Labels

Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

Monday, June 15, 2015

Menya(m)bung Harapan

Apa yang bisa dirasakan ketika kita mulai mengetik nama depan kita di Google, dan dalam sekejap langsung mendapati bahwa nama kita ada di urutan pertama pada mesin pencari tersebut bahkan pada halaman pertama hasil pencarian ada tautan dari Wikipedia mencatat informasi tentang pribadi kita dengan cukup lengkap dan rinci? Akankah kita menjadi bangga mendapati semuanya itu? Atau bagaimana kita harus bersikap?

Itulah yang dialami oleh kedua warga Australia, yang juga mantan Duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Belum selesai kita mengetik kata "Andrew" atau kata "Myuran", suggestion list di bawah kotak pencarian sudah menampilkan nama lengkapnya. Dan begitu nama mereka diklik, tautan Wikipedia ada di bagian teratas memuat informasi lengkap kedua figur tersebut. Mereka menjadi begitu tenar, namun karena perkara yang tak terduga sebelumnya dan melalui proses yang begitu dramatis.

Keduanya tergabung dalam sindikat narkoba yang disebut Bali Nine, dan pada tahun 2005 kesembilan orang ini tertangkap di Ngurah Rai, Denpasar. Beberapa waktu kemudian semua anggotanya divonis hukuman mati dan walaupun telah berjuang dalam perjuangan yang begitu panjang dan amat melelahkan, 10 tahun untuk mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup, hasilnya tetap nihil, bahkan dua di antaranya telah final tereksekusi pada 29 April 2015 lalu.

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran memulai dengan amat buruk dan seharusnya tak ada yang istimewa dengan hal itu karena pelaku peredaran narkoba yang tertangkap di Indonesia jumlahnya amat banyak hingga Indonesia dianggap dalam situasi darurat narkoba. Bahkan di beberapa daerah, mendapati narkoba jauh lebih mudah daripada membeli sayur mayur. Sungguh memprihatinkan memang.

Kisah mereka mulai menjadi menarik ketika perubahan mulai terjadi di saat mereka merasa sudah tak berdaya, lalu menemukan Kristus, bertobat dan memberi diri mereka kepada Kerajaan Tuhan. Harapan yang sempat putus kembali tersambung, namun kali ini bukan hanya bagi hidup mereka sendiri melainkan bagi sesama narapidana lainnya yang bertetangga dengan mereka. Singkat kata, para Saulus bertransformasi menjadi para Paulus.

Di sisi lain, ketidakpastian yang berkepanjangan atas perjuangan mereka untuk lolos dari vonis hukuman mati menjadikan beban tersendiri yang luar biasa berat bagi batin mereka. Ketakutan pada kematian atau kekecewaan karena merasa diperlakukan tidak adil bisa menjadi alasan perjuangan mereka ini. Apalagi ditambah sekian banyak deretan peristiwa dari masing-masing anggota keluarga mereka di negeri lain yang tak mampu mereka hadiri, mulai dari ulang tahun, pernikahan, kelahiran dan terutama ketika ada di antara keluarga mereka yang wafat dan dimakamkan. Sungguh sama sekali tidak mudah menghadapi semuanya itu.

Namun ketika eksekusi mati gelombang pertama pada 18 Januari 2015 terjadi, seluruh sisa calom terpidana mati lainnya menjadi begitu terhenyak, sebab baru pertama kali seorang Presiden RI menolak secara total tanpa terkecuali pemberian grasi bagi semua calon terpidana mati kasus narkoba. Termasuk di antaranya adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, keduanya terjadwal dieksekusi pada gelombang kedua.

Melihat kepastian dan keseriusan Presiden Joko Widodo dalam memberantas narkoba sungguh membuat semua pihak yang peduli terhadap keselamatan Andrew dan Myuran berjuang ekstra giat untuk meloloskan dari maut. Berbagai pertimabangan dan nasihat bahkan kegiatan doa - puasa diadakan banyak pihak demi untuk membatalkan eksekusi gelombang kedua dan situasinya menjadikan 4 bulan berikutnya jauh lebih dramatis lagi. Grasi yang diharapkan tetap tidak turun, sampai akhirnya kesembilan narapidana menghembuskan nafas terakhirnya di tangan para algojo.

Namun eksekusi gelombang kedua ini terjadi begitu berbeda daripada gelombang yang pertama, menurut saya, beberapa hal di antaranya:

1. Sangat banyak pihak yang bisa diajak terlibat secara aktif untuk memohon pengampunan kepada pemerintah Indonesia. Walaupun di sisi lain juga semakin banyak yang menentang bagi mereka untuk mendapatkan kelonggaran. Sebagian besar alasan mereka yang rela membela pada calon terpidana mati adalah karena mereka melihat jelas dampak pertobatan tersebut.

2. Ketika Ang Kim Soei (salah satu terpidana pada gelombang pertama, 18 Januari 2015) hendak dieksekusi, dia berpesan dalam keberatannya, "Saya punya pesan untuk Presiden Jokowi, saya selama ini telah berubah dan terus berupaya berbuat baik. Salah satunya, dengan mengobati orang, baik narapidana atau warga sekitar. Ada puluhan orang yang telah saya obati. Saya memiliki kemampuan untuk mengobati, saya menggunakannya. Tapi, mengapa justru saya yang dihantam (dieksekusi). Padahal, banyak terpidana mati, yang tetap berbuat jahat di dalam penjara."

Bandingkan dengan pesan Andrew Chan, "Perlakukan setiap hari seperti berlian, belajar menggunakannya untuk hal-hal yang kamu cintai, jalani hari itu dengan orang-orang yang kamu sayangi, karena kamu tak pernah tahu, kapan kita mesti berpisah." Dia belajar merelakan, walaupun usahanya untuk lolos dari hukuman mati sama sekali tidak berhasil. Andrew, juga Myuran mengakhiri hidupnya dengan baik. Mereka akhirnya memberkati orang-orang di sekitarnya. Dan memaafkan mereka yang menyakiti.

Andrew dan Myuran gagal menyabung harapan untuk tetap bisa hidup, namun waktu-waktu terakhir hidup mereka justru menyambung atau menghidupkan kembali harapan dari banyak orang untuk Indonesia bebas dari narkoba. Kebodohan mereka memang menjerumuskan mereka, namun sikap mereka menghadapi semua akibatnya menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak orang.

Konon data terakhir menyebutkan bahwa saat ini ada lebih dari Rp 360.000.000.000.000,- / tahun perputaran uang narkoba yang beredar di Indonesia. Dan US $400.000.000.000,- / tahun perputaran uang narkoba di dunia. Belum lagi jutaan korban yang jatuh maupun yang harus direhab. Dapatkah Gereja Tuhan melihat semuanya ini sebagai peluang dan jarahan untuk merebut jiwa bagi Kristus dan Kerajaan-Nya? Atau drama eksekusi Andrew Chan dkk hanya sebagai tontonan emosional sesaat untuk memuaskan nafsu komersil industri media saat itu?

Andrew Chan, Myuran Sukumaran dan ketujuh tereksekusi tidak mati sebagai martir, kematian mereka terjadi karena proses hukum yang sah, namun proses dan sikap mereka dalam menghadapi kematian mereka itulah warisan yang perlu direspon secara proaktif demi Indonesia yang lebih baik. Tuhan memberkati.

Thursday, December 20, 2012

Dua Rumus Matematika Di Ayin Gimel 5773

"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. " - Yoel 2:28-29

Jakarta, 19 Desember 2012

Dear Brothers and Sisters,

Saya ingin share sedikit tentang mimpi yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya bukan tipe orang yang suka cerita pengalaman di publik. Saya lebih suka ngobrol dan sharing in private dengan seseorang. Makanya kalau saya mau cerita ini percayalah bukan karena saya yang mau. Tapi Roh Kudus desak saya terus untuk tulis mimpi saya ini.

Sejujurnya, dalam minggu-minggu ini (minggu ke 2 - 3 Desember 2012) saya disuruh Tuhan untuk duduk diam dan banyak doa, menyembah, baca Firman. Teman saya, seorang pasukan doa di Kudus, menyampaikan pesan bahwa saya harus melakukan hal itu. Jadi, setiap malam pulang kerja saya datang menghadap kepada Tuhan dan hanya dalam hitungan detik Dia hadir di kamar saya. Dan itu saya alami malam demi malam. Ada kalanya suatu malam saya sudah lelah sekali dan bilang ke Tuhan, "Saya tidur ya, Tuhan?" Namun waktu berbaring Dia lawat saya lagi dengan hadirat-Nya. Akhirnya saya bangun dan mulai berdoa lagi walau tubuh sudah lelah sekali. Di malam-malam jam doa itu seringkali mulut saya bergerak sendiri tanpa bisa dikontrol sambil menyanyikan nada-nada dalam bahasa-bahasa roh yang saya tidak mengerti apa artinya. Terkadang Roh Kudus memberi penafsirannya, terkadang tidak. Ada kalanya saya mendengar nada-nada yang indah sekali, seperti saya sedang ikut bernyanyi dengan paduan suara surgawi. Mulia sekali! Awesome!

Suatu malam setelah berdoa, saya tertidur dan diberi mimpi. Di mimpi itu Tuhan beri saya kertas warna putih berbentuk kotak, segitiga dan lain-lain Kertas itu lembut atau lembek sekali waktu disentuh bahkan seperti bisa dimakan. Lalu Tuhan mulai bagi-bagikan kertas itu ke saya dan seorang anak Tuhan lainnya. Lalu ada sebuah potongan kertas yang diberikan ke orang lain. Lalu saya tanya Tuhan, "Tuhan, koq aku tidak dikasih kertas itu. Aku juga mau". 

Lalu Tuhan jawab, "Sebenarnya potongan kertas itu adalah jatah dan bagianmu. Tapi kalau kamu tidak menghargai apa yang Kuberikan bagimu, suatu ketika bagianmu bisa Kuberikan kepada orang lain." 

Lalu saya terbangun dan diingatkan Tuhan perumpamaan tentang talenta: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." - Matius 25:29. Untuk lebih jelasnya saya coba ambil Alkitab terjemahan lain. Ayat ini sangat bagus sekali kalau kita lihat dari terjemahan versi The Message: "Take the thousand and give it to the one who risked the most. And get rid of this 'play-it-safe' who won’t go out on a limb. Throw him out into utter darkness." Terjemahan Indonesia: "Ambillah yang seribu (satu talenta) dan berikan kepada orang yang paling berani menanggung resiko. Dan singkirkan orang yang 'hanya suka bermain di zona yang aman' yang tidak mau mengambil resiko. Lemparkan dia ke dalam kegelapan yang paling gelap."

Frasa "go out on a limb" adalah sebuah idiom bahasa Inggris yang berarti:

1. Mengambil resiko.
2. Menempatkan diri kita di posisi yang tidak menguntungkan demi menolong orang lain. (Salah satu makna Ayin Gimel 5773).
3. Mengambil kesempatan yang ada. (peka dan tanggap akan kairos-Nya Tuhan)
4. Melakukan sesuatu yang berbeda tidak ikut-ikutan seperti kebanyakan orang. 

Sedangkan orang yang menyia-nyiakan talenta / karunia adalah:

1. Orang yang tidak berani mengambil resiko. Bukankah Yesus mengambil resikonya untuk datang ke dunia? Dia tahu resikonya bahwa Dia akan mati di kayu salib secara brutal.

2. Orang yang tidak mau berkorban buat orang lain. Kisah orang Samaria yang baik hati adalah contoh yang tepat untuk orang yang berkorban buat orang yang bahkan tidak dikenalnya. (Lukas 10:25-37)

3. Orang yang tidak berani ambil kesempatan dalam kairos-Nya Tuhan. Beberapa hamba Tuhan sebenarnya Tuhan suruh mendirikan sebuah pelayanan khusus untuk mereka yang terbuang, yakni para gelandangan, tuna wisma, preman, mantan napi, waria dan sebagainya. Namun tidak ada yang mau sampai adanya Mahanaim - Bekasi yang diinisiasi oleh Ev. Iin Tjipto sekian tahun lalu dengan segala resiko maupun berkatnya. Efesus 5:16 dari versi Amplified Bible berkata: "Making the very most of the time [buying up each opportunity], because the days are evil." Terjemahan Indonesia: "Menggunakan waktu sebaik-baiknya [membeli setiap kesempatan], karena hari-hari ini adalah jahat."  Apakah kita berani membeli setiap kesempatan yang Tuhan berikan?

4. Orang yang tidak berani tampil beda. Ada perbedaan yang jelas antara anak-anak Tuhan dengan orang yang tidak mengenal Allah. Kalau hidup kita sama saja dengan orang dunia, ada yang SALAH di hidup kita. Maleakhi 3:18 - "Maka kamu akan melihat perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya."

Faktanya, perumpamaan tentang talenta ini ada dalam pengajaran Tuhan Yesus dimana hal ini ditulis satu paket di dalam konteks mengenai Akhir Zaman di Injil Matius pasal 24-25. Kedatangan Anak Manusia, siksaan yang berat, Penghakiman Terakhir dan sebagainya. Saya percaya Tuhan Yesus sedang memperingatkan anak-anak-Nya di Akhir Zaman supaya tidak menyia-nyiakan talenta, karunia dan kesempatan yang Tuhan berikan dan menimbunnya begitu saja. Akhirnya adalah dicampakkan ke Neraka!

Ketika Tuhan Bermatematika

Dua hari yang lalu (17 Desember 2012) saya diberi mimpi lagi. Terus terang bahwa saya ini sangat lemah dalam bidang eksak. Jadi rumus Matematika, Fisika, dan Kimia adalah mata pelajaran yang sangat saya tidak sukai. Nilai ujian Matematika saya waktu sekolah di SMA bahkan cuma 0,85 (per 10) karena memang saya tidak suka rumus-rumus matematika. Pusing!!! Tapi pelajaran Bahasa, Sejarah dan sebagainya saya selalu dapat nilai antara 8, 9, dan 10. Anehnya di mimpi saya itu tiba-tiba Tuhan, Pribadi yang saya tidak bisa lihat wajah-Nya tapi dalam roh saya tahu itu Tuhan, menuliskan sebuah rumus. Dan saya bingung dengan rumus itu. Itu asli betul-betul rumus matematika. Lalu saya tanya, "Tuhan, ini rumus apa? Simbol-simbolnya aku tidak mengerti." Tuhan jawab dengan menuliskannya dalam kata-kata:

Rumus pertama:
Kehidupan Rohani × Dosa = Dosa

Katakanlah kehidupan rohani nilainya 100 dan dosa nilainya 1. Jadi, 100 × 1 = 100. Dapat kita simpulkan bahwa semakin besarnya nilai kehidupan rohani kita, tapi selama dosa masih ada, maka potensi kita jatuh ke dalam dosa nilainya paling sedikit sama dengan kehidupan rohani kita. Sedangkan jika dosa tidak ada, maka potensi kita untuk jatuh ke dalam dosa juga tidak ada, 100 x 0 = 0.

Lalu apa yang dimaksud dengan dosa di sini? Kehidupan raja Daud dapat dijadikan contoh. Dia memiliki kehidupan rohani yang sedemikian luar biasa, sampai-sampai Tuhan jatuh hati kepadanya. Setelah melewati begitu banyak ujian dan penderitaan, ia menerima promosi dan penggenapan janji Tuhan atas dirinya dengan menjadi raja atas seluruh Israel. Namun inilah dosanya, yakni ketika di suatu pergantian tahun dimana seharusnya ia ikut berperang, ia malah tinggal di istana karena merasa sudah tidak perlu lagi melakukan hal itu, cukup jenderal dan tentaranya saja yang turun ke medan perang. Sebagai hasilnya, Iblis me"multiplikasi" celah yang ada dengan Batsyeba bahkan berujung pada konspirasi pembunuhan terhadap Uria dan pertikaian serta pemberontakan dalam keluarga kerajaannya - Amnon memperkosa Tamar, Absalom memberontak dan tewas dibunuh, dan Adonia pun harus binasa di tangan Salomo. Dosanya dimulai ketika sikap hatinya menyimpang dan mulai menjadi sombong.

Sekarang seharusnya kita menyadari bahwa betapa kudusnya Tuhan itu sehingga Dia tidak bisa bercampur dengan dosa. Dosa kesombongan, amarah, kepahitan, bersungut-sungut, negative thinking, malas, kedagingan dan sebagainya. Kehidupan rohani kita bisa kosong bila dosa masih menguasai kita. Yesus berkata: "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna." - Yohanes 6:6. Dan rasul Paulus menambahkan, "Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." - Roma 8:13.

"Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." - Ibrani 12:1-2. Jadi jalan satu-satunya supaya nilai dosa kita tetap nol adalah dengan terus fokus hanya kepada-Nya. Esensi dosa adalah tidak kena kepada target (sin means missing the target), jadi hanya mengarahkan mata kita terus kepada-Nya maka kita dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Sedangkan ketika mulai mengarahkan mata hati kita dari pada-Nya, potensi jatuh ke dalam dosa sudah mulai terbuka.

Kemudian Tuhan tuliskan lagi simbol-simbol lainnya. Dan saya juga tidak mengerti apa artinya. Lalu saya bertanya lagi, "Tuhan, ini artinya apa? Simbol-simbol ini saya tidak mengerti." Dia jawab dengan menuliskan ke dalam bahasa yang saya mengerti:

Rumus Kedua:
Kehidupan Rohani × Iman Percaya × Tangan yang Rajin Bekerja = Multiplikasi Demi Multiplikasi

Jadi misalnya nilai kehidupan rohani 100, nilai iman 90 dan pekerjaan tangan kita bernilai 80, maka hasilnya adalah 720.000. Saya diajari betapa hidup kita dalam Tuhan sebenarnya akan mengalami multiplikasi demi multiplikasi asalkan hidup kerohanian kita terus bertumbuh dalam iman dan mengerjakan bagian kita dengan tekun. Namun berapa banyak anak-anak Tuhan hidupnya stagnant, begitu-begitu saja, bersikap kerdil, mau enaknya saja, mau gampangnya saja, terus takut untuk mengambil resiko dan tidak bertumbuh karena mereka pikir sudah cukup jadi orang Kristen biasa-biasa saja. Pergi ke gereja dengar kotbah tiap minggu, bahkan mungkin ikut ambil pelayanan, tapi kerohanian mereka ternyata kerdil, tidak bertumbuh. Mereka hanya mau dengar tentang Tuhan yang baik, Juru selamat, Gembala yang baik, Jehovah Jireh, Jehovah Rapha dan seterusnya. Tapi roh mereka tidak dibangun setiap hari. Mereka tidak berpetualang dengan iman mereka. Mereka tidak mau dengar Allah berbicara dan bekerja dengan giat hanya untuk diri sendiri bukan untuk memperlebar Kerajaan Allah di manapun mereka ditempatkan.

Setelah itu saya terbangun lagi dan merasa heran, mengapa Tuhan kasih saya rumus matematika? Padahal Dia tahu saya sangat tidak menyukai rumus Matematika. Pesan Tuhan ini adalah warning buat saya pribadi. Semakin hari semakin saya merasakan Tuhan lebih dekat dan lebih dekat lagi. Roh Kudus bahkan sempat bicara dengan kuat untuk saya membangun mezbah keluarga, menggerakkan komsel demi komsel dan sebagainya.

Kita semua percaya kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat. Tapi masih banyak jiwa-jiwa yang harus kita menangkan bagi Dia. Ada domba-domba Tuhan yang harus digembalakan agar tidak sesat dan terpelihara dan terbangun dengan benar. Indonesia dan bangsa-bangsa sedang menanti-nantikan lawatan Tuhan. Biarlah kita terhitung menjadi orang-orang yang memultiplikasikan talenta, orang-orang yang berani mengambil resikonya, membangun kehidupan rohani yang bertumbuh dewasa, menanggalkan dosa dengan mata kita tetap tertuju kepada Yesus, bukan kepada manusia maupun yang lainnya. Siapkan kami Tuhan! Kami mohon anugrah-Mu. Maranatha, datanglah ya Tuhan Yesus! Amin!

- Jean O. Christensen -

Monday, July 16, 2012

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Joko Widodo bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama telah memenangkan putaran pertama PILKADA DKI Jakarta 11 Juli 2012. Ini adalah kesaksian Basuki,

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada yat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.

Silahkan dibagikan, Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Sunday, January 22, 2012

Destiny Is My Priority

Kesaksian dari Saudari MC - Jakarta

Hari Jumat lalu (20 Januari 2012), aku beneran lihat naga di atas Mangga Dua Square - Jakarta. Kepalanya sangat besar di atas gapura yang letaknya di pinggir rel kereta api. Karena gak diperintah apa-apa oleh Roh Kudus, ya aku cuma lihat-lihatan saja, gak ditengking, gak dipatahin.

Beberapa menit kemudian aku ditabrak orang di rel kereta api itu. Yang menabrak mobil, sementara aku naik sepeda motor. Jatuh sih. Tapi karena Tuhan kita jauh lebih berkuasa dan lebih kuat, aku jadi bisa punya kekuatan untuk bangun, angkat lagi motor yang sudah tiarap di aspal, dan langsung jalan lagi melewati mobil yang nabrak tanpa menoleh, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kebetulan yang nabrak tidak turun dari mobilnya, hanya berhenti di tempat.

Aku memang sengaja tidak menghampiri mobil yang menabrak karena aku tahu itu ulahnya naga itu. Jadi aku tidak peduli dengan orang yang menabrak. Kalau saja aku menoleh, mungkin saja Iblis memiliki dan mengambil kesempatan untuk buat keributan antara aku dengan orang yang di dalam mobil itu.

Aku yakin 777% bahwa tindakanku murni karena penguasaan diri yang dari Roh Kudus. Karena beberapa saat setelah kejadian itu Beliau langsung berbicara beberapa hal:

1. Hal-hal yang keras akan jadi hal yang biasa tahun 2012 ini. Jadi jangan lebay. Yang kelihatan keras, besar, sensasional sebenarnya bukan apa-apa. Itu hanya tipu daya musuh untuk mengganggu fokus kita. Kita punya tugas dan mandat dari Tuhan, kerjakan itu sebaik-baiknya dan jangan memberatkan teman-teman lain yang juga sedang bekerja, makanya aku gak langsung cerita kepada siapapun setelah kejadian. Aku tetap mengingatkan diriku bahwa DESTINY is my priority!

2. Percayah bahwa Allah Elohim adalah gunung batu, kota benteng dan tanduk keselamatan kita. Karena setelah tiba di tempat tujuan aku cek gak ada luka atau lecet sedikit pun. Celana kotor karena jatuh pun tidak. Jadi janji Tuhan adalah YA dan AMIN bahwa malaikat-malaikat-Nya akan menjaga kita di jalan, dan mereka akan menatang dengan tangannya supaya kaki kita tidak terantuk batu.

So, friends... Terus maju, mendesak, jangan pedulikan situasi sekeliling. Musuh itu kalo gak dipaksa, gak akan mau menyerah. Tuhan memberkati.

Selalu Ada Lelucon Di Setiap Duka, Jadi Bersukacitalah Selalu.
Rejoice & Be Prosper!

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.