Tuesday, August 1, 2017

The Great Wealth Transfer, Untuk Para Jedidiah-Nya, Bukan Untuk Para Salomo.

Tulisan ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya yang berjudul, Transfer Kekayaan Terbesar, Kapan Saatnya? Dan Siapa Yang Berhak Mengalaminya?

"Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija (Jedidiah - יְדִידְיָה), oleh karena TUHAN." - 2 Samuel 12:24-25

Transfer kekayaan terbesar tidak pernah ditujukan untuk anak-anak gampang yang tidak pernah mengalami didikan Tuhan. Salomo adalah contoh nyata dari seorang anak gampang yang mengalami kemuliaan sedemikian hebat namun tidak disertai dengan didikan Tuhan yang kuat. Mengapa? Karena hari itu Sang Jedidiah diaborsi oleh Daud, sebab Daud gentar dan paham benar bobot nama yang dikehendaki Tuhan sendiri itu. Sebagai gantinya, Daud menegosiasikan destiny anak itu dengan memberi nama Salomo, yang berarti damai.

Mengapa Daud gentar dengan nama Jedidiah? Sebab Jedidiah berarti yang dikasihi Jehovah. Nama Daud sendiri berarti yang dikasihi, dan Daud mengalami hebatnya didikan Tuhan. Apalagi nama Jedidiah, dan memang seharusnya demikianlah mereka yang sungguh-sungguh dianggap anak-anak Tuhan yang dikasihi Jehovah,

"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." - Ibrani 12:5-6

Daud sama sekali tidak pernah menganggap enteng didikan Tuhan yang pernah dialaminya, bahkan rasa putus asa berulang kali menghampirinya, namun kita tahu bahwa salah satu kelemahan terbesar Daud adalah bahwa ia tidak pernah bisa tegas dan adil terhadap anak-anaknya. Perhatikan cara Daud menyikapi ancaman anak pertamanya dengan Betsyeba, cara Daud menyikapi kejahatan Amnon terhadap Tamar dan cara Daud menyikapi pemberontakan Absalom. Sikap Daud terhadap anak-anaknya merupakan beban yang menyusahkan bagi Tuhan, bagi orang-orang yang berjuang bersamanya, bagi kerajaannya dan bagi rakyatnya.

Daud sangat mengasihi Tuhan melebihi dirinya sendiri, namun ketika harus berhadapan dengan anak-anaknya, Daud tidak berdaya karena Daud memiliki masa kanak-kanak yang kurang baik sehingga ketika ia menjadi seorang ayah, Daud berusaha menghindarkan anak-anaknya dari kesulitan yang pernah dialami pada masa kecilnya. Padahal kekuatan iman Daud dan keintimannya dengan Tuhan lahir dari penderitaan karena diasingkan oleh ayahnya sejak masa kecilnya.

Daud bukanlah anak gampang, namun anak-anaknya tidak ada satupun yang benar-benar kuat beriringan dengan Tuhan, terutama dalam hal didikan Tuhan.

Jedidiah-Jedidiah Yang Dipersiapkan

Penulis Kitab Ibrani remain nameless, tidak seperti keenam puluh lima kitab lainnya yang disebutkan siapa -siapa saja penulisnya, tidak ada disebutkan penulis Kitab Ibrani. Mengapa? Karena hanya pada Kitab Ibrani ada disebutkan secara eksplisit dan implisit sebuah generasi di Akhir Zaman yang akan menuntaskan dan menyempurnakan semua kesaksian dari para pahlawan iman pendahulu kita,

"Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan." - Ibrani 11:39-40

Inilah yang disebut generasi tanpa wajah (faceless generation), generasi yang tidak mencari nama (nameless generation), generasi yang telah dihabisi egonya (selfless generation), dan generasi yang tidak tenar yang terdiri dari yang bukan siapa-siapa (nobodies generation). Merekalah para Jedidiah-Nya di Akhir Zaman.

Penulis Kitab Ibrani telah melihat generasi pamungkas dan penuntas ini, yang selanjutnya akan dididik Tuhan dengan tingkat disiplin yang ekstrim menurut kebanyakan orang, dan akan menerima kemegahan serta kemuliaan yang akan melampaui semua pahlawan iman yang pernah ada. 

Perhatikan sejarah hidup Salomo dan mengapa Tuhan hendak menamainya Jedidiah? Karena sejak awal Salomo telah ditetapkan untuk mengalami kemuliaan yang lebih besar daripada Daud. Pertama, ia yang membangun Bait Suci, lalu menjadi yang paling berhikmat, kemudian menjadi yang paling kaya sepanjang sejarah sekaligus dihormati serta dikagumi para kawan dan lawannya.

Saking dahsyatnya hikmat yang ada pada Salomo, ia kehilangan kendali dalam menggali berbagai pengetahuan, yang belum tentu Tuhan berkenan untuk ia mengetahui berbagai pengetahuan itu, sampai tubuhnya tidak bisa mengimbangi nafsunya terhadap ilmu pengetahuan,

"Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan." - Pengkotbah 12:12

Namun apapun yang sempat gagal pada Habel, pada Henokh, pada Nuh, pada Abraham, pada Ishak, pada Yakub, pada Yusuf, pada Musa, pada Joshua, pada para hakim Israel, pada Daud, pada para raja Yehuda & Israel, dan pada para nabi-Nya itu tidak boleh gagal lagi di generasi pamungkas dan penuntas di Akhir Zaman ini.

Perhatikan pertandingan estafet, empat pelari dipersiapkan, biasanya dua yang tercepat ditempatkan pada posisi pertama dan terakhir. Pelari pertama masih boleh melakukan kesalahan, karena masih ada pelari kedua. Pelari kedua masih boleh melakukan kesalahan, karena masih ada pelari ketiga. Pelari ketiga pun masih boleh melakukan kesalahan karena masih ada pelari yang terakhir. Namun pelari terakhir tidak boleh melakukan kesalahan, karena padanya pertandingan dituntaskan.

Demikian juga Tuhan, untuk memastikan bahwa generasi yang terakhir tidak lagi melakukan kesalahan dan kekonyolan para pendahulunya, maka Tuhan sungguh menghalalkan segala cara untuk menghasilkan para Jedidiah-Nya yang tak bercacat cela untuk menerima semua kemuliaan dan kemegahan yang pamungkas, termasuk The Great Wealth Transfer.

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 

Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

About Windunatha

My photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.