunus juga adalah orang percaya yang memiliki takdir ilahi dan tugas sebagai nabi. Namun ketika sebuah perintah Tuhan disampaikan kepadanya, ia malah sengaja tidak mentaatinya. Hal ini dilakukan berkenaan dengan keselamatan dari musuh bangsanya sendiri, orang Niniwe. Karena perintah Tuhan dirasa bertentangan dengan kepentingannya sendiri, ia lebih memilih untuk tidak melakukannya. Pelanggaran ini dihitung sebagai tindakan MENJAUH DARI HADIRAT TUHAN. Jadi sebuah pelanggaran perintah Tuhan yang dilakukan secara sadar dan sengaja menjadikan kita jauh dari hadirat-Nya. Itu sebabnya tidak ada seorang pun yang tahan berdiri di hadapan-Nya, jika hidupnya tidak penuh ketaatan. Kalimat "jauh dari hadapan Tuhan" disebutkan berkali-kali dalam kitab nabi Yunus ini. Dengan demikian Tuhan sangat memberi penekanan akan bahayanya jika seseorang MEMILIH untuk menjauh dari hadirat Tuhan, sama dengan Destiny, rela mentaati firman-Nya adalah sebuah PILIHAN.

Keadaan yang jauh dari hadapan Tuhan maupun ketika Roh Tuhan telah undur dari kehidupan seseorang adalah sebuah keadaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan orang percaya. Saul adalah sebuah contoh nyata bagaimana karena pelanggaran-pelanggarannya menyebabkan Roh Tuhan undur daripadanya dan berbagai serangan roh jahat juga menjadi akibatnya. Sementara orang benar, sekalipun jatuh namun akan tetap bertobat dan bangkit karena memiliki kesadaran, ketakutan bahkan kegentaran jika sampai dijauhkan dari hadapan Tuhan atau pun jika Roh Tuhan berpaling daripadanya.

Dengan demikian Tuhan hendak berkata bahwa Destiny orang percaya akan genap jika orang tersebut mengutamakan perkenanan Tuhan di atas segalanya. Orang yang berani bertindakan apa pun dan berani menghadapi keadaan yang bagaimana pun, asalkan Roh Tuhan tidak meninggalkannya. Hal ini dapat kita pelajari dari berbagai pahlawan iman seperti Yusuf, Daud, bahkan Tuhan Yesus sendiri.

Yunus Yang Diajar Atas Penentuan Tuhan

Setelah bertobat, dan menunaikan kewajibannya, sesuai dengan dugaan nabi Yunus dari semula, orang Niniwe merespon peringatan Tuhan dengan benar dan menyebabkan Tuhan menyesali rancangan kecelakanan yang dirancang Tuhan atas mereka. Pada praktiknya, nabi Yunus menjalani perintah Tuhan kepada orang Niniwe dengan hati yang masih belum sepenuhnya bertobat. Ia tetap mengeluhkan kehendak Tuhan  walau tetap menjalani perintah-Nya. Jadi ketaatannya adalah karena keterpaksaan, bukan  karena kerelaan dan atas dasar kasih kepada Tuhan. Itulah sebabnya ia tetap mengeluh ketika Tuhan membatalkan penghakiman atas orang Niniwe.

Dalam anugerah-Nya, Tuhan dengan kerendahan hati-Nya memberikan pengertian kepada nabi Yunus mengenai kehendak-Nya atas Niniwe. Melalui pengalaman pohon Jarak dan seekor ulat yang menghabisi pohon tersebut, Tuhan berharap Yunus mengerti maksud Tuhan dalam berbagai perkara yang bahkan kelihatan bertentangan dan mustahil bagi kita.

Memahami arti sebuah Destiny tidak terlepas dari segala sesuatu yang terjadi atas penentuan Tuhan. Takdir ilahi merupakan perkara Allah Bapa sendiri, oleh sebab itu penentuan Tuhan sendirilah yang berperan TUNGGAL. Tidak ada kemuliaan manusia maupun kemuliaan daging yang menjadi bagiannya. Sejalan dengan bertambahnya pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan, orang percaya makin menyadari bahwa segala sesuatunya hanya karena Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Itulah sebabnya penting bagi kita semua untuk memahami pribadi-Nya, selera-Nya, gaya-Nya bahkan pada titik tertentu bisa memahami mood-Nya. Penting bagi kita untuk benar-benar mengenal lebih dan lebih lagi akan Tuhan kita.

Jadi supaya Destiny kita tercapai, tetaplah memprioritaskan perkenanan Tuhan di dalam setiap perkara dan makin mengenal pribadi-Nya yang sejati.

Wednesday, May 4, 2011

Jurnal SHRK Mei 2011 - Hari ke-2

Bahan Renungan: Lukas 22:28-34; Yohanes 16:1-4

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kotbah hari ini disampaikan oleh Ev. Iin Tjipto, namun sebelumnya diawali dengan pelajaran mengenai 3 tingkat penyembahan oleh Pdt. Petrus Agung Purnomo. Ketiga tingkat penyembahan tersebut adalah sebagai berikut; tingkat pertama adalah yang menyentuh dan untuk membangun manusia rohani kita. Tingkat ke-dua adalah yang menyentuh hati manusia orang-orang di sekitar kita. Dan tingkat ke-tiga adalah yang mampu menyentuh mood dan hati Tuhan.

Topik SHRK kali ini masih berbicara tentang TAKDIR (Ilahi) yang ada pada setiap orang percaya. Syarat yang terutama bagi orang percaya yang memenuhi takdir ilahinya adalah TETAP TINGGAL dengan Tuhan dalam segala pencobaan yang juga Tuhan pernah alami. Inilah harga yang harus dibayar setiap orang percaya, karena secara umum takdir ilahi kita adalah makan minum semeja dengan-Nya dan duduk di atas takhta memerintah bersama dengan-Nya. Pertanyaannya apakah kita menyadari segala pencobaan yang pernah Tuhan Yesus alami? Dan RELAkah kita untuk tetap tinggal seberapapun beratnya? Hingga janji menjadi daging dan mimpi menjadi nyata. Atau kita akan lebih memilih kenyamanan daripada didikan Tuhan untuk menjadi besar?

Simon Petrus sebagai salah satu di antara orang percaya yang akan memenuhi takdir ilahinya saat itu mulai dituntut Iblis untuk menghadapi penampian, karena perkara takdir ilahi ini adalah perkara Allah Bapa sendiri - "Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku" - jadi ada syarat tertentu untuk dipenuhi setiap orang percaya karena berkaitan dengan hak-hak Kerajaan-Nya. Begitu pula bagi kita. Dan saat itu Tuhan Yesus berdoa meminta JAMINAN supaya imannya Simon Petrus tidak gugur. Perhatikan dengan cermat! Tuhan tidak meresponi tuntutan penampian dari Iblis dengan mencoba menjauhkan proses penampian tersebut dari Simon Petrus, melainkan mendoakan agar Simon Petrus tetap bertahan sampai kesudahannya. Jadi proses penampian Iblis  dengan takdir ilahi yang akan dicapai merupakan paket yang tak terpisahkan.

Orang percaya bisa memilih untuk tidak mengambil jalan memenuhi takdir ilahinya, bisa memilih untuk menjadi rakyat jelata di surga ketimbang memerintah bersama dengan Tuhan, supaya tidak mengalami proses penampian dari Iblis. Namun saat akhir zaman ini, siapapun yang tidak memenuhi takdir ilahinya tidak akan mengalami keterangkatan (rapture). Jadi melalui pesan hari ini Tuhan seperti hendak berkata, "Tuntaskan takdir ilahimu yang telah Kutetapkan, atau kamu akan tertinggal!"

Dan Tuhan memperingatkan dengan sangat keras untuk TIDAK menggunakan kekuatan diri sendiri untuk menghadapi proses penampian. Syaratnya adalah TETAP TINGGAL bersama dengan Tuhan (Roh Kudus). Manusia tidak ada yang sanggup menghadapi Iblis tanpa adanya kasih karunia Tuhan. Simon Petrus telah menjadi contoh, dan ia jatuh, namun di saat itulah jaminan Tuhan menguatkannya dan menjadikan ia sanggup.

Sekarang bagaimana kita menyikapi segala sesuatunya, karena TAKDIR adalah PILIHAN.

Cincin Meterai Yang Terlepas & Kekuasaan Yang Tersalurkan

Bahan Renungan: Ester 3 & 8

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kitab Ester adalah salah satu kitab yang sangat unik, di antaranya adalah tidak disebutkannya kata "Tuhan" di dalamnya, tokoh utamanya adalah seorang wanita (yang mencerminkan gambaran gereja-Nya), kisah percintaan yang unik dan indah. Walau tidak disebutkan kata "Tuhan" di dalamnya, namun bukan berarti tidak ada gambaran akan Tuhan dalam kisah ini. Tuhan adalah seorang raja, walau raja Ahasyweros yang disebutkan adalah seorang raja dari bangsa kafir, namun tidak dapat dipungkiri bahwa raja Ahasyweros dipergunakan Tuhan untuk menggambarkan diri-Nya sendiri.

Selayaknya raja, merupakan tugasnya untuk mengeluarkan suatu hukum dan ketetapan bagi pemerintahan dan rakyatnya supaya segala sesuatunya berjalan dengan baik. Dan dalam prosesnya dibutuhkan sebuah alat untuk mengesahan hukum dan ketetapan yang akan diterbitkan yaitu cincin meterai raja. Dalam kisah Ester di Alkitab ada dua kali raja Ahasyweros melepaskan cincin meterainya untuk menyalurkan kuasanya kepada pihak lain untuk membuat sebuah hukum dan ketetapan sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang yang dianugerahi cincin meterai tersebut. Orang yang kepadanya diberikan cincin meterai biasanya bukan sembarang orang. Raja dalam segala kebijaksanaannya tentu memiliki pertimbangan tersendiri sampai berani memberi kepercayaan sedemikian besar kepada orang tersebut.

Dalam kitab Ester, orang yang pertama kali mendapat anugerah besar tersebut adalah Haman. Dan apa yang menjadi pertimbangan raja hingga Haman yang sedemikian jahat dapat memperoleh cincin meterai tersebut?

"Maka sembah Haman kepada raja Ahasyweros: "Ada suatu bangsa yang hidup tercerai-berai dan terasing di antara bangsa-bangsa di dalam seluruh daerah kerajaan tuanku, dan hukum mereka berlainan dengan hukum segala bangsa, dan hukum raja tidak dilakukan mereka, sehingga tidak patut bagi raja membiarkan mereka leluasa. Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan surat titah untuk membinasakan mereka; maka hamba akan menimbang perak sepuluh ribu talenta dan menyerahkannya kepada tangan para pejabat yang bersangkutan, supaya mereka memasukkannya ke dalam perbendaharaan raja." Maka raja mencabut cincin meterainya dari jarinya, lalu diserahkannya kepada Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru orang Yahudi itu, kemudian titah raja kepada Haman: "Perak itu terserah kepadamu, juga bangsa itu untuk kauperlakukan seperti yang kaupandang baik."

Perhatikan bagaimana Haman berusaha mendekati raja Ahasyweros, pertama-tama datang menyembah, lalu meceritakan latar belakang, maksud dan tujuan pribadinya dan terakhir ia tak lupa MEMBERIKAN PERSEMBAHAN berupa 10.000 talenta perak (konon jumlah ini setara dengan dua pertiga bagian dari harta kekayaan raja Ahasyweros). Persembahan yang sedemikian besar mampu menggerakkan hati raja untuk melepaskan cincin meterainya. Hal ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa anak-anak dunia lebih cerdik memperlakukan sesamanya daripada anak-anak terang dengan mempergunakan Mamon untuk mengikat persahabatan. Pertanyaannya adalah sebagai orang percaya seberapa besar Mamon yang kita pergunakan untuk mengikat persahabatan dengan Allah kita? Seberapa besar persembahan yang kita berikan untuk memikat hati-Nya? Adakah kita masih hitung-hitungan uang dengan Tuhan? Adakah kita masih mengikat diri dengan Mamon daripada dengan Allah?

Orang ke-dua yang kepadanya raja Ahasyweros melepaskan cincin meterainya ialah Ester dan Mordekhai.

"Pada hari itu juga raja Ahasyweros mengaruniakan harta milik Haman, seteru orang Yahudi, kepada Ester, sang ratu, dan Mordekhai masuk menghadap raja, karena Ester telah memberitahukan apa pertalian Mordekhai dengan dia. Maka raja mencabut cincin meterai yang diambil dari pada Haman, lalu diserahkannya kepada Mordekhai; dan Mordekhai diangkat oleh Ester menjadi kuasa atas harta milik Haman. Kemudian Ester berkata lagi kepada raja sambil sujud pada kakinya dan menangis memohon karunianya, supaya dibatalkannya maksud jahat Haman, orang Agag itu, serta rancangan yang sudah dibuatnya terhadap orang Yahudi."

Ester dan Mordekhai adalah orang dari golongan jajahan / tawanan bangsa Persia. Namun memperoleh jabatan tinggi oleh karena anugerah raja. Mereka tidak memiliki harta sebanyak Haman, namun terutama Ester memiliki hubungan (keintiman) yang sedemikian rupa dan sikap hati yang sangat menyentuh hati raja Ahasyweros. Perhatikan bagaimana Ester yang adalah rakyat jelata bersikap sedemikian menarik dan membuat raja jatuh hati. Baik sebelum bahkan setelah menjadi seorang ratu, Ester selalu mengawali ucapannya kepada raja, "Jikalau baik pada pemandangan raja", "Jikalau hamba mendapat kasih raja", "Jikalau raja berkenan."

Sikap hati yang benar, sikap hati yang mengutamakan kehendak Tuhan di atas kehendak diri kita sendiri menjadikan perkenanan-Nya teranugerahkan dalam hidup kita. Tetap rendah hati dan tidak bersikap semau gue walau hidup kita telah dimuliakan Tuhan, tetap konsultasi dengan Roh Kudus dan tidak memutuskan berbagai perkara atas pengertian kita sendiri walau prestasi kita dikagumi banyak orang, tetap fokus kepada pribadi-Nya dan tidak bergeser hati kita walau berkat datang begitu berlimpah. Dan terus mengutamakan hubungan dengan pribadi-Nya di atas segala perkara.

Bukankah kata akhir Tuhan yang menentukan kelayakan seluruh hidup kita adalah KENAL. Seberapa kita mengenal isi hati-Nya?

Tuesday, May 3, 2011

Jurnal SHRK Mei 2011 - Hari ke-1

"Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir. " - Hakim-Hakim 10:1-2

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah kita merenung sejenak, terpikir untuk tujuan apa kita ada di dunia ini? Bagaimana kita memulai, mengisi dan mengakhiri kehidupan kita nanti? Adakah kita harus menjadi seorang pribadi yang begitu besar dan terkenal supaya kita disebut sukses? Supaya kita disebut "menjadi berkat bagi banyak orang"? Dan jika kita tidak menjadi besar dan terkenal seperti orang-orang besar yang kita ketahui, pantaskah kita mengomentari hidup kita dengan berkata, "Memang begini TAKDIR saya." Dan ketika kita melihat orang lain tiba-tiba menjadi sangat sukses dan terkenal dan menjadi berkat besar bagi begitu banyak orang, kita juga mengomentari dengan berkata, "Memang TAKDIRnya menjadi orang besar."

Alkitab menceritakan beraneka ragam kisah dari beraneka ragam tokoh, tokoh-tokoh besar seperti Nuh, Abraham, Daud, Salomo, nabi Elia, nabi Yesaya dan juga tokoh-tokoh yang mungkin sebagian kita menganggapnya tokoh kecil (semacam pelengkap), atau lebih ironis lagi jika ada yang menyebut mereka "figuran". Mengapa disebut demikian? Salah satu alasannya adalah karena tidak banyak tulisan di Alkitab yang menerangkan tentang tokoh tersebut, sehingga tidak banyak yang bisa diceritakan. Karena sesuatu biasanya menjadi semakin besar jika semakin dibicarakan / diceritakan. Jadi, ada tokoh-tokoh besar, ada tokoh-tokoh kecil, ada nabi-nabi besar, ada nabi-nabi kecil, ada hakim-hakim besar, ada hakim-hakim kecil. Dari sekian yang kecil, kita tetap bisa menarik pelajaran berharga karena semua yang tertulis di Alkitab bukan tanpa maksud Tuhan bagi kita.

Disebutlah seorang hakim "kecil" bernama Tola, hanya dua ayat Alkitab menceritakan tentang tokoh ini. Nama Tola artinya ulat. Dapatkah kita bayangkan, Alkitab hanya menceritakan sebanyak dua ayat tentang seorang tokoh yang "sekecil" ulat? Sekilas kita bisa terjebak dengan menganggap remeh, namun dalam dua ayat tersebut tidak diceritakan sesuatu yang buruk tentang Tola. Bahkan sebaliknya, ada catatan yang sangat baik tentang Tola. Bahwa Tola bangkit menyelematkan Israel, memerintah cukup lama yaitu 23 tahun, bertugas di luar kampung halamannya dan kemudian wafat dan dikuburkan di daerah tugasnya.

Dan inilah yang menarik dari Tola, arti namanya ulat itu bukanlah ulat yang biasa kita ketahui. Ulat Tola adalah ulat yang unik karena ketika ditekan tubuhnya, ulat ini hancur dan mengeluarkan cairan (semacam darah) berwarna ungu. Dan cairan ungu inilah yang menjadi bahan pewarna pakaian kerajaan yang memang biasanya berwarna ungu. Terlebih lagi warna ungu memang mengandung arti kerajaan atau raja atau pemerintahan yang berdaulat. Jadi tokoh yang bernama Tola memberi teladan bagaimana kita sebagai orang percaya ketika mengalami masalah dan tekanan, adakah memberikan warna Kerajaaan Allah kepada dunia? Atau sebaliknya memberikan warna busuk yang menyengat seperti ulat-ulat lainnya?

Bahkan Daud dalam Mazmurnya mengakui bahwa dirinya adalah ulat dan bukan manusia:

"Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" - Mazmur 22:7-9

Ayat-ayat di atas secara tersurat menceritakan tentang apa yang dialami Daud. Namun secara tersirat, siapakah yang dilihat orang-orang banyak ketika Ia menyerah, Ia ditunggu banyak orang untuk ditolong Tuhan saat penderitaan-Nya karena semua orang mengetahui bahwa perkenanan Tuhan ada pada-Nya? Ya, secara tersirat ayat-ayat ini menceritakan bahkan menubuatkan tentang pribadi Yesus Kristus sewaktu di dunia, terutama ketika Beliau disalibkan dan ditantang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Jalan merendah bahkan menggambarkan dirinya sebagai ulat dan bukan manusia, tidak menjadikan takdir Daud menjadi buruk. Renungkanlah bagaimana takdir Kristus yang besar di kayu salib dimulai dari gambaran orang yang "sekecil" ulat, dari sesuatu yang dipandang hina oleh banyak orang, namun memberikan warna Kerajaan Allah bagi dunia.

Lalu bagaimanakah caranya kita yang "sekecil" ulat memenuhi akhir takdir hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya? Perhatikan bahwa Tola bangkit bukan kebetulan, namun memang untuk suatu rencana dan tugas yang Tuhan tetapkan. Kata "bangkit" mengandung arti perencanaan yang harus digenapi dan tugas yang harus dituntaskan. Ia orang Ishakar, namun bertugas di Samir, daerah orang Efraim. Ini menandakan orang yang keluar dari zona kenyamanannya. Orang yang berani bayar harga dan rela mentaati apapun yang Tuhan kehendaki, di manapun, kapanpun dan bagaimanapun resikonya. Bahkan karena pengabdiannya terhadap tugas yang diberikan, setelah wafat beliau dikebumikan BUKAN di kampung halamannya, melainkan di daerah tugasnya. Hal ini berbeda dengan para hakim lainnya dan sungguh-sungguh menggambarkan bagaimana beliau menuntaskan tugasnya hingga tuntas. Dan walaupun hanya diceritakan dalam dua ayat, namun Tola memerintah cukup lama, 23 tahun. Hakim-hakim lain yang dianggap lebih besar daripada Tola, seperti Simson hanya 20 tahun, Yefta yang juga diceritakan lebih banyak ayat bahkan hanya memerintah 6 tahun.

Jadi tidak peduli apakah kita dianggap besar maupun kecil, selama kita setia dan rela membayar harga sampai tuntas segala sesuatunya, maka takdir kita adalah Kristus itu sendiri.

Sunday, May 1, 2011

Surga Dalam Sekilas Perenungan

Muda foya-foya. Tua kaya raya. Mati masuk surga. - Pepatah Ngawur

Saudara-saudari yang terkasih, istilah dalam ketiga kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi hampir semua orang. Dan siapakah di antara kita yang secara daging tidak menginginkan ketiga perkara tersebut terjadi dalam hidup kita. Tentu terutama ketika kita mati, kita berharap ke surga, bukan ke neraka. Namun apakah benar cara hidup seperti demikian bisa mengantar seseorang ke surga. Dan jika benar bisa tinggal di surga dengan catatan hidup yang foya-foya, hedonis dan serba semau gue, apa akibatnya?

Berikut ini ada sebuah kisah menarik, patut dijadikan bahan renungan. Konon suatu ketika, ada seorang yang telah tervonis di neraka mengajukan keberatan atas akibat yang diterimanya dengan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan beberapa orang lain yang dikenalnya namun mereka berada di surga. Intinya orang ini merasa hidupnya lebih baik dari beberapa orang yang dikenalnya, tidak pernah melakukan berbagai kejahatan sejahat orang-orang lain tersebut, namun heran mengapa dirinya di neraka.

Kira-kira protesnya,"Tuhan, Engkau sungguh tidak adil! Apa kesalahanku dan kejahatanku sehingga aku harus menanggung penderitaan yang sedemikian berat. Sementara beberapa dari mereka yang kukenal dahulu melakukan banyak perkara yang lebih kejam daripadaku, namun mereka bisa ada di surga?"

Setelah beberapa waktu melakukan protes sepanjang waktu, Tuhan dalam segala kemurahan-Nya mau meladeni penghuni neraka tersebut, "Malaikat! Bawa orang itu kemari, supaya dia tahu bahwa Aku benar-benar Allah yang adil!"

Dan seketika itu juga malaikat membawa penghuni neraka tersebut ke surga. Ada rasa kelegaan dan kenyamanan yang luar biasa ketika tiba di surga. Namun hal itu hanya untuk beberapa saat, karena tidak memiliki tudung jaminan maka seketika itu juga seluruh dosa dan kelemahannya terlihat secara transparan di seluruh surga. Bagaimana hatinya dan catatan semasa hidupnya menjadi begitu jelas bagi siapa saja yang ada di surga.

Dan pada saat itu juga orang tersebut menyadari betapa adilnya Tuhan, demikian pengakuannya, "Tuhan, sekarang aku sadar betapa adilnya Engkau. Begitu buruk dan hina diriku dan sepantasnya aku berada di tempat yang pojok dan gelap di neraka. Tolong kembalikan aku ke sana, yah Tuhan."

Pernah suatu ketika salah seorang hamba-Nya dari India bertatap muka dengan Tuhan Yesus, dan pada kesempatan itu, Tuhan Yesus menerangkan bahwa sesungguhnya Beliau sangat welcome dengan siapa pun di surga, namun tidak banyak yang sanggup menghadapi segala kekudusan dan kemuliaan-Nya. Itu sebabnya neraka adalah tempat yang paling pantas bagi mereka yang tidak sejalan dengan-Nya. Tuhan begitu kudus sempurna, dan kita begitu hina, jika bukan karena anugerah, takkan ada yang mampu berdiri di hadapan-Nya.

About Windunatha

My Photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.