Labels

Showing posts with label Ayin Beth. Show all posts
Showing posts with label Ayin Beth. Show all posts

Tuesday, October 4, 2011

Jurnal SHRK Oktober 2011 - Hari ke-2 - Faedah Yang Berlipatganda

"Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ." Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya. Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: 'Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.'" - Yesaya 48:16-19

"Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." - Matius 13:23

Tuhan mengajar umat-Nya tentang apa saja yang memberikan faedah - sesuatu yang berguna, yang mendatangkan manfaat dan kegunaan. Namun jika kita cermati Firman-Nya tersebut, sesungguhnya ada makna yang luar biasa dalam kata "faedah" tersebut. Faedah dalam ayat ini berbicara tentang profit (keuntungan) yang dihasilkan berdasarkan deret ukur dan BUKAN dengan deret hitung. Berdasarkan deret ukur artinya ada multiplikasi dan pelipatgandaan. Jadi Tuhan hendak mengajarkan kepada kita sesuatu yang dapat memberikan multiplikasi dan pelipatgandaan.

Pertanyaannya, dengan jalan apakah multiplikasi dan pelipatgandaan dapat terjadi? Tentu tidak lain adalah dengan menabur. Karena hanya dengan menabur atau mempersembahkan suatu korban, apapun bentuknya, maka tuaian bisa diperoleh. Bukankah Ishak dalam hidupnya mengalami apa yang disebut kian lama kian kaya sehingga menjadi sangat kaya? Tentu karena awalnya Ishak menabur, Kejadian 26:12-13.

Bangsa Israel menjalani sebuah perjalanan panjang dari mengalami perbudakan di Mesir, pengembaraan di padang gurun sampai memasuki tanah perjanjian. Dalam 3 tahapan ini, berkat bagi bangsa Israel pun dibagi dalam 3 level. Ketika mengalami perbudakan, berkat mereka dapat kita istilahkan not enough (tidak cukup) karena apa yang mereka terima bergantung dari belas kasihan para penjajah dari bangsa Mesir. Dan ketika di padang gurun selama 40 tahun, mereka hanya menerima roti Manna yang just enough (hanya cukup) untuk sehari dan tidak bisa disimpan karena akan membusuk jika lewat sehari. Namun ketika masuk tanah perjanjian mereka masuk pada level more than enough (lebih dari cukup), mengapa? Karena di tanah perjanjian mereka dapat menabur benih dan memperoleh seberapa pun mereka kehendaki sesuai dengan taburan mereka. 

Kitab 1 Raja-Raja pasal ke-18 menceritakan tentang bagaimana Elia berdoa supaya hujan diturunkan untuk menghapus kemarau sepanjang 3,5 tahun. Diceritakan bahwa Elia menyuruh bujangnya melihat ke arah laut hingga 7 kali dan akhirnya hujan yang sangat lebat turun membasahi tanah kering Israel saat itu. Mengapa Elia begitu yakin akan turunnya hujan, padahal saat itu keadaan masih amat cerah tanpa setitik awan pun? Adakah bujangnya menjadi bosan hingga berkali-kali dia harus bolak balik untuk cek langit ke arah laut itu? Dari mana keyakinan Elia dan apa dasarnya bahwa doanya kali itu "harus" dijawab Tuhan?

Perhatikan peristiwa sebelum hujan lebat itu turun. Saat itu Elia sedang bertarung dengan nabi-nabi Baal. Ia mendirikan sebuah mezbah dari batu dan membuat parit dengan ukuran yang memuat dua sukat benih. Dan selanjutnya seluruh mezbah disiram oleh air sebanyak 12 buyung, hingga seluruh parit kelimpahan air. Ketika Elia berdoa, Tuhan menjawab dengan api yang menjilat dari langit, dan semua korban "ditelan" Tuhan tanpa sisa. Elia menabur benih air dan Tuhan menerima dengan perkenanan-Nya yang sempurna, atas dasar inilah Elia memiliki keyakinan bahwa hujan lebat telah terdengar desaunya bahkan sebelum beliau memulai doanya.

Kesanggupan Tuhan yang melipatgandakan, namun Ia mengajarkan kita untuk menabur, berkorban sampai menyukakan hati-Nya. Sehingga ketika kelimpahan itu datang dan pelipatgandaan menjadi tak terbatas, hati kita tetap melekat kepada-Nya.

Monday, October 3, 2011

Jurnal SHRK Oktober 2011 - Hari ke-1 - Jiwa Yang Berlimpah

"Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu - di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu." - Ulangan 28:11

"And the Lord shall make you have a surplus of prosperity, through the fruit of your body, of your livestock, and of your ground, in the land which the Lord swore to your fathers to give you." - Deuteronomy 28:11 (Amplified Version)

"Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran. Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja." - 3 Yohanes 1-2

Baru beberapa minggu lalu Papa Darrel Stott datang ke Semarang dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia. Seorang rekannya membawa pesan khusus dari Tuhan kepada kita semua. Pesan itu diambil dari Kitab Ulangan pasal 28 ayat ke-11 bahwa memasuki Masa Salomo, Tahun Ayin Beth 5772 dan tahun 2012, Gereja Tuhan di Indonesia akan menerima kelimpahan yang luar biasa sama seperti yang dimaksud dalam Amplified Version ayat tersebut. Surplus of Prosperity adalah sebuah istilah yang amat ekstrim karena kata "prosperity" saja sudah berarti kelimpahan yang berlimpah-limpah. Apalagi jika ditambah kata "surplus" untuk melengkapi prosperity yang dijanjikan Tuhan bagi Gereja-Nya.

Kunci awal untuk menerima kelimpahan dan surplus kelimpahan tersebut adalah melalui jiwa yang berlimpah. Ketika Rasul Yohanes menuliskan suratnya yang ke-3 kepada Saudara Gayus yang kekasih, Rasul Yohanes berdoa untuk keadaan jasmani Gayus supaya didapati berlimpah, sama seperti keadaan jiwanya yang berlimpah. Dengan demikian Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa keadaan jasmani yang berlimpah berawal dari keadaan jiwa (pikiran, perasaan & kehendak) yang berlimpah. Pikiran yang baik, perasaan yang baik dan kehendak yang baik akan melahirkan keadaan jasmani yang baik pula.

"Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak datang berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: 'Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?' Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: 'roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mereka mendapat sepotong kecil saja.' Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: 'Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?'" - Yohanes 6:5-9

Kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki adalah sebuah contoh lengkap akan jiwa yang berkelimpahan dan jiwa yang miskin. Pertanyaan ujian yang dilontarkan-Nya kepada Filipus dapat diterjemahkan seperti ini: "Ayo kita belikan roti untuk mereka makan." Yesus menunjukkan jiwa-Nya yang berlimpah karena pikiran, perasaan dan kehendak-Nya yang berlimpah untuk memberi sedemikian banyak orang untuk makan. Sementara respon Filipus dan Andreas menunjukkan keadaan jiwa yang sebaliknya. Jiwa mereka miskin, cara berpikir mereka terbatas bahkan kehendak mereka pun hanya sebatas kemampuan alamiah mereka. Namun Tuhan Yesus memiliki cara berpikir yang berbeda, cara berpikir yang alamiah dan supraalamiah sehingga menciptakan keadaan jasmani yang juga supraalamiah.

Ukuran Kelimpahan Untuk Bekal Di Perjalanan

"Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing. Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah." - 3 Yohanes 5-7

Arti yang ke-2 dari kata kelimpahan adalah bekal di perjalanan. Gayus ternyata sering menerima bahkan orang-orang asing yang dalam perjalanan, dan membantu mereka dengan memberi bekal untuk menemani mereka melanjutkan perjalanan. Pemberian bekal tersebut adalah dari kelimpahan yang ada pada Gayus. Namun bekal tersebut sering kali tidak sama jumlahnya untuk seorang dengan seorang lainnya. Orang yang akan menempuh perjalanan 5 hari akan diberi lebih banyak daripada orang yang akan menempuh perjalanan 2 hari. Orang yang akan melewati 8 gerbang kota akan diberi lebih banyak daripada orang yang akan menempuh perjalanan 3 gerbang kota.

Minimal ada dua kali Tuhan Yesus memecahkan roti dan memberikan kepada orang lain untuk dimakan. Selain peristiwa memberi kepada lima ribu orang laki-laki, Tuhan Yesus juga memecahkan roti kepada dua orang yang dalam perjalanan ke Emaus. Dan saat itu, roti yang dipecahkan tidak menjadi ribuan seperti peristiwa yang sebelumnya. Kedua peristiwa ini berbicara bahwa penyediaan Tuhan berlaku sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Demikian juga kelimpahan dan surplus kelimpahan yang akan diterima masing-masing Gereja-Nya. Barangsiapa bersedia dibawa Tuhan semakin jauh, akan semakin banyak kelimpahan yang diterimanya. Namun ketika seseorang sudah tidak berani melangkah lebih jauh lagi dengan Tuhan, maka sampai di situ pula kelimpahan yang diterimanya. Ketika kita berkata dan bertekad untuk mencapai destiny kita hingga garis akhir sesuai dengan yang Tuhan mau, kelimpahan akan membekali dan mengikuti kita sampai di tempat yang Tuhan kehendaki.

Friday, September 30, 2011

Beth - Rumah Kasih

Kasih itu mengalir
Kasih itu memberi kehidupan
Kasih itu menegakkan yang patah
Menyalakan yang padam

Kasih itu melimpah
Kasih itu menulari gairah
Kasih itu melahirkan harapan
Membenihkan iman

Karena kasih
Segala pelanggaran tertutupi
Karena kasih
Kepercayaan terpelihara
Karena kasih
Pengharapan takkan mengecewakan
Karena kasih
Penanggungan membuahkan hasil

Rumah yang penuh dengan kasih
Rumah itu takkan berkesudahan
Rumah itu takkan pernah gagal
Rumah itu menjadi kediaman-Nya

Ayin Beth 5772 - Rumah Korban Yang Memberi Hayat

"Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa." - Wahyu 22:1-2

"Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." - 1 Yohanes 3:16

"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." - Yohanes 4:13-14

Salah satu destiny kita adalah menjadi berkat, bagi orang di sekitar kita, bangsa-bangsa, hingga ke ujung bumi. Bukankah episode terakhir dari Alkitab menunjukkan sebuah gambaran adanya sungai yang memberi kehidupan (hayat), yang produktif dan yang menyembuhkan? Ketika air itu memancar, itu tidak mengalir dari sebuah kekosongan, namun dari sebuah Sumber yang (tinggal) menetap di dalam kita. Adakah Sang Sumber menetap di dalam kita atau Ia bahkan telah lama meninggalkan kita?

Aliran air kehidupan bersifat MEMBERI. Kita hanya menerima satu kali hingga Dia menetap selama-lamanya di dalam kita - bait-Nya - sehingga dari dalam terus menerus memberi hayat kehidupan bagi banyak orang. Dan jalan memberi satu-satunya adalah dengan menyerahkan nyawa bagi saudara-saudara kita, sama seperti Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Persekutuan dalam penderitaan adalah jalan aliran sungai air kehidupan itu.

Tahun Ayin Beth 5772 & 2012 adalah babak baru dan musim yang ekstrim dalam hal memberi. Ada standar pemberian, standar persembahan dan standar pengorbanan yang sama sekali baru, yang dikenakan Tuhan kepada kita, supaya tubuh kita layak untuk ditinggali oleh-Nya untuk selama-lamanya. Sehingga ketika kegelapan datang memenuhi bumi, terang kehidupan yang ada di dalam kita menjadi jelas bagi dunia.

Hiduplah Menurut Roh Yang Terus Menerus Memancar Dan Memberi Hayat, Dengan Mengorbankan Kedagingan Kita Sampai Habis Lenyap

Ayin Beth 5772 - Menyingkap Kebaikan Yang Mematikan

"Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." - Kejadian 2:16-17

"Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.' Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.'" - Matius 16:22-23 

Selamat datang di Tahun Ayin Beth 5772, dimana Mata Tuhan memandang kepada bait-Nya, yaitu kita semua yang terpanggil oleh nama-Nya yang kudus. Namun ketika Mata Tuhan memandang, Ia bukan saja memandang tanpa maksud. Mata-Nya memandang untuk MENYELIDIKI dan MENYINGKAPKAN segala sesuatu yang ada di dalam bait-Nya. Dengan demikian maka Tuhan hendak menegaskan bahwa tidak ada yang tersembunyi, entah itu baik maupun buruk, benar maupun salah, atas semua yang terjadi di dalam bait-Nya.

Apa yang menjadi kerinduan Tuhan terhadap bait-Nya adalah bahwa Ia ingin tinggal di dalam bait-Nya untuk selama-lamanya. Namun Iblis ingin menghalangi kehendak Tuhan dengan jalan menduduki bait-Nya karena ia hendak menyamai Allah (Yesaya 14:12-14; Yehezkiel 28:2). Memang Sang Antikristus akan menduduki Bait Allah yang ke-3 di Akhir Zaman (Daniel 11:36; 2 Tesalonika 3-4), namun itu hanyalah perwujudan puncaknya. Karena sejak awal, di dalam Taman Eden, Iblis berusaha "menggeser" kedudukan Allah. Dan jalan yang dipakai adalah melalui pengetahuan akan yang baik dan yang jahat.

Kita semua mengerti bahwa yang jahat dan kejahatan memang benar-benar jahat dan salah. Namun banyak sekali kita tertipu bahwa yang baik dan kebaikan pun bisa benar-benar mematikan! Bukankah maksud Petrus baik, sampai ia dengan berani menarik dan menegor Tuhan Yesus, ketika Ia menyatakan tentang penderitaan yang harus dialami-Nya? Ini adalah salah satu contoh dimana Iblis telah berusaha menggeser Allah di dalam bait-Nya - Petrus - dengan pemahaman manusiawi akan kebaikan. Sehingga sebagai balasan-Nya, Yesus dengan lantang mengusir Iblis dan bukan menghardik Petrus. Jadi baik itu yang jahat maupun yang baik, sesungguhnya tanpa kebenaran Tuhan, semuanya adalah MEMATIKAN! 

Korban Persembahan Dan Persekutuan Dalam Penderitaan

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:1-2

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." -  Filipi 3:10-11

Saat kita berbicara tentang Bait Allah, hal itu tidak pernah terlepas dari korban persembahan. Itu sebabnya Bait Allah juga disebut sebagai Rumah Pengorbanan (House Of Sacrifice). Jadi Tahun Ayin Beth 5772 ini akan menuntut jauh lebih banyak pengorbanan dari umat-Nya supaya kita dapat tetap hidup berkenan kepada-Nya dan memenuhi destiny kita sesuai dengan kehendak rencana-Nya yang sempurna.

Kejahatan manusiawi kita sudah tentu harus dikorbankan dan hal ini adalah mutlak untuk disepakati oleh siapa saja. Yang mematikan adalah kebaikan manusiawi kita, karena kita cenderung untuk memaksakan kebaikan kita bahkan kepada Tuhan. Padahal kebaikan manusiawi pun mutlak untuk dikorbankan. Coba renungkan, berapa banyak dari kita yang bertindak seperti Petrus, yang dengan segala kebaikan dan maksud baiknya, namun sebenarnya malah menjadi batu sandungan dan halangan bagi rencana Allah genap sempurna! Sadarilah bahwa apapun yang menurut pertimbangan kita adalah baik, namun tidak ada kehendak Roh-Nya yang kudus, semua itu mematikan!

Akal budi yang diperbaharui mampu membedakan manakah yang kebaikan manusiawi (truth) dan manakah yang kebenaran ilahi (righteousness). Namun hal ini hanya dapat diperoleh melalui PERSEKUTUAN DALAM PENDERITAAN. Dan hal ini lagi-lagi berbicara mengenai korban persembahan. Kerelaan untuk menderita sama seperti Kristus menderita sampai kita menjadi serupa DALAM KEMATIAN-NYA. Bukankah Jalan Salib adalah jalan menuju puncak kemuliaan (glory)? Dan bukankah destiny kita adalah berjalan dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lain (from glory to glory)?

Persekutuan juga berbicara akan pengenalan yang lebih dalam dan hubungan yang lebih intim. Penderitaan di dalam Kristus Yesus membawa kita kepada kedalaman dan keintiman yang sedemikian rupa sehingga kita layak untuk ditempati menjadi bait-Nya. Dan ketika Allah tinggal di dalam kita dan memerintah dengan mutlak atas hidup kita, maka kebenaran-Nya mengungguli kebaikan manusiawi kita sehingga kita beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya.

Memilah Gandum Dan Lalang Di Akhir Zaman

Kebenaran ilahi seperti gandum yang berisi dan memberi kehidupan, juga seperti domba yang taat dan setia. Sementara kebaikan manusiawi seperti lalang yang kosong tak berisi dan akhirnya dibakar, juga seperti kawanan kambing yang memberontak dan mudah berubah setia. Sekilas antara gandum dengan lalang adalah mirip, begitu juga antara domba dengan kambing. Demikianlah perbandingan antara kebenaran ilahi (righteousness) dengan kebaikan manusiawi (truth). Semua akan terungkap di Akhir Zaman dan Akhir Zaman adalah saat-saat ini. Saya yakin Tahun Ayin Beth 5772 bukanlah sebuah agenda Tuhan yang biasa dan juga bukan sebuah kebetulan yang diciptakan oleh tangan manusia. Semua telah terencana, terukur dan terhitung sesuai dengan kehendak rencana-Nya yang agung. Bersiaplah dan jangan biarkan damai sejahtera itu tercuri dari pada kita. Amin!

Akar Dari Kemanusiawian Adalah Kedurhakaan Dan Ujungnya Adalah Kebinasaan 
Namun Mata Tuhan Menyelidik Ke Mana Kebenaran-Nya Memerintah

Thursday, September 29, 2011

Ayin Beth 5772 - Kerelaan Untuk Musim Yang Ekstrim

"Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah." - Kisah Para Rasul 10:1-2

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." - Lukas 10:2-3 

Saya yakin bahwa tidak hanya saya sendiri yang menyadari bahwa mulai Rosh Hashanah 5772 ini hingga tahun 2012, Gereja Tuhan & dunia akan memasuki sebuah musim yang sama sekali berbeda. Musim yang begitu ekstrim dalam segala aspek, babak yang sama sekali baru, sebuah era dimana tidak seorang pun yang dapat berkata, "Sudah kuduga sebelumnya," untuk semua agenda yang hendak Tuhan canangkan kepada kita semua. Akan ada banyak pengalaman juga peristiwa yang tidak tanggung-tanggung untuk terjadi baik skala individu, keluarga, korporat bahkan dunia. Entah itu berkat maupun kutuk, anugerah maupun penghakiman, lawatan maupun bencana dan seterusnya, semua diagendakan dalam PORSI KEJUTAN!

Sesungguhnya tanpa anugerah-Nya tidak seorang pun yang siap dan mampu menjalani Era Porsi Kejutan ini. Era ini menuntut kerelaan yang jauh lebih besar untuk kita dibawa oleh-Nya masuk jauh lebih dalam, jauh lebih cepat, jauh lebih kuat dan jauh lebih tinggi. Dibutuhkan kerelaan yang melampaui semua ambisi kedagingan dan keegoisan kita. Kerelaan yang melampaui semua bentuk kompromi. Kerelaan yang membuat Mata Tuhan tidak bisa berpaling dan terus tertuju kepada kita.

Allah kita bukan sekedar Allah yang memandang, namun juga Allah yang menghitung. Seorang pria pasukan Italia bernama Kornelius menjadi teladan bagi kita semua. Kornelius adalah dari bangsa kaum penjajah pada zaman itu sementara bangsa Israel adalah jajahannya. Namun Kornelius melakukan suatu hal yang "tidak lazim" dengan menyembah kepada Allah dari bangsa yang dijajah oleh bangsanya dan bahkan memberkati bangsa pilihan Tuhan ini. Pertama, ia memberi hidupnya dalam kesalehan dan hidup dengan percaya dan takut akan Allah. Walau saat itu bangsa Romawi memiliki banyak dewa. Kedua, dalam imannya, ia mempercayai janji Tuhan kepada Abraham, leluhur bangsa Yahudi. Ketiga, ia memberi dan memberkati hingga malaikat Tuhan menyampaikan "ucapan terima kasih" dari Tuhan sendiri.

Kornelius memberi hingga Tuhan (sengaja) mengingatnya. Ia memperoleh perkenanan-Nya. Sadarilah bahwa Kornelius hidup dan memberi kepada Tuhan dalam jumlah "porsi kejutan" hingga Tuhan pun balas memberi kejutan, bukan saja kepada Kornelius sekeluarga, namun juga untuk Rasul Petrus.

Tahun Ayin Beth 5772 disebut sebagai era dimana Mata Tuhan memandang kepada kita sebagai bait-Nya yang tak henti-hentinya melakukan persembahan dan pengorbanan yang sesuai dan menyukakan hati-Nya. Sementara tahun 2012 dijadwalkan sebagai awal dari Penuaian Besar (The Great Harvest) dan Kebangkitan Besar (The Great Awakening), ada begitu banyak tuaian dalam jumlah raksasa. Untuk kedua agenda agung ini, Tuhan meminta kita untuk berdoa kepada-Nya, yang adalah Empunya tuaian, supaya semua pekerja-Nya cukup, dalam segala aspek, untuk memenuhi semua panggilannya.

Selanjutnya Ia mengumpamakan proses penuaian seperti anak domba di tengah-tengah serigala. Itu artinya kita sebagai pekerja-Nya dituntut memiliki kerelaan yang sedemikian rupa untuk menghadapi situasi yang sama sekali tidak mengenakkan bagi kedagingan kita. Ia menyebut tuaian, namun tidak mengutus kita ke padang rumput yang hijau. Apa yang dapat kita perbuat sebagai anak domba yang diutus ke tengah-tengah ganasnya serigala-serigala 2012 nanti?

Dalam hati saya, Tuhan menaruh pesan untuk kita minta kepada-Nya, "Paksakan rencana-Mu jadi dan genap dalam hidupku." Ini waktunya kita berhenti berkompromi, berhenti untuk mempertanyakan dan meragukan janji-janji-Nya, berhenti untuk mencari jalan sendiri alih-alih mencari kehendak-Nya yang sempurna, berhenti untuk memakai kebenaran diri sendiri alih-alih meminta hati yang lembut dan mudah diajar (teachable heart). Bagi yang belum pernah berdoa doa tersebut, mintalah tuntunan Roh Kudus segera. Sebab tanpa dipaksa oleh Tuhan sendiri, kita tidak mungkin sanggup mengandalkan kekuatan natural kita sendiri. Yang Ia perlukan adalah KERELAAN (availability) kita, dan semakin kita rela, semakin besar anugerah-Nya (His ability) untuk kita mencapai garis akhir dengan kuat.

Jika Tidak Tahu Seberapa Kita Harus Memberi, Berikanlah Semuanya Hingga Tak Ada Lagi Yang Dapat Kita Berikan Kepada-Nya.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.