Labels

Showing posts with label Passover. Show all posts
Showing posts with label Passover. Show all posts

Monday, April 6, 2015

Paskah 5775

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." - Ibrani 12:2

"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." - 1 Korintus 1:18

Selama ini saya berpikir bahwa apa yang telah dilakukan Yohanes Pembaptis ketika ia mempertanyakan identitas Yesus itu adalah hal paling ironi.

Selama ini saya berpikir bahwa apa yang dilakukan Yudas Iskariot ketika ia mengkhianati dan menjual Yesus itu adalah hal yang paling ironi.

Selama ini saya berpikir bahwa apa yang dilakukan Simon Petrus ketika ia menyangkali Yesus sebanyak tiga kali itu adalah hal yang paling ironi.

Selama ini saya berpikir bahwa apa yang dilakukan murid-murid-Nya yang lain ketika mereka semua meninggalkan-Nya sudah merupakan hal yang paling ironi yang dialami Yesus. 

Ternyata ada hal yang lebih ironi lagi daripada semua perkara tersebut, yakni ketika Yesus yang selama ini dengan setia menemani kita untuk menguatkan kita memikul salib kita masing-masing, namun ada banyak di antara kita yang justru kembali meninggalkan-Nya dengan menjadi kecewa, menjadi pahit, menjadi beku dengan semua yang sudah direncanakan-Nya dengan sempurna.

Ia pernah melihat banyak punggung dari murid-murid-Nya menjauh ketika Ia harus menyelesaikan Golgota-Nya. Adakah Ia harus melihat lebih banyak punggung dari kita juga menjauh dari-Nya bahkan di saat kita harus menyelesaikan Golgota kita masing-masing?

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Tuesday, March 26, 2013

Jiwa Yang Rentan & Paskah Yang Disimpangkan

"Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat." - Kejadian 2:9

"Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: 'Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon (pengetahuan) yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.'" - Kejadian 3:2-3

Kita mengetahui bahwa manusia terdiri dari tiga bagian, yakni roh, jiwa dan tubuh. Pada saat Iblis mencoba menjerumuskan manusia, peluang yang ia miliki hanyalah dari jiwa manusia, karena roh manusia pada dasarnya suci dan hanya milik Elohim saja. Sedangkan tubuh manusia tidak dapat dengan sembarangan disentuh kecuali memang sudah mendapat izin (Ayub contohnya).

Mengapa jiwa manusia? Karena di dalam jiwa manusia terdapat pikiran, perasaan dan kehendak bebasnya. Dan kehendak bebas inilah satu-satunya medan perang antara Tuhan, manusia dan Iblis. Sekarang mari kita perhatikan ayat dalam Kejadian 2:9, dikatakan bahwa yang di tengah-tengah taman adalah Pohon Kehidupan, maksudnya adalah bukan sekedar posisinya saja yang ada di tengah, namun Pohon Kehidupan merupakan pusat kehidupan dari taman itu. Namun anehnya Hawa tidak melihat seperti Elohim melihat. Perhatian Hawa malah terpusat kepada Pohon Pengetahuan sejak awal, dan itu terungkap ketika Iblis baru sekedar mengajaknya berinteraksi (belum pada tahap membujuk). Jadi Iblis hanya memicu "api asing" yang sudah potensial di dalam jiwa Hawa.

Yang lebih aneh lagi adalah saat itu Hawa belum jatuh ke dalam dosa, namun secara tidak sadar sudah salah menetapkan prioritas dalam jiwa dan kehidupannya. Elohim mengharapkan Pohon Kehidupan yang menggambarkan diri dan kehendak-Nya untuk menjadi pusat segalanya, namun Hawa justru menjadikan kehendak dirinya sendiri sebagai pusat kehidupannya.

Dan ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan semakin terpuruk, ia hanya bisa membedakan antara yang baik dengan yang jahat, sebagai hasil dari buah Pohon Pengetahuan, dan tidak dapat mengenali apa-apa yang sesungguhnya dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki oleh Tuhan Elohim. Manusia cenderung memilih apa yang baik bagi dirinya & menurut dirinya, dan menghindari apa yang jahat atau menurutnya jahat bagi dirinya.

Kristus: Adam Kedua

Bersyukur! Karena Tuhan menganugerahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang hidup dan berkenan di hadapan Elohim. Bahkan ketika di Taman Getsemani semua menjadi jelas bahwa kehendak manusiawi Yeshua Hamasiah (yang juga disebut Yesus Kristus atau Isa Almasih) berbeda dengan kehendak Elohim atau Allah Bapa. Yeshua dalam segala kerelaan-Nya tetap mengambil cawan murka hingga tuntas di atas kayu salib dengan mengabaikan kehendak manusiawi-Nya dan menggenapkan semua kehendak Bapa.

Dan jika Yesus menjadi yang tersulung karena penyaliban yang dialami-Nya, BUKAN berarti kita tidakperlu lagi melakukan pengorbanan yang serupa. Tuntutan Bapa masih tetap sama bagi setiap anak-anak sulung-Nya, yakni mempersembahkan diri dan kedagingan kita. Yang pertama adalah sebagai penggenapan kasih Kristus, "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." - 1 Yohanes 3:16. 

Dan yang kedua adalah supaya bukan sekedar mengetahui yang baik dan yang jahat, melainkan mampu membedakan mana yang baik, yang berkenan dan yang sempurna, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:1-2. Hanya dengan penyaliban daging setiap hari, maka kepekaan roh kita semakin terasah untuk menjadi dewasa sehingga dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Paskah & Natal Yang Disimpangkan

Paskah sejati adalah untuk memperingati kematian dan kebangkitan Yesus Kristus serta kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Namun penyusupan yang sejak zaman purba terjadi mengakibatkan penyimpangan yang sangat fundamental, baik dalam perayaan Paskah maupun Natal. Gereja yang sudah sejak lama disusupi tradisi Pagan dan begitu dipromosikan secara gencar lewat berbagai media, terutama melalui pusat-pusat perbelanjaan, mengaitkan Paskah dengan sebuatan "happy easter", telur dan kelinci.

Easter (Pagan - Eropa Utara kuno) atau Ishtar (Asiria & Babel) atau Semiramis (Yunani) sesungguhnya adalah nama lain dari dewi Asytoret, pasangan dari Baal (Peor). "Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret." - Hakim-Hakim 2:13. Sedangkan Baal, yang adalah gambaran lain dari Lucifer selalu muncul setiap perayaan Natal dalam wujud Sinterklas (yang juga diadopsi dari tokoh Odin, yakni raja para dewa kepercayaan Pagan - Eropa Utara kuno). Gambar di samping ini (iklan layanan masyarakat yang diinisiasi oleh komunitas atheis di Amerika Serikat pada Natal 2012 lalu - "Pelihara Tradisi Keceriaannya, Buanglah Mitosnya") merupakan akibat dari buah penyesatan Pohon Pengetahuan, yang sudah sedemikian lama dipupuk dan dipeliharan dalam jiwa yang tidak pernah mau mengenal kehendak Bapa.

Coba renungkan, mana yang lebih dikenal atau lebih akrab dalam setiap kali perayaan Natal, kelahiran Kristus atau Sinterklas? Mana yang lebih didengungkan dalam setiap kali perayaan Paskah, kematian dan kebangkitan Kristus atau tradisi Pagan dengan telur dan kelinci? Dan mengapa tradisi Pagan kelihatan lebih akrab atau lebih dikenal daripada Yesus Kristus sendiri, yang notabene adalah Tuan atas perayaan-perayaan tersebut? Jawabannya tidak lain adalah karena buah Pohon Pengetahuan yang jauh lebih dominan daripada buah-buah roh dari Pohon Persekutuan atau Pohon Kehidupan, yaitu Kristus sendiri.

Sekarang coba perhatikan, di manakah tempat-tempat paling gencar yang sering memperlihatkan atau mempertunjukkan Sinterklas pada saat perayaan Natal dan telur - kelinci pada saat perayaan Paskah? Tidak lain adalah pusat-pusat perbelanjaan. Pertanyaan berikutnya, ada apa dan mengapa tempat-tempat semacam itulah yang paling gencar memperlihatkan Sinterklas dan telur - kelinci? Karena mereka menawarkan perayaan yang memicu hasrat kita untuk semakin konsumtif dengan berbagai diskon dan trik pemasaran lainnya supaya terlihat semakin menarik. Apa dasarnya? Tidak lain adalah hasrat dan mentalitas cinta akan uang yang secara tidak sadar masih bercokol kuat dalam setiap jiwa kita. Maka tidak heran jika Tuhan berkata, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." - 1 Timotius 6:10.

Jumat (Yang Tidak Selalu) Agung

Tidakkah kita seharusnya merasa aneh jika setiap kali Paskah dirayakan di setiap hari Jumat yang disebut agung itu? Ketika kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia, maka tanggalnya tetap 17 Agustus, namun harinya yang berubah-ubah. Begitu pula dengan Natal, yang memang awalnya adalah hari perayaan Dewa Matahari orang Romawi (juga berbasis Paganisme). Namun ketika pada perayaan Paskah, justru terjadi yang sebaliknya? Harinya tetap sama, namun tanggalnya yang selalu berubah-ubah setiap tahunnya.

Banyak orang beralasan bahwa ayat dalam Yohanes 19:31 menjadi dasarnya ditetapkan Jumat Agung, "Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib--sebab Sabat itu adalah hari yang besar--maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan." Padahal hari Sabat ada 2 jenis hari, yang pertama adalah Sabat yang memang ada di setiap hari Sabtu (dimulai pada Jumat jam 6 sore hingga Sabtu jam 6 sore).

Namun Sabat yang kedua adalah setiap perayaan besar, yakni Pesakh, Pentakosta, Rosh Hashanah, Yom Kippur, Sukkot, dan sebagainya. "Dan pada hari yang kelima belas bulan (Nisan) itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat (Sabat)." - Imamat 23:6-7. Jadi bukan hanya Sabat yang reguler saja diperintahkan untuk tidak melakukan suatu pekerjaan berat, namun pada Sabat-Sabat perayaan besar pun juga demikian, Sabat yang belum tentu setiap hari Sabtu. Paskah atau Pesakh tahun 2013 ini dimulai sejak jam 6 sore tanggal 25 Maret hingga puncaknya pada tanggal 2 April nanti. Jadi pada Paskah kali ini ada 2 hari Sabat, yakni Selasa tanggal 26 Maret dan Sabtu tanggal 30 Maret.


Jadi sekarang, persembahkanlah tubuh kita sungguh-sungguh sebagai persembahan yang hidup, supaya dapat membedakan mana yang baik dan yang berkenan. Dan singkirkan semua tradisi asing yang tidak ada hubungannya dengan makna sejati dari Kristus Yesus. Keengganan kita menyingkirkan semua tradisi itu merupakan bukti ketidakrelaan kita untuk mempersembahkan hidup kita dan bukti betapa kita masih memiliki mentalitas seperti Hawa yang lebih menyukai Pohon Pengetahuan daripada persekutuan dengan Pohon Kehidupan.

Jadikan Yesus Selalu Sebagai Pusat Dari Segalanya Dalam Hidup Kita

Friday, April 6, 2012

Pengorbanan-Nya Dalam Sekilas Perenungan

"Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup." - Ibrani 9:13-15

Apakah Yesus mati hanya supaya kita terhindar dari hukuman Neraka dan masuk ke Sorga? Jika demikian apa yang seharusnya terjadi di antara hari pertama kita menerima keselamatan sampai hari terakhir kita hidup di bumi? Karena tidak semua kita yang memiliki skenario hidup seperti penjahat yang di sebelah kanan saat Yesus disalibkan, yang pada saat itu juga sudah bersama-sama Dia di Firdaus.

Keselamatan karena penebusan darah Kristus bukanlah jimat yang hanya untuk disimpan, namun harus dikerjakan dan dikembangkan supaya kehidupan kita berbuah bagi Dia, "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." - Filipi 2:12-13. Dan pengerjaannya bukan dengan kuat gagah kita melainkan dengan anugerah-Nya. Harus sesuai dengan idealisme-Nya, bukan dengan idealisme kita. Harus dengan cara dan gaya-Nya, bukan dengan cara dan gaya kita. Harus sesuai dengan selera-Nya, yang sering kali bertentangan dengan selera kita.

Jadi keselamatan itu pada dasarnya bisa hilang, tergantung bagaimana sikap hati orang tersebut selama mengerjakan keselamatannya itu. Memang ada firman-Nya yang berkata, "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." - Roma 10:10, namun itu bukan mantra yang dilafalkan dan secara instan kita bisa ke Sorga. Karena syarat utamanya sikap hati untuk tetap percaya, sekalipun jalan-Nya kelihatan sangat mustahil dan aneh-aneh.

Setelah tekun mengerjakan keselamatan, masih ada garis akhir yang harus dicapai, seperti yang pernah disinggung Rasul Paulus, "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." - Kisah Para Rasul 20:24 dan sempat diulang lagi saat ia menuliskan surat kepada Timotius setelah ia berhasil mencapainya, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." - 2 Timotius 4:7.

Percayalah bahwa keselamatan BUKAN untuk kita hanya masuk Sorga sementara di dunia kita tidak mengerjakan apa yang telah Dia rancangkan sejak awal! Anda terima keselamatan, namun Anda tolak "job description"-Nya hukumannya malah lebih berat daripada Anda tidak menerima keselamatan itu! Hukumannya berat bukan hanya karena kesalahan saja, namun rasa bersalah kita kepada Pribadi yang sempurna, yang sudah sedemikian baik kebaikan-Nya namun kita sia-siakan dan tidak ada lagi kesempatan untuk menebusnya.

Jadi sekarang, kerjakanlah keselamatan Anda, dengarkan terus Roh Kudus-Nya, taati Dia, setialah kepada-Nya, nikmati fellowship dengan-Nya yang melampaui segala akal, capai garis akhir itu dan bersukacitalah bersama-Nya dalam kekekalan. Haleluya!

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.