Labels

Showing posts with label Mempelai Kristus. Show all posts
Showing posts with label Mempelai Kristus. Show all posts

Thursday, March 10, 2016

Standar Mempelai Kristus

"Jawab Yesus: 'Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.'" - Yohanes 8:54-56

Ketika Tuhan Yesus menjalani pelayanan-Nya di bumi dan Tanah Permai Israel, Ia begitu mempromosikan Abraham, bukan sekedar sebagai hamba-Nya, namun juga sebagai rekan dan sahabat yang kepadanya Tuhan mengadakan perjanjian abadi dengan ikat sumpah yang sedemikian kuat. Melalui perjanjian itulah Israel dan segala bangsa dimampukan untuk menerima janji keselamatan dan kekayaan sorgawi lainnya di dalam Kristus Yesus.

Apa yang menyebabkan Abraham begitu layak untuk Tuhan jadikan mitra abadi dalam perjanjian yang begitu luhur dan sumpah setia Tuhan? Tentu tidak lain adalah karena kesetiaan Abraham yang telah teruji hingga ia rela mengorbankan Ishak, anak perjanjian, lebih dari 4.000 tahun yang lalu di tanah Moria. Dan demikianlah sebagian dari perjanjian sumpah Tuhan kepada Abraham,

"Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: 'Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.' Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba." - Kejadian 22:15-19

Jika kita membaca sekilas akan bagian akhir kisah Abraham mempersembahkan Ishak, maka kita akan memperoleh kesan bahwa akhir kisah tersebut adalah sebuah happy ending. Namun apa yang berikutnya terjadi sesungguhnya adalah sebuah tragedi yang memilukan yang menimpa keluarga Abraham. Mengapa? Sebab sejak saat itu Abraham tidak lagi kembali kepada isterinya, Sarah. Konon ketika Sarah mengetahui bahwa Ishak sempat dikorbankan, Sarah menolak untuk tinggal bersama Abraham hingga hari kematiannya. Dan bukan hanya itu, keretakan hubungan Abraham dan Sarah pun menimbulkan trauma yang cukup mendalam bagi sang anak perjanjian, Ishak.


"Sarah hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sarah. Kemudian matilah Sarah di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya." - Kejadian 23:1-2

Jadi sementara Abraham tinggal di Bersyeba, sesungguhnya Sarah tinggal di Hebron hingga hari kematiaannya. Itu sebabnya disebutkan bahwa Abraham datang meratapi dan menangisinya, BUKAN Abraham meratapi dan menangisinya. Mengapa ada kata datang? Sebab saat itu Abraham memang tidak bersama Sarah. 

Sampai di sini, sadarkah kita apa saja resiko dan akibat yang bisa terjadi ketika seorang abdi Tuhan begitu setia mengikuti segala jalan-Nya bahkan ketika jalan itu harus menjadi sangat ekstrim dan tidak masuk akal? Orang awam yang tidak mengerti kemungkinan besar akan protes dengan berkata, "Kenapa ikut Tuhan malah mengalami tragedi dan kemalangan hingga jadi batu sandungan seperti ini?" Di titik ini tidak ada orang lain yang bisa tahu dan paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, kecuali Tuhan dan orang yang kepadanya Tuhan sedang berurusan.

Dan jika kita renungkan lebih dalam lagi akan sikap Sarah, sungguh sebuah tragedi, namun bukan karena ia berpisah dengan Abraham sampai hari kematiannya, melainkan karena Sarah tidak bisa mengikuti puncak kehendak Tuhan bagi suami sekaligus tuannya, Abraham. Padahal selama sekian puluh tahun Sarah mengalami begitu banyak berkat, kelimpahan, mujizat dan perjalanan bersama Abraham dan Tuhan. Sarah bahkan yang sudah mati haid bisa mengandung dan melahirkan Ishak. Namun ternyata setelah semuanya itu, Sarah tidak bisa menangkap kehendak Tuhan seutuhnya, sedangkan Abraham dengan hati hineni menggenapi dalam cinta dan kerelaan untuk mengorbankan Ishak.

Standar Mempelai Kristus

Oleh karena hal ini semua, Tuhan Yesus mempromosikan Abraham sedemikian rupa kepada bangsa Israel pada waktu itu. Ada ikatan yang begitu kuat dan abadi antara Tuhan dengan Abraham, yakni ikatan persahabatan dan cinta agape sebagai kekasih Tuhan. Dan standar yang sama, yang telah dilalui Abraham sebagai kekasih-Nya, itulah yang Tuhan Yesus gariskan kepada murid-murid-Nya,

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." - Matius 10:34-39

Standar tersebut bukan diucapkan oleh Allah, juga bukan oleh Roh Kudus, melainkan oleh Anak Manusia, Tuhan Yesus Kristus, yakni Sang Mempelai Pria kepada Calon Mempelai Wanita-Nya, yakni kita sebagai Gereja Tuhan. 

Standar ini berkata bahwa jika seseorang mengasihi keluarganya lebih daripada Tuhan, maka itu sama dengan tidak memikul salibnya, sama dengan takut kehilangan nyawanya dan tidak layak menjadi Mempelai-Nya. Dan ini memang standar ekstrim, standar Mempelai Kristus, standar bagi mereka yang menghendaki ikut terangkat pada Hari Pengangkatan (rapture), standar Ruang Mahasuci, dan bukan standar halaman Bait Suci. Relakah kita terus dibawa naik hingga kepada titik Ruang Mahasuci itu, di mana terjadi perjumpaan muka dengan muka dengan Yang Mahasuci dalam segala kemuliaan-Nya?

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Saturday, February 4, 2012

Mempelai Kristus Yang Rajani

"Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya." - Matius 11:12

"Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." - Matius 24:14

"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki." - Matius 25:1

"Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." - Kolose 1:16

Pertama-tama saya hendak mengingatkan kita semua sekali lagi bahwa dalam waktu singkat seluruh bumi akan di bawah pemerintahan Allah, jadi sebelum aturan dan standar-Nya dipaksakan kepada kita semua, sebaiknya kita bertobat sedini mungkin. Anda bisa menolak aturan dan standar-Nya yang murni, menolak untuk bertobat dari kesalahan dan kelemahan yang sudah sekian lama Tuhan Roh Kudus meminta Anda untuk melepaskannya, termasuk dalam hal pengampunan dan itu artinya Anda keluar dari pemerintahan Allah yang hidup.

Yang kedua, saya hendak menegaskan bahwa ini tahun bagi Gereja-Nya untuk mulai berjaya di atas puncak-puncak gunung dunia (7 gunung - Gunung Pemerintahan, Gunung Pendidikan, Gunung Media & Informasi, Gunung Seni & Hiburan, Gunung Agama, Gunung Keluarga, Gunung Ekonomi & Bisnis; dan 2 gunung lainnya -  Gunung Spiritual, Gunung Sandang & Pangan). Menduduki puncak-puncak dengan kualitas Mempelai Kristus yang sejati, yang mengejar hati Tuhan dengan kekudusan, memikat hati Tuhan dengan keindahan, melayani Tuhan dengan keintiman, yang tak bercacat & tak bercela, yang tidak berkompromi sama sekali dengan dosa maupun dunia, dan yang memiliki hati HINENI. Kitalah surplus dari kelimpahan-Nya yang akan mulai memerintah dunia di bawah pemerintahan Raja atas segalanya.

Sekarang saya baru benar-benar menyadari mengapa Ev. Nany Susanty yang adalah pemimpin panggilan mempelai dari Bahtera Ministry yang diperintahkan oleh Tuhan untuk menduduki secara profetik Gunung Spiritual, gunung yang tertinggi dari 9 gunung yang ada. Tadinya saya masih berpikir, mengapa beliau? Mengapa bukan pemimpin panggilan Pilar, atau panggilan Raja, atau panggilan Tentara? Ternyata Tuhan sedang mengatakan kepada kita semua bahwa nilai dan standar Mempelai hendak diberlakukan secara utuh.

Kita dijanjikan dan ditakdirkan bukan saja memiliki Indonesia namun juga menguasai dunia sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna. Itu sebabnya semua aturan dunia, semua sistem dunia, semua cara pandang duniawi tidak akan berlaku lagi mulai hari ini. Tuhan ingin melatih kita untuk masuk dan hidup dalam realita yang sama sekali berbeda, itu sebabnya relakanlah diri kita untuk dimempelaikan oleh Roh Kudus-Nya yang lembut. Saatnya untuk mengampuni haruslah mengampuni, saatnya untuk memberi haruslah memberi, saatnya untuk menjarah haruslah menjarah, saatnya untuk mengikat harus mengikat dan saatnya untuk melepas haruslah melepas. Sungguh tidak ada penundaan lagi, ini urgensi yang datang dari Yang Mahatinggi untuk segera menggelar berbagai perkara yang almuhit di seluruh penjuru dunia. 

Mempelai-Mempelai Kristus Bersiaplah

Tuesday, January 31, 2012

Mempelai Kristus Dalam Sekilas Perenungan

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." - Ibrani 12:2

"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." - Matius 5:8

"Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu." - Matius 6:22

Coba renungkan, apa yang Anda sukai dan yang tidak disukai untuk dilihat. Jika memungkinkan, buatlah daftarnya. Ketahuilah bahwa kekudusan sangat erat kaitannya dengan cara kita memandang segala sesuatunya. Mata adalah jendela hati, jika mata kita memandang yang baik, maka baiklah hati dan seluruh tubuh kita, jika mata kita memandang yang buruk maka terjadilah yang sebaliknya.
Bukankah destiny kita adalah melihat Dia di awan-awan yang permai saat Maranatha nanti? Dan secara korporat sebagai Gereja dan Tubuh Kristus adalah Mempelai Kristus yang berhiaskan kekudusan, tampil tak bercacat tak bercela, mengenal hati Tuhannya sebagai seorang kekasih sekaligus suami dengan keintiman yang sedemikian rupa.

Jadi buanglah yang buruk dan berhentilah melihat yang najis dan tidak kudus. Usahakan dan perjuangkan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Inginilah kekudusan lebih dari yang sebelumnya walau hal itu sama sekali tidak mudah namun bukan mustahil. Pandanglah Yesus supaya kita makin memiliki roh iman untuk hidup dalam kekudusan dan mengantarkan kita kepada kesempurnaan seorang Mempelai yang sejati.

Mempelai Kristuslah Yang Ditakdirkan Bersantap Semeja Dan Duduk Bersama Di Atas Takhta-Nya Untuk Memerintah Dalam Kekekalan. Mempelai Kristus Hanya Memandang Dalam Kekudusan Allah.

Wednesday, August 10, 2011

Gereja: Ketujuh Bintang, Ketujuh Roh, Ketujuh Kaki Dian - John Belt

"Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa... " - Wahyu 2:1-2

Kitab Wahyu adalah sebuah gambaran yang membuka mata kita bagaimana Yesus telah bersabda dan terus berbicara kepada Gereja dalam rangkaian kesatuan saat ini. Dengan semua ketidaksempurnaan Dia masih berbicara kepada berbagai bagian dari Tubuh-Nya di bumi. Tuhan tidak memungkiri Tubuh-Nya, tetapi menegaskan Gereja-Nya, mendorong, dan karena cinta mengungkapkan ketidaksenangan-Nya dalam apa yang tersisa dibatalkan, ditoleransi dan diabaikan.

Dalam hal ini, Dia terus memanggil Gereja-Nya ke tempat cinta dan keintiman dengan-Nya. Setiap gereja, setiap tubuh lokal, akan memberikan contoh salah satu dari tujuh gereja. Ada gereja yang dipuji karena "kasih, pelayanan dan ketekunan," dan kemudian ada orang-orang dipuji karena "ketajaman (kepekaan membedakan)," dan mereka dipuji untuk hal-hal lain juga. Satu gereja akan dipuji untuk melakukan pekerjaan baik tetapi yang jahat tidak ada pembedaan bertoleransi, lalu lain dengan ketajaman tetapi tidak ada kedalaman & keintiman dengan Allah.

"Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah." - Filipi 1:9-11

Dalam hal ini kita melihat gereja-gereja dikonfrontasi, ditegur dan dibongkar untuk hal-hal sementara yang lain memiliki hal-hal yang baik saja dibicarakan dan dorongan dari Tuhan. Gereja Smirna, gereja yang dianiaya, tidak dikoreksi untuk apa pun, melainkan didorong untuk setia. Philadelphia, gereja yang setia, adalah sebuah teladan dimana Tuhan disenangkan seutuhnya. Gereja-gereja lainnya memiliki beberapa masalah, tapi mereka tetap diakui oleh Tuha, namun ditegur keras dan diberi janji "Barangsiapa menang, dia akan Kuberi ..."

Tuhan tahu bahwa manusia membutuhkan insentif. Tuhan memberikan kepada Gereja-Nya insentif yang menakjubkan untuk menang dan menjadi umat yang berkemenangan sebagai tangan kanan-Nya. Jadi sementara ada begitu banyak kompromi,begitu banyak yang agamawi, toleransi terhadap Isebel, dan lain-lain, tangan Allah tetap berdaulat atas umat-Nya untuk memperingatkan mereka untuk tidak hidup kebebalan (ignorance). Hidup dalam kebebalan ("ignore-ance") dapat diartikan mengabaikan (to ignore) yang perlu untuk diterima. Hanya karena umat yang bebal (ignorant) bukan berarti mereka dimaafkan.

Satu hal yang pasti bahwa Tuhan membuat jelas bagi semua gereja di Kitab Wahyu pasal 2 dan 3 adalah "Dia tahu." Dia adalah Allah Yang Mahamelihat dan Mahatahu segala motivasi hati. Banyak yang berpikir bahwa mereka tahu, namun akan kebenaran manusia hanya melihat sebagian. Itulah sebabnya kita sebagai manusia biasa dituntut untuk bergantung kepada Tuhan dalam segala perkara. Bahkan Paulus, yang telah melewati semua hal penentangan, pengalaman dan pewahyuan akan Tuhan berkata bahwa dia tidak tahu semua hal yang berkaitan dengan hatinya sendiri, tetapi hanya Tuhan.

"Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah." - 1 Korintus 4:3-5

Paulus membayar salah satu harga tertinggi kepada Tuhan, menjadi salah satu pelopor terkemuka dalam iman pada zaman permulaan. Dia banyak menderita, dan karena ini dianggap layak untuk menikmati harta Ilahi, dimampukan untuk melihat hal-hal yang melampaui imajinasinya - sehingga ia bahkan tidak bisa menyebutkan atau menjelaskannya. Ada limpah kasih karunia yang Allah berikan kepada umat-Nya. Kita melihat ini dinyatakan dalam surat pewahyuan. Sedemikian buruk hal-hal yang ada di gereja-gereja akan kompromi, dosa dan kurangnya api rohani (gelora cinta & kasih mula-mula), Yesus masih mengulurkan harapan bagi mereka dalam kondisi terburuk mereka.

Sebagai contoh, Jemaat Sardis yang digambarkan "mati" dan tetap diberi pengharapan bahwa Yesus berkata "ingatlah dari mana kamu telah datang." Dengan kata lain, jika Anda bisa mengingat dari mana Anda berasal, ada harapan bagi Anda untuk kembali ke jalur dan hidup lagi. Kemudian Tuhan menjanjikan "Barangsiapa menang" ke setiap gereja, tidak peduli apapun kondisinya.

Saya telah mengatakan berulang kali, "Selalu ada harapan di sisi Surga." Dengan itu, adalah penting dan wajib bahwa kita berurusan dengan bisnis ketika Tuhan mengungkapkan kepada kita. Hanya melalui keintiman dengan Tuhan bahwa kita mampu melihat hal-hal yang Dia begitu menentang. Tidak ada misteri dan cukup jelas bahwa Gereja penuh dengan ketidaksempurnaan. Ini adalah kasih karunia Allah kepada kita bahwa Dia masih bekerja dengan kita untuk membentuk Kristus di dalam perjalanan kita. Paulus bekerja keras dalam doa bahwa Kristus dapat dibentuk dalam Kaum Beriman. Pada salah satu ujungnya, kita adalah ciptaan baru. Di ujung lainnya, Allah adalah membawa jiwa kita sejalan dengan keinginan Roh.

Ada melihat, memahami dan hasrat yang selaras untuk menginginkan perubahan yang harus disertai oleh setiap dan semua pewahyuan yang Allah berikan supaya kita hidup di posisi yang menyenangkan-Nya. Kita dalam perubahan yang berkesinambungan. Perubahan ini terjadi sebagaiman umat-Nya belajar memahami pemikiran-Nya, menemukan sukacita dalam hubungan yang intim bersama-Nya. Dengan menjawab ketukan-Nya di depan pintu, dengan menghabiskan waktu bersama-Nya, Firman-Nya menjadi hidup dan pemikiran kita berpindah dari seorang pendosa kepada umat yang kudus yang disucikan dengan Darah Kristus. Kitab Wahyu berbicara terutama mengenai Kristus, namun lebih banyak mengenai "kaum pemenang." Ketika kita memilih untuk hidup sebagai kaum pemenang, kita akan menemukan anugerah-Nya di setiap tempat dan kemenangan di setiap kesempatan.

Kelimpahan-Nya milik Anda!

10 Agustus 2011 - John Belt, Live In His Presence Ministries

Wednesday, July 6, 2011

Pengakuan untuk panggilan MEMPELAI

"Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya."

"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."

"Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

1. Kami masuk dalam keintiman, mengenal detak jantung-Nya.

2. Passion kami, gairah kami, pikiran, perasaan & keinginan kami, kepuasan kami hanya untuk melakukan kerinduan-Nya & menuntaskannya.

3. Kami tidak menginginkan apapun selain daripada menyenangkan hati Raja di atas segala raja & membangkitkan cinta & gairah-Nya.

4. Kami mempelai yang memikat hati Raja, tongkat perkenanan Raja terulur bagi kami demi keselamatan bangsa.

5. Hati yang tenang, roh yang lembut adalah perhiasan kami.

6. Kami mempelai yang dicintai Tuhan & mendapat perkenan Raja.

7. Kami mempelai Kristus yang intim bersyafaat di hadapan Tuhan dalam belas kasihan, sehingga melahirkan kegerakan, lawatan dan tuaian.

8. Dengan kelemahlembutan, kami membawa damai, rekonsiliasi dan persatuan dalam tubuh Kristus. Kami mempelai Kristus yang seimbang, mengasihi Tuhan dengan penuh cinta serta sesama dalam kasih persaudaraan yang solid.

9. Kami mempelai Kristus yang mengerti tentang peperangan rohani. Kami juga berperang dalam hikmat, ketepatan dan otoritas. Kemenangan dalam setiap langkah adalah juga bagian kami.

10. Mata dan hati kami hanya tertuju kepada Tuhan saja. Hidup dalam kekudusan adalah salah satu jubah utama kami. Roh, jiwa & tubuh kami seirama dengan Tuhan.

11. Kami mempelai yang berjaga-jaga. Dengan kerelaan untuk berkorban, kami menggelar karpet merah untuk menyambut kedatangan kekasih jiwa kami yang kedua kali untuk menjemput kami.

AMIN AMIN AMIN!

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." 

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.