Labels

Showing posts with label Faithfulness. Show all posts
Showing posts with label Faithfulness. Show all posts

Tuesday, January 25, 2011

Kesetiaan Dan Lebih Dari Sekedar Jatah - Vol. 3

Temukan Gairah-Nya

Berbicara mengenai berpalingnya wajah Tuhan kepada kita, sungguh mempengaruhi kehidupan kita. Kita juga perlu tahu bahwa Tuhan memalingkan wajah-Nya kepada kita dengan gairah-Nya. Dan gairah-Nya timbul sebagai akibat dari sikap kita sendiri. Jadi sesungguhnya, sikap kita bisa mempengaruhi gairah-Nya naik atau turun.

Dan sepanjang pelayan Tuhan Yesus di dunia, ada saat di mana gairah-Nya "padam". Tuhan Yesus yang begitu penuh passion pernah tertidur di sebuah perahu yang Ia tumpangi bersama-sama para murid-Nya sebelum angin ribut datang dan akhirnya diredakan.

Cerita tersebut ada di ketiga Injil (Matius 8, Markus 4 dan Lukas 8). Dan ketiga cerita yang sama ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda di tiap Injil. Di Markus 4 cerita sebelumnya adalah perumpamaan tentang biji sesawi. Pada ayat 33 dikatakan bahwa dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Tuhan memberitakan firman sesuai dengan pengertian mereka. Dari sini kita ketahui bahwa Tuhanlah yang menyesuaikan diri-Nya dengan pengertian pendengar-Nya. Hal pertama yang menyurutkan gairah-Nya adalah ketika kita menuntut Tuhan untuk mengerti kita, daripada merelakan hati kita untuk mengerti hati-Nya.

Kita sering berkata bahwa Tuhan pasti mengerti isi hati kita. Mungkin itu sebabnya kita jarang berdoa, jarang komunikasi dengan-Nya, karena merasa Tuhan pasti tahu maunya kita, kemampuan kita, keterbatasan kita, dan seterusnya. Tapi kita tidak pernah mencari tahu apa mau-Nya, apa kehendak-Nya, apa selera-Nya dalam setiap aspek. Lebih tragis lagi bahwa kita sepertinya menjejalkan semua pengertian kita kepada-Nya. Dan sungguh hal ini sangat melelahkan hati-Nya dan memadamkan gairah-Nya. Sehingga wajah-Nya tersembungnyi bagi kita.

Cerita yang sama di Matius 8, dilatarbelakangi dengan kisah tentang hal mengikut Yesus. Seorang ahli taurat datang dan berkata, "Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Namun respon Tuhan Yesus malah kelihatan aneh, "Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Mengapa Tuhan Yesus tidak bisa meletakkan kepala-Nya. Apakah Dia tidak bisa tidur? Sedemikian sibuknya sehingga tidak bisa beristirahat? Sedangkan saat angin badai datang, Tuhan Yesus dapat tidur dengan nyenyak sekali. Serigala mempunyai liang maka disebut liang serigala. Burung mempunyai sarang maka disebut sarang burung. Tempat manakah yang seharusnya disebut tempatnya Tuhan, sehingga Tuhan bisa meletakkan kepala-Nya? Bukankah tubuh kita ini adalah bait Allah. Dan Dia seharusnya adalah kepala dari bait-Nya. Tapi ternyata kepala-Nya tidak bisa diletakkan karena masih ada kepala kita. Kita sering kali menjadi tuan atas diri kita sendiri, padahal Dialah Sang Kepala. Dan inilah hal yang menyurutkan gairah-Nya dan menyulitkan kita mendapati wajah-Nya.

Lukas 8, kisah angin ribut diredakan dilatarbelakangi dengan 3 ayat singkat yang menceritakan tentang datangnya Ibu dan saudara-saudara kandung Tuhan Yesus. Mereka kesulitan mendekati Tuhan Yesus karena sedemikian banyaknya orang yang mengerumuni Dia. Ketika ada orang yang memberitahukan perihal tersebut kepada Tuhan Yesus, respon-Nya pun tidak biasa. Tuhan Yesus tidak langsung menemui dan menyambut keluarga-Nya, melainkan berkata bahwa Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya ialah mereka yang mendengarkan dan melakukan firman Allah.

Respon tersebut sepertinya terkesan ngeyel dan belagu banget. Tapi ketahuilah bahwa sering kali kita merasa dengan Tuhan sudah seperti keluarga. Namun sikap dan tingkah kita justru sering kali tidak sejalan dengan-Nya. Tapi kita tidak sadar bah hal itu salah, karena "merasa family" dengan Tuhan. Coba kita bayangkan, ada seorang kaya memiliki sebuah perusahaan besar. Orang tersebut memiliki ibu dan saudara-saudara kandung. Kebetulan mereka ikut dalam kegiatan operasional perusahaan. Namun pandangan dan tindakan mereka sering kali bertentangan dengan sang pemilik perusahaan. Dan akhirnya malah menimbulkan kerugian bagi perusahaan tersebut. Sementara ada beberapa di antara para pegawainya, yang hanya sebatas hubungan kerja profesional, selalu dapat menyukakan hati bosnya dengan prestasi mereka. Menurut Anda, manakah yang lebih dihargai dan dihormati? Keluarganya atau pekerja-pekerjanya?

Lukas 8:21 dalam terjemahan The Message ditulis demikian:
He replied, "My mother and brothers are the ones who hear and do God's Word. Obedience is thicker than blood."

Ada kalimat tambahan yang menyatakan bahwa ketaatan lebih kental daripada darah. Kita ketahui ada pepatah Cina yang mengatakan, "Darah lebih kental daripada air." Yang artinya menunjukkan bahwa biasanya orang lebih mendahulukan atau memprioritaskan hubungan keluarga daripada yang bukan keluarga dalam berbagai hal. Namun Tuhan Yesus memiliki standar yang berbeda. Ketaatan dan kesetiaan kitalah yang menjadi ukuran bagi-Nya.

Jadi kesimpulannya adalah untuk mengalami prosperity, kita harus sadari bahwa berkat Tuhan bukanlah hal-hal materi semata, melainkan perkenanan hati-Nya dan pancaran wajah-Nya. Hal ini hanya bisa kita dapatkan melalui kepedulian dan pengenalan akan pribadi-Nya di atas kepentingan diri kita sendiri. Remember, when we are faithful, prosperity is the very next deal. Jatah itu datangnya tepat waktu, namun kelimpahan datangnya segera.

(End)

Kesetiaan Dan Lebih Dari Sekedar Jatah - Vol. 2

Wajah Tuhan Adalah Berkat Dan Kelimpahan. Carilah wajah-Nya.

Jika kita berbicara mengenai berkat, apalagi kelimpahan, biasanya yang terbersit pertama kali adalah uang, kekayaan materi, mukjizat dan pertobatan jiwa-jiwa. Kita bahkan sering menilai bahwa jika seseorang kurang kaya atau bahkan miskin, hampir pasti kita anggap tidak diberkati (lebih ekstrim lagi jika disebut kena kutuk), sementara jika kita melihat orang lain kaya bahkan sangat berlimpah harta, hampir pasti pula kita anggap orang tersebut sangat diberkati (oleh Tuhan).

Namun sebenarnya berkat sejati yang Tuhan maksud bukanlah segala sesuatu yang materialistis itu. Wajah Tuhanlah yang memberkati kita. Jika kita masih dipandang oleh-Nya, itulah berkat, dan ketika kita didapati setia saat dilihat-Nya, percayalah kelimpahan adalah yang berikutnya (when we are faithful, prosperity is the very next deal).

Berikut ini beberapa ayat yang membuktikan kebenaran tersebut:

  • TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera - Bilangan 6:26
  • Wajah raja yang bercahaya memberi hidup dan kebaikannya seperti awan hujan musim semi - Amsal 16:25

Dan jika kita tahu sekarang bahwa wajah Tuhanlah yang memberikan berkat dan kelimpahan, sudah sepatutnya kita mencari wajah-Nya, mengharap wajah-Nya tidak berpaling daripada kita. Tidak melakukan hal-hal yang membuat wajah-Nya berpaling daripada kita. Seperti pepatah Cina kuno yang mengatakan: "Beri aku muka." Yang sering kali dianggap sebagai pemberian hormat bagi orang lain. Sama seperti Tuhan mau memberikan wajah-Nya bagi kita karena menghormati kesetiaan dan iman kita.

  • Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! - 1 Tawarikh 16:11; Mazmur 105:4
  • Ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menerimanya; ia akan memandang wajah-Nya dengan bersorak-sorai, dan Allah mengembalikan kebenaran kepada manusia. - Ayub 33:26
  • Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan. - Ulangan 32:20
  • Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku. - Hosea 5:15
  • dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. - 2 Tawarikh 7:14
Sungguh mengerikan, jika Tuhan tidak mau lagi memberikan wajah-Nya bagi kita. Coba kita introspeksi diri kita, coba renungkan setiap kali kita memanggil Dia. Adakah Dia menunjukkan wajah-Nya, atau malah buang muka. Apa saja yang kita pernah lakukan sehingga Dia sungkan berpaling kepada kita? Adakah kita lebih mengutamakan diri kita sendiri daripada kehendak-Nya? Ingatlah bahwa keserakahan dan keegoisan hanya menimbulkan pertengkaran, sedangkan orang yang percaya kepada Tuhan diberi kelimpahan (Amsal 28:25).

(bersambung)

Kesetiaan Dan Lebih Dari Sekedar Jatah - Vol. 1

Bulan Mei 2010 ini di JPCC membahas tema utama Prosperity. Dan di bulan sebelumnya, April 2010, JPCC membahas mengenai Faithfulness. Saya merasa sungguh bukan sebuah kebetulan. Tahukah Anda, bahwa ada yang disebut jatah, namun ada juga yang mendapatkan lebih dari sekedar jatah. Dan untuk memperoleh lebih dari sekedar jatah benar-benar dibutuhkan kesetiaan yang tak terkatakan.

Simaklah cerita perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Matius 20:1-16). Dikisahkan seorang tuan rumah sepertinya sedang memasuki masa panen kebun anggurnya. Kita tahu bahwa tuan rumah yang dimaksud dalam cerita ini merujuk pada Tuan kita, Tuhan Yesus. Dan saya yakin kebun anggurnya luas sekali karena Tuannya sangat kaya.

Saking luasnya kebun anggur dan banyaknya hasil panen yang harus dikumpulkan, tuan rumah ini harus memanggil para pekerja berkali-kali. Yang pertama dipanggil adalah para pekerja yang ditemui pagi-pagi benar dan dengan kesepakatan upah. Kemudian disusul dengan gelombang-gelombang pekerja lainnya; jam 9, jam 12 dan jam 3 petang. Dan semuanya dengan kesepakatan.

Kita bisa menduga bahwa ternyata semakin mendekati petang, pekerjaan di kebun anggur semakin banyak. Untuk terakhir kalinya, pada jam 5 petang sang tuan rumah harus pergi lagi ke pasar untuk memanggil para pekerja tambahan. Dan saya yakin pekerja-pekerja tersebut jumlahnya pun tidak kalah banyaknya dengan pekerjaan yang masih harus dilakukan sampai petang itu. Itulah sebabnya sang tuan rumah terkejut dan berkata kepada mereka, "Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?"

Dan dengan lirih para pekerja menjawab, "Tidak ada orang yang mengupah kami." Ucapan para pekerja tersebut bukan berbicara soal upah, namun sebenarnya tidak ada orang yang mau membayar mereka, tidak ada orang yang mau mempekerjakan mereka. Mengapa bisa tidak ada yang mau mempekerjakan mereka? Karena mereka dinilai tidak qualified untuk dipekerjakan. Mereka dianggap tidak pantas dipekerjakan.

Dan di sinilah faktor kesetiaan itu bahwa sekali pun mereka dianggap tidak pantas dipekerjakan, mereka tetap berdiri sepanjang hari di pasar, sampai waktunya habis atau sampai ada yang sudi mempekerjakan mereka. Mereka tetap mempunyai pilihan untuk pulang dan tidur di rumah ketika melihat pekerja lainnya yang lebih qualified dengan mereka dipekerjakan lebih dulu.

Anda harus memahaminya bahwa pekerja jam 5 ini harus menanggung panas terik sepanjang hari, penolakan, dan yang lebih memberatkan ialah ketika melihat teman-temannya lebih dipekerjakan daripada mereka. Namun hal-hal tersebut tidak membuat mereka menyerah dan pulang, sampai tuan yang sangat murah hati itu datang. Dan mereka dipekerjakan tidak dengan kesepakatan upah seperti para pekerja sebelum mereka ini. Karena bagi mereka adalah bahwa dianggap layak dipekerjakan sudah lebih dari cukup, dan mengenai upah, sungguh mereka hanya mengharap kebijaksanaan sang tuan rumah.

Yang paling menarik adalah ketika tiba waktunya untuk membagikan upah, para pekerja jam 5 ini diberi upah yang pertama dan jumlahnya sama dengan upah sehari. Para pekerja jam 5 ini tidak saja disetarakan dengan yang lain, namun juga didahulukan daripada yang lain itu. Sungguh kesetiaan mempercepat kelimpahan yang dijanjikan.

Jika kita menyimak kisah mengenai Elia dan bujangnya di gunung Karmel (I Raja-Raja 18:20-46) - baca artikel About Faithfulness - bujangnya Elia tetap setia menuruti perintah tuannya untuk pergi pulang sampai 7 kali tanpa berkomentar apalagi mengeluh sepatah kata pun. Namun ketika sudah waktunya hujan (berkat) dicurahkan, kejadiannya sangat cepat!

Bujangnya Elia tidak mengeluh, para pekerja jam 5 tidak menyerah. Dan mereka semua mendatangkan dan mendapatkan lebih dari sekedar jatah. Mereka memperoleh kemurahan hati Tuhan karena kesetiaan mereka, dan kemurahan hati Tuhan itulah kelimpahan (Prosperity).

(bersambung)

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.