Labels

Showing posts with label Ester. Show all posts
Showing posts with label Ester. Show all posts

Tuesday, February 14, 2012

Untung Ada Haman

"Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." - Peringatan keras Mordekhai kepada Ester, Kitab Ester 4:13-14

Ester baru saja menikmati kedudukannya sebagai ratu Persia yang baru, menggantikan Wasti yang dibuang karena pemberontakannya. Setelah mempelajari berbagai protokoler istana maka diketahuilah bahwa untuk menghadap sang raja haruslah orang tersebut dipanggil dahulu, kemudian setelah menghadap, raja berkenan mengulurkan tongkat emasnya, tongkat perkenanan yang menandakan raja berkenan menyambutnya. Namun jika tongkat tersebut tidak diulurkan maka raja menghendaki orang tersebut mati.

Awalnya Ester takut mati jika menghadap raja tanpa dipanggil sebelumnya, namun karena masalah yang ia hadapi begitu penting, ini adalah kali pertama ia harus menghadap raja TANPA dipanggil sebelumnya. Risiko kehilangan nyawa diambilnya demi memenuhi destiny yang telah Tuhan tetapkan baginya.

Akhir cerita telah kita ketahui bersama bahwa bangsa Israel bukan saja lolos dari usaha genosida Haman, melainkan juga membalikkan keadaan dengan membantai tuntas para pembenci Israel. Haman adalah gambaran dari masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari, baik kecil maupun besar, ia akan selalu ada bagi kita pada Ester yang adalah gambaran Gereja dan Mempelai-Nya. Tanpa kehadiran Haman, maka kedudukan ratu bagi Ester akan menjadi sia-sia dan bangsa Israel tidak akan memperoleh kemenangan, jarahan dan kehormatan yang lebih baik dan lebih mulia lagi daripada sebelumnya. Sedangkan zaman itu, bangsa Israel termasuk sebagai orang-orang buangan.

Jadi, untung ada Haman, masalah yang Tuhan izinkan terjadi untuk kita semua naik level dan menerima berkat lebih lagi sehingga wilayah kita semakin diperluas dan lebih menjadi berkat bagi lebih banyak orang dan bangsa-bangsa. Mengucap syukurlah selalu, karena selalu ada hikmah dari setiap perkara, selalu ada lelucon dalam setiap duka. Berkat yang disalahgunakan dapat menjadi kutuk, sedangkan kutuk yang disikapi dengan hati yang benar dapat menjadi berkat.

Sikapilah setiap Haman-Haman yang datang seperti Ester menyikapi di hadapan raja Ahasyweros. Pelajarilah bagaimana Ester memperoleh perkenanan seutuhnya dari sang raja dan akhirnya membalikkan keadaan yang ada. Semakin besar masalahnya, semakin besar kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan dan semakin besar pula berkat yang akan kita terima. Tuhan memberkati.

Monday, February 13, 2012

Mempelai Yang Dikenan Seutuhnya

"Tanya raja kepadanya: 'Apa maksudmu, hai ratu Ester, dan apa keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu.' Jawab Ester: 'Jikalau baik pada pemandangan raja, datanglah kiranya raja dengan Haman pada hari ini ke perjamuan yang diadakan oleh hamba bagi raja.' Maka titah raja: 'Suruhlah Haman datang dengan segera, supaya kami memenuhi permintaan Ester.' Lalu raja datang dengan Haman ke perjamuan yang diadakan oleh Ester." - Ester 5:3-5

Kita tahu bahwa kitab Ester sangat unik karena walaupun tidak ada satupun kata "Tuhan" dalam kitab tersebut, namun tokoh Raja Ahasyweros (King Xerxes) adalah gambaran bagi-Nya. Sedangkan Ester adalah gambaran Gereja dan Mempelai-Nya, sementara Hegai dan Mordekhai adalah gambaran dari Roh Kudus. Kalau begitu gambaran apakah Haman itu? Setan atau Ibliskah dia? Namun saya lebih menganggap Haman sebagai masalah yang kita hadapi sehari-hari.

Sekarang coba renungkan apa dan bagaimana reaksi kita yang biasanya terjadi ketika masalah datang? Sama seperti ancaman dan rencana Haman bagi Ester dan bangsanya. Ketika sakit penyakit datang, katika kebutuhan akan uang yang jumlahnya jauh lebih besar dari kemampuan kita datang, ketika penghinaan dan caci maki datang tanpa kita tahu sebabnya, dan seterusnya. Begitu pula ketika hal-hal yang baik datang, promosi, omzet usaha bertambah, anak-anak kita makin menjadi berkat, tuaian akan jiwa-jiwa semakin bertambah dalam pelayanan kita, dan seterusnya. Walau semuanya itu berkat, jika disalahgunakan karena fokus kita berubah setia, berkat tersebut bisa jadi kutuk. Apa dan bagaimana reaksi dan sikap hati kita menghadapi semuanya itu?

Perhatikan cara Ester bersikap dan bertindak ketika ia mengetahui dari Mordekhai atas masalah yang didatangkan Haman. Setelah mempersiapkan diri dan berpuasa, Ester menghampiri raja dan berupaya sebaik mungkin untuk memperoleh perkenanannya. Dan ketika perkenanan raja diperolehnya, Ester tidak langsung mengungkapkan maksudnya dan meminta kepala Haman untuk dipenggal. Sebaliknya Ester bermain sangat cantik, dengan mengundang keduanya, baik raja maupun Haman ke dalam sebuah jamuan makan. Pada jamuan itulah Ester mengungkapkan segalanya tentang Haman di hadapan raja. Dan tanpa "mengotori" tangannya sendiri, tangan rajalah yang bertindak atas Haman.

Jadi kita sebagai Gereja dan Mempelai-Nya, terutama masuk dalam tahun 2012 ini, dikehendaki untuk lebih bermain cantik, bertindak sebagai Mempelai-Nya ketika menghadapi masalah-masalah kita masing-masing. Jangan hadapi masalah-masalah tersebut sendirian, Ester walaupun kedudukannya sebagai ratu yang berkuasa, tidak langsung menindak Haman:
  • Bawalah masalah-masalah kita ke hadapan Sang Raja, sama seperti Ester membawa Haman ke hadapan Ahasyweros dalam jamuan makan.
  • Ungkapkanlah semua masalahnya dan biarkan Tuhan bertindak dengan cara-Nya sendiri, Ester hanya mengungkapkan masalahnya, selebihnya raja Ahasyweros yang bertindak sesuai kebijaksanaannya.
  • Jangan mencoba untuk mengatur Tuhan, ingatlah bahwa jalan-Nya bukan jalan kita, rencana-Nya bukan rencana kita. Ester sangat disayang oleh raja Ahasyweros, sama seperti Wasti. Namun yang membedakan adalah Ester memperoleh perkenanan dengan mempersilakan raja Ahasyweros bertindak menurut kebijaksaannya. Sedangkan Wasti dibuang karena memiliki agendanya sendiri di luar kehendak raja.
Apapun masalah kita, bagaimanapun sulitnya, hadapkanlah kepada Sang Raja di atas segala raja, dan nantikanlah kehendak-Nya yang sempurna TANPA mencoba mengatur apalagi membantu apa yang menjadi bagian-Nya. Semua cara-Nya yang kelihatan mustahil dan sulit untuk dimengerti di awal, memang itulah tanda kedaulatan-Nya atas hidup kita.

"Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan." - Mazmur 37:34

"Janganlah engkau berkata: 'Aku akan membalas kejahatan,' nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau." - Amsal 20:22

Wednesday, May 4, 2011

Cincin Meterai Yang Terlepas & Kekuasaan Yang Tersalurkan

Bahan Renungan: Ester 3 & 8

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kitab Ester adalah salah satu kitab yang sangat unik, di antaranya adalah tidak disebutkannya kata "Tuhan" di dalamnya, tokoh utamanya adalah seorang wanita (yang mencerminkan gambaran gereja-Nya), kisah percintaan yang unik dan indah. Walau tidak disebutkan kata "Tuhan" di dalamnya, namun bukan berarti tidak ada gambaran akan Tuhan dalam kisah ini. Tuhan adalah seorang raja, walau raja Ahasyweros yang disebutkan adalah seorang raja dari bangsa kafir, namun tidak dapat dipungkiri bahwa raja Ahasyweros dipergunakan Tuhan untuk menggambarkan diri-Nya sendiri.

Selayaknya raja, merupakan tugasnya untuk mengeluarkan suatu hukum dan ketetapan bagi pemerintahan dan rakyatnya supaya segala sesuatunya berjalan dengan baik. Dan dalam prosesnya dibutuhkan sebuah alat untuk mengesahan hukum dan ketetapan yang akan diterbitkan yaitu cincin meterai raja. Dalam kisah Ester di Alkitab ada dua kali raja Ahasyweros melepaskan cincin meterainya untuk menyalurkan kuasanya kepada pihak lain untuk membuat sebuah hukum dan ketetapan sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang yang dianugerahi cincin meterai tersebut. Orang yang kepadanya diberikan cincin meterai biasanya bukan sembarang orang. Raja dalam segala kebijaksanaannya tentu memiliki pertimbangan tersendiri sampai berani memberi kepercayaan sedemikian besar kepada orang tersebut.

Dalam kitab Ester, orang yang pertama kali mendapat anugerah besar tersebut adalah Haman. Dan apa yang menjadi pertimbangan raja hingga Haman yang sedemikian jahat dapat memperoleh cincin meterai tersebut?

"Maka sembah Haman kepada raja Ahasyweros: "Ada suatu bangsa yang hidup tercerai-berai dan terasing di antara bangsa-bangsa di dalam seluruh daerah kerajaan tuanku, dan hukum mereka berlainan dengan hukum segala bangsa, dan hukum raja tidak dilakukan mereka, sehingga tidak patut bagi raja membiarkan mereka leluasa. Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan surat titah untuk membinasakan mereka; maka hamba akan menimbang perak sepuluh ribu talenta dan menyerahkannya kepada tangan para pejabat yang bersangkutan, supaya mereka memasukkannya ke dalam perbendaharaan raja." Maka raja mencabut cincin meterainya dari jarinya, lalu diserahkannya kepada Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru orang Yahudi itu, kemudian titah raja kepada Haman: "Perak itu terserah kepadamu, juga bangsa itu untuk kauperlakukan seperti yang kaupandang baik."

Perhatikan bagaimana Haman berusaha mendekati raja Ahasyweros, pertama-tama datang menyembah, lalu meceritakan latar belakang, maksud dan tujuan pribadinya dan terakhir ia tak lupa MEMBERIKAN PERSEMBAHAN berupa 10.000 talenta perak (konon jumlah ini setara dengan dua pertiga bagian dari harta kekayaan raja Ahasyweros). Persembahan yang sedemikian besar mampu menggerakkan hati raja untuk melepaskan cincin meterainya. Hal ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa anak-anak dunia lebih cerdik memperlakukan sesamanya daripada anak-anak terang dengan mempergunakan Mamon untuk mengikat persahabatan. Pertanyaannya adalah sebagai orang percaya seberapa besar Mamon yang kita pergunakan untuk mengikat persahabatan dengan Allah kita? Seberapa besar persembahan yang kita berikan untuk memikat hati-Nya? Adakah kita masih hitung-hitungan uang dengan Tuhan? Adakah kita masih mengikat diri dengan Mamon daripada dengan Allah?

Orang ke-dua yang kepadanya raja Ahasyweros melepaskan cincin meterainya ialah Ester dan Mordekhai.

"Pada hari itu juga raja Ahasyweros mengaruniakan harta milik Haman, seteru orang Yahudi, kepada Ester, sang ratu, dan Mordekhai masuk menghadap raja, karena Ester telah memberitahukan apa pertalian Mordekhai dengan dia. Maka raja mencabut cincin meterai yang diambil dari pada Haman, lalu diserahkannya kepada Mordekhai; dan Mordekhai diangkat oleh Ester menjadi kuasa atas harta milik Haman. Kemudian Ester berkata lagi kepada raja sambil sujud pada kakinya dan menangis memohon karunianya, supaya dibatalkannya maksud jahat Haman, orang Agag itu, serta rancangan yang sudah dibuatnya terhadap orang Yahudi."

Ester dan Mordekhai adalah orang dari golongan jajahan / tawanan bangsa Persia. Namun memperoleh jabatan tinggi oleh karena anugerah raja. Mereka tidak memiliki harta sebanyak Haman, namun terutama Ester memiliki hubungan (keintiman) yang sedemikian rupa dan sikap hati yang sangat menyentuh hati raja Ahasyweros. Perhatikan bagaimana Ester yang adalah rakyat jelata bersikap sedemikian menarik dan membuat raja jatuh hati. Baik sebelum bahkan setelah menjadi seorang ratu, Ester selalu mengawali ucapannya kepada raja, "Jikalau baik pada pemandangan raja", "Jikalau hamba mendapat kasih raja", "Jikalau raja berkenan."

Sikap hati yang benar, sikap hati yang mengutamakan kehendak Tuhan di atas kehendak diri kita sendiri menjadikan perkenanan-Nya teranugerahkan dalam hidup kita. Tetap rendah hati dan tidak bersikap semau gue walau hidup kita telah dimuliakan Tuhan, tetap konsultasi dengan Roh Kudus dan tidak memutuskan berbagai perkara atas pengertian kita sendiri walau prestasi kita dikagumi banyak orang, tetap fokus kepada pribadi-Nya dan tidak bergeser hati kita walau berkat datang begitu berlimpah. Dan terus mengutamakan hubungan dengan pribadi-Nya di atas segala perkara.

Bukankah kata akhir Tuhan yang menentukan kelayakan seluruh hidup kita adalah KENAL. Seberapa kita mengenal isi hati-Nya?

Tuesday, April 5, 2011

Jurnal SHRK April 2011 - Hari ke-1

Bahan Renungan: Matius 11:2-3; Ester 4:13-14

Saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Kali ini Tuhan hendak merapatkan barisan tentara-Nya supaya kita semua siap dalam anugerah-Nya untuk menuntaskan agenda demi agenda-Nya. Karena sesungguhnya kita benar-benar akan memasuki zaman yang berbeda. Sebuah zaman yang penuh dengan tindakan supranatural. Zaman yang bukan saja diimpikan oleh Tuhan, namun juga semua makhluk.

Kita tentu pernah bahkan berkali-kali mendengar kisah ketika Yohanes Pembaptis dalam kekecewaan dan keraguannya yang terbesar mempertanyakan ke-mesias-an Yesus Kristus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Kini coba renungkan pertanyaan tersebut dan bayangkan jika Tuhan yang berbalik tanya kepada kita, "Kamukah yang Kunantikan itu, atau Aku harus menantikan orang lain?"

Sungguh ini sebuah teguran super keras. Pertanyaan Tuhan ini seharusnya membuat kita sadar bahwa keberadaan kita saat ini bukanlah tanpa maksud dan tujuan. Segala sesuatu yang terjadi pada dan dari hidup kita BUKAN kebetulan. Tuhan memiliki bukan sekedar rencana, melainkan juga agenda yang terjadwal. Ini bukan waktunya untuk santai atau memprioritaskan cita-cita kita. Agenda kali ini adalah untuk menuntaskan semua pekerjaan-Nya dan menggenapi semua janji-Nya.

Keberadaan Ester Untuk Tujuan Adikodrati

Baca dan renungkan kembali kisah Ratu Ester. Seorang anak yatim piatu, orang buangan, berparas cantik, diangkat dan memperoleh segala kebaikan Tuhan hingga menjadi seorang ratu dari sebuah kerajaan yang paling berkuasa di dunia saat itu. Dan ketika seluruh kaum sebangsanya terancam keberadaannya, Ratu Ester diminta oleh pamannya untuk segera bertindak melalui kedudukannya sebagai ratu.

Dan sebagai respon awal dari Ratu Ester adalah takut dibunuh karena ancaman protokoler istana pada saat itu. Mordekhai langsung menjawab dengan keras, "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."

Dengan kata lain Mordekhai hendak menyadakan Ratu Ester, "Jangan kira, engkau diam di dalam istana dengan semua apa yang ada padamu saat ini, engkau akan selamat dengan berdiam diri. Tuhan mengangkatmu dari seorang buangan menjadi seorang ratu tentu bukan tanpa maksud. Inilah saatnya bagimu bertindak, atau Tuhan harus mencari orang lain menggantikanmu, seperti Dia mencari engkau menggantikan Ratu Wasti."

Sadarkah kita bahwa jauh sebelum adanya Ratu Ester, Tuhan dengan terpaksa berkali-kali menggantikan "orang pertama" dengan "orang kedua". Kain anak Adam dan Hawa digantikan oleh Set. Esau pada akhirnya digantikan Yakub. Daud pun ditetapkan Tuhan menggantikan Saul. Dan setelah zaman Ratu Ester pun hal tersebut masih berlanjut. Kita ketahui bagaimana kasih karunia Tuhan dinikmati orang-orang non Yahudi menggantikan orang-orang Yahudi. Yohanes Pembaptis menggantikan Imam Kayafas. Dan seterusnya, Tuhan selalu memiliki "orang kedua" untuk menggeser kita jika kita didapati tidak setia.

Melalui pesan ini juga, Tuhan hendak menyampaikan bahwa kita semua harus bekerja lebih giat dan lebih serius lagi mencari kehendak-Nya. Sadarilah bahwa keberadaan kita saat ini bukan tanpa tujuan, melainkan ada rencana dan agenda-Nya yang sempurna. Dan jika kita tidak lagi seirama dengan ritme-Nya, selalu ada "orang kedua" yang akan menggeser kita.

Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Lukas 14:23

Tuesday, March 15, 2011

PURIM: Sebuah Pembalikkan Keadaan Yang Total

"Dalam bulan yang kedua belas--yakni bulan Adar--,pada hari yang ketiga belas, ketika titah serta undang-undang raja akan dilaksanakan, pada hari musuh-musuh orang Yahudi berharap mengalahkan orang Yahudi, terjadilah yang sebaliknya: orang Yahudi mengalahkan pembenci-pembenci mereka." - Ester 9:1

Mungkin banyak di antara kita yang masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan PEMBALIKKAN KEADAAN. Ide ini kita pelajari dari kisah hidup Ratu Ester pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros (King Xerxes) dari Kerajaan Persia.

Cerita ini dimulai ketika Haman bin Hamedata (orang Agag) diangkat sebagai pembesar tertinggi setelah Raja Xerxes dan semua pejabat tunduk & sujud kepadanya – kecuali Mordekhai, paman Ester. "Ketidakpatuhan" Mordekhai mengundang protes keras dari kalangan pegawai raja dan menimbulkan amarah besar serta dendam yang mendalam di hati Haman. Dalam dendamnya, Haman bertekad untuk bukan saja membalas Mordekhai namun juga membantai habis seluruh bangsa Israel. (Ester 3:1-6)

Niat Haman tidak sekedar perasaan sesaat, hal ini dibuktikan dengan dirinya yang kemudian mencari “hari baik” untuk melaksanakan niatnya tersebut dengan cara membuang undi melalui sebuah ritual tertentu. Dengan hal ini penentuan hari pembantai tersebut bukan saja melibatkan manusia, tapi juga Setan. Bulan ke-12 – bulan Adar, hari yang ke-13 ditentukan sebagai “hari baik” tersebut. Haman juga menetapkan rencana  pembantaian bangsa Israel dalam sebuah undang-undang resmi (sekelas Perpu) dengan seijin Raja Xerxes.

Singkat cerita Haman akhirnya dihukum mati oleh Raja Xerxes karena sebuah kesalahan fatal terhadap Ratu Ester bahkan sebelum bulan Adar tiba. Raja pun semakin simpati dengan Ratu Ester. Namun karena undang-undang pembantaian tidak dapat dibatalkan, maka dibuatlah peraturan yang kedua – bahwa rakyat Israel diperboleh mengangkat senjata untuk membela diri bahkan balik membantai para musuhnya. (Ester 8:10-17)

Dan ketika tiba “hari baik” yang dinanti, bulan Adar hari yang ke-13, dimana ditetapkan sebagai hari malapetaka bagi bangsa Israel dibalikkan oleh Tuhan (Ester 9:1) menjadi hari kemenangan dan penuh sukacita. Bangsa Israel membantai habis lebih dari 75,000 pembencinya, termasuk kesepuluh anak-anak Haman.

Apapun keadaan kita saat ini, seburuk apapun itu, percayalah Tuhan mampu dan mau membalikkan keadaan kita. Kutuk dapat diubah menjadi berkat. Dibalikkan keadaannya lebih dari sekedar sebuah pemulihan. Dari sebuah posisi yang ekstrim diubah ke sebuah posisi ekstrim lain yang berlawanan. Yang perlu kita lakukan adalah tetap percaya, tinggal tetap dalam kasih karunia-Nya (Ibrani 12:15).
Saudara-saudari yang kekasih, tanggal 20 Maret 2011 ini tepatnya hari Minggu adalah hari raya Purim. Saya mendorong saudara-saudari untuk berdoa sejak sekarang hingga pada harinya untuk apapun pergumulan, masalah, tantangan dan keadaan yang kita hadapi saat ini termasuk keadaan bangsa Indonesia supaya di dalam Tuhan keadaan kita mengalami pembalikkan. Yang berhutang menjadi berkelimpahan, yang pengangguran menjadi berkat bagi banyak orang, yang dibenci menjadi begitu dicintai dalam anugerah-Nya.
Sekarang saya menjadi semakin yakin bahwa minimal 70% dari bangsa ini akan dilawat Tuhan luar biasa dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tak ada penundaan, sekarang dan amin!

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.