Wednesday, September 21, 2016

Ayin Zayin 5777 - Vol. 2: Shebet (שָׁ֫בֶט) Dan Shabbath (שַׁבָּת)

"Tanyanya: 'Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?' Jawab perempuan itu: 'Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.' Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya." - Kejadian 38:18

"Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya." - Lukas 15:22

"Tongkat kerajaan (שַׁבִּט) tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa." - Kejadian 49:10

"Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu." - Ester 5:2

Arti dari Zayin selain pedang adalah tongkat otoritas. Dan ada hal yang amat menarik dari makna tongkat otoritas ini. Secara umum, seorang pangeran atau anak raja memiliki tiga benda yang merepresentasikan identitasnya, yakni cincin, mahkota dan tongkat otoritas. Ketiganya mewakili tiga perkara yang berbeda. Cincin berbicara tentang pengaruh (influence) yang dia miliki untuk mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk suatu tujuan tertentu. 

Sedangkan mahkota berbicara tentang kuasa (power), termasuk karunia-karunia mengadakan mujizat, menyampaikan nubuatan, ucapan hikmat dan sebagainya. Mahkota seseorang bahkan mencerminkan keagungan (greatness) orang tersebut sesuai dengan talenta atau karunia yang ia miliki. Dalam berbagai kasus, seseorang bisa memiliki lebih dari satu mahkota karena memang karunia atau talentanya lebih dari satu.

Namun yang paling menentukan adalah tongkat otoritas, yakni berbicara tentang wewenang (authority). Seseorang bisa saja memiliki cincin atau mahkota yang banyak atau bahkan keduanya, tapi jika ia bertindak tanpa otoritas yang pantas atau tanpa diotorisasi dari pihak yang berwenang, maka ia sedang melakukan penyalahgunaan pengaruh (abuse of influence) atau penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Dan biasanya penyalahgunaan ini dilakukan untuk kepentingan pribadinya, BUKAN demi keadilan atau demi otoritas yang di atasnya. 

Kasus mantan ketua DPD RI, Bapak Irman Gusman yang baru saja menjadi tersangka dalam OTT KPK empat hari lalu (17 September 2016) merupakan contoh yang tepat dalam hal penyalahgunaan pengaruh. Sebagai pejabat publik yang memiliki pengaruh dan kekuasaan yang besar serta otoritas yang sesuai dengan jabatannya, ia telah melakukan pelanggaran dengan "menjual" pengaruhnya ke wilayah yang tidak diotorisasi, yakni ke bidang ekonomi dan perdagangan, walau hanya dengan memberi rekomendasi kepada Bulog untuk memberikan jatah impor gula kepada pihak yang mau membayar pengaruhnya itu. Padahal yang seharusnya menentukan dengan benar importir gula tersebut merupakan kewenangan Kementrian Perdagangan. 

Dan akibatnya beliau harus kehilangan jabatannya sebagai ketua DPD RI, atau bahkan dicabut keanggotaannya dari lembaga tersebut, artinya kewenangannya hilang. Sebagai utusan daerah (senator) yang dipilih rakyat dari daerahnya, ia mungkin juga telah kehilangan pengaruh dan kekuasaannya, atau paling tidak jauh berkurang dibanding sebelum ia terjerat KPK. Inilah contoh atas makna dari cincin, mahkota dan tongkat otoritas seorang penguasa.

Gereja Yang Menyalahi Kewenangan

"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: 'Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.'" - Yohanes 2:16-18

Apa yang menjadi alasan bahwa hari itu Yesus meluapkan amarahnya di depan Bait Suci? Alasannya tak lain adalah karena hari itu Ia melihat praktek "jual beli" pengaruh dan kuasa demi kepentingan pribadi segelintir imam-imam pejabat Bait Suci. Dan yang lebih penting lagi yang harus kita waspadai adalah bahwa kita (roh, jiwa dan tubuh) ini yang juga adalah Bait Kudus-Nya, juga selalu berpotensi untuk memperjualbelikan hal-hal yang sama demi kepentingan diri kita sendiri, yakni pengaruh dan kuasa kita.

Itu sebabnya kepada mereka yang telah melakukan banyak mujizat dan banyak mengusir setan demi nama Tuhan, pada akhirnya Tuhan baru berterus terang, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Mengapa perbuatan baik mereka dianggap sebagai kejahatan? Karena mereka melakukan tindak pengaruh dan tindak kekuasaan TANPA diotorisasi oleh Tuhan. Mereka melakukan karena mereka punya pengaruh dan kekuasaan, dan mereka melakukannya demi diri mereka sendiri, sadar atau tidak mereka sadari.

Pentingnya Shabbath

Menarik sekali ketika Tuhan mengawali keterusterangan-Nya dengan berkata bahwa Ia tidak KENAL mereka yang adalah pembuat kejahatan, BUKAN tidak kenal mereka yang berbuat jahat. Walau kelihatan mirip, namun ada perbedaan yang sangat signifikan. 

Orang bisa berbuat jahat karena bisa saja ia tidak tahu akan kebaikan atau perbuatan baik, Saulus berbuat jahat dengan membunuh banyak pengikut Kristus sampai akhirnya ia bertemu Yesus secara pribadi dan menjadi Rasul Paulus. Namun pembuat kejahatan adalah mereka yang mengira dirinya mengenal dan dikenal Yesus, tapi sesungguhnya mereka berkhianat seperti Yudas Iskariot.

Pengenalan butuh proses yang panjang, bahkan seumur hidup. Itu sebabnya Tuhan menyediakan shabbath (hari ke-7) kepada kita, bagi Diri-Nya, supaya kita mengenal Dia dengan benar, SEBELUM dan SEPANJANG kita menjalankan pengaruh, kuasa dan wewenang yang dimandatkan kepada kita. Dan pengenalan yang benar akan membawa kita kepada ketaatan dan kesetiaan, serta menjauhkan kita dari kekecewaan yang ujungnya bisa menolak Tuhan.

Perhatikan ketika Tuhan deal dengan Adam. Setelah selesai enam hari penciptaan dan sebelum Adam mulai menjalankan mandatnya, Tuhan mengadakan shabbath dengan Adam. Begitu juga ketika si bungsu datang kembali, bertobat dan hendak menjalankan mandatnya yang semula, sang ayah mengadakan shabbath dalam bentuk pesta, supaya ada pengenalan yang benar antara ayah dan bungsunya. Bandingkan dengan si sulung yang sungguh tidak pernah mengenal ayahnya, yang tidak sadar bahwa semua milik ayahnya juga adalah miliknya, itu sebabnya si sulung tidak pernah mengalami pesta (shabbath) di rumah ayahnya sendiri, karena ia sibuk dengan dirinya sendiri. 

Tahun Ayin Zayin 5777 biarkan tongkat didikan Tuhan terus menyempurnakan kita, biarkan pedang Tuhan memisahkan dan memotong semua yang masih kotor, sampai kita didapati semakin sejalan dan seirama karena pengenalan yang benar akan Hati-Nya, sehingga ketika kita menjalankan mandat, kita tidak menyalahgunakan pengaruh, kekuasaan dan wewenang yang telah dipercayakan kepada kita.

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

Friday, September 16, 2016

Selubung Kebijaksanaan Vs. Kuk Pengenalan

"Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: 'Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?' Jawab Yesus kepada mereka: 'Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.'" - Yohanes 9:40-41

Apakah pernah dengar perkataan orang seperti ini: "Saya kan bukan orang bodoh," sewaktu kita sedang menyampaikan suatu informasi atau sebuah kebenaran? Jadi orang tersebut hendak bilang seperti itu untuk menolak kebenaran yang kita sampaikan karena orang itu merasa akal dan kebijaksanaannya lebih baik daripada kebenaran yang kita sampaikan itu.

Dan karena sikap dan ucapannya itulah maka kebijaksanaannya justru yang menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa menerima kebenaran yang sejati. Kebijaksanaannya itulah yang jadi selubung bagi dirinya sendiri.
Orang-orang Farisi dan Saduki itu adalah para cendikiawan dan pandai bijaksana. Namun karena kebanggaan mereka terhadap hikmat kebijaksanaan mereka sendiri, Tuhan Yesus berkata, "Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar."

Bahkan Salomo yang paling bijaksana sepanjang sejarah manusia juga terjebak karena selubung yang dibanggakan itu sampai ia sadar dan mengakui bahwa semuanya adalah sia-sia. Itu sebabnya Tuhan datang untuk memberikan pengenalan sejati dengan ikut memikul kuk yang dipasang dan berjalan bersama-Nya karena Beliau memang lemah lembut dan rendah hati. Tanpa pengenalan tersebut, seberapapun kesuksesan yang kita raih, ujungnya adalah sia-sia. Betapa bahagianya mereka yang memilih pengenalan sejati tersebut apapun resiko yang harus ditempuhnya.

Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.

About Windunatha

My photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.