Friday, November 17, 2017

Perjodohan & Mentalitas Kerajaan

"Jangan sampai salah memilih jodoh. Mau pilih yang nilainya 6 di mata manusia tapi bernilai 9 di mata Tuhan atau yang nilainya 9 di mata manusia tapi bernilai 6 di mata Tuhan?" - Mikhael Iin Tjipto

"Don't become partners with those who reject God. How can you make a partnership out of right and wrong? That's not partnership; that's war. Is light best friends with dark?" - 2 Corinthians 6:14 (The Message)

"Jangan berjodoh (atau bermitra) dengan mereka yang menolak (kehendak) Allah. Bagaimana kamu bisa menjalin perjodohan (atau kemitraan) antara yang benar dan yang jahat? Itu bukan perjodohan; itu adalah perang. Apakah terang bersahabat dengan kegelapan?" - 2 Korintus 6:14 (Terjemahan versi The Message)

Tahukah Anda bahwa setiap keluarga kerajaan (ningrat) di mana pun kerajaannya, mereka tidak boleh menikah dengan rakyat jelata, melainkan harus dengan sesama ningrat, sekalipun mereka tidak atau belum saling mengenal atau saling menyukai atau mencintai?

Sebagai contoh, Pangeran Charles harus menikah dengan almarhum Putri Diana. Padahal Pangeran Charles sudah memiliki dambaannya sendiri yang sekarang menjadi istrinya. Pangeran Charles cerai hidup dengan Putri Diana dan menyebabkan beliau tidak bisa dipilih menjadi Raja Inggris menggantikan Ratu Elizabeth II. Sebagai gantinya Pangeran William lah yang akan meneruskan takhta kerajaan tersebut.

Mengapa urusan perjodohan menjadi begitu ketat bagi para ningrat? Karena mereka keluarga kerajaan & BUKAN rakyat jelata. Pada mereka melekat jati diri sebagai keluarga kerajaan dan mewarisi kekuasaan yang sangat besar dalam destiny mereka masing-masing.

Begitu juga kita sebagai anak-anak Kerajaan Allah dan Bapa kita yang adalah Raja di atas segala raja. Salah berjodoh bagi kita sebagai anak-anak Kerajaan akan menciderai warisan dan destiny "kingship" kita, bahkan panggilan kita di dalam Tuhan pun bisa terlantar sama sekali.

Mengapa demikian? Karena banyak anak Raja yang tidak sadar bahwa dirinya adalah anak Raja tapi mentalnya rakyat jelata!

Belajar Dari Kejahatan Esau

Berulang kali di dalam Alkitab tertulis betapa bencinya Tuhan terhadap Esau, baik itu di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru. 

"Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, --supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya-- dikatakan kepada Ribka: 'Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,' seperti ada tertulis: 'Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.'" - Roma 9:11-13

"Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. 'Aku mengasihi kamu,' firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?' 'Bukankah Esau itu kakak Yakub?' demikianlah firman TUHAN. 'Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.'" - Maleakhi 1:1-3

Mengapa Tuhan begitu membenci Esau? Karena Esau hidup hanya berdasarkan nafsu cabulnya, nafsu yang merendahkan bahkan meniadakan "kingship"-nya di dalam Kerajaan. Saking fatalnya kejahatan Esau, sampai tidak punya kesempatan untuk memperbaiki atau menebus kesalahannya itu.

"Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." - Ibrani 12:16-17

"Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ--pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: 'Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan' -- dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram, maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya." - Kejadian 28:6-8

Esau benar-benar mengabaikan Allahnya, JEHOVAH. Ia juga mengabaikan kakeknya, Abraham dan ayahnya, Ishak. Ia sama sekali tidak paham perjanjian, warisan, otoritas dan kuasa yang dianugerahkan TUHAN Semesta Alam kepada keluarganya. Mentalitasnya rendah sekalipun identitasnya begitu agung dan itu juga yang terjadi kepada banyak anak Tuhan dari zaman ke zaman di seluruh dunia.

Sedangkan Yakub sungguh-sungguh mendengar perkataan ayah dan ibunya dan bersikap selayaknya bangsawan Kerajaan Allah. Yakub mengikuti jejak Abraham dan Ishak dalam perjodohannya. Jika Anda ada membaca Book of Jasher (Kitab Orang Jujur), di situ tertulis bahwa Yakub baru menikah pada usia 77 tahun, sementara saat itu usia Lea dan Rahel baru 20 tahun (keduanya adalah saudari kembar). Jadi sementara Yakub hidup menguduskan dirinya sampai usia 77 tahun barulah ia menikah, di sisi lain Esau telah kawin dengan banyak wanita asing sejak masa mudanya sesuai dengan nafsu cabulnya itu.

Kesimpulan

Perjodohan anak-anak Kerajaan bukanlah hal yang sepele dan tidak bisa dipandang ringan sama sekali, sebab di dalamnya berkaitan dengan panggilan sorgawi (high calling - Filipi 3:14, Ibrani 3:1), destiny dan warisan "kingship" yang dampaknya sampai pada kekekalan. Dan kekekalan itupun berujung pada dua pilihan, Sorga atau Neraka.

Menyepelekan atau merendahkan masalah perjodohan yang kudus seperti yang dilakukan Esau, itu berarti:

1. Merendahkan atau mengabaikan TUHAN Allah sebagai Raja di atas segalanya.
2. Merendahkan atau mengabaikan perjanjian luhur yang telah Tuhan adakan dengan nenek moyang kita (Abraham, Ishak dan Israel).
3. Sekalipun kita sebagai Gereja adalah cangkokan dari bangsa pilihan, itu juga berarti merendahkan atau mengabaikan Karya Penebusan Yesus Kristus yang melalui Diri-Nya kita dijadikan anak-anak Kerajaan Allah.
4. Kita juga merendahkan atau mengabaikan diri kita sendiri sebagai anak-anak dari Raja di atas segala raja.

Jadi, sesungguhnya dalam hal perjodohan ini setiap anak-anak Kerajaan seharusnya berkata, "Tuhan, siapa jodohku yang paling cocok dan paling menguntungkan bagi Kerajaan kita?" Itu baru mentalitas Kerajaan Sorga, mentalitas Kerajaan Yang Tak Tergoncangkan! Sebab di dalam Kristus, kita hidup dengan menyandang Nama di atas segala nama itu, maka sudah sepatutnya kita memberi seluruh hidup kita menjadi benefit yang paling maksimal bagi kepentingan Kerajaan. Dan sikap demikian inilah yang membuat kita patut menerima warisan ilahi yang kekal itu.

Jika tidak demikian, maka kita hanya mencatut Nama Yang Kudus itu demi bisa selamat dari hukuman kekal di Neraka sambil hidup dengan mentalitas rakyat jelata dan dengan nafsu cabul yang rendah seperti Esau!

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Tuesday, October 10, 2017

Ayin Chet 5778 - Vol. 3: Ujian Roh, Ujian Cinta

Angka 8 memiliki makna utama bukan sekedar sebagai sesuatu yang baru atau suatu awal yang baru, namun juga memiliki makna yang lebih dalam lagi. Bahkan saking dalamnya, rasul Paulus membaginya dalam tiga tingkatan ke-baru-an, "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." - 1 Korintus 2:9

Perhatikan:

1. Tingkat yang paling dangkal, yakni sesuatu yang sudah pernah didengar, tapi belum pernah disaksikan oleh mata kepala kita sendiri. Ini saja sudah luar biasa. Bayangkan berapa sering kita mendengar mengenai mujizat laut Teberau dibelah oleh Musa, dan jika hal itu terulang kembali, sungguh sesuatu yang luar biasa, bukan?

2. Tingkat yang lebih dalam, yakni yang pernah terpikir di hati, tapi belum pernah kejadian, atau belum sekalipun terjadi, maka belum pernah terdengar apalagi terlihat kejadiannya, namun sudah ada yang memikirkannya.

3. Tingkat yang paling dalam, yang paling misterius, yang bahkan hati seorang manusia pun belum pernah memikirkannya. Mengapa? Karena yang ini baru bisa tercapai ketika seseorang telah begitu fokus mengasihi Tuhan tanpa pernah lagi memikirkan hidupnya sendiri.

Bandingkan dengan hidup Salomo, yang berlimpah harta, berlimpah pengetahuan, berlimpah pengertian dan berlimpah hikmat, namun dalam segala kelimpahannya itu ia berkata bahwa segalanya sia-sia, mengapa? Karena ia tidak menemukan yang baru dalam kehidupannya.

"Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." - Pengkotbah 1:9

"Apapun yang ada, sudah lama disebut namanya. Dan sudah diketahui siapa manusia, yaitu bahwa ia tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanya." - Pengkotbah 6:10

Salomo tidak menemukan Kristus dalam hidupnya, Salomo tidak menemukan Yang Baru, sehingga ia menyimpulkan bahwa manusia tidak bisa melakukan perkara yang lebih kuat daripada dirinya sendiri. Bandingkan dengan Daud yang mampu menumbangkan Goliat dan berbagai peperangan lainnya yang jelas lebih kuat daripadanya, atau bandingkan dengan Paulus yang telah menemukan Kristus, ia berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." - Filipi 4:13

Jadi menemukan atau menerima yang baru itu juga berarti mau dan rela keluar dari zona nyaman kita, mau dan rela menempuh resiko yang tidak bisa dipahami pada awalnya, mau dan rela untuk tetap percaya dan berharap walaupun sudah tidak ada lagi dasar untuk itu semua. Dan semua itu hanya bisa dilakukan ketika kita benar-benar mengasihi Tuhan.

Mengasihi-Nya Adalah Menyembah-Nya Dalam Roh Dan Kebenaran

Orang yang merelakan zona nyamannya, merelakan egonya dihabisi, merelakan dibawa ke manapun Tuhan kehendaki, ialah orang yang mengasihi dan menyembah Tuhan, baik di dalam roh maupun di dalam kebenaran.

"Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." - Yohanes 4:23-24

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." - Yohanes 14:15-17

"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." - Yohanes 16:12-14

Perhatikan urutannya, bahwa roh lebih dulu barulah kebenaran kemudian, tidak boleh terbalik. Itu sebabnya ada tertulis, "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." - 2 Korintus 4:18

Namun berapa banyak kita sebagai umat Tuhan terjebak untuk mendahulukan yang tertulis, yang kelihatan dan menomorduakan yang tidak kelihatan, yang berasal dari Roh Tuhan? Seberapa sering orang yang merasa sudah banyak mengerti tentang Tuhan, tentang Alkitab, tentang Kekristenan, tapi ketika berhadapan dengan hal yang baru dan yang masih asing akan sulit menerima, mempertanyakan dengan berkata, "ayatnya di mana?" Bahkan menganggap bahwa hal yang baru itu menyesatkan.

Orang yang mentalitas imannya sering berkata, "di mana ayatnya?" itu adalah orang yang tidak beriman, sebab dengan gamblang Ibrani 11:1 berkata, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Jadi jika ingin melihat dulu baru mau percaya, apakah bisa disebut iman?

Itu sebabnya ada saja orang-orang yang dengan congkak berkata bahwa dirinya hanya belajar dari Alkitab saja, suka berdebat tentang pengetahuan akan Firman, dan agresif menuduh sesat kepada banyak hamba Tuhan lainnya. Bahkan saking sukanya berdebat akan pengetahuan tentang Firman, mereka mengadakan acara debat Firman secara berkala di gereja. Gila benar orang-orang ini!

Ini mentalitas buruk dan sangat parah, sampai kapanpun Tuhan tidak pernah bisa memberikan yang baru seperti yang telah dijanjikan-Nya di 1 Korintus 2:9. Mengapa? Sebab mereka sibuk dengan apa yang telah mereka lihat dan mereka dengar, lebih konyol lagi, mereka menjadikan itu sebagai show, ajang debat terbuka. Persis seperti orang-orang Farisi dan Saduki yang begitu hebat pengetahuannya akan Firman, namun begitu Sang Pembaharu, yakni Sang Mesias yang telah lama dijanjikan tampil di hadapan mata kepala mereka sendiri, mereka malah menjadi kecewa dan menolak-Nya.

Yang Baru Adalah Yang Ekstrim

Sesuatu yang baru itu cenderung bersifat ekstrim, minimal untuk kenyamanan kita. Mengapa? Karena pada dasarnya kita enggan untuk berubah, kecuali jika terpaksa. Orang sudah nyaman dengan kebiasaannya sehingga menjadi tradisi bahkan turun temurun dan ketika yang baru hadir, butuh usaha yang besar untuk berubah dan menyesuaikan. Yang jadi masalah adalah jika orang tersebut tidak mau berubah, maka ketika perubahan itu tak terhentikan yang tidak berubah akan tertinggal. Bukankah begitu Israel menolak Yesus sebagai Sang Mesias, tidak sampai empat dekade kemudian negaranya dibubarkan selama hampir dua millennium?

Berikut ini beberapa hal yang alkitabiah, yang baru dan yang ekstrim namun yang Tuhan berkenan & kehendaki:

1. Bahtera Nuh, "Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." - Ibrani 11:7

Apakah Nuh ada bertanya, "di mana ayatnya bahwa Bumi pernah hujan dan banjir pernah terjadi?" Tentu tidak. Lalu mengapa Nuh taat membuat bahtera yang diperintahkan Allah? Karena pengenalan rohnya dengan Roh Tuhan.

2. Pengorbanan Ishak di gunung Moria, ini kasus paling ekstrim yang pernah ada dalam sejarah para pahlawan iman. Mengapa? Sebab mengorbankan anak seperti yang dilakukan Abraham terhadap Ishak merupakan tradisi penyembah berhala, atau paganism. Dan mudah sekali untuk Abraham menolak permintaan Tuhan untuk perkara ini dengan berkata, "Bagaimana mungkin Tuhan meminta bukti iman dan cintaku dengan cara penyembah setan? Sebab hanya setan yang suka meminta korban manusia." Dan dengan mudahnya jika kita hidup di zaman itu maka kita akan menyebut bahwa Abraham sesat.

Dan mungkin akan lebih buruk lagi ketika istrinya tidak diberitahu bahwa Ishak akan dikorbankan. Mungkin orang akan tambah menghakimi Abraham dengan berkata, "Lihat, istrinya pun yang melahirkan anaknya itu bahkan tidak diberitahu tentang perkara penting itu."

Sungguh jika bukan adanya pengenalan roh Abraham yang kuat kepada Roh Tuhan, tidak mungkin Abraham sanggup menuntaskan perintah Tuhan yang ekstrim itu.

3. Gaya hidup Daud, "Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam." - 2 Samuel 6:17-18

Bandingkan perbuatan Daud di atas dengan perbuatan Saul yang tertulis dalam 1 Samuel 13:9-14. Keduanya, baik Daud maupun Saul sama-sama sebagai seorang raja Israel mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan Tuhan. Dan sesungguhnya yang pantas melakukan korban bakaran adalah seorang imam, bukan seorang raja. Lalu mengapa ketika Daud melakukannya maka bangsa itu diberkati, sedangkan ketika Saul melakukannya malah dianggap Samuel sebagai perbuatan bodoh dan dihitung Tuhan sebagai tindakan pembangkangan?

Yang satu melakukan murni karena cintanya kepada Tuhan, sedangkan yang lain melakukannya karena egonya sendiri. Jika menurut buku aturan keimaman, apa yang dilakukan Daud adalah salah, namun karena cinta, hal itu jadi berbeda. Apakah Daud sungguh melanggar aturan keimaman? Tentu tidak. Mengapa? Karena hukum yang terutama ia jalankan, yakni Daud mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatannya.

4. Kemah atau Pondok Daud, "Maka suatu takhta akan ditegakkan dalam kasih setia dan di atasnya, dalam kemah Daud, akan duduk senantiasa seorang hakim yang menegakkan keadilan, dan yang segera melakukan kebenaran." - Yesaya 16:5

"'Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala, supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,' demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini." - Amos 9:11-12

Selama sekian waktu bangsa Israel diajarkan mengenai bentuk Kemah Pertemuan atau Tabernakel yang semua detil rancangannya 100% copy paste dari apa yang Musa lihat di Sorga, namun setelah kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda tidak ada lagi, justru Tuhan menjanjikan bentuk kemah lain, yakni Kemah Daud yang jauh lebih sederhana bentuknya daripada Tabernakel. Mengapa? Sekali lagi semua itu hanya karena kuasa cintanya Daud kepada Tuhan.

Apakah sebelumnya pernah ada tertulis tentang Kemah Daud ini? Apakah pernah ada orang melihat bentuk Kemah Daud di Sorga seperti Musa melihat rincian Tabernakel? Tidak pernah.

5. Mandat Hosea, "Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: 'Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.'" - Hosea 1:2

Tahukah Anda bahwa apa yang Tuhan perintahkan kepada Hosea saat itu merupakan sesuatu yang sama sekali bertentangan dengan aturan tertulis akan keimaman dan hamba-hamba Tuhan?

Perhatikan Kitab Imamat pasal 21 mengenai aturan imam, "Ia harus mengambil seorang perempuan yang masih perawan. Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya, supaya jangan ia melanggar kekudusan keturunannya di antara orang-orang sebangsanya, sebab Akulah TUHAN, yang menguduskan dia." - ayat 13-15

Bisa Anda bayangkan bahwa hari itu Hosea mendapat mandat pewahyuan langsung dari Tuhan yang isinya 100% bertentangan dengan aturan tertulis? Saya sendiri tidak bisa membayangkan hebatnya serangan dan cemooh yang harus Hosea terima dari rekan-rekan sejawatnya juga masyarakat hari itu. Mengawini perempuan sundal dan melahirkan anak-anak sundal karena perintah Tuhan, sebab Tuhan telah menghakimi negeri Israel bersundal hebat. Buat saya itu sebuah mandat yang mahaekstrim.

Jika bukan karena Hosea memiliki pengenalan akan Tuhan yang begitu dalam, tidak mungkin Hosea rela menempuh resiko seekstrim itu. Namun Hosea menyembah Tuhan dalam roh lebih dulu sehingga kebenaran tertulisnya baru mengikuti apa yang Roh Tuhan ilhamkan. Dan Hosea sangat mengerti bahwa yang tidak kelihatan itulah yang kekal, sedangkan yang kelihatan itulah yang sementara.

Ujian Roh, Ujian Cinta

Di tahun Ayin Chet 5778 - 2018 akan ada begitu banyak dari anak-anak Tuhan yang mengalami ujian roh karena Tuhan hendak memberikan seusatu yang baru, mulai dari apa yang belum pernah dilihat oleh mata, lalu apa yang belum pernah didengar oleh telinga bahkan yang paling misterius yang belum pernah timbul di dalam hati manusia, atau yang sama sekali tidak terpikirkan. 

Ujian ini memiliki resiko besar, mulai dari dicemooh ringan sampai dihujat sesat, apalagi hari-hari ini semakin jahat. Namun semakin buruk keadaannya, semakin mudah membuktikan siapa yang sungguh mengasihi Tuhan dan siapa yang selama ini hanya berpura-pura.

Tuhan tidak pernah puas hanya menyingkapkan sebagian yang bisa kita tahu, sebab sesungguhnya masih banyak yang hendak Beliau sampaikan, namun untuk hal itu Beliau sabar menantikan sampai kita sanggup menerima bahkan yang paling misterius itu, yang tak terpikirkan oleh hati kita.

Jenis ujian ini yang akan terus Tuhan pakai untuk memisahkan domba dari kambing, memisahkan gandum dari lalang, memisahkan yang bijaksana dari yang bodoh dan memisahkan yang setia dari yang jahat. 

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.

About Windunatha

My photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.