Labels

Monday, April 22, 2019

Great Martyrdom Is Here

Gereja tidak perlu merasa diperlakukan tidak adil, apalagi sampai menuntut keadilan ketika intensitas pemberitaan insiden Sri Lanka lebih rendah daripada intensitas pemberitaan insiden Christchurch.

Sebab memang Gereja dipanggil sama seperti Tuannya yang juga adalah Kepalanya, Yesus Kristus, yakni menjadi martir.

Sebagaimana singa seharusnya mengaum, serigala seharusnya melolong, anjing seharusnya menggonggong dan ikan seharusnya berenang, demikian pula Gereja seharusnya dibenci dan dibunuh oleh penguasa dunia ini. Tidak perlu pemberitaan yang menghebohkan atau dramatis.

Gereja harus terus mengingat bahwa imannya dimulai dari apa yang tertulis dalam Yohanes 3:16,

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Dan Gereja juga harus terus mengingat bahwa imannya harus berakhir pada apa yang tertulis dalam 1 Yohanes 3:16,

"Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."

Bukan sebuah kebetulan insiden Sri Lanka ini bertepatan dengan Paskah 2019 dan Passover 5779. Ini jelas sebuah pesan bagi Gereja untuk bersiap menghadapi kemartiran yang telah lama dinubuatkan.

Sebagaimana Meterai Ke-5 telah dibuka 2 tahun lalu, demikian juga penggenapannya akan terus mengikutinya.

Di masa mendatang dan besar kemungkinan dalam waktu yang tidak lama lagi akan ada lebih banyak dan lebih tragis daripada insiden Sri Lanka, baik itu diberitakan maupun yang tidak sempat diberitakan.

Wednesday, March 27, 2019

Merefleksi Zaman: Perkara Makan Minum Dengan Zaman Nuh

Tuhan Yesus pernah berkata,

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." - Matius 24:37-39

Sebenarnya itu perkataan yang sangat aneh. Mengapa aneh?

1. Sebagai Anak Manusia, bagaimana mungkin Tuhan Yesus bisa memberi referensi sebuah masa di penghujung zaman dengan sebuah masa yang begitu purbakala.

2. Bagaimana audiens pada saat itu, adakah murid-murid-Nya mengerti seperti apa zaman Nuh yang selisihnya sekitar 3000 tahun?

3. Bagaimana pula kita, yang selisihnya bahkan sekitar 5000 tahun dengan zaman Nuh?

4. Dan yang paling mengganjal buat saya selama ini adalah frasa "makan dan minum", bukankah memang itu cara kita bertahan hidup? Apa istimewanya perkara makan dan minum dan kaitannya dengan zaman Nuh serta kedatangan-Nya yang kedua? Bukankah apapun zamannya, minumnya Teh Botol Sosro? Eh salah ... maksudnya, bukankah di setiap zaman, manusia pasti makan dan minum?

Ternyata untuk memahami perkataan Tuhan Yesus itu butuh "timing" yang tepat. Dan jika saya tidak salah menafsirkannya, maka perkara makan dan minum yang dimaksud-Nya adalah pada zaman medsos sekarang ini.

Vlogger-vlogger kuliner bertabur di jagat maya bagai bintang-bintang bertabur di jagat raya. Bahkan vlogger kuliner menjadi profesi baru dalam sekian tahun terakhir ini. Disebut profesi karena memang terbukti memberi dampak nyata berupa penghasilan yang cukup signifikan, termasuk menerima jasa endorse dari berbagai produsen yang hendak mempromosikan produk makanan minumannya.

Selain kemunculan vlogger kuliner, gencarnya promo diskon dari GoFood dan GrabFood yang dipersenjatai dengan sistem pembayaran online (GoPay dan OVO) juga memberi kontribusi yang dahsyat dalam industri kuliner nasional, khususnya di kota-kota besar.

Hasilnya jangan diragukan lagi, kombinasi informasi kuliner yang begitu deras dengan berbagai diskon yang begitu melimpah adalah obesitas dan menderita berbagai penyakit degeneratif yang lebih cepat daripada generasi sebelumnya. 

Tapi memang itu semua harus terjadi. Saya melihat bahwa fenomena ini merupakan cara yang ampuh untuk mensosialisasikan The Beast System pada Masa Antikristus nanti, sehingga pada waktunya semua orang, tua muda, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, kaya maupun miskin semuanya tidak bisa berjual beli tanpa tanda nama binatang tersebut.

Well, ternyata Tuhan Yesus ialah seorang yang sangat visioner melihat sangat jauh ke depan bagaimana dunia ini hanyut dan tenggelam dalam pesta poranya sendiri. Dan semua yang terjadi ini juga merupakan tanda akan kedatangan-Nya yang kedua kali sudah semakin dekat.

Tuhan memberkati.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.