Labels

Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Monday, January 30, 2012

Kecaplah Dahulu, Kemudian Lihatlah

"Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu." - Daniel 1:8-9

"Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" - Mazmur 34:9

Kecaplah dan lihatlah, demikianlah petunjuk prosedurnya. Adakah Anda memperhatikan urutannya? Bahwa Anda diminta untuk mengecap atau mencicipi barulah kemudian melihat apa yang Anda cicipi itu. Namun kita terbiasa untuk melihat apa yang disuguhkan, dan jika kelihatan menarik barulah kita berkenan untuk mencicipi. Sungguh berbeda antara hikmat Allah dengan hikmat dunia. Namun demikian itulah cara kerja iman yang benar di hadapan Tuhan.

Daniel dan rekan-rekannya berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan raja, sehingga pemimpin pegawai istana takut kalau-kalau mereka didapati kurang sehat sehingga ia akan dipersalahkan. Namun Daniel dan rekan-rekannya berketetapan demikian karena iman mereka, barulah kemudian anugerah Allah turun sehingga ketika mereka dibandingkan dengan semua orang berilmu dan semua ahli jampi di Kerajaan Babel, raja Nebukadnezar mendapati bahwa Daniel, Hananya, Misael dan Azarya sepuluh kali lebih cerdas.

Bagi Daniel, ia tidak takut didapati apakah lebih cerdas atau lebih bodoh. Ia tidak pernah peduli akan dirinya. Yang ia fokuskan hanya satu perkara, yaitu bagaimana hidup kudus dan tampil berkenan di hadapan Allah. Selebihnya semua itu adalah hak prerogatif Allah sendiri. Daniel dan ketiga rekannya mengecap hukum dan takut akan Allah seperti yang dikehendaki Tuhan dan mereka melihat kemuliaan yang dapat Allah nyatakan apapun situasinya.

Berbahagialah Ia Yang Tidak Melihat Namun Percaya

Tuesday, March 29, 2011

Apakah Iman Harus Selalu Disertai Dengan Perbuatan?

Bahan Renungan: Yakobus 2:17; Kejadian 15:5-6, 16:2-3

Dikatakan bahwa jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Pertanyaannya adalah apakah iman HARUS SELALU disertai dengan perbuatan? Apakah jika TIDAK BERBUAT berarti tidak beriman?

Sara, istri Abraham, yang hari itu masih bernama Sarai mempercayai bahwa mereka akan mempunyai anak (iman) dan sebagai pembuktian imannya, ia menyerahkan Hagar kepada Abram (perbuatan). Namun kita semua tahu bahwa hal itu adalah sebuah KESALAHAN, bahkan berakibat fatal. Sementara di kejadian sebelumnya Tuhan berfirman kepada Abram bahwa dia akan memiliki keturunan sebanyak jumlah bintang yang diperlihatkan Tuhan di langit dan sebagai responnya, Abram hanya percaya dalam hatinya, namun Tuhan telah memperhitungkan hal itu sebagai KEBENARAN (beriman namun seperti tidak terlihat perbuatannya).

Dari kedua peristiwa di atas, kita mulai memahami bahwa perbuatan kita bahkan bisa mematikan iman kita, walaupun di saat yang sama kita yakin apa yang kita perbuat adalah benar. Namun ada kalanya ketika kita tidak berbuat apapun itulah saat iman kita mulai hidup dan berbuah. Sehingga sekarang kita menyadari bahwa ada yang bertindak karena keraguannya, ada yang diam karena keyakinannya. Dan sesungguhnya diam TIDAK sama dengan tidak berbuat, justru diam pun termasuk perbuatan karena iman.

Lalu bagaimana kita membedakan apakah perbuatan kita sesuai dengan kebenaran iman? Caranya tidak lain adalah dengan mengenal Sang Pemberi Janji. Abraham sesungguhnya mengenal Tuhannya, bergaul karib dengan Tuhannya, sementara Sara saat itu hanya sekedar tahu. Walau akhirnya Abraham menuruti petunjuk istrinya, namun kesalahan itu berangkat dari inisiatif Sara. Bagaimana dengan kita? Adakah kita mengenal Dia & beriman sesuai dengan perkenanannya?

BEING STILL IS NOT SAME WITH DOING NOTHING

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.