Labels

Showing posts with label Sudah Genap. Show all posts
Showing posts with label Sudah Genap. Show all posts

Friday, July 22, 2011

Jurnal Seminar & KKR SUDAH GENAP Juli 2011 - Sesi 5

Sesi 5

Pdt. Petrus Agung Purnomo:
Menggambarkan bahwa di dalam kehidupan ada 2 jenis kejadian atau bisa disebut juga tindakan; natural & supranatural. Sesuatu yang kelihatan natural ketika Abraham hidup menjalani negeri yang dijanjikan (hidup nomaden) menurut panjang dan lebarnya. Walaupun kelihatan tidak ada yang istimewa dari cara hidup nomaden tersebut, namun sesungguhnya Abraham sedang melakukan tindakan profetik sesuai yang diperintahkan Tuhan.

Begitu pula ketika raja Yoas meminta pertolongan dari Elisa ketika harus menghadapi Aram. Langsung saja nabi Elisa memerintahkan untuk memanah, tanpa pikir panjang ia menarik busurnya. Untunglah sebelum anak panah dilepas, Elisa mengoreksi arah panah raja. Dan ditujukan ke arah Timur. Begitu pula ketika Elisa memerintahkan untuk memukul anak panah ke tanah, sang raja hanya memukulkan sebanyak tiga kali. Elisa menjadi gusar karena ketidaktepatan sang raja memukul, karena harusnya memukul lima sampai enam kali. Akibat dari tindakan raja Yoas, maka ke depan Aram hanya dapat dikalahkan dalam tiga kali peperangan. Itu artinya Aram tidak dapat ditumpas habis pada masa pemerintahannya. Pelajaran tersebut merupakan sesuatu yang kelihatan remeh bahkan aneh secara natural, namun sebenarnya itu semua adalah tindakan-tindakan profetik yang bersifat supra natural dan memiliki dampak atau kuasa.

Baca dan renungkan kisah di Kejadian pasal 22, cerita yang sangat terkenal ketika Abraham mempersembahkan anaknya yang tunggal, Ishak. Disebutkan bahwa setelah Abraham mendengar perintah Allah, ia segera berangkat ke tanah Moria beserta Ishak dan kedua bujangnya serta seekor keledai. Sesampainya di kaki gunung Moria, terjadi perpisahaan antara kedua bujangnya tersebut dengan dirinya dan anaknya. Bahkan saat itu, kedua bujangnya diperintahkan untuk menunggu sambil "menemani" keledai bawaannya. Sementara itu, Abraham dan Ishak melanjutkan perjalanan, naik sampai ke puncak gunung Moria.

Perpisahan Abraham dan Ishak dengan kedua bujangnya memberikan gambaran yang amat jelas akan adanya dua jenis orang percaya. Yang satu hanya bisa dipakai; berjalan dari awal, tengah hingga di kaki gunung, namun tidak dapat dibawa naik. Namun yang satu lagi memahami dan bersedia melanjutkan perjalanan sampai ke puncak gunung. Yang berhenti di kaki gunung tidak dapat melanjutkan untuk naik ke puncak. Mereka terhenti karena berbagai faktor di antaranya adalah kebenaran diri mereka sendiri, kapasitas pengertian yang belum memadai, iman yang tidak mencukupi. Dapatkah kita bayangkan jika kedua bujang tersebut ikut naik ke puncak gunung, menyaksikan tuannya meletakkan anak tunggalnya di atas mezbah dan mulai menghunuskan belatinya? Mungkin kedua bujangnya akan berpikir tuannya yang sudah lanjut umurnya itu sudah pikun, bahkan mencegah sekuat tenaga supaya hal super penting itu tidak terjadi. Dan akan lebih konyol lagi, jika satu di antara kedua bujang itu pulang dan memberitahukan kepada Sara.

Namun bagi kelompok orang percaya lainnya, yang bukan sekedar dipakai, namun juga diingini (diminta) oleh Tuhan sendiri, kelompok yang sekelas dengan Abraham dan Ishaklah yang mampu naik sampai ke puncak gunung dengan pengertian penuh dan memenuhi kehendak Tuhan. Abraham dan Ishak memperoleh kehormatan besar karena di puncak gunung Moria, mereka sedang memberi gambaran dan menjadi bayangan peristiwa mahapenting di Golgota sekitar 2000 tahun kemudian. Abraham menjadi bayangan Allah Bapa sendiri dan Ishak menjadi bayangan Tuhan Yesus Kristus, tidakkah itu suatu kehormatan luar biasa dari Tuhan?

Dan setelah mencapai puncak kegenapan kehendak-Nya, Abraham & Ishak berjumpa dengan Jehovah Jireh, The Lord is my Provider, Allah Yang (Maha)menyediakan. Dan semua kita tahu bahwa Tuhan menyediakan bukan yang sedikit atau sekedarnya, namun menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Ev. Yusak Tjipto:
Memimpin pengurapan dan impartasi yang dari pada Tuhan. Suatu urapan pengajaran yang luar biasa:
"Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia." - 1 Yohanes 2:27

Pengurapan ini untuk mempersiapkan kita semua dimampukan masuk ke dalam masa Daud dan Salomo. Dan sebagai kunci supaya pengurapan ini terus berkembang seperti yang Tuhan mau, adalah sikap hati yang merendah dan setia seperti ada tertulis:
"Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." - Lukas 17:10

Thursday, July 21, 2011

Jurnal Seminar & KKR SUDAH GENAP Juli 2011 - Sesi 3 & 4

Sesi 3

Pdt. Petrus Agung Purnomo:
Bagaimana jika seandainya lawan kita itu sebenarnya bukan musuh kita? Karena ternyata lawan kita bisa teman kita, keluarga kita, orang-orang yang kita cintai bahkan orang-orang yang mencintai kita, namun dibatasi oleh pengertian & kebenaran mereka masing-masing. Belajarlah dari Rut & Elisa:
  • Bahwa Rut adalah orang Moab, namun memperoleh tempat sebagai salah satu dari moyangnya Raja di atas segala raja. Bahwa tidak ada bagian apapun bagi Rut saat itu, bahkan Naomi terus menghalang-halangi niatnya, namun karena kebulatan tekad Rut yang sedemikian rupa mampu memaksa Tuhan menulis ulang takdirnya. Sebab inilah yang dikatakan Rut kepada Naomi, "bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" Tekad yang sebulat ini yang menggugah hati-Nya.
  • Bahwa Elisa hanyalah seorang bujang nabi Elia, telah meninggalkan segalanya, setia menyertai tuannya selama bertahun-tahun, didera krisis kepercayaan oleh hampir seluruh nabi di Israel saat itu, bahkan dibuat down oleh tuannya sendiri. Namun Elisa tetap jalan hingga menyeberangi Yordan (yang artinya juga kematian).
Setiap orang percaya akan mengalami dua macam ujian, yaitu ujian emosi karena ikatan emosionalnya, dan ujian rasio karena ikatan rasionalnya. Orpa lulus ujian emosional namun ketika secara rasio ia berpikir tidak ada gunanya lagi ia ikut Naomi, maka Orpa kembali kepada bangsanya. Sementara Rut tidak peduli bagaimana pun masa depannya, yang diingini hanya satu, menjadi bagian dalam bangsa pilihan Tuhan, tanpa peduli apapun resikonya. 

Ev. Nany Susanty:

"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" - Markus 1:15 . Bahwa kali ini waktunya SUDAH GENAP bagi anak-anak Tuhan (di Surabaya)! Yang harus kita lakukan adalah bertobat & percaya. Tidak lagi memikirkan beban dan masalah pribadi kita. 

Sesi 4 

Ev. Yusak Tjipto:
Bahwa hari ini Tuhan janji untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Hiduplah dengan Tuhan harus TERBUKA, namun banyak dari kita yang masih ditutup-tutupi, sehingga hal itu menjadi beban yang tidak perlu. Bahwa hidup itu akan SELALU ada masalah dan beban sampai kita pulang ke sorga, jadi jangan mengingini semua itu berlalu. Tetaplah fokuskan hati kita kepada Tuhan, bukan kepada masalah & beban kita.

Bahwa firman (logos) yang sama namun bisa jadi firman (rhema) yang berbeda untuk masing-masing individu. Jadi jangan batasi dan mengingini jatah orang lain. Karena jika demikian kita tidak lagi berfokus kepada Tuhan. Bahwa yang baik maupun yang buruk asalnya dari pada Tuhan, dan semua bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. (The Good, The Bad & The Ugly, all for his glory).

Pdt. Petrus Agung Purnomo:
"Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman." - Roma 4:13. Dengan demikian, semua hanya soal IMAN. Diceritakan kembali pertemuan dengan 3 orang Yahudi dalam 3 kali kesempatan, pada tahun 2009 di Semarang oleh Cohen University, tahun 2010 di Yerusalem dengan seorang Yahudi Mesianik bernama Yosef & 2011 ini di Tembok Besar - China. Selanjutnya dalam anugerah Tuhan di hadapan orang-orang Yahudi Mesianik dari berbagai negara, yang telah memiliki rumah di Israel melalui sebuah konferensi yang diprakarsai oleh Morris Cerullo di Tel Aviv 12 November 2011 ini.

Kesempatan di Tel Aviv nanti adalah cara yang Tuhan sediakan untuk memberkati secara rohani, bangsa Israel dan dunia sehingga kita dapat memperoleh berkat-berkat duniawi untuk menggenapi rencana kegerakan Tuhan atas Indonesia & dunia. "Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?" - 1 Korintus 9:11

Wednesday, July 20, 2011

Jurnal Seminar & KKR SUDAH GENAP Juli 2011 - Sesi 1 & 2

Sesi 1

Ev. Yusak Tjipto:
Yohanes 7:37-44; menggambarkan betapa kebenaran diri sendiri menjebak begitu kuat. Pertentangan yang terjadi di antara para hadirin yang mendengarkan & menyaksikan ketika Tuhan Yesus bersaksi akan diri-Nya sendiri. Sebagian percaya, sebagian menolak untuk percaya, bahkan hendak menahan Dia. Cara Tuhan yang sedemikian aneh dan tidak masuk hikmat manusia, hanya bisa dipadankan dengan ketaatan & kesetiaan mutlak. Sikap hati kita menentukan segala sesuatunya. Jadi kesimpulannya tetap Nggelinding Wae!

Pdt. Petrus Agung Purnomo:
"Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli ..." - Lukas 3:23
Kata "memulai" diambil dari kata dasar dalam bahasa Yunani yaitu "arco", yang artinya:
  1. To be the first: bahwa Tuhan yang mengawali, yang memulai, yang memprakarsai, yang turun pertama ke arena untuk melakukan pekerjaan Bapa.
  2. To be the chief: bahwa Tuhan yang memimpin dari awal hingga akhir penggenapan semua janji-Nya.
  3. To rule: bahwa Tuhan Yesus yang memerintah dan berdaulat penuh atas segalanya.
Pertanyaannya, apakah kita memiliki iman untuk destiny yang telah Tuhan tetapkan atas hidup kita? Akankah kita mencapai titik tertinggi sesuai dengan yang Tuhan inginkan bagi hidup kita?

Sesi 2

Ev. Nany Susanty:
Apa yang dimaksud dengan "sudah genap"? Dalam bahasa Ibrani disebut dengan kata (frasa): (Tam ve') Nishlam. Perhatikan penggenapan-penggenapan yang terjadi selama Tuhan Yesus ada di dunia. Ada lebih dari 300 penggenapan dari berbagai nubuatan yang digenapi-Nya. Penggenapan ini digambarkan bahwa usaha untuk menggelar karpet merah telah selesai, karpet tersebut telah terbentang, tinggal Sang Raja menapaki karpet tersebut sampai kepada tujuan akhir di Yerusalem nanti.

Beberapa penggenapan itu di antaranya:
  • "dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." - Matius 2:15
  • "Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret." - Matius 2:23
  • "Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap." - Matius 13:14
  • "Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa." - Yohanes 18:9
  • Dan akhir semua penggenapan itu adalah ketika disebut-Nya, "Sudah selesai", ketika Dia tergantung di kayu salib. "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." - Yohanes 19:30
Walau pun sudah genap, namun untuk semua janji-Nya jadi daging masih ada proses yang tetap harus dilalui. Dan proses ini membutuhkan waktu. Kisah cerita Ibu Nany menjalani proses memperoleh kantor notarisnya yang baru (klik di sini), yang terjadi beberapa tahun lalu dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga mengenai sikap hati yang benar supaya janji tersebut diterima dengan benar pula.

Ev. Daniel Krestianto:
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu." - Hosea 4:6

Tuhan minta supaya kita tidak melihat kenyataan yang ada, karena kenyataan menipu. Dan kita semua tahu bahwa pola Tuhan berperkara bahwa semakin jauh kenyataan dari janji yang dijanjikan-Nya, justru hal itu semakin mendekati penggenapan yang dijanjikan. Cara Tuhan yang selalu tidak masuk akal itu juga dibutuhkan pengenalan akan pribadi-Nya yang tak pernah ingkar.

Bahwa Tuhan juga memproses masing-masing kita sesuai dengan pribadi dan jatah kita masing-masing. Jadi tidak perlu iri dan kecewa apalagi sampai menolak Dia, jika ada saudara-saudari kita yang sudah lebih dulu memperoleh penggenapan janji. Yang penting kita memiliki fondasi yang kuat saat kelimpahan itu datang. Karena kebinasaan bukan datang pada saat kesesakan, namun pada saat kelimpahan.

Kisah Kesaksian Ev. Nany Susanty - Janji & Proses Penggenapan Mendapat Kantor Baru

Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." - Yakobus 4:13

Ev. Nany Susanty saat itu masih menjadi notaris aktif di kota Cirebon. Kantor lamanya dirasa sudah sangat sempit dan tidak lagi mencukupi untuk menampung berkas-berkas berbagai data yang ada. Beliau berdoa supaya Tuhan memberikan sebuah tempat baru yang lebih luas untuk kebutuhannya yang semakin meningkat. Beberapa waktu kemudian, beliau mendapati sebuah tempat bekas kantor pemerintahan yang sudah kosong dan tidak dipakai, dan mencoba "berinisiatif" menanyakan tentang tempat tersebut. Ternyata harga sewanya cukup murah, hanya Rp 2.500.000,- per tahun.

Ibu Nany berdiskusi dengan suaminya, dan direspon, "Mungkin dari Tuhan." Hanya mendapat respon seperti itu, TANPA bertanya kepada Tuhan lagi, Ibu Nany membayarkan uang sewa untuk satu tahun dan dijanjikan akan diserahkan kunci dalam waktu 3 bulan. Namun setelah 4 bulan ditunggu, kunci tidak pernah diserahkan sampai sekarang, dan belakangan baru diketahui bahwa beliau ditipu. Mengalami hal itu, Ibu Nany minta ampun dan bertobat sungguh-sungguh. Dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sekian waktu berlalu, seseorang dari luar kota menjanjikan untuk memberikan sebuah tempat di daerah pusat kota Cirebon untuk Ibu Nany bisa pakai sebagai kantor baru selama 10 tahun tanpa bayar sewa. Mendengar hal yang menakjubkan itu, Ibu Nany tetap berusaha menjaga hati, tidak membiarkan kegirangan menguasai hatinya. Setelah bertanya kepada Tuhan dan memperoleh persetujuan-Nya, Ibu Nany barulah merespon orang tersebut untuk menerima tempat baru itu. Karena sikap hatinya, bahkan Tuhan membuat orang tersebut yang membayari renovasi tempat tersebut.

Memasuki tahun ke-8 sejak kantor baru ditempati, Tuhan berjanji untuk memberikan tempat tersebut kepada Ibu Nany. Sebelumnya, pemilik tempat tersebut sudah memberitahukan bahwa ia memiliki banyak properti di Cirebon dan semuanya telah dijual, kecuali tempat yang dijadikan kantor notaris itu, pemiliknya berikhtiar untuk tidak akan menjualnya. Sungguh sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan janji Tuhan. Namun bagaimana caranya, Ibu Nany tidak berani gegabah seperti dulu lagi. Semua menunggu waktu dan petunjuk Tuhan.

Setelah beberapa waktu berdoa, Tuhan menunjukkan untuk Ibu Nany mengutarakan niatnya untuk membeli tempat tersebut dan menanyakan harganya. Ternyata pemilik tempat tersebut menyetujui Ibu Nany membelinya. Persetujuan jual beli sudah ada, tinggal uangnya yang belum ada. Dan untuk itu, Ibu Nany tidak bisa berbuat apa-apa selain menanti petunjuk Tuhan selanjutnya.

Seorang makelar tanah datang menawarkan sebidang tanah di sebuah daerah pinggiran kota Cirebon, beberapa hari setelah persetujuan jual beli itu. Merasa tidak membutuhkan tanah, melainkan rumah untuk kantor, tentu saja tawaran tersebut ditolaknya. Namun anehnya tiga hari berturut-turut makelar tanah tersebut datang menawarkan, hingga kali yang ke-3 Tuhan memerintahkan untuk tidak menolak, melainkan menerimanya. Tanah tersebut seluas 2,5 hektar ditawarkan seharga Rp 5.000.- per meter. Setelah mengecek semua surat & sertifikat tanah tersebut dan menyepakati harganya, Ibu Nany membayar separuh dari harga tanah tersebut.

Keesokan harinya, Ibu Nany beserta suami mencoba melihat tanah yang ditunjukkan Tuhan, yang telah dibeli dan dibayar separuh itu. Dan ternyata tanah tersebut adalah JURANG. Melihat segala kenyataan yang ada, Ibu Nany merasa begitu bodoh dan sedih. Pikirnya, "Bagaimana mungkin dapat menjual tanah itu dengan harga yang lebih tinggi dan memperoleh keuntungan." Namun Tuhan hanya menjawab, "Sekarang kamu tidak tahu, tapi nanti kamu tahu." Dan dengan firman-Nya itu, setiap kali Iblis menyerang pikirannya dengan mengingatkan soal "jurang" tersebut, Ibu Nany hanya berseru, "Sekarang aku tidak tahu, tapi nanti aku tahu!" Hal ini bukan terjadi 3-4 hari, namun 3-4 bulan.

Setelah 4 bulan berlalu, seorang pengusaha dari Jakarta datang mencari Ibu Nany untuk membeli tanah "jurang" tersebut. Sungguh ajaib pikirnya, karena tidak menyangka bahwa "jurang" ada yang mau membeli. Ketika ditanya soal harga, dalam hati Ibu Nany sudah bersyukur jika dibayar dengan harga yang sama persis dengan harga saat membeli dari tangan makelar tersebut. Untunglah hikmat Tuhan menuntunnya. Ibu Nany mencari tahu alasan pengusaha tersebut membeli tanah "jurang" itu. Ternyata pengusaha tersebut akan membangun sebuah hotel dan membutuhkan tanah :jurang" tersebut sebagai akses ke hotel tersebut, sebab tanah yang diperuntukan bangunan hotel terletak di belakang tanah "jurang" tersebut.

Merasa posisi "di atas angin", Ibu Nany membuka harga Rp 75.000,- per meter dan setelah melalui proses negosiasi dan meminta petunjuk Tuhan, harga yang disepakati jatuh di Rp 50.000,- per meter, 10 kali lipat dari harga belinya. Pengusaha tersebut membayar tunai. Dan segera Tuhan memerintahkan supaya semua keuntungan dari penjualan tanah tersebut dan setelah dipotong perpuluhan, sisanya tepat untuk membeli rumah yang telah ditempatinya sekian tahun sebagai kantor barunya itu.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.