Labels

Showing posts with label Roh Kudus. Show all posts
Showing posts with label Roh Kudus. Show all posts

Thursday, December 20, 2018

Roh Kudus Dan Peran-Nya

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." - Yohanes 14:15-17

Ada pendapat yang berkata bahwa jika sudah sekali menerima keselamatan maka selamanya akan tetap selamat apapun yang terjadi. Dan pandangan seperti ini terkenal dengan sebutan hyper grace, walaupun tidak ada anugerah yang tidak hiper, sebutan false grace menurut saya lebih pas. 

Namun apapun sebutannya, jelas pandangan itu salah. Jika keselamatan yang telah diterima tidak punya resiko hilang maka tidak perlu Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk hidup berjaga-jaga dan waspada senantiasa. Dan lebih lagi, tidak perlu Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus bagi Gereja-Nya.

Justru sebaliknya keselamatan kekal yang telah kita terima melalui karya salib Tuhan Yesus adalah  sangat rawan untuk hilang kapanpun, itu sebabnya Roh Kudus diutus untuk menolong. Dan coba renungkan hal ini, menurut Anda seberapa besar resiko keselamatan Anda bisa hilang sampai seorang pribadi bernama Roh Kudus diutus untuk menolong Anda?

Menurut saya resiko keselamatan kita bisa hilang jauh lebih besar daripada yang bisa kita duga. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengutus pribadi yang tak terduga juga, yakni Roh Kudus untuk menolong kita. 

Dan lebih daripada itu, keselamatan yang telah kita terima sesungguhnya adalah sebuah pekerjaan besar dan mulia yang ujungnya hendak dihasilkan keserupaan kita dengan Kristus. Jika seorang pengikut Kristus tidak memiliki cita-cita untuk menjadi serupa dengan Kristus, maka dapat dipastikan bahwa ia hanya sekedar beragama Kristen atau hanya ingin selamat dari hukuman Neraka dan merasa tidak memerlukan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, seberapa besar pekerjaan keselamatan yang kekal itu? Kembali lagi kita melihat, siapakah Roh Kudus itu? Dialah Pribadi yang melayang-layang di atas ketika Bumi masih kosong dan tak berbentuk, dan ketika Allah berfirman, Dialah Pribadi yang menjadikan semuanya dari yang tidak ada menjadi ada.

Ketika Pribadi yang maha perkasa ini diutus menolong untuk kita mengerjakan keselamatan kita dengan benar, bisakah kita lebih menghargai betapa berharganya keselamatan yang dari Tuhan Yesus itu? Sadarkah kita bahwa keselamatan kekal yang kita telah kita terima itu jauh lebih berharga daripada nyawa kita sendiri?

Sebagai ilustrasi, misalnya Presiden negara ini mengutus Anda untuk suatu tugas rahasia dan untuk tugas itu, Presiden mengutus Panglima TNI untuk mendampingi, dan menolong Anda untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan baik dan benar, menurut Anda seberapa pentingkah tugas tersebut? Tentu tugas tersebut sangatlah penting.

Sekarang bandingkan dengan keselamatan kekal yang dari Tuhan Yesus, Raja di atas segalanya, mengutus Roh Kudus sebagai penolong kita, tentu keselamatan dan segala perkara yang termaktub di dalamnya adalah sangat berharga.

Dengan renungan singkat ini, diharapkan kita semua untuk semakin waspada dan serius mengerjakan keselamatan kita dan menyadari bahwa keselamatan kita sesungguhnya rentan untuk terhilang, itu sebabnya Roh Kudus diutus menolong kita. 

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Wednesday, July 4, 2012

7 Roh Allah

"Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN" - Yesaya 11:2


Ruakh Yahveh
Roh Tuhan bangkit menjadi yang esa, untuk disembah dan dipuja oleh segala bangsa

Ruakh Hoke'mah
Roh hikmat. Kebijakan dan akal budi untuk dapat menimbang, memutuskan dan memimpin bangsa kepada kebenaran

Ruakh Bine'ah
Roh kepandaian untuk cepat menangkap kairos dan mengerti isi hati Tuhan

Ruakh Etsah
Roh nasihat. Dari lidah dan perkataan keluar pengajaran-pengajaran yang lemah lembut untuk mematahkan setiap kubu kekerasan dan kedegilan hati

Ruakh Geburah
Roh keperkasaan, kuat dan tangguh, keberanian untuk berdiri diatas kebenaran dan tidak munafik

Ruakh Yahveh Da'ath
Roh pengenalan akan hati Tuhan, menjadi sahabat yang selalu memahami hati Tuhan dan selalu berada tepat di hati-Nya

Ruakh Yahveh Yir'eth
Roh takut akan Tuhan, kerinduan untuk selalu mengindahkan dan memilih Tuhan lebih dari segalanya




Thursday, March 1, 2012

Jika Lawanmu Adalah Teman-Teman Yang Mengasihimu

"Berkatalah Naomi: 'Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.' Tetapi kata Rut: 'Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!'" - Rut 1:15-17

"Berkatalah Elia kepadanya: 'Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan.' Jawabnya: 'Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.' Lalu berjalanlah keduanya." - 2 Raja-Raja 2:6

"Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.' Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.'" - Matius 16:22-23

Bukankah Naomi bermaksud baik ketika ia menyarankan Rut untuk meninggalkannya dan kembali kepada bangsanya di tanah Moab? Bukankah Elia bermaksud baik supaya Elisa tidak bersusah payah mengikutinya ke arah yang tak pasti saat itu? Bukankah Petrus pun bermaksud baik supaya Tuhan Yesus tidak tertimpa sesuatu yang buruk?

Dan apa yang akan terjadi jika saat itu Rut menuruti saran Naomi? Apa yang akan terjadi jika Elisa menyerah dan berhenti di tengah jalan tidak lagi mengikuti Elia sampai menyaksikan tuannya terangkat? Dan bagaimana jika Yesus sepakat dengan Simon Petrus saat itu?

"Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya." - Kejadian 37:4-5

"Tetapi Yesus berkata kepadanya (Yudas Iskariot): 'Hai teman, untuk itukah engkau datang?' Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya." - Matius 26:50

Namun jika bukan karena kebencian saudara-saudaranya, Yusuf tidak akan pernah melihat mimpinya menjadi kenyataan setelah belasan tahun kemudian ia menjadi penguasa yang berdaulat atas seluruh tanah Mesir dan dunia di zaman itu. Bahkan Yesus menyebut Yudas Iskariot sebagai "teman" karena pengkhianatannya Ia bisa merampungkan kehendak Bapa untuk mati di kayu salib dan bangkit di hari ke-3.

Hikmat manusia seringkali berbeda dengan hikmat Allah. Jalan manusia bahkan sering bertentangan dengan jalan-Nya. Rancangan kebaikan manusia yang kelihatan begitu baik, malah kelihatan usang ketika dibandingkan dengan rancangan Tuhan yang sempurna. Namun pengertian dan kebenaran diri sendiri sering menjerat diri kita sendiri. Bergaullah dengan Yang Sempurna lebih erat lagi, karena Ia adalah Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu (Yohanes 14:26).

Tuesday, February 21, 2012

Roh Kudus Dalam Sekilas Perenungan

"Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." - Yohanes 14:25-26

Apakah Anda seorang yang amat menggemari gadget terbaru saat ini? Dunia komunikasi yang semakin canggih tidak lagi menjadi sederhana, melainkan semakin kompleks. Komunikasi yang dipadukan dengan seni, hiburan dan media dalam satu alat canggih telah diwujudkan dengan berbagai bentuknya seperti iPhone & iPad dari Apple, Blackberry dari RIM, Galaxy Tab dari Samsung dan sebagainya. Begitu pula piranti lunak (software) seperti Windows & MS Office dari Microsoft, Android dari Google dan seterusnya. Pertanyaannya, berapa banyak dari pengguna alat-alat canggih dan piranti-piranti lunak tersebut yang menggunakannya secara maksimal?

Sebagai contoh, pengguna MS Office, berapa persen dari semua penggunanya yang mengetahui secara maksimal semua fitur dan fungsinya? Begitu juga iPhone dan iPad, dari sekian banyak yang menggunakannya, berapa banyak yang hanya menggunakan untuk sekedar telepon, sms, mendengarkan musik, berfoto, menonton video dan yang paling banyak adalah memainkan game. Sedangkan kita ketahui bahwa fungsinya lebih daripada hal-hal tadi. Memang ada banyak buku yang mengupas cukup lengkap untuk mengetahui dan menggunakan iPhone dan iPad dengan lebih maksimal. Kita tinggal mempelajarinya. Namun saya berandai-andai, jika saja almarhum Steve Jobs masih ada dan ia menjadi sahabat saya, maka tentulah iPhone dan iPad yang saya gunakan akan jauh lebih maksimal lagi bahkan daripada yang dikupas di buku-buku itu. Mengapa? Jelas karena beliau adalah pencipta dari iPhone & iPad tersebut, ia memahami seutuhnya untuk apa dan bagaimana benda itu diciptakan.

Hidup kita juga seperti iPhone dan iPad itu, dan Allah Roh Kudus seperti almarhum Steve Jobs itu. Kita bisa hidup lebih baik tanpa Roh Kudus, dengan membaca dan menerapkan buku pengembangan diri, menghadiri berbagai seminar, ikut kegiatan ini dan itu, baik berupa rohani maupun jasmani, konsultasi dengan berbagai ahli dari berbagai bidang, dan seterusnya. Bukankah hal itu yang sedang marak? Seminar cepat kaya, kursus hipnoterapi, yoga dan kundalini. Dan ya, mereka kelihatan lebih sukses, lebih bahagia, lebih menjadi berkat bagi banyak orang. Namun tidak ada satupun yang membawa mereka kepada Allah.

Allah Roh Kudus adalah tokoh sentral dalam kehidupan kita, Beliaulah yang paling memahami diri kita bahkan melebihi pemahaman kita sendiri. Dengan kita bergaul dan mentaati semua petunjuk-Nya, maka hidup kita akan mencapai hal-hal yang bahkan mustahil untuk dipikirkan, namun sangat nyata dan ajaib. Jadi untuk apa kita mencari lagi di luar sana, karena yang terbaik sesungguhnya telah tersedia. Jauh lebih sulit untuk menghubungi para ahli dari Apple untuk mengajarkan kita menggunakan iPhone dan iPad dengan maksimal daripada bergaul dengan Roh Kudus yang sudah ada di dalam kita. Tuhan memberkati.

Wednesday, March 23, 2011

Berbagai Karunia Roh & Orang Percaya

Bahan Renungan: 1 Korintus 12-14; Markus 16:15-18;

Suatu hari seorang teman komsel bertanya secara terbuka, "Apakah ada yang tahu bagaimana caranya memperoleh karunia berbahasa roh (berbahasa lidah)?" Dan pertanyaan tersebut dijawab oleh teman komsel yang lain, "Aku sendiri juga tidak tahu, tapi karunia roh tidak menjamin seseorang dewasa rohani."

Melihat jawaban teman saya tersebut, tanpa bermaksud menghakimi, sesungguhnya agaklah menyedihkan. Saya bukanlah tidak setuju dengan pendapatnya bahwa karunia roh tidak menjamin kedewasaan rohani seseorang, namun jawabannya terkesan "frustasi" dan pengenalan yang dangkal mengenai dunia rohani. Saya akan lebih menghargai jika teman tersebut menjawab, "Aku juga INGIN tahu bagaimana caranya."

Saya menyadari ada segolongan orang percaya yang terlihat, terdengar dan terkesan "aneh" bagi golongan orang percaya lainnya ketika bersinggungan dengan karunia-karunia dan dunia roh. Golongan yang merasa asing dengan dengan hal-hal tersebut akan lebih cepat menghakimi & sinis dengan golongan yang begitu terbiasa.

Amanat Agung Bersifat Supranatural

Coba perhatikan Amanat Agung yang Tuhan Yesus amanatkan kepada kita di semua Injil, kita diperintahkan untuk mengabarkan Injil, membaptis, mengusir setan-setan, memegang ular, menyalurkan mujizat kesembuhan, dan sebagainya (Markus 16:15-18). Tidakkah kita sadari bahwa semuanya itu bersifat supranatural? Bahkan mengabarkan Injil pun adalah hal yang supranatural. Sementara kemanusiaan kita tanpa Roh Kudus dan segala cara kerja-Nya adalah natural belaka. Jadi adalah MUSTAHIL bagi orang percaya untuk merampungkan amanat Tuhan yang bersifat supranatural apabila masih mengandalkan akal naturalnya.

Secara agak "nyeleneh", saya menegaskan bahwa seharusnya antara orang percaya dengan seorang dukun hampir tidak ada bedanya, selain majikan dan passion kehidupan masing-masing. Hanya orang-orang yang spiritualis yang memiliki pengaruh bagi kehidupan ini, dan cara orang percaya memengaruhi dunia adalah dengan pertolongan Roh Tuhan dan karunia-karunia Roh-Nya. Roh Kuduslah rekan kerja sejati kita, dan pergaulan bersama-Nya yang akan membawa kita kepada penggenapan rencana dan garis akhir yang Tuhan tetapkan bagi masing-masing orang percaya.

Jadi bagaimana seharusnya orang percaya menyikapi hal tersebut? Adakah kita harus bersikap pasrah? Dengan alasan bahwa yang namanya karunia adalah hadiah. Dan karena yang berasal dari roh tidak dapat dikerjakan (dilatih) secara tubuh (daging). Perhatikan 1 Korintus 14:1 berkata, "Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat." Dari perintah-Nya secara jelas dikatakan bahwa prioritaskan kasih karena kasih menutupi banyak pelanggaran, namun tidak mengabaikan untuk memperoleh karunia-karunia Roh.

Dalam New King James Version, kata "usahakanlah dirimu" diterjemahkan menjadi merindukan (desire). Orang percaya sepatutnya merindukan dirinya agar merampungkan Amanat Agung yang telah Tuhan sampaikan, selanjutnya akan menyadari bahwa yang natural dalam dirinya tidak pantas diandalkan, sehingga pada akhirnya merindukan segala karunia roh untuk memperlengkapi dirinya untuk perampungan tersebut. Jadi dengan demikian orang percaya tidak boleh bersikap "masa bodo" dengan hal-hal dunia roh, sebaliknya kita harus mengusahakan untuk memahami dan memperoleh segala perlengkapan (karunia-karunia) rohani bahkan terutama karunia bernubuat.

Kembali kepada pertanyaan teman komsel saya yang menanyakan bagaimana supaya dirinya bisa berbahasa roh dan memperoleh berbagai karunia Roh lainnya. Tentu tidak lain adalah dengan merindukannya sungguh-sungguh. Tuhan tidak berselera menghadiahkan karunia-karunia-Nya kepada orang percaya yang tidak merindukan, sebaliknya siapa yang mengingini sedemikian rupa seperti Yakub mengingini hak kesulungan, orang-orang tersebutlah yang akan memperolehnya. Dan di akhir perikop (1 Korintus 39-40) ditegaskan lagi supaya kita memperoleh karunia untuk bernubuat dan jangan melarang orang lain yang berkata-kata dengan bahasa roh. Namun semuanya harus berlangsung sopan dan teratur, itu sebabnya kasih tetap menjadi prioritas dan karunia roh tetap harus dirindukan.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.