Labels

Showing posts with label Relationship. Show all posts
Showing posts with label Relationship. Show all posts

Sunday, May 22, 2011

Nasihat Bijak Seorang Sahabat

Kau and aku gak beda banyak dalam perkara relationship. Halangan terbesar, khususnya kita laki-laki, masalah ego/pride/arrogance, especially waktu kita salah. Kita gak mo ngaku. But the true test of being a real gentleman kalo kita bisa humble ourselves, admit we're wrong and say I'm sorry. Bro, luangkan waktu lebih dlm doa dan menyembah, minta Tuhan tunjukkan waktu yg tepat tuk bertemu dgn Livia dan mohon Tuhan lembutkan hati bukan hanya hati Livia and hati kau juga.

Kalian berdua terluka sama dalamnya, walau kita sebagai laki-laki mungkin menyangkal, tapi bayangkan peranko/stamp dan amplop/envelope yg sudah dilekatkan begitu rupa, waktu dikoyakkan, keduanya terkoyak sama parahnya. So, it's very simple, bro. Don't make it more complicated than it already is. Kamu berdua emang marah, jengkel, emosi, dll. Tapi di atas segalanya, kalian berdua saling cinta. Kalau tidak, maka gak akan marah atau jengkel. Tapi cinta yg begitu besar di antara kalian yg bikin marah dan jengkel begitu besar pula.

The challenge is, look beyond the negative and hang on the positive that really matter. Tak ada pernikahan yg takkan diuji dgn isu perselingkuhan. Dan pernikahan yg realistis bukanlah pernikahan yg tidak pernah ada selingkuh tetapi pernikahan yg melewati lembah perselingkuhan dan menjadi pernikahan yg lebih kokoh. Aku blom menikah tapi bisa berkata demikian krn pengalaman intim dgn Tuhan. Hubungan realitis dgn Tuhan bukanlah hubungan tanpa dosa setelah keputusan utk bertobat. Tapi hubungan intim yg realistis dgn Tuhan itu diwarnai dgn banyak perbantahan dan kemurtadan yg tak berbeda dgn perselingkuhan antara suami dan istri. Tapi setiap kali kita murtad dan kembali, satu hal terjadi, hubungan intim dgn Tuhan itu semakin kuat. Kita semakin menyadari betapa cintanya Tuhan dgn kita, dan tak ada suatu kemurtadan yg bisa buat Tuhan tidak cinta dgn kita. So same thing with marriage.

Set your eyes on what really matter. Everything else is just a distraction from devil to destroy and prevent the perfect plan and will of God to happen in your blessed and happy marriage life. And that's what happened in the first place, aku berani yakin selingkuh ini besar kemungkinannya berawal dari kau kehilangan arah dan tujuan in what REALLY matters in LIFE & MARRIAGE that led you to selingkuh. Dan iblis tak perlu waktu panjang. Kasus kau tak banyak beda dgn Daud-Betsyeba. Hanya perkara DETIK, bukan jam/hari/bulan, buat kita jatuh dlm dosa bentuk apapun.

Expect miracle and you will receive it, also don't forget to ask for guidance from the Lord and comfort while enduring this turbulent period in your NORMAL, REALISTIC MARRIAGE.

Last thing, don't feel that you fail. Selingkuh itu normal dan wajar tuk terjadi, tak perlu digembar-gemborkan, NEEDLESS TO OVERRATE. Semakin kita anggap besar selingkuh itu, semakin rumit penyelesaiannya. Namun tidak berarti, it's okay to selingkuh. Don't get me wrong, IT'S NOT OKAY but selingkuh does not make you less than a man or a bad husband. It does not define anything about you at all. Just look at it as 'THINGS HAPPEN'. You are a righteous man of God. You are a precious child of God. Nothing of your action will make God value you less or look down on you. You are FOREVER righteous, precious and priceless but NOT by any attribute of yours but by Christ's love and sacrifice on the cross. So keep that in your heart. You'll be fine and I'm looking forward to hear your happy resolution story. Take care and keep in touch.
 
Your LOVING brother, Zech

Monday, January 24, 2011

Our Relationship With God - Vol. 4

Pelayanan Tuhan Yesus selama kira-kira tiga setengah tahun di bumi menorehkan banyak cerita. Baik itu mujizat-Nya, cerita-Nya, perumpamaan-Nya, percakapan-Nya juga banyak buah pikir-Nya. dari semua itu hanya ada satu cerita yang Tuhan Yesus ingin setiap di mana saja Injil diberitakan, cerita ini pun juga diceritakan. Cerita tersebut adalah ketika Maria Magdalena - saudara Marta & Lazarus - mengurapi kepala Tuhan Yesus sebelum Tuhan memasuki Jerusalem dan diagungkan sebagai Raja.


Pertanyaannya, dari mana Maria mendapat insight bahwa Tuhan Yesus adalah Raja, dan memberanikan diri mengurapi kepala-Nya di depan banyak orang? Adakah Maria lebih baik daripada murid-murid yang lain? Adakah Tuhan Yesus pilih kasih terhadap Maria? Kuncinya hanya satu; Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengar perkataan-Nya dan ini yang terbaik! - Lukas 10:38-42.


Persekutuan Maria dengan Tuhan Yesus menjadi model terbaik bagi kita semua. Bacalah kisah di Yohanes 11, ketika Lazarus sakit dan akhirnya dibiarkan meninggal oleh Tuhan Yesus. Pertama-tama orang luar menyampaikan kabar dari kedua perempuan itu. kedua kali murid-murid-Nya yang memohon. Ketiga kali ketika bertemu Marta, bahkan Tuhan cuma menjanjikan Lazarus akan bangkit. Namun ketika Maria yang meminta, Tuhan tidak lagi berkata-kata, namun muncullah emosi yang meluap dari dalam Hati-Nya dan langsung membangkitkan Lazarus.

Marta & Maria mengajukan hal yang persis sama, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." namun kenapa hanya Maria yang dikabulkan?

Kembali kepada purpose kita masing-masing dan semua impian kita, dapatkah kita menerima apa saja yang kita minta? Coba renungkan ini: "... Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ... Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
- Yohanes 15:1-8
 
Tinggallah dalam firman-Nya, usahakan diri kita di dalam Dia, dan biarkan diri-Nya tinggal di dalam kita sebagai satu-satunya Raja. Kenalilah perasaan-Nya, berpikirlah seperti Dia berpikir, cari tahu semua selera-Nya, dan sukakanlah Dia. Maka semua yang kita kehendaki akan kita terima dan Bapa dipermuliakan. Amin.


Our Relationship With God - Vol. 3

Apa yang terjadi jika seseorang menjalani purpose-nya tanpa di-back up dengan relationship yang baik dengan Tuhannya? Hal ini dialami oleh anak sulung - kakak dari anak bungsu yang hilang. Sang kakak tidak pernah keluar dari rumah ayahnya, kelihatan setia, dan merasa sudah bekerja sebagai mana mestinya. Jadi sang kakak ini sepertinya sudah sesuai dengan purpose yang ada. namun ketika sang ayah menerima kembali si bungsu dengan pesta besar, sang kakak malah protes & mengeluh. 


Ini menandakan bahwa sang kakak tidak mengerti isi hati ayahnya, tidak memahami apa yang ayahnya rasakan; pikirkan; percaya akan si bungsu. menurut Anda, tidakkah berbahaya jika kita menjalankan purpose besar tanpa kenal benar Sang Pemberi purpose? perhatikan peringatan-Nya:


"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" - Matius 7:21-23 

Sungguh mengerikan, jika selama ini kita merasa kenal padahal masih jauh dari Hati-Nya. pada waktu itu semua sudah terlambat karena belakangan Tuhan barulah berterus terang bahwa Dia tidak kenal kita. 


Seorang hamba Tuhan bernama Watchman Nee pernah menulis sebuah buku kecil berjudul "Satu-satunya Dosa Manusia" mengatakan bahwa ketidaktahuan kita, ketidakkenalan kita terhadap Tuhan menjadi satu-satunya dosa manusia. kita telah menerima Roh-Nya saat kita menerima keselamatan mula-mula, namun sadarilah Roh-Nya itu mengingini kita dengan rasa cemburu-Nya yang hebat - Yakobus 4:5. 


Manusia yang cemburu saja sudah merepotkan dan bisa berdampak besar, apalagi Tuhan!

Our Relationship With God - Vol. 2

Memperoleh perkenan Tuhan tidak ada jalan lain kecuali mengenal Pribadi-Nya. Dan untuk mengenal Pribadi-Nya tidak mungkin bisa tanpa meluangkan waktu dengan-Nya. Pola ini sudah di-"main"-kan Tuhan sejak Hari Penciptaan.


Di hari ke-6, Tuhan menciptakan manusia, memberkati dan menetapkan purpose untuk berkuasa atas dunia. namun setelah semuanya itu, Adam sebagai manusia pertama tidak langsung bekerja sesuai dengan purpose yang ada. Adam harus masuk di hari ke-7, hari perhentian, hari persekutuan dengan Sang Pemberi purpose.


Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menegaskan maksudnya ini, ketika bercerita tentang perumpamaan anak yang hilang - Lukas 15:11-32. Setelah anak bungsu sadar akan kesalahannya dan kembali kepada ayahnya dengan maksud untuk menjadi orang upahan ayahnya, untuk bekerja kepada ayahnya. Dan seperti kita ketahui, bahwa ayahnya menerima dia kembali sebagai anak dan mengadakan pesta bagi anak bungsunya tersebut.


Mengapa ayahnya mengadakan pesta bagi anak bungsunya, alih-alih langsung mempersilakan anaknya bekerja dengan sungguh-sungguh untuk membuktikan baktinya sekaligus menebus kesalahannya? Perhatikan baik-baik! Anak ini telah menyadari purpose-nya, dia siap untuk berjalan dalam purpose-nya, namun ayahnya berpendapat bahwa sebelum anaknya on purpose, harus ada pesta dulu, harus ada percakapan dari hati ke hati dulu, supaya anaknya juga mengenal apa yang ada di hati sang ayah, setelah itu barulah bekerja sesuai dengan purpose dan kehendak-Nya.


Salah satu contoh lainnya adalah ketika Raja Ahasyweros mengadakan sebuah pesta besar-besaran menjamu semua penguasa wilayah yang ada di bawah kekuasaannya (127 penguasa wilayah dari India ke Etiopia) - Ester 1.


Selama 180 hari berturut-turut, Raja Persia ini mengadakan pesta. dan semua itu dilakukan bukan untuk foya-foya yang tanpa tujuan. saat itu beliau sebagai paduka akan mengadakan invasi besar berhadapan dengan penguasa Yunani. Raja Ahasyweros mengundang semua bala tentaranya untuk melihat kekuasaannya, terutama kekayaannya untuk meyakinkan semua orang bahwa dia mampu mendanai perang besar tersebut, sebelum perang dimulai. Dia rela membuka "dapur" kekayaan & kekuasaannya untuk semua bala tentaranya yakin bahwa dia mampu untuk mendukung secara total, termasuk istrinya yang dipandang istimewa saat itu - Ratu Wasti.


Tuhan kita adalah Raja di atas segala raja. menjamu kita untuk menguasai dunia - Matius 28:18-20, Markus 16:15-18, Kisah Para Rasul 1:8, Matius 16:18-19, sesuai dengan purpose yang semula - Kejadian 1:26-28.

Our Relationship With God - Vol. 1

Rasanya tidak kebetulan hampir setiap tahun tema bulanan untuk January & February di JPCC berturut-turut adalah VISION (PURPOSE) & RELATIONSHIP. pada satu sisi VISION (PURPOSE) juga membahas soal cita-cita, impian, menjadi bintang, menjadi berkat, dan seterusnya. sementara sisi lainnya - RELATIONSHIP berbicara mengenai banyak faktor tentang bagaimana kita bisa mengerjakan sebuah relationship dengan banyak pihak termasuk Tuhan.

Bagi Anda yang pernah mendengar kotbah Ps. Alvi di JPCC yang berjudul "By Default Or On Purpose" (Januari 2010) dijelaskan ada 3 steps bagaimana hidup atau menghidupkan purpose yang dikehendaki Tuhan, yaitu:
1. Kita harus mengenal Sang Pemberi purpose.
2. Mengubah default setting yang ada.
3. Grow - bertumbuh hingga mencapai kedewasaan (Christ).

dari pernyataan tersebut di atas, jelaslah bahwa langkah pertama untuk hidup sesuai dengan purpose adalah mengenal Tuhan kita dengan benar sebelum kita menjalankan purpose-Nya. Kita juga mengerti bahwa mengenal itu berbeda dengan sekedar tahu. kita tahu bahwa Tuhan membenci dosa, tapi apa saja dosa itu, kita tidak tahu dengan tepat tanpa mengenal pribadi-Nya. kita tahu juga Tuhan menyukai kekudusan, kerendahan hati dan lain-lainnya, tapi apa kita tahu ukuran-Nya atas semua hal-hal positif itu?

Sejujurnya, Tuhan sangat merindukan kita mengenal betul akan Dia. apa selera-Nya, kesukaan-Nya, kebencian-Nya, gaya-Nya bahkan untuk beberapa orang yang berani membayar harganya, Tuhan tanpa segan menyingkapkan rahasia-Nya.

Lalu apa hubungannya dengan purpose yang telah diberikan-Nya kepada kita? Sekarang coba renungkan, sudah berapa lama kita jadi orang percaya? Sudah berapa lama kita ikut Tuhan? Dari sekian lama itu, sudah berapa banyak permintaan kita kepada Dia? Dan dari semua permintaan kita, berapa banyak yang benar-benar kita terima?

Di Filipi 4:6 Tuhan melalui Rasul Paulus mengatakan, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." dari ayat ini Tuhan menantang kita dan diri-Nya sendiri supaya kita meminta kepada-Nya segala hal.

Maksud yang sama ditegaskan lagi melalui rasul Yohanes di I Yohanes 3:22, "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." - minta apa saja, demikianlah tantangan-Nya.

Tetapi kenapa sampai saat ini, apa saja yang kita minta lebih banyak yang tidak kita terima daripada yang kita terima? Adakah kita salah meminta? Sejujurnya jika kita cermati ayat terakhir di atas, Tuhan tidak mempermasalahkan dengan apa yang kita minta. tapi yang jadi masalah adalah siapa yang meminta.

Contoh seorang ayah punya 2 orang anak, yang satu berusia 20 tahun, lainnya 7 tahun. Kemudian anak yang berusia 7 tahun datang ke ayahnya minta diberikan uang 5 juta rupiah untuk dijadikan modal sebuah usaha. secara normal, sang ayah tentu tidak akan memenuhi permintaan anaknya yang bungsu karena ayahnya menilai bahwa si bungsu belum pantas menerimanya. Dan jika anaknya yang sulung meminta, kemungkinan besar dikabulkan karena dianggap lebih pantas.

Dari contoh di atas sebenarnya begitulah cara Tuhan memperlakukan setiap kita & permintaan kita. Dari ayat terakhir dikatakan orang yang memperoleh apa saja yang dimintanya adalah menuruti segala perintah dan memperoleh perkenanan Tuhan.

Masalahnya apakah kita mengenal perintah-perintah-Nya? Dan jika kita sudah mengenal perintah-perintah-Nya, apakah kita menuruti-Nya? Dan apakah semuanya itu berkenan di hati-Nya?

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.