Labels

Showing posts with label Pdt. Petrus Agung Purnomo. Show all posts
Showing posts with label Pdt. Petrus Agung Purnomo. Show all posts

Friday, August 8, 2014

6 Hal Untuk Meresponi Destiny Kita

Selain 5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaan Kita, melalui hamba-Nya, Tuhan sekali lagi memperjelas dan memperdalam maksud-Nya dengan menjabarkan langkah demi langkah supaya apa yang sudah ditakdirkan-Nya bagi kita tergenapi dengan sempurna:

1. Mengenali dengan seutuhnya destiny kita masing-masing. Siapa kita, termasuk impian kita di hadapan-Nya, untuk apa kita ada di dunia ini, apa kehendak-Nya dalam hidup kita dan bagaimana menggenapi kehendak-Nya tersebut hingga Garis Akhir merupakan hal-hal yang sama sekali tidak bisa ditawar supaya kita didapati berkenan hingga pada akhirnya. Dibutuhkan proses yang panjang, dan dalam untuk akhirnya kita yakin bahwa itulah keinginan-Nya juga. 


Banyak orang percaya yang ragu bahkan takut dengan keinginannya sendiri karena takut terjebak dengan perkara kedagingan sehingga akhirnya tidak bisa total dalam memperjuangkan destiny-nya tersebut. Padahal Yakub dengan segala kelicikannya tetap dihargai bahkan dikasihi Tuhan, karena Yakub begitu menghargai sebuah hak kesulungan sebagai milik pusakanya yang dari Tuhan. Ambisi Yakub itu ambisi kudus sekalipun cara-caranya begitu mengerikan dan bukan berarti Tuhan menghalalkan kelicikannya.

Jika itu tidak cukup, maka ketahuilah bahwa Tuhan sering kali menyamarkan keinginan-Nya "atas nama" keinginan kita. Timbulnya keinginan di hati Musa untuk mengunjungi saudara-saudaranya (Kisah Para Rasul 7:23) BUKAN timbul dari dalam hatinya sendiri, keinginan itu justru datang dari luar hatinya, yakni dari Roh-Nya yang kudus.

"Now when he (Moses) was forty years old, it came into his heart to visit his brethren, the children of Israel." - Act 7:23

2. Tentukan dengan siapa kita mau belajar. Setelah kita meyakini panggilan dan destiny kita, carilah dengan tuntunan Roh Kudus-Nya, orang-orang yang kita yakini dapat menolong dan mendukung kita untuk mencapai puncak destiny kita. Jika kita yakin destiny kita sebagai nabi-Nya, cari, doakan, hadapkan serta pelajari nabi-nabi-Nya yang telah sukses. Begitu juga sebagai pengusaha, penginjil, gembala, seniman, guru atau bahkan sebagai rasul-Nya sekalipun. Mintalah divine connection dan hikmat-Nya untuk kita bisa menikmati semua prosesnya itu.

Dan ketika kita telah menemukan para senior yang tepat untuk kita belajar, perlakukan mereka dengan benar. Dibutuhkan hikmat dan karunia khusus untuk bisa membaca dan memperoleh perkenanan para senior kita supaya mereka dapat menjadi saluran berkat seperti yang kita harapkan. Perhatikan cara Yakub memperlakukan Ishak, Yakub memahami kesukaan ayahnya, dan bersama Ribka, ia menyajikan masakan daging yang paling enak bagi Ishak. Begitu juga perempuan Sunem memperlakukan Elisa sebagai abdi Elohim. Dan karena pelayanannya yang begitu excellent, maka Elisa berkenan memberkati perempuan Sunem tersebut hingga akhirnya memiliki seorang putera.

3. Miliki kuasa untuk memotret dengan kuat akan masa depan kita. Jika kita yakin bahwa panggilan dan destiny kita sebagai seorang pengusaha, maka kita harus mampu memproyeksikan diri kita sebagai seorang pengusaha sukses. Dan seberapa tinggi kesuksesan yang hendak dicapai, itu tergantung cara kita memproyeksikan hal itu dalam batin kita. Minta Roh-Nya untuk bicara ke batin kita dan ajaklah jiwa kita bicara dari waktu ke waktu sehingga ada cetakan yang begitu kuat akan sebuah potret kesuksesan yang besar di dalam batin kita. 

4. Kemampuan untuk berjalan selangkah demi selangkah dengan Tuhan. Biar bagaimanapun, perjalanan mencapai puncak destiny merupakan perjalanan dua insan, yakni Tuhan dan diri kita masing-masing. Maka sudah barang tentu kita wajib berjalan seirama dengan setiap langkah-Nya. Yang paling tidak boleh dilakukan adalah menyerahkan semua hal kepada-Nya sementara kita tidak melakukan apa-apa. Ada bagian yang harus Ia lakukan dan selalu ada bagian yang harus kita tuntaskan. Apa yang harus kita lakukan itu haruslah sesuai dengan kehendak-Nya, BUKAN sesuai dengan kehendak kita.

Dengan keselarasan yang indah bersama dengan Tuhan, maka semua yang rohani yang dari pada-Nya akan match (cocok) dengan semua yang jasmani yang kita butuhkan untuk mencapai puncak destiny kita. Dan percayalah bahwa pengutusan-Nya terhadap diri kita itu telah melalui berbagai pertimbangan-Nya yang sempurna, jadi yakinlah bahwa kita pasti sanggup menyelesaikannya sampai tuntas. Tuhan tidak mungkin mengutus seseorang, jika Ia tidak yakin bahwa orang tersebut mampu menyelesaikannya.

5. Semua yang Tuhan berikan adalah benih. Dan dalam anugerah-Nya, kita memiliki kesempatan untuk menumbuhkan, membesarkan serta melipatgandakan benih tersebut hingga maksimal dengan tindakan-tindak yang benar dan pembayaran harga yang tepat. Selama kita setia terhadap semua prosesnya, maka hasil pasti akan dianugerahkan-Nya kepada kita.

6. Jagalah sikap hati kita senantiasa. Sebab setiap momen, setiap hari, setiap waktu, setiap keputusan bahkan setiap kedipan mata bisa menjadi sebuah penentuan atas destiny kita hingga pada kekekalan.

5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaanmu - Vol. 1

5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaanmu - Vol. 2

Thursday, August 7, 2014

5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaanmu - Vol. 2


Tuhan memperlihatkan sebuah bahtera yang sedemikian besar dan Tuhan berteriak memanggil-manggil semua anak-anak-Nya. Karena panggilan itu, ada yang meresponi dengan ikut masuk ke dalam bahtera tersebut. Namun ada yang tidak mau masuk. Yang tidak mau masuk adalah mereka yang sudah nyaman dengan kendaraan mereka masing-masing, yakni sekoci-sekoci, sampan-sampan dan kapal-kapal kecil mereka. 

Mereka yang mau masuk ke dalam bahtera-Nya adalah mereka yang paham bahwa fokus hidupnya adalah Tuhan dan hanya Tuhan. Sedangkan mereka yang enggan dan menolak untuk masuk ke dalam bahtera-Nya adalah mereka yang masih terikat dengan kepentingannya sendiri sebab memang fokusnya adalah dirinya sendiri daripada Tuhan. Sekoci-sekoci, sampan-sampan dan kapal-kapal kecil mereka adalah kerajaan-kerajaan mereka, sehingga ketika air bah datang nanti, semua kerajaan mereka akan habis binasa tanpa ada kesempatan lagi untuk mendapatkan keselamatan masuk ke dalam bahtera-Nya.

4. Memahami momen & menjaga sikap hati. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu adalah penentuan. Ada satu hari, satu waktu, satu keputusan maupun satu sikap yang mungkin tidak kita sadari ternyata hal itu bisa menentukan destiny kita bahkan hingga kepada kekekalan. Sebagai contoh, perhatikan beberapa kisah pelajaran berikut ini:

a. Belajar dari Hagar: "Dan Abraham berkata kepada Allah: 'Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!' Tetapi Allah berfirman: 'Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.'" - Kejadian 17:18-21

Jika kita mau lebih jeli memahami situasinya, sesungguhnya sebelum Esau memandang rendah dan menganggap remeh hak kesulungannya, Sarah sudah lebih dulu memiliki sikap yang serupa dengan menyodorkan Hagar kepada Abraham. Sebab dasar dari sikap mereka berdua adalah tidak percaya. Sebagaimana Esau menyerahkan hak kesulungannya kepada Yakub, demikian Sarah menyerahkan warisannya kepada Hagar. Maka Hagar pada hari dirinya diserahkan untuk menjadi gundik bagi Abraham, adalah hari dimana ia mendapatkan durian runtuh. Karena pada hari itu, Hagar memiliki kesempatan, bahkan lebih dulu daripada Tamar, Rahab, Rut, dan Batsyeba untuk namanya dapat tercatat dalam Silsilah Kristus.

Namun karena sikap Hagar yang mudah sombong dan begitu menghina nyonya Abraham, maka kesempatan yang begitu mulia itu hilang dan tak pernah terulang kembali. Itulah sebabnya ketika Abraham menyodorkan Ismael untuk menjadi anak perjanjian, Tuhan langsung dengan tegas menolaknya. 

Walau Sarah sempat ceroboh dalam perkara Hagar, namun sesungguhnya Sarah telah teruji dalam berbagai perkara lainnya. Sarah setia menemani Abraham walaupun saat itu mereka berdua tidak pernah tahu ke mana mereka harus melangkah. Bahkan ketika Abraham meminta Sarah berdusta atas status mereka di hadapan Firaun maupun Abimelekh, Sarah pun menuruti Abraham tanpa ada keluhan sama sekali.

Sedangkan Hagar, baru hamil satu kali saja ia telah begitu ceroboh bersikap dengan begitu menghina Sarah. Jatah yang begitu besar dan mulia akhirnya harus kembali kepada empunya yang semula. Seandainya hari itu Hagar tetap bersikap setia dan menghormati Sarah, seperti Daud menghormati Saul, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Hagar akan melahirkan adik-adik Ismael dan Tuhan langsung menjadikan mereka sebagai bapak-bapak bangsa seperti keduabelas anak Yakub. Pertanyaannya, jika hari ini apa yang dialami Hagar sungguh terjadi dalam hidup kita, akankah kita tetap mau ceroboh dengan sikap hati kita?

b. Belajar dari Yehuda dan keluarganya: "Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul." - Kejadian 46:12. "Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. ... ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur. Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu." - Kejadian 49:8-12.

Yehuda adalah manusia biasa yang memiliki segala kelemahan dan kecenderungan. Namun padanya ada perjanjian Tuhan yang sedemikian rupa sehingga raja-raja bahkan Kristus lahir dari garis keturunannya. Namun kedua anaknya, yakni Er & Onan tidak mampu mewarisi perjanjian tersebut, bahkan mereka berbuat jahat di hadapan Tuhan sehingga Tuhan membunuh mereka. Namun dalam kehendak-Nya yang ajaib, Tuhan mampu menghadirkan penerus yang luar biasa dan "melunasi" nyawa kedua anaknya yang dibunuh Tuhan, yakni melalui Peres & Zerah.

Perhatikan! Bahwa perjanjian Tuhan kepada Yehuda tetap adanya, Tuhan tidak mencari pengganti Yehuda. Dalam kerjasama-Nya dengan Tamar, perjanjian itu tetap bisa diwariskan. Apa yang istimewa dari Yehuda, sehingga Tuhan tetap setia kepadanya? Yehuda bersama Ruben ikut menyelamatkan nyawa Yusuf (Kejadian 37:26-27). Pada saat Yehuda memiliki kesempatan untuk membungkam menantunya, Tamar, ia tidak melakukan hal itu, melainkan dengan sikap yang demikian mulia mengakui kesalahannya (Kejadian 38:26). Bayangkan jika hari itu Yehuda menyangkal dan Tamar dibunuh, maka bukan saja Peres dan Zerah tidak lahir, melainkan juga Tuhan akan menggeser Yehuda dan mencari penggantinya untuk mewarisi perjanjian yang sama.

Yehuda tulus memberikan solusi untuk meyakinkan ayahnya akan keselamatan Benyamin saat mereka hendak ke Mesir untuk kedua kalinya (Kejadian 43:8-16). Yehuda bahkan dengan berani mengajukan permohonan sehingga hati Yusuf tidak dapat lagi tahan (Kejadian 44-45) untuk mengakui identitasnya.

Setelah kelahiran Kristus, maka apa yang telah diwariskan Tuhan kepada Yehuda tidak mampu lagi diwarisi oleh bangsa Israel, sebab dengan ceroboh dan gegabah bangsa Israel menyalibkan Kristus dan harus menanggung secara turun temurun darah Anak Manusia yang tak berdosa. Apa yang harus dinikmati oleh Israel, akhirnya harus digeser Tuhan, salah satunya kepada Inggris Raya (Great Britain / United Kingdom). Itulah sebabnya ada istilah "the sun never sets on British Empire" sebab Inggris dengan semua negara persemakmurannya mewarisi berkat Yehuda, Lewi dan Efraim.


Inggris dan negara-negara persemakmuran (mulai dari ujung paling Timur, New Zealand, Australia, Papua New Guinea, beberapa negara Asia dan belasan negara Afrika) telah menjadi banyak bangsa seperti yang dinubuatkan bagi Efraim, dengan total penduduk sekitar 2,5 trilliun jiwa. Begitu juga negara Amerika Serikat, yang adalah pewaris Yehuda, Lewi dan Manasye, menjadi sebuah bangsa yang begitu berkuasa di dunia. Dari kedua negara ini, dapatkah kita pahami betapa luar biasa kuasa dan dampak dari perjanjian tersebut?

- Belajar dari Yosua & Kaleb: "Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir dan Anab, dari seluruh pegunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua. Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod masih ada yang tertinggal." - Yosua 11:21-22

Jika Anda bertanya alasan Gaza masih membara dan menjadi duri dalam daging bagi Israel saat ini, maka kisah pada zaman Yosua yang menjadi jawabannya. Ada bagian yang tidak dituntaskan. Yang harus kita pahami adalah demikian, jika urusan yang tertunda ribuan tahun saja masih memiliki dampak hingga saat ini, apalagi urusan yang tertunda dalam sehari-hari kehidupan kita. Sikap yang masih suka menunda-nunda dan enggan bertindak cepat serta seirama dengan kehendak Roh-Nya, bisa berakibat fatal.

"Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: 'Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea. ... Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.'" - Yosua 14:6-12

Kaleb paham bahwa dirinya bukanlah "pilihan utama" untuk urusan bangsanya. Seperti arti namanya, yakni anjing, ia tetap memiliki sikap tahu diri yang baik. Namun hal itu tidak membuatnya berpangku tangan atau menunggu perintah dari Yosua untuk merebut apa yang menjadi jatah maupun warisannya. Kaleb percaya akan janji Tuhan melalui perkataan Musa, dan berdasarkan perjanjian itu, ia dengan gagah berani meminta dan menggenapi apa yang menjadi bagiannya.

Kita sebagai Gereja-Nya seharusnya juga memiliki sikap yang sama. Kita tidak boleh lagi menjadi pasif maupun manja untuk mengerjakan panggilan dan pelayanan kita bagi Kerajaan-Nya. Apa yang hendak kita lakukan sebagai kontribusi kita kepada Kerajaan-Nya, hal itu tidak perlu menunggu orang lain yang mengajak kita. Dengan meminta penyertaan dan petunjuk Roh Kudus-Nya, lakukanlah segera apa yang sudah seharusnya kita kerjakan. Tidak perlu memusingkan hasilnya, melainkan belajar untuk menikmati prosesnya bersama dengan Tuhan. Selama kita mau mengikuti semua kehendak-Nya, maka hasilnyapun telah dijamin-Nya.

"Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." - 2 Petrus 1:5-10

Ketahuilah bahwa panggilan dan pilihan kita di tahap awal tidaklah teguh dan amat rentan untuk kandas! Proses yang harus kita jalani bersama dengan Roh-Nya akan memperkokoh iman dan panggilan kita melalui persekutuan dengan-Nya dan melahirkan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, bahkan akhirnya kasih agape. Sehingga pada akhirnya, kelimpahan yang dijanjikan menjadi nyata untuk dinikmati.

Namun jika kita keluar dari panggilan kita dan bahkan membuang destiny kita, maka kita dapat terhilang karena ego kita. Bintang yang terang, akhirnya lenyap dalam kekelaman (black hole) untuk selamanya, Yudas 13.

Perjalanan destiny kita bersama dengannya merupakan sebuah rangkaian tahapan demi tahapan. Dari dipanggil, lalu dipilih dan akhirnya ditetapkan. Demikian juga perjanjian yang diberikan, akan menjadi ketetapan sampai akhirnya menjadi kenyataan. Bahkan orang yang tadinya hanya sekedar mendapat kesempatan, bisa menjadi orang pilihan sampai akhirnya menjadi orang yang berkenan.

5. Mengenai Survey & Mapping. Untuk poin ini, silakan klik di sini. Atau memperoleh rincian pengajarannya secara audio dengan klik, mencari dan download di sini.

5 Hal Penting Untuk Mempeoleh Kanaanmu - Vol. 1

6 Hal Untuk Meresponi Destiny Kita

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

Tuesday, August 5, 2014

5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaanmu - Vol. 1

Menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kali sebagai Raja di atas segalanya, kita dituntut untuk menyimak dan mempelajari cara hidup Daniel, Hananya, Misael, Azarya bahkan Hadasah. Ketika mereka terpilih untuk melayani raja-raja saat itu, ada sebuah jangka waktu untuk mereka menjalani sebuah persiapan dan didikan, yang akhirnya melahirkan pemahaman yang baru dan sikap yang sejalan untuk mereka layak berhadapan dengan raja-raja tersebut. Demikian juga kita sebagai Gereja dan Pasukan Kudus-Nya, dituntut dalam sebuah persiapan dan didikan yang begitu panjang dan kompleks untuk memasuki sebuah zaman yang baru, memerintah bersama dengan-Nya di Masa Kerajaan Seribu Tahun.

"Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka. Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka. Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: 'Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu? Ajukanlah tiga orang dari tiap-tiap suku; maka aku akan menyuruh mereka, supaya mereka bersiap untuk menjelajahi negeri itu, mencatat keadaannya, sekadar milik pusaka masing-masing, kemudian kembali kepadaku. Sesudah itu mereka akan membaginya di antara mereka menjadi tujuh bagian. Suku Yehuda akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah selatan dan keturunan Yusuf akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah utara. Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita. Sebab orang Lewi tidak mendapat bagian di tengah-tengah kamu, karena jabatan sebagai imam TUHAN ialah milik pusaka mereka, sedang suku Gad, suku Ruben dan suku Manasye yang setengah itu telah menerima milik pusaka di sebelah timur sungai Yordan, yang diberikan kepada mereka oleh Musa, hamba TUHAN.' Kemudian bersiaplah orang-orang itu, lalu pergi, sedang Yosua memerintahkan kepada mereka, pada waktu mereka berangkat, supaya mereka mencatat keadaan negeri itu, katanya: 'Pergilah, jelajahilah negeri itu, catatkanlah keadaannya, kemudian kembalilah kepadaku; maka di sini, di Silo, aku akan membuang undi bagi kamu di hadapan TUHAN.' Orang-orang itu pergi dan berjalan melalui negeri itu; mereka mencatat keadaannya dalam suatu daftar, kota demi kota, dalam tujuh bagian, lalu kembali kepada Yosua ke tempat perkemahan di Silo. Lalu Yosua membuang undi bagi mereka di Silo, di hadapan TUHAN, dan di sanalah Yosua membagikan negeri itu kepada orang Israel, sesuai dengan pembagian mereka." - Yousua 18:1-10

Tuhan ingin kita memperoleh impian atau Kanaan kita masing-masing, sebab Kanaan kita merupakan bagian yang terintegrasi dengan destiny kita, juga terintegrasi dengan rencana utama Tuhan untuk mengokohkan Kerajaan-Nya di Bumi. Untuk itu, ada lima hal penting yang harus diperhatikan supaya kita memperoleh Kanaan kita secara nyata. Kelima hal ini harus dipenuhi, tidak boleh ada satupun yang dilewati:

1. Kita harus mengenali dengan benar impian atau Kanaan kita masing-masing. Dalam hal ini, kita dituntut untuk mengenali Tuhan sekaligus mengenali diri kita sendiri dengan sangat baik. Sebagaimana Tuhan mengenali diri kita, demikian juga seharusnya kita memahami setiap sisi dalam diri kita. Kita tidak bisa hanya berkata, "Pokoknya destiny-ku uangnya banyak, mobilnya mewah, bisa memberkati banyak orang, memberkati bangsa-bangsa." Namun pada kenyataannya kita sebenarnya masih belum mengerti arah yang Tuhan kehendaki bagi kita. Padahal kita harus memahami apa-apa saja yang sesungguhnya sudah Tuhan siapkan bagi kita. Pada tahap ini, ada tuntutan untuk bergaul karib dengan-Nya, ada tuntutan untuk mengenal hati-Nya dengan benar.

Perhatikan Tanah Kanaan, minimal ada empat bahkan lima kali Tanah Perjanjian itu dilihat dan diamati secara seksama, yakni oleh Abraham yang menjalani setiap jengkal Kanaan (Kejadian 13:14-17), oleh keduabelas pengintai yang diutus Musa, oleh dua pengintai yang diutus Yosua (salah satunya ialah Salmon yang sempat ditolong oleh Rahab), oleh 21 orang yang diutus dari 7 suku (Yosua 18) untuk melakukan Survey & Mapping dan secara spiritual oleh Musa menjelang wafatnya. Dengan demikian, sesungguhnya Tuhan ingin kita kenali betul apa yang sudah Ia persiapkan bagi kita. Bahkan kita harus tahu alasan Tuhan mempersiapkan Kanaan kita masing-masing. Ada selera-Nya, namun juga selera kita dalam setiap Kanaan kita.

Namun demikian, kita harus belajar dari kesalahan sepuluh orang pengintai yang bersikap salah ketika mereka mengetahui Kanaan mereka. Pada dasarnya setiap Kanaan kita masing-masing adalah "wow" dan "wah" adanya. Kanaan kita terasa begitu besar dan mustahil untuk diraih jika tanpa iman. Perhatikan kesalahan sikap kesepuluh pengintai tersebut, pertama-tama mereka melaporkan semua fakta yang mereka lihat, namun berikutnya mereka menarik kesimpulan berdasarkan pengertian mereka sendiri (Bilangan 13). Bagian kita hanya melihat apa yang Tuhan sudah siapkan dan percaya. Selebihnya adalah bagian Tuhan. Jangan pernah menyimpulkan sendiri apa yang sudah Tuhan putuskan atau tetapkan. Tanpa pengenalan yang benar akan Tuhan, tidak akan mungkin kita bisa menerima Kanaan kita masing-masing.

Mengapa Tuhan murka kepada kesepuluh orang pengintai dan sebagian bangsa Israel yang mempercayai perkataan mereka? Karena ketika mereka menyebut bahwa diri mereka seperti belalang, hal itu sama dengan menghina Tuhan. Sebab di hadapan Tuhan, Israel merupakan pasukan dan bala tentara-Nya. Tuhan ingin kita melihat sebagaimana Ia melihat.

2. Memiliki kuasa untuk mengingini. Ketika suku Ruben, suku Gad dan sebagian suku Manasye melihat bagian pinggir Tanah Kanaan di sisi Timur sungai Yordan yang begitu subur, mereka meminta bagian tanah tersebut dari Musa, dan Musa mengabulkannya dengan syarat bahwa pasukan mereka tetap membantu suku-suku yang lain untuk memperoleh bagian mereka di tempat-tempat lainnya masing-masing. Keinginan semacam ini bukanlah kedagingan, ini memang sikap yang benar untuk meresponi pemberian Tuhan.

Perhatikanlah Esau dan Yakub di hadapan Tuhan (Maleakhi 1:1-3), betapa Tuhan begitu mengasihi Yakub dan sedemikian membenci Esau. Mengapa? Karena Yakub, terlepas dari caranya yang licik, namun ia memiliki sikap hati yang sedemikian rupa menginginkan apa yang Tuhan sediakan dengan imannya sedangkan Esau menganggap hak kesulungannya sebagai sesuatu yang tidak ada nilainya. 

Kita juga tidak boleh bersikap apatis maupun sok alim dengan alasan "kedagingan" yang tidak tepat. Memang benar kita adalah hamba dan Tuhan adalah Tuan sekaligus Raja kita. Namun di sisi lain, kita juga adalah kawan sekerja-Nya (1 Korintus 3:9). Kita berjalan bersama dengan-Nya, seperti dua ekor lembu dalam satu kuk yang sama (Matius 11:29-30), itulah sebabnya kita dituntut untuk seirama dengan langkah-langkah-Nya. Jika kita tidak memiliki kerinduan dan passion yang seirama dengan-Nya, maka kita akan menjadi beban yang tidak perlu bagi kepentingan Kerajaan-Nya.

"Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini." - Kisah Para Rasul 15:28

Ayat tersebut di atas adalah salah satu bukti betapa kehendak Tuhan dan kehendak kita harus seirama dan saling memahami dan menghargai satu sama lain. Ingatlah bahwa kita adalah gambar dan rupa-Nya, kita diciptakan dengan cara Tuhan melihat diri-Nya terlebih dahulu. 

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. ... Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!" - 2 Korintus 9:6-15

Ada yang disebut karunia yang tak terkatakan, yakni karunia memberi atau menabur. Sebab tindakan pemberi atau penaburan (materi) merupakan sikap yang didasari oleh pemahaman dan pengenalan kita terhadap Tuhan dan segala sesuatu yang ada dalam keberadaan kita. Tuhan menilai dan menghargai semuanya itu, entah taburan itu sedikit maupun banyak, dan bayangkan betapa berdampaknya semua itu. Ia memberikan tuaian yang besar bagi yang menabur banyak, Ia memberikan tuaian yang kecil bagi yang menabur sedikit. Jadi sadarilah betapa berkuasanya keinginan dan sikap kita dalam meresponi semua perkara yang Tuhan sediakan bagi kita.

3. Sisi ke-Lewi-an. Suku Lewi tidak memperoleh bagian seperti semua suku lainnya, sebab mereka memiliki bagian khusus dan dikhususkan bagi Tuhan untuk melayani bangsa sebagai imam. Suku Lewi hanya menerima sebagian (biasanya sepersepuluh) dari apa yang diperoleh suku-suku lainnya. Namun karena kedudukannya itu, suku Lewi justru menjadi begitu kaya dan memiliki seluruh keanekaragaman dari kesebelas suku lainnya. 

Kita sebagai Gereja Tuhan adalah "Lewi" bagi bangsa ini sebab salah satu panggilan kita adalah menjadi imamat yang rajani. Dalam kaitannya dengan Kanaan kita masing-masing, Tuhan menghendaki bahwa kita menyentuh seluruh aspek dan bidang kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Simaklah apa yang sudah Tuhan kerjakan melalui Bahtera. Semua kegiatan mulai dari sekolah, dapur umum, rumah singgah, seminar narkoba, sekolah sepakbola, klinik, dan sebagainya. Tuhan menghendaki kita menjadi Gereja yang memerintah bersama-Nya di segala aspek, yakni pendidikan, kesehatan, bisnis, olahraga, sosial, budaya, keluarga, dan lainnya. Inilah sisi ke-Lewi-an dari destiny dan Kanaan kita yang Tuhan siapkan terintegrasi dengan rencana Kerajaan-Nya.

Monday, January 20, 2014

Jurnal SHRK Januari 2014 - Hari Ke-1

"Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali; pada hari itulah perbatasanmu akan diperluas." - Mikha 7:11

"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." - 1 Korintus 2:9

Dikatakan bahwa pagar tembok kita akan dibangun kembali dan pada hari itulah perbatasan kita akan diperluas. Dan inilah yang akan terjadi kepada kita semua sebagai umat dan pasukan-Nya di 2014 ini. Jadi ada kapasitas yang hendak diperbesar, ada daya kepak sayap yang hendak diperkuat, ada fondasi yang hendak diperkokoh dan ada tanggung jawab yang hendak dipercayakan. Pertanyaannya, apakah kita siap? Apakah kita bisa menangkap dan menyambar dalam ketepatan ketika itu semua datang? Atau ternyata kita malah membiarkan semuanya itu terlewat begitu saja?

Janji Tuhan dalam 1 Korintus 2:9 tentunya sudah amat sering kita dengar, terutama ketika kita menghadapi saat-saat hendak dikuatkan dalam lembah-lembah kehidupan. Yang tak pernah dilihat mata, yang tak pernah didengar telinga dan yang tak pernah dipikirkan sebelumnya, intinya kejutan-kejutan besar yang menyenangkan dan menggembirakan. Pertanyaannya tetap sama, apa kita siap? Apa kita siap ketika kita melihat sesuatu yang sesungguhnya dari Tuhan namun aneh bagi penglihatan kita? Apa kita siap ketika kita mendengar sesuatu yang sesungguhnya sudah Tuhan idamkan khusus bagi kita, namun aneh bagi pendengaran kita? Apa kita siap menyambut kejutan besar yang dari Tuhan yang bahkan belum ada di hati kita?

Bukankah Mesias itu ialah Anak Manusia? Namun hampir semua orang Farisi terkejut dan tidak bisa menerima-Nya. Bukankah Yesus itu ialah Mesias? Namun hampir seluruh keluarga-Nya di Nazaret kecewa dan menolak Dia. Padahal yang hadir hari itu ialah Yang Mahabaik yang dari Bapa di Sorga, yang memang melampaui penglihatan, pendengaran dan pikiran siapapun, namun ternyata tidak ada yang siap saat itu.

Di Akhir Zaman ini, apakah kita hendak mengulangi kesalahan dan kebodohan yang sama seperti yang disebutkan di atas? Ketika Tuhan berkata bahwa Ia sungguh menjanjikan dan segera menggenapi janji-Nya untuk memberkati kita dengan limpah, adakah Ia jumpai iman kita untuk menyambarnya? Sesungguhnya sekalipun itu di luar jangkauan pemahaman kita, namun di dalam Tuhan, semua itu masih di dalam jangkauan iman kita.

Tuhan tidak pernah menjanjikan masa depan yang serupa masa lalu kita, sebab yang Ia sediakan adalah pembalikkan keadaan yang sungguh akan membalikkan keadaan.

Thursday, July 18, 2013

Jurnal SHRK Juli 2013 - Hari Ke-3

Memperbesar Kapasitas

"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." - Pengkotbah 5:18

"Yes, we should make the most of what God gives, both the bounty and the capacity to enjoy it, accepting what's given and delighting in the work. It's God's gift!" - Ecclesiastes 5:19 (The Message Version)

"Ya, kita harus mempergunakan sebaik-baiknya dari apa yang diberikan Allah, baik karunia dan kapasitas untuk menikmatinya, menerima apa yang diberikan dan berkenan dalam pekerjaan. Itu pemberian Allah." - Terjemahan Ecclesiastes 5:19, The Message Version

Masa Kingdom Explosion sudah dideklarasikan dan sudah banyak kesaksian yang baik yang membuktikan bahwa Gereja telah memasuki masa tersebut dan banyak orang bersemangat menantikan kelanjutannya hingga akhir tahun ini. Namun, tidak sedikit yang memiliki api asing sambil mempertanyakan keputusan Tuhan karena siatuasi yang dihadapi sama sekali tidak seperti yang diharapkan. Ada yang menjadi kecewa, ada yang menjadi marah, ada yang pasrah dan putus asa membiarkan semua yang negatif menguasai hati mereka. "Apanya yang explosion? Koq situasi saya malah semakin terpuruk?" dan sebagainya.

Sesungguhnya Tuhan sangat ingin memberkati semua umat-Nya. Dan hal itu terbukti karena setiap kita memiliki talenta, yang merupakan potensi untuk menciptakan ledakan, walau jumlah talenta setiap orang berbeda-beda. Namun masalahnya, apakah kita memiliki kapasitas yang cukup untuk itu? Apakah berkat yang Tuhan hendak berikan akan menjadi beban masalah atau kenikmatan? Karena sudah sangat banyak anak Tuhan yang begitu diberkati, hidupnya berubah menjadi beban dan masalah.

Suatu kali pemimpin gereja bawah tanah di RRC mendapat pertanyaan, "Anda dan seluruh jemaat gereja bawah tanah begitu militan, tidak takut dipenjara, tidak gentar disiksa, bahkan untuk menghadapi kematian sekalipun. Apakah masih ada yang kalian takuti di dunia ini?" Dan secara mengejutkan pemimpin ini menjawab, "Ya ada. Kami bisa menjadi militan seperti ini karena kami tidak punya apa-apa, namun ketika kami memiliki berkat dan kelimpahan, belum tentu kami ada seperti sekarang ini. Berkat yang berlimpah itulah yang kami takutkan." Ini jelas bahwa ia manganggap bahwa berkat dan kelimpahan lebih berpotensi menjadi beban masalah ketimbang kenikmatan.

"Then GOD said, 'Shall I keep back from Abraham what I'm about to do? Abraham is going to become a large and strong nation; all the nations of the world are going to find themselves blessed through him. Yes, I've settled on him as the one to train his children and future family to observe GOD's way of life, live kindly and generously and fairly, so that GOD can complete in Abraham what he promised him.'" - Genesis 18:17-19 (The Message Version)

Abraham dan seluruh keturunannya merupakan pilihan Tuhan sendiri untuk diberkati dan menjadi berkat bagi seluruh dunia. Dan bukti dari pilihan Tuhan itu tidak lain adalah dengan melatih (to train) dan mendidik anak-anak dan keturunannya supaya memiliki kapasitas yang diharapkan. Tuhan bukan langsung memberikan kelimpahan secara gelap mata, yang Ia lakukan pertama kali ada membentuk, melatih, mendidik bahkan menghajar supaya kapasitasnya cukup dan sesuai dengan harapan serta cita-cita-Nya.

"Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara." - Kisah Para Rasul 14:21-22

"After proclaiming the Message in Derbe and establishing a strong core of disciples, they retraced their steps to Lystra, then Iconium, and then Antioch, putting muscle and sinew in the lives of the disciples, urging them to stick with what they had begun to believe and not quit, making it clear to them that it wouldn't be easy: "Anyone signing up for the kingdom of God has to go through plenty of hard times." - Acts 14:21-22 (The Message)

Apa yang dilakukan Paulus dan Barnabas terhadap para murid pun sama persis dengan apa yang dilakukan Allah kepada semua keturunan Abraham. Paulus dan Barnabas memperlengkapi manusia roh para murid supaya memiliki otot dan urat (putting muscle and sinew) yang sedemikian rupa sehingga memiliki kapasitas untuk memenuhi destiny mereka masing-masing. Kini saatnya kita memahami kapasitas kita dan mengatur prioritas kita sehingga tujuan destiny dapat tercapai genap dan tuntas.

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Wednesday, July 17, 2013

Jurnal SHRK Juli 2013 - Hari Ke-2

Sang Penjungkirbalik Dunia

Suatu kali Tuhan memperlihatkan dua jenis transportasi udara, yakni sebuah helikopter dan sebuah pengangkut kargo udara berukuran sangat besar (sejenis C-5, C-130 atau Antonov) yang bahkan mampu mengangkut truk tronton, tank atau kendaraan berat lainnya. Tuhan mengarahkan pikiran atas landasan yang diperlukan untuk kedua jenis kendaraan udara tersebut. Untuk sebuah helikopter, bahkan tidak diperlukan landasan karena hanya dengan mengambang di udara, helikopter tetap dapat menaikkan atau menurunkan muatannya.


C-5 Aircraft

Namun berbeda dengan pesawat jenis C-5 yang demikian besar dalam ukuran volume dan demikian kuat dalam ukuran tenaga, sehingga dibutuhkan landas pacu yang demikian kuat, besar dan sangat panjang untuk menerbangkan maupun mendaratkan pesawat tersebut. Dan itulah Rasul Paulus dengan segala sepak terjangnya yang menjungkirbalikkan dunia melalui Injil Kristus di awal Zaman Kasih Karunia.

"And last of all He appeared to me also, as to one prematurely and born dead [no better than an unperfected fetus among living men]. For I am the least [worthy] of the apostles, who am not fit or deserving to be called an apostle, because I once wronged and pursued and molested the church of God [oppressing it with cruelty and violence]. But by the grace (the unmerited favor and blessing) of God I am what I am, and His grace toward me was not [found to be] for nothing (fruitless and without effect). In fact, I worked harder than all of them [the apostles], though it was not really I, but the grace (the unmerited favor and blessing) of God which was with me." - 1 Corinthians 15:8-10 (Amplified Version)

"Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, yang prematur dan lahir mati (tidak lebih baik dari janin yang cacat di antara yang hidup). Karena aku yang paling tidak layak di antara para rasul, tidak cocok atau pantas disebut seorang rasul, karena aku bersalah dan mengejar dan menganiaya gereja Tuhan (menindas dengan kekejaman dan kekerasan). Namun karena anugerah (perkenanan dan berkat yang tidak sepantasnya) dari Tuhan, aku sebagaimana aku ada, dan anugerah-Nya bagiku tidak ditemukan sia-sia (tidak berbuah dan tanpa dampak). Faktanya, aku telah bekerja lebih keras daripada semua rasul, meskipun itu bukan benar-benar aku, melainkan anugerah Tuhan (perkenanan dan berkat yang tidak sepantasnya) yang menyertai aku." - 1 Korintus 15:8-10

Rasul Paulus mengawali pelayanannya dengan kondisi yang sedemikian rupa kontrasnya dengan hasil akhir pelayanannya. Kekontrasan itu bahkan tampak jelas dibandingkan dengan semua rasul lainnya, dan tidak mengherankan bahwa ia disebut yang terbaik kedua setelah Tuhan Yesus sendiri dan dua pertiga dari Perjanjian Baru ditulis oleh dirinya sendiri. Pertanyaannya, mengapa bisa demikian dahsyatnya? (insert kanan: Antonov Aircraft)

Salah satu keistimewaan Rasul Paulus adalah ia memiliki baik kesadaran akan dirinya sendiri maupun kesadaran akan Tuhan, kesadaran yang sedemikian rupa sehingga ia rela untuk dirinya dibangun dan dibentuk serta dididik sampai mampu sejalan dengan semua kehendak Kristus hingga perkara-perkara yang ekstrim sekalipun. Tidak ada tokoh lain yang lebih ekstrim daripada Rasul Paulus, namun di saat yang sama tetap seimbang dan sejalan dengan kehendak Kristus. Ini sama seperti pesawat C-5 yang memiliki ukuran ekstrim, untuk mengangkut bobot yang ekstrim namun tetap bisa lepas landas, terbang dan mendarat dengan seimbang.

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." - Filipi 3:8-11

Rasul Paulus membahasakan tulisannya dengan gaya yang ekstrim karena memang ia menghidupkan apa yang ia tuliskan dengan cara yang ekstrim pula. Keekstriman yang sejalan dengan kehendak Tuhan inilah yang menghasilkan daya jungkir balik yang dahsyat terhadap dunia di sekitarnya. Surat kepada jemaat di Filipi merupakan bagian akhir dari pelayanan dan kehidupannya, dan sampai saat itu ia bahkan memiliki kehausan yang ekstrim untuk mengenal Tuhan dan menjadi serupa dengan Kristus sampai ia dapat memperoleh kebangkitan yang sama dan Kristus menjadi sedemikian nyata dalam hidupnya.

Rasul Paulus tidak pernah memilih jalan yang mudah, jalan yang ditempuhnya adalah jalan kemustahilan dan keajaiban. Hal ini karena ia memiliki kedalaman pemahaman dan kesadaran yang tinggi bahwa anugerah yang telah ia terima harus ia kembalikan sesuai dengan kehendak Empunya anugerah tersebut. Apa yang Tuhan anggap berharga, seringkali dianggap sampah oleh dunia. Begitu juga apa yang dunia anggap berharga, Tuhan anggap sampah. Dan Rasul Paulus melihat sebagaimana Tuhan melihat. Bagaimana dengan kita, Generasi Penuntas dan Generasi Penakluk Dunia?

Tuesday, July 16, 2013

Jurnal SHRK Juli 2013 - Hari Ke-1

Membelah Kemiskinan

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu.' Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. ... Lalu Firaun memanggil Musa serta berkata: 'Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.' Tetapi Musa berkata: 'Bahkan korban sembelihan dan korban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami. Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kakipun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil untuk beribadah kepada TUHAN, Allah kami; dan kami tidak tahu, dengan apa kami harus beribadah kepada TUHAN, sebelum kami sampai di sana.' ... Kemudian Musa berkata: 'Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!'" - Keluaran 10:21-29


Saat itu telah terjadi delapan kali peristiwa yang begitu ajaib dan dramatis, namun Firaun masih mengeraskan hatinya. Dan untuk kali yang kesembilan, Firaun mencoba mengalah namun tetap tidak rela. Ia membiarkan bangsa Israel pergi beribadah namun tanpa boleh membawa harta benda. Ini adalah strategi Iblis yang terakhir, sebelum akhirnya Tuhan memberikan "jurus pamungkas" dengan Tulah Kesepuluh, yakni Kematian Anak Sulung. 

Dari peristiwa tersebut di atas, betapa Iblis dan sistem dunia mengerti bahwa di mana hartamu berada, di sanalah hatimu. Dan keterikatan kepada harta benda ini sungguh merupakan mentalistas yang miskin, yang dapat membuat orang tidak berdaya untuk melakukan kehendak Tuhan di dalam hidupnya.

"Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu." - Keluaran 12:35-36

Setelah genap sepuluh tulah terjadi dan Paskah pertama diadakan, keluarlah seluruh orang Israel dengan membawa jarahan yang begitu besar. Walaupun tadinya mereka budak, namun kini mereka lahir sebagai sebuah bangsa pilihan dengan kondisi finansial yang amat limpah hingga tidak ada satupun orang miskin di antara mereka saat itu. Sungguh sebuah fenomena yang menakjubkan! 

Namun harta jarahan yang mereka bawa dari Mesir tersebut seperti "bernyawa" dan harta yang sama yang mereka genggam mencoba untuk menarik mereka balik ke Mesir. Hal ini terbukti dari ucapan dan respon mereka ketika melihat Firaun dan para tentaranya mengejar: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." -  Keluaran 14:11-12. 

Padahal dulu mereka sangat ingin merdeka dari perbudakan Mesir, bagaimana mungkin sekarang mereka berkata demikian kontradiktif? Jawabannya ada pada harta jarahan dari Mesir yang mereka genggam. Tuan atas harta tersebut adalah orang Mesir, dan harta tersebut menarik balik orang Israel kembali kepada tuannya di Mesir. Bukankah ketika Musa berada di gunung Sinai, orang Israel meminta Harun membuat ilah lain dalam bentuk patung emas tuangan berbentuk anak lembu dengan harta jarahan tersebut sambil berkata, "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" - Keluaran 32:4. 

Harta tersebut memiliki kait dan ikatan yang berhasil mengumpan dan mengikat segenap bangsa Israel untuk berpaling dari Tuhan Allah. Dengan demikian ada mentalitas kemiskinan yang begitu mengikat, yang menjadi selaput tebal sehingga orang Israel tidak mampu melihat Tuhan, sekalipun begitu dahsyat dan banyak perbuatan-Nya yang ajaib.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu sangat banyak terjadi. Ada orang yang begitu banyak uangnya, namun amat sayang untuk menggunakan dan menikmatinya. Ada nenek-nenek ditemukan meninggal di atas tempat tidurnya karena kelaparan, padahal di bawah tempat tidurnya ada uang ribuan dolar yang dihemat sedemikian rupa. Ada yang memiliki mobil mewah, namun hanya diparkir di garasi rumahnya sedangkan ia sendiri pergi dengan menggunakan mobil butut atau bahkan angkutan umum. Hartanya banyak, namun mentalnya miskin. Padahal jika dipikir dengan akal sehat, ini adalah mentalitas budak yang amat memalukan.

Maka ketika Firaun beserta tentara Mesir semakin mendekat, Tuhan memberikan solusi yang menakjubkan, "Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat (tanah) kering (yabbashah)." - Keluaran 14:16. Tuhan menghendaki Musa dan orang Israel berjalan MENGINJAK tanah kering. Dalam bahasa Ibrani disebut yabbashah. Kata dasar "yabbashah" adalah yabesh, yang memiliki arti lain, yakni sesuatu yang memalukan (ashamed / shamed / shamefully). Dengan demikian Tuhan hendak berkata bahwa mentalitas itu harus diinjak dan ditaklukkan. Karena ketika berbicara soal uang atau harta, pilihannya hanya dua, memperbudak atau diperbudak. Pertanyaannya, siapakah yang menjadi tuannya? Diri kita atau harta kita? Mengapa selama ini banyak orang percaya yang belum mengalami terobosan finansial? Itu karena selama ini uang yang menginjak mereka, dan bukan sebaliknya.

Kemiskinan Bukan Soal Ketidaktersediaan Uang. Kemiskinan Adalah Ketika Anda Tidak Memiliki Kebebasan Untuk Melakukan Dan Menggenapi Apapun Yang Tuhan Kehendaki.

Wednesday, May 15, 2013

Jurnal SHRK Mei 2013 - Hari Ke-2

Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, terima atau tidak terima, saat ini Gereja Tuhan dan dunia sudah mulai memasuki (maksimal) 7 tahun terakhir sebelum Pengangkatan dan Masa Tribulasi Besar. Ini akan menjadi 7 tahun yang paling spektakuler, 7 tahun yang paling sensasional, 7 tahun yang paling dramatis dalam sejarah manusia. Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai Gereja dan sekaligus Mempelai-Nya mempersiapkan diri dan bersikap untuk menghadapi masa-masa paling menentukan ini?

Dibutuhkan sayap keintiman dan sayap keagungan (wing of intimacy and wing of greatness) untuk mampu terbang dan menaklukkan setiap tantangan dan berbagai perkara dalam 7 tahun ke depan. Tanpa keintiman yang selaras dengan hati Sang Raja, tidak akan pernah ada keagungan yang bisa dihasilkan untuk memenangkan pertempuran terbesar ini. Ini saatnya bagi Gereja dan Pasukan Akhir Zaman untuk bertindak sebagai imamat yang rajani, sebagai raja-raja-Nya, memerintah dengan otoritas, ketepatan, dan perkenanan sampai kemuliaan Tuhan nyata di seluruh bumi.

Belajar Dari Saul

"Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Elohim, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi." - 1 Samuel 10:5

Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan:

1. Bahwa ketika Tuhan mengurapi dan melantik Saul menjadi raja, hal itu BUKAN terjadi di Israel, melainkan di Gibea, Filistin, yang adalah daerah musuh. Dengan hal ini, Tuhan hendak menegaskan bahwa Gereja didaulat Tuhan bukan untuk menjadi penguasa yang pasif, yang hanya sekedar duduk-duduk atau menjalani hal-hal yang rutinitas. Gereja-Nya di Akhir Zaman ditakdirkan untuk menaklukkan dan menguasai dunia secara aktif dan agresif sesuai dengan kehendak-Nya .

2. Gambus, rebana, suling dan terutama kecapi merupakan lambang keintiman dalam hubungan dan penyembahan terhadap Sang Raja. Tanpa level keintiman tertentu, Gereja tidak akan mampu menyelesaikan destinynya dengan kuat.

3. Bahwa di Akhir Zaman, melalui keintiman yang sedemikian rupa, Gereja menjadi penakluk dan penguasa dengan unsur dan suara kenabian yang amat peka dan tajam, yang sesuai dengan apa yang hendak disampaikan-Nya. Ini bukan Gereja yang hidup dengan firman yang bersifat logos, namun yang kuat dengan rhema Roh Kudus-Nya. Unsur kenabian akan menjadikan Gereja berjalan dalam ketepatan sesuai dengan kehendak-Nya.

Namun Saul ternyata menjadi Gereja yang gagal sebab ia memilih untuk melihat dan mendengar apa yang tampak daripada melihat dan mendengar Tuhan yang nyata:

1. Saul menjadi khawatir ketika rakyat mulai meninggalkannya dalam penantian akan Samuel (1 Samuel 13:8-14), dan dengan sembrono dan bodoh ia melakukan apa yang bukan bagiannya, yakni mempersembahkan korban, yang seharusnya menjadi bagian Samuel.
2. Saul menjadi bebal dan berkhianat terhadap kehendak Elohim, ketika seharusnya ia menumpas habis semua orang Amalek, namun ia malah menangkap raja Agag hidup-hidup (1 Samuel 15).
3. Saul menjadi emosi ketika orang-orang membandingkan dia dengan Daud (1 Samuel 18:8).
4. Saul menjadi gemetar ketika melihat Goliat dan tentara Filistin (1 Samuel 28:5)

Saul sungguh merupakan gambaran kegagalan, kebebalan dan kebodohan Gereja yang mengerikan. Mentalitas seperti Saul tidak akan mungkin menjadikan Gereja sanggup menyelesaikan bagiannya di Akhir Zaman ini.

Kecapi, Keintiman & Kuasa

"Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: 'Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.'" - 1 Samuel 16:18

Alkitab mencatat bahwa keindahan Daud disebutkan pertama kali adalah pandai main kecapi, mendahului kemampuannya bermain pedang dan berperang. Mengapa bermain kecapi menjadi prioritas? Dalam bermain kecapi ada penyembahan kepada Tuhan, ada pencarian akan kehendak-Nya dan ada pengenalan akan Dia lebih lagi. Dan semua hal ini jauh lebih menentukan daripada kemampuan berperang, kepandaian bicara, perawakan yang elok bahkan penyertaan Tuhan. Kita harus mengerti bahwa penyertaan Tuhan BUKAN segalanya, melainkan perkenanan Tuhanlah yang paling menentukan.

"Berkatalah Elisa: 'Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu. Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi.' Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia." - 2 Raja-Raja 3:14-15

Bukan hanya Daud yang mengerti, Elisa pun melakukan hal yang sama. Ketika masalah datang, yang pertama kali dilakukan Elisa adalah mencari pemain kecapi (karena Elisa tidak dapat bermain kecapi seperti Daud). Namun Elisa mengerti bahwa keintiman yang hendak dibangun melalui permainan kecapi akan mendatangkan kekuasaan Tuhan. Dan inilah yang seharusnya dilakukan Gereja dan Pasukan-Nya, karena dalam 7 tahun ke depan semua pemikiran dan kekuatan manusiawi tidak akan ada yang mampu dipakai sampai ke garis akhir dengan kuat.

Pepatah mengatakan, "Kecapimu adalah kekuatanmu." Kecapi tidak selalu berupa pujian dan penyembahan. Ada orang yang kecapinya dengan membaca Alkitab hingga beberapa puluh pasal dalam sehari setiap harinya. Ada orang yang kecapinya dengan meluangkan waktu bicara dari hati ke hati dengan Tuhan secara pribadi. Ada pula yang kecapinya dengan berpuasa lebih banyak, yang lainnya dengan menyelidiki firman dan sebagainya. Intinya adalah untuk membawa dirinya makin selaras dengan kehendak Tuhan di setiap kesempatan.

Orang-orang yang sudah semakin intim dan mengerti akan kehendak serta isi hati Tuhan, bahkan hanya dengan isyarat-isyarat tertentu ia akan mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam setiap perkara. Namun konyolnya adalah ketika ada yang bersikap seperti Bileam, yang walaupun sudah mengerti jelas mau-Nya Tuhan, tapi masih bebal serta berani minta tanda tertentu yang sebenarnya tidak perlu karena memang sudah mengerti. Bileam menganggap kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan, dan ia melakukan negosiasi sedemikian rupa hingga Tuhan menjadi muak dan menyerahkan dirinya tewas di tangan musuh dan masuk Neraka.

Kecapi Nan Abadi

"Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus." - Wahyu 5:8

Tuhan di atas takhta-Nya dengan dikelilingi oleh keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua merupakan suatu pemandangan yang luar biasa, suatu kemuliaan yang tak terkatakan. Namun dalam keadaan yang sedemikian mulia, kecapi tetap selalu ada, keintiman merupakan paket yang terus melekat dan menyatu hingga pada kekekalan.

"Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Elohim." - Wahyu 15:2

Dan jelaslah bahwa keintiman bersama dengan Elohim adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan apapun serangan dari binatang Antikristus di Akhir Zaman ini. Sungguh bahwa tanpa keintiman dengan Tuhan, tidak ada kemenangan, kemuliaan dan keagungan yang bisa dilahirkan untuk menggenapi semua kehendak-Nya.

Tuesday, May 14, 2013

Jurnal SHRK Mei 2013 - Hari Ke-1

Dua pesan khusus untuk hari-hari ke depan:

1. Lukas 10:18-20 - "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."

Di Akhir Zaman ini, Tuhan akan mengangkat Gereja dan umat-Nya untuk mencapai dan menduduki puncak-puncak kemenangan, penggenapan dan berbagai gunung dunia. Namun fokus kita yang terutama adalah tetap kepada perkenanan-Nya, TIDAK menjadi heboh atau terlalu terpesona dengan semua kejadian yang telah dan akan terjadi dalam segala mujizat dan keajaiban. Sebab memang bukan kepada semua itu kita berfokus. 

2. Khusus untuk para wanita, terutama para istri, sadarilah bahwa tugas kalian sebagai PENOLONG. Penolong dibutuhkan saat (suami) yang ditolong sedang "sekarat", BUKAN menuntut suaminya selalu sempurna. Belajar menjadi seperti Rut yang punya kesetiaan dan mental memberi yang sedemikian rupa sesuai dengan yang tertulis dalam Rut 1:16-17.

"Tetapi kata Rut: 'Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!'"

Wednesday, April 3, 2013

Jurnal SHRK April 2013 - Hari Ke-2

"Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: 'Ibu, mengapa engkau menangis?' Jawab Maria kepada mereka: 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.' Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: 'Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?' Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: 'Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.' Kata Yesus kepadanya: 'Maria!' Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: 'Rabuni!', artinya Guru." - Yohanes 20:11-16

Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus dengan Petrus dan Yohanes, dan ketika mendapati kubur tersebut kosong, kedua murid itu pulang. Namun Maria tetap mencari dan menanti di sana, ia sungguh hanya mengingini Yesus. Kerinduannya akan Yesus menggerakkan kedua malaikat untuk tampil dan berbicara langsung kepadanya. Tapi hati Maria sungguh hanya inginkan Yesus daripada siapapun juga karena kenyataannya, penampilan kedua malaikat tersebut tidak membuatnya takjub. Hanya ketika Tuhan Yesus menyapa namanya, Maria baru berhenti menangis.

Sadarkah kita bahwa Maria adalah orang pertama yang kepadanya Tuhan Yesus mau tampil, bahkan sebelum Ia menghadap kepada Bapa di Sorga? Padahal seharusnya Yesus harus menghadap kepada Bapa sebelum bertemu manusia manapun. Tapi Maria membuktikan, betapa cinta dan gelora cinta yang sungguh-sungguh luar biasa, mampu menunda hal itu dan Maria sungguh mendapatkan keistimewaan atau privilege yang luar biasa ini.

Sedangkan jika kita membandingkan dengan dua orang murid yang sedang berjalan ke Emaus (Lukas 24:13-31), betapa sedih hati-Nya ketika Yesus mendapati kedua murid itu "buta" setelah sekian jam perjalanan. Ia bahkan sempat memarahi kedua murid tersebut, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" - ayat 25-26. Pertanyaannya sekarang, yang manakah kita di hadapan-Nya? Adakah kita mengasihi-Nya dengan gelora cinta yang sedemikian rupa selama ini? Atau kita cenderung mengabaikan-Nya karena kelambanan hati kita bahkan ketika Ia sudah di depan mata?

Tuesday, April 2, 2013

Jurnal SHRK April 2013 - Hari Ke-1

Ketika Yesus bangkit, Ia berjanji untuk mendahului dan menemui Petrus dan murid-murid-Nya yang lain di Galilea, "Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." - Markus 16:7.

Dan memang mereka semua pergi ke Danau Galilea untuk menanti Tuhan Yesus di sana, namun penantian mereka menemui titik jenuh sehingga akhirnya Petrus memutuskan kembali kepada kehidupan lamanya, yakni menjala ikan dan hal itu diikuti oleh teman-temannya yang lain (Yohanes 21).

Ketika Yesus muncul, Ia menyapa, "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Dan jawab mereka, "Tidak ada." (Yohanes 21:5). Yesus bisa menyapa mereka dengan sebutan "murid-murid" atau "sahabat-sahabat", namun mengapa Ia menyapa dengan sebutan "anak-anak"? Hal itu dikarenakan bahwa dalam penilaian-Nya, mereka semua masih kanak-kanak atau kekanak-kanakan. Padahal Yesus sudah berjanji, namun mereka tidak mampu bertahan dan ketika mereka sudah mencapai titik jenuh, mereka kembali kepada kehidupan lama mereka.

Dan tidak heran ketika Tuhan Yesus menanyakan tentang lauk pauk, hal itu tidak ada pada mereka. Lauk pauk berbicara tentang sesuatu yang matang (atau dewasa). Tuhan bukan sedang ingin makan sushi atau sashimi, Ia sungguh menginginkan lauk pauk yang matang (Yohanes 21:9). Melalui peringatan Paskah kali ini, Ia "menuntut" kedewasaan kita.

Sikap Petrus


Peristiwa dalam Yohanes pasal 21 ini merupakan pengulangan yang mirip dengan peristiwa dalam Lukas pasal 5, bedanya adalah yang pertama adalah ketika mereka baru bertemu dengan Tuhan, yang kedua adalah ketika Yesus telah mati dan bangkit. Perhatikan sikap Petrus dari kedua peristiwa tersebut. Ketika Petrus pertama kali menyadari bahwa itu Tuhan: "Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: 'Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.'" - Lukas 5:8, Petrus menyadari bahwa dirinya orang berdosa dan hendak menjauh dari Tuhan. Pada titik ini kesadaran akan dirinya sendiri begitu kuat, hal ini sudah cukup baik, namun hal ini belum cukup menghadirkan Tuhan dalam hidup kita. Ini yang disebut self conscious.

Sedangkan sikap Petrus di peristiwa yang ke-2, "Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: 'Itu Tuhan.' Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau." - Yohanes 21:7. Kali ini Petrus langsung terjun ke dalam danau untuk segera menghampiri Tuhan. Ini yang disebut God conscious, kesadaran akan adanya Tuhan. Sikap seperti inilah yang dicari Tuhan.

Orang yang memiliki kesadaran akan dirinya sendiri memang disebut orang yang tahu diri, tahu bahwa dirinya berdosa, sadar akan kekurangan dan kelemahannya. Namun di sisi lain, orang ini hanya mementingkan dirinya, perasaannya dan keinginannya. Sedangkan orang yang memiliki kesadaran akan Tuhan, ia menyadari siapa Tuhannya, ia percaya apapun yang terjadi, Tuhan adalah Allah yang hidup dan yang setia. Bahkan dalam setiap kesempatan, orang tersebut akan mengutamakan perasaan, pikiran dan kehendak Tuhan daripada perasaan, pikiran dan kehendak dirinya sendiri. Bukankah murid-murid-Nya tidak ada satupun yang berani menanyakan identitas diri-Nya, sebab mereka semua tahu bahwa itu Tuhan (Yohanes 21:12).

Wednesday, February 6, 2013

Jurnal SHRK Februari 2013 - Hari Ke-2 Vol. 2

Gunung Karmel juga berbicara mengenai: 

2. Kutuk Diubah Menjadi Berkat - "Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita." - Yesaya 35:1-2. 

Bukit Karmel dekat dengan padang belantara dan lembah Saron. Ketika pada saatnya angin berhembus membawa serbuk bunga mawar Saron ke padang belantara sehingga terjadi pembenihan, yang pada waktunya padang belantara tersebut berubah menjadi taman bunga Saron. Pohon mawar Saron memiliki tinggi 2 hingga 3 meter dengan besar bunganya sebesar telapak tangan orang dewasa.

Mawar Saron berbicara hidup kita di dalam perkenan-Nya, angin yang berhembus ialah Roh Kudus, sedangkan padang belantara adalah jiwa-jiwa yang membutuh keselamatan, pertolongan dan damai sejahtera Tuhan. Kuncinya adalah mengikuti ke manapun yang Roh Tuhan kehendaki, untuk membawa perubahan, membawa pembalikan keadaan, mengubah kutuk menjadi berkat kapanpun Ia kehendaki.

3. Pertobatan Seluruh Bangsa Kepada Allah Jehovah - "Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: 'TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!'" - 1 Raja-Raja 18:38-39. Suatu hari dan tidak akan lama lagi, seluruh Indonesia akan sujud menyembah dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Raja atas negeri ini. Namun untuk menuju ke sana, semua korban bakaran, kayu, batu dan tanah bahkan air harus habis dengan api Tuhan.

Korban bakaran berbicara mengenai kehidupan yang dipersembahkan. Kayu berbicara tentang kedagingan. Batu berbicara mengenai kekerasan hati. Tanah berbicara mengenai segala sesuatu yang sia-sia. Dan air berbicara mengenai sesuatu yang amat berharga. Semua hal ini akan menjadi persembahan dan korban yang akan dihabiskan sampai hanya tinggal Allah saja yang menjadi pusat dari segalanya. Dan ini tidak akan lama lagi, sebab Indonesia akan segera memenuhi panggilan dan takdirnya sebagai Yusuf di Akhir Zaman bagi bangsa-bangsa lain, yang memberi makan seluruh dunia baik rohani maupun jasmani.

Karmel masih berbicara mengenai beberapa perkara lainnya, yang dapat kita pelajari sendiri dengan tuntunan Roh Kudus:

4. Ketika Daud terluput dari hutang darah dan memperoleh seorang istri yang begitu bijaksana, Abigail. Hal ini tercatat di Kitab Pertama Samuel pasal 25.

5. Setelah memperoleh hak kesulungan dari Elia, Elisa pergi menuju ke Karmel melalui Yerikho dan Betel. Tidak diceritakan alasan ia ke Karmel. Namun hal ini tidak lepas kaitannya dengan aksi Tuhan mengalahkan Baal dan memenangkan hati seluruh rakyat Israel melalui nabi Elia.

6. Perempuan Sunem yang memohon kepada Elisa supaya dihidupkan kembali putra tunggalnya, juga di gunung Karmel (2 Raja-Raja 4:25).

Takdir Yedija VS Takdir Salomo

Daud pernah mengambil Batsyeba dari Uria, dan anak pertama dari hubungan mereka mati dalam tujuh hari. Setelah Daud bertobat dari kejahatannya tersebut, ia menghampiri Batsyeba untuk menghibur dan bersetubuh, dan tentu kita tahu bahwa dari mereka lahirlah seorang raja yang termasyur bernama ... Salomo. Hampir semua orang akan menjawab "Salomo" daripada nama lainnya, yakni Yedija (2 Samuel 12:25) dan catatan Alkitab mengenai sejarah Salomo pun tidak menyebut nama Yedija sama sekali.

Tidak disebutkan dengan jelas alasan Daud tidak menamainya Yedija. Kuat dugaan mengatakan kemungkinan besar Daud "tidak tega" jika anaknya mengalami nasib yang sama dengan dirinya, yakni dicintai dan dicemburui Tuhan sedemikian rupa sehingga harus membayar sangat mahal untuk menjadi yang dikasihi dan diingini-Nya. Arti nama Yedija mirip dengan Daud, yakni yang dikasihi Allah Jehovah. Sedangkan nama Salomo, yang berasal dari kata "Shalom", memiliki arti damai sejahtera, kelimpahan, kemakmuran dan kekayaan yang baik.

Inti rhema firman kali ini hendak mengatakan, manakah yang akan kita pilih dalam hidup ini? Menjadi Yedija, yang melalui proses dan didikan Tuhan yang sedemikian rupa sampai Tuhan berkata, "Kepadamu, Aku berkenan." Atau menjadi Salomo, yang memiliki segala harta kekayaan jasmani dan jiwani, hikmat yang luar biasa, pujian dan kekaguman baik dari para sahabat maupun musuh-musuhnya, namun di akhir hidupnya, ia hampir terhilang.

Jurnal SHRK Februari 2013 - Hari Ke-2 Vol. 1

Gunung Karmel - arti namanya adalah tanah kebun, terletak di pantai Mediterania, sebelah utara Israel, tepat di bawah kota Haifa. Dalam kehidupan kaum beriman, gunung Karmel berbicara mengenai banyak perkara rohani yang sangat penting dan esensial, di antaranya:


1. Kehidupan yang memikat hati Tuhan"Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya." - Kidung Agung 7:5. Pertama-tama, coba renungkan adakah kehidupan kita memikat minat-Nya dan bahkan menawan hati-Nya? Apakah Tuhan begitu mengingini kita sedemikian rupa, bahkan Ia "tergila-gila" dengan kita? Seorang raja tertawan dalam kepang-kepang kepala nan indah bagai bukit Karmel. Raja ini tentulah Tuhan Yesus, sedangkan kepala yang membuat-Nya tertawan, tentu saja kepala kita yang adalah Gereja sebagai mempelai wanita-Nya.

Kepala atau isi kepala yang bagaimanakah yang mampu menawan hati Raja kita? Salah satunya adalah Filipi 4:8, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Jika hendak dijabarkan satu per satu secara rinci, terlalu banyak untuk dituliskan semuanya. Namun ada beberapa hal yang dapat kita simak. 

Suatu kali, Ev. Iin Tjipto akan berulang tahun yang ke-8 esok hari. Adiknya, Ev. Daniel telah menyiapkan kejutan berupa anak-anak katak (kecebong) dalam jumlah sangat banyak. Kejutan ini bocor sebelum waktunya karena Ev. Iin mendengar pembicaraan Ev. Daniel dengan pembatu rumah tangga mereka, "Mbak, kecebongnya sudah disiapkan semua untuk besok yah?" Padahal Iin kecil sangat membenci kecebong dan baginya sangat menjijikan, namun Daniel kecil tulus untuk memberi kejutan dan tidak mengerti bahwa kakaknya membenci kejutan itu. Mendengar hal itu, Iin kecil gelisah, namun Tuhan menasehati sambil mengancam untuk menerima serta membahagiakan hati adiknya. Iin kecil menerima dan mentaati apa yang dikatakan Tuhan, keesokan harinya acara kejutan berjalan baik sesuai yang diharapkan dan sampai dua minggu ke depan, mereka berdua "mengasuh" sambil mengamati metamorfosa kecebong hingga menjadi katak dewasa.

Sikap dan pemikiran tersebut adalah benar seperti yang dikehendaki Tuhan. Memilih untuk mengalah dan membahagiakan hati adiknya daripada mengecewakannya. Sikap dan pemikiran seperti ini adalah salah satu yang membuat hati-Nya tertawan.

Begitu pula dengan nilai kemuliaan. Sebuah batu disebut batu mulia, bukan karena mahal harganya karena harga yang mahal adalah akibat. Sedangkan penyebabnya adalah potongan-potongan yang membentuk batu permata tersebut. Sebuah batu permata yang terbaik memiliki ribuan proses pemotongan sehingga menjadi begitu indah. Kehidupan dan segala jalan pemikiran kita pun demikian, rela untuk dididik dengan berbagai cara pemotongan kedagingan kita hingga berkali-kali, untuk didapati indah, mulia dan berharga di mata-Nya.

Kerinduan untuk memiliki dan dimiliki oleh hati Raja juga berbicara mengenai kerelaan untuk dimiliki dengan cemburu-Nya, rela untuk dibedakan, dikhususkan dan dipisahkan dari yang lain hingga tercipta keintiman yang sedemikian rupa antara Tuhan dengan pribadi kita masing-masing.

Suatu kali yayasan yang dipimpin Ev. Iin Tjipto membutuhkan dana untuk suatu kebutuhan, dan ada seorang anak Tuhan yang baik hati membantu untuk mengadakan acara malam penggalangan dana. Sayangnya, acara itu diadakan tanpa bertanya lagi kepada Tuhan. Apalagi secara kebetulan acara tersebut bersamaan dengan SHRK. Dan inilah cara Tuhan "guyon" dengan orang yang dicemburui-Nya, yang hadir di acara tersebut hanya 5 orang dan Yesus hadir di atas mimbar. Kata-Nya sambil tersenyum, "Bagus, Nak. Kamu mau melihat bagaimana Aku guyon dengan caramu? Ini!" Dan Ia melanjutkan, "Kamu segera kotbah dan tidak perlu menunggu tambahan orang yang akan datang. Percayalah, hanya 5 orang ini dan kamu harus kotbah di depan kelimanya sekarang. Lima sebagai tanda anugerah-Ku cukup menyertaimu." Dan sampai acara selesai Tuhan Yesus tetap hadir di atas panggung.

Pada kesempatan yang lain, Ev. Iin ingin mengadakan acara apresiasi kepada para donatur yang selama ini mendukung. Acara inipun diadakan tanpa persetujuan-Nya. Hari itu cuaca cerah dan acara diadakan secara outdoor. Ketika jam 4 acara hendak dimulai, tiba-tiba langit menjadi gelap dalam sekejap dan begitu musik mulai dimaikan, gerimis mulai turun. Musiknya semakain naik, hujannya semakin kencang. Sedangkan kursi-kursi yang dikhususkan bagi para donatur, yang sebelumnya telah disusun di baris terdepan, semuanya kosong. Begitu diketahui, ternyata para donatur hadir, namun ketika mengisi buku tamu semuanya memakai nama lain sehingga tidak cocok dengan daftar undangan yang sudah disiapkan. Akibatnya semua tamu donatur duduk di barisan agak belakang. Inipun juga cara Tuhan guyon karena kecemburuan-Nya.

bersambung ...

Tuesday, February 5, 2013

Jurnal SHRK Februari 2013 - Hari Ke-1

Pada Akhir Zaman ini, kita memiliki kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus jauh lebih banyak, jauh lebih dalam dan jauh lebih menyenangkan daripada para rasul ketika Yesus di bumi. Hal ini dapat terjadi jika dan hanya jika kita menjadikan Yesus pusat dari segalanya.

"Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: 'Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik (terbaik) sampai sekarang.' Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya." - Yohanes 2:9-11

Hanya dengan modal air putih saja, asal Tuhan berkenan, maka anggur terbaik dapat kita peroleh. Mengapa? Ternyata jawabannya terletak pada perkataan ibu-Nya Yesus, "Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!" Ibu-Nya menjadi Yesus sebagai pusat dari segalanya. Untuk menghasilkan anggur yang layak saja, dibutuhkan 5-6 tahun dari menanam benih buah anggur hingga menjadi anggur yang nikmat. Sedangkan untuk menghasilkan anggur yang terbaik, dibutuhkan 20 tahun bahkan ada yang 30 tahun. Namun jika kita menjadikan Yesus pusat dari segalanya, bahkan yang 30 tahun dapat diwujudkan dalam sekejap!

Gunung-Gunung Kehidupan

"Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: 'Abraham,' lalu sahutnya: 'Hineni, Tuhan.' Firman-Nya: 'Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'" - Kejadian 22:1-2

Gunung Moria - adalah gunung pertama yang harus ditaklukkan oleh setiap kaum beriman. Di gunung inilah Tuhan hendak berkata, "Hanya Aku, tiada yang lain, dan jangan ada yang lain yang melebihi Aku di dalam hidupmu. Tidak anakmu, tidak istrimu, tidak hartamu, bahkan tidak juga dirimu. Akulah satu-satunya harta yang kamu miliki, dan jadikan Aku pusat dari segalanya."

Cerita tentang Ev. Yusak Tjipto sekian puluh tahun yang lalu, betapa ia begitu dicari, dinanti dan dihormati di seluruh Indonesia, dan itu membuat Tuhan "cemburu" sebab hampir semua orang melihat kepada beliau dan tidak kepada Tuhan. Hingga suatu saat Tuhan menjanjikan sebuah peninggian baginya, yang ketika dijelaskan oleh Roh Kudus ternyata adalah sebuah jalan penyaliban.

Kisahnya ketika Tuhan berjanji dengan menentukan tanggal untuk membawa pulang Ibu Yusak Tjipto ke Sorga. Dan Ev. Yusak menyampaikan hal tersebut secara terbuka kepada sidang jemaat di berbagai tempat dan kesempatan. Sehingga semua orang menantikan hari dan saatnya Ibu Yusak Tjipto meninggal. Bahkan peti mati sudah disiapkan, dan banyak orang berdatangan ke rumah beliau.

Namun betapa kecewanya orang-orang tersebut ketika hal itu dibatalkan tanpa mereka mengerti bahwa hal itu hanyalah sebuah ujian sama seperti Abraham diuji dengan Ishaknya. Namun kekecewaan tersebut memang diciptakan Tuhan untuk mencabut fokus mereka dari kepada beliau untuk berbalik fokus tetap kepada-Nya.

Sekitar 1000 tahun kemudian, di tempat yang sama, Salomo mendirikan Bait Allah pertama yang begitu megah dan indah, di mana mata, telinga dan hati Tuhan berkenan bersemayam di dalamnya. Tindakan untuk merelakan segalanya sehingga hanya Tuhan yang bertakhta akan mengantarkan dari kemustahilan kepada keajaiban, dari kehancuran kepada lawatan & kebangkitan, dari kekurangan kepada kelimpahan.

Jesus Be The Center Of It All

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.