Labels

Showing posts with label Ev. Iin W Tjipto. Show all posts
Showing posts with label Ev. Iin W Tjipto. Show all posts

Wednesday, April 26, 2017

Cara Iblis Menjegal "Destiny" Anak-Anak Tuhan - Ev. Mikhael Iin Tjipto

Ditulis oleh: Hana Cherry Eliezer

Dari sekian banyak cara Iblis yang dia lakukan untuk menjegal bahkan menghentikan anak-anak Tuhan menyelesaikan destiny, ini adalah 12 cara yang Iblis paling sering gunakan:

1. Iblis menipu agar anak-anak Tuhan tidak kenal kelemahannya. 
Orang yang tidak mengenal kelemahannya adalah orang yang mudah dicungkil matanya, tidak bisa melihat dari sudut Tuhan, akan sangat mudah dibelenggu dan ujungnya akan sangat mudah diperbudak untuk kerja buat Iblis. Menggosip, menyebarkan kepahitan, kerja tanpa menghasilkan, yang untung malah orang lain, ini adalah kerja buat Iblis.

Di Alkitab, Simson adalah orang yang tidak mengenal kelemahannya, padahal sudah berkali-kali ayahnya memperingatkannya, bahkan dia tidak bisa melihat dirinya sendiri lemah di urusan wanita walaupun berkali-kali terjadi masalah dan huru-hara setelah dia berurusan dengan wanita.

Setiap orang memang punya kelemahan, tapi yang dicungkil matanya akan membuat dia tidak bisa lihat kebenaran selama bertahun-tahun, kesalahannya terus sama dan diulang, seperti Saul yang punya roh tertolak. Begitu ditolak, Saul merasa marah dan terluka. Saul tidak langsung ditolak Tuhan waktu dia jatuh, tapi empat kali Saul jatuh, barulah Tuhan menolaknya. Orang Israel selalu bersungut-sungut, mereka tidak bersungut-sungut sekali lalu langsung dibuang Tuhan, tapi sepuluh kali mereka bersungut-sungut, dan Tuhan berkata, "CUKUP! Mereka tidak akan masuk Tanah Kanaan." Mari kenali kelemahanmu supaya jangan matamu dicungkil, supaya jangan tanganmu dibelenggu, supaya jangan engkau kerja buat musuh.

2. Iblis menipu supaya anak-anak Tuhan jadi martir konyol.

"Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: 'Engkaukah itu Asael?' Jawabnya: 'Ya, aku.' Kemudian berkatalah Abner kepadanya: 'Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.' Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: 'Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?' Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana." - 2 Samuel 2:19-23

Contoh martir konyol, sudah tahu temannya tukang hutang dan tidak berhasil tapi saudara terus pinjami dia uang. Ada banyak orang tanpa sadar melakukan penderitaan yang tidak perlu. Kekonyolan lain misal tidak mau berteman dengan yang lain dengan alasan mau hidup hanya buat Tuhan karena hanya butuh Tuhan, padahal kalau saudara tidak punya teman, artinya saudara tidak punya unity, tidak punya teman yang menguatkan dan menghibur, dan saudara akan sangat mudah dihabisi Iblis.

Contoh lain lagi, mau puasa 40 hari padahal Tuhan tidak suruh dia puasa, atau berkata: “Saya tidak mau dengar dari siapapun kecuali dari Tuhan sendiri," ini konyol dan sombong. Ada juga yang beri 40% setiap bulan, berpikir mau korban, padahal Tuhan tidak pernah suruh dia persembahkan sampai 40%, ujungnya dia tidak diberkati, malah habis dan kecewa dengan Tuhan. Mereka berpikir itu Tuhan yang suruh, padahal bukan. Ada juga yang memaksa diri membaca Alkitab sampai 30 pasal tapi tidak paham, dia pikir yang penting baca banyak pasal, padahal Tuhan mau dia baca tidak usah sebanyak itu, yang penting dia merenungkan, pelajari, dapat rhema dan mengerti. Mari bedakan antara yang ilahi, yang sejati, yang tepat, yang berguna dengan yang konyol.

3. Iblis membuatmu merasa dipaksa oleh keadaan.

Saudara jadi melakukan segala sesuatu karena dipaksa pemimpin atau orangtua atau suami atau istri atau mertua malah hasilnya akan sangat sedikit, karena melakukan bukan dengan pengertian, iman dan cinta tapi karena dipaksa. Gideon tidak pernah suka perang, dia perang karena dipaksa Tuhan untuk perang, dan ia giliran memaksa anaknya memarang musuh. Di akhir hidupnya, tidak pernah disebut lagi apa yang Gideon dan anaknya perbuat selain menyebabkan bangsa Israel berdosa.

4. Iblis membuatmu depresi karena kesalahan demi kesalahan dan kegagalan demi kegagalan, hidup jadi seperti dikejar bencana atau sial. Daud pun mengalami, tapi Daud memilih untuk menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Daud memilih untuk bangkit, menghadapi bencana dan berkata stop kepada bencana. Jangan depresi dan habis karena kekalahan, tapi selalu bangkit dan jadi lebih dari pemenang. Jadikan kegagalan itu pembelajaran untuk bangkit lagi.

5. Iblis menipu supaya saudara memakai banyak pertimbangan.

"Juga para pemimpin suku Isakhar menyertai Debora, dan seperti Isakhar, demikianlah Naftali menyertai Barak. Mereka menyusul dia dan menyerbu masuk lembah. Tetapi pihak pasukan-pasukan suku Ruben ada banyak pertimbangan. Mengapa engkau tinggal duduk di antara kandang-kandang sambil mendengarkan seruling pemanggil kawanan? Di pihak pasukan-pasukan suku Ruben ada banyak pertimbangan!" - Hakim-Hakim 5:15-16

Banyak pertimbangan, di satu sisi bagus tapi di satu sisi itu akan menghambat sangat banyak. Hati-hati dengan banyak pertimbangan karena seringkali itu membuat saudara tidak berani melangkah dan mengikuti Tuhan. Bagian kita adalah dengan passion sepakat dan melangkah dengan Tuhan. Pakailah pertimbangan pada batasnya, jangan sampai pertimbanganmu mengagalkan rencana Allah.

6. Iblis menipu supaya saudara menjadi korban perang.

Hidup ini adalah peperangan, berada dalam zona peperangan tapi jangan mau menjadi korban. Pilihlah jadi pemenang dan bukan korban. Ini pilihan. Saudara yang memutuskan. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu. Jangan lihat dirimu sebagai korban tapi sebagai pemenang. Kalau saudara bisa lihat itu, hidupmu akan dapat membalikkan keadaan dan limpah dengan damai sejahtera.

7. Iblis membuat hidupmu tegang, terus menerus terjadi peperangan di jasmani dan rohani, jadi perebutan antara melakukan kehendak Tuhan atau ikuti rayuan iblis. 

Di rumahnya atau tempat kerjaan selalu perang, di jiwanya ada perang karena di dalam ada keinginan-keinginan yang buruk tapi di sisi lain tahu itu tidak benar. Jangan biarkan Iblis bicara sepatah katapun. Lihat Hawa, diajak ngobrol dan dialog sama Iblis, ditanya, "Semua buah di taman ini tidak boleh dimakan ya?" Dan Hawa jawab: "Boleh koq." Kenapa harus meladeni Iblis? Ujungnya Hawa tertipu. Dari awal mulanya, manusia sudah tertipu saat manusia mulai mau diajak dialog sama Iblis. Jangan biarkan Iblis bicara sepatah katapun, apalagi sampai saudara ladeni. 

Tiap kali Iblis mulai bicara ke saya dengan berkata, "Lihat tuh Mahanaim tidak berubah, anak buahmu mentalnya jelek," dan sebagainya. Saya tidak biarkan Iblis menyelesaikan kalimatnya, saya langsung tengking di dalam Nama Yesus, saya lawan dengan berkata, "Saya lihat Mahanaim makin ajaib, kekuatannya makin besar, berkatnya makin banyak, Tuhan makin cinta, Mahanaim ini orang-orang seperti Daud dengan pahlawan-pahlawannya yang asalnya dari gua Adulam, mantan penjahat dan mereka ini seperti kuda-kuda liar," tapi saya berkata, "Kuda-kuda terbaik itu memamg awalnya adalah kuda-kuda liar yang susah diatur, tapi begitu ada orang yang bisa mengenali dan tahu bagaimana caranya, mereka menjadi kuda-kuda perang dan keagungan Tuhan." Jangan biarkan situasi dan keadaan menguasai hidupmu.

8. Iblis tipu dengan kesedihan yang di dalam, tidak kelihatan. 

Apapun dalam hidupmu mari belajar jangan biarkan kesedihan merusak iman, doamu, cintamu. Tiap kita pasti ada duri di dalam, tapi jangan biarkan itu menghabisi, melemahkan, menyakiti. Injak duri itu di bawah kakimu, jangan biarkan kesedihan melemahkan jiwa kita.

9. Iblis membuatmu susah mendengar orang lain, punya sesuatu yang disimpan di dalam.

Seperti Yunus, Tuhan berkata pergi ke Niniwe tapi Yunus tahu Tuhan itu pemurah dan penyayang sebab itu Yunus tidak mau pergi. Yunus simpan di hatinya, dia tidak mau dan tidak bisa mendengar Tuhan, ngotot dengan cara dan maunya sendiri. Sampai Tuhan beri lalu ambil pohon jarak dan Yunus ngambek. Yunus mustinya menjadi penginjil besar yang bisa membuat sebuah bangsa (Niniwe) bertobat. Tapi sesudah itu nama Yunus tidak pernah muncul lagi karena Yunus tidak bisa mengikuti cara Tuhan, tidak bisa berbuah, mau caranya sendiri. Di dalamnya ada kesendirian, caranya sendiri, maunya sendiri, tidak ada orang yang dia izinkan masuk ke dalam hatinya. Padahal kalau di dalam penuh dengan Tuhan dan saudara-saudara yang lain, dan cinta dan iman, saudara tidak akan mudah jadi sedih. Di dalam saya ada sangat banyak cinta, kekuatan. Saya jatuh dan buat salah tapi saya tidak pernah jatuh tergelak karena di dalam saya tidak pernah sepi. Kalau di dalam sepi, kekuatanmu akan mengecil.

10. Iblis mainkan kelaparan di jiwa, di jasmani dan di rohani.

Jiwa yang kosong, merasa tertolak, kurang perhatian, merasa kesepian. Ini punya ciri yang sama, mau yang orang lain punya, bukan yang dia sudah punya. Istri cantik dan baik tapi suami tidak bisa menikmati, malah maunya sama orang lain. Sudah cantik tapi merasa tidak cantik. Ini tanda miskinan dan kelaparan. Kalau saudara punya kelaparan dan kemiskinan, saudara akan melihat dengan marah dan iri apa yang orang lain punya, tidak puas bahkan tidak merasa cukup. Tidak bangga dengan keluarganya, dengan dirinya, dengan bakatnya. Mari lihat dan sadari bahwa hidup saudara diberkati Tuhan dan bisa menikmati apa yang ada padamu.

11. Iblis hembuskan suara-suara sampai engkau tidak bisa bedakan mana suara Tuhan, mana suara diri sendiri, mana suara iblis sampai saudara kena roh kegilaan. Saudara harus sungguh-sungguh perang terhadap suara-suara itu karena ini suara-suara menyesatkan, deceptions. Yerobeam, Rehabeam, Saul jatuh bahkan jadi gila karena suara-suara itu.

12. Iblis ganggu sampai saudara meledak marah dan keluar aslinya dan berbuat yang mengerikan seperti Absalom yang kecewa dengan Daud, ayahnya dan makar. Ada yang mengerikan yang di dalam dan tidak pernah dibereskan. Begitu kena, reaksinya sangat mengerikan, yakni kecewa, maki-maki karena ditegur, kemauannya tidak dituruti dan meledak marah dan melakukan hal-hal yang merusak.

Mari kenali pola-pola dan tipu muslihat yang Iblis sering mainkan, supaya saudara tidak terus jatuh di situ dan hidup berkemenangan.

Thursday, August 7, 2014

5 Hal Penting Untuk Memperoleh Kanaanmu - Vol. 2


Tuhan memperlihatkan sebuah bahtera yang sedemikian besar dan Tuhan berteriak memanggil-manggil semua anak-anak-Nya. Karena panggilan itu, ada yang meresponi dengan ikut masuk ke dalam bahtera tersebut. Namun ada yang tidak mau masuk. Yang tidak mau masuk adalah mereka yang sudah nyaman dengan kendaraan mereka masing-masing, yakni sekoci-sekoci, sampan-sampan dan kapal-kapal kecil mereka. 

Mereka yang mau masuk ke dalam bahtera-Nya adalah mereka yang paham bahwa fokus hidupnya adalah Tuhan dan hanya Tuhan. Sedangkan mereka yang enggan dan menolak untuk masuk ke dalam bahtera-Nya adalah mereka yang masih terikat dengan kepentingannya sendiri sebab memang fokusnya adalah dirinya sendiri daripada Tuhan. Sekoci-sekoci, sampan-sampan dan kapal-kapal kecil mereka adalah kerajaan-kerajaan mereka, sehingga ketika air bah datang nanti, semua kerajaan mereka akan habis binasa tanpa ada kesempatan lagi untuk mendapatkan keselamatan masuk ke dalam bahtera-Nya.

4. Memahami momen & menjaga sikap hati. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu adalah penentuan. Ada satu hari, satu waktu, satu keputusan maupun satu sikap yang mungkin tidak kita sadari ternyata hal itu bisa menentukan destiny kita bahkan hingga kepada kekekalan. Sebagai contoh, perhatikan beberapa kisah pelajaran berikut ini:

a. Belajar dari Hagar: "Dan Abraham berkata kepada Allah: 'Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!' Tetapi Allah berfirman: 'Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.'" - Kejadian 17:18-21

Jika kita mau lebih jeli memahami situasinya, sesungguhnya sebelum Esau memandang rendah dan menganggap remeh hak kesulungannya, Sarah sudah lebih dulu memiliki sikap yang serupa dengan menyodorkan Hagar kepada Abraham. Sebab dasar dari sikap mereka berdua adalah tidak percaya. Sebagaimana Esau menyerahkan hak kesulungannya kepada Yakub, demikian Sarah menyerahkan warisannya kepada Hagar. Maka Hagar pada hari dirinya diserahkan untuk menjadi gundik bagi Abraham, adalah hari dimana ia mendapatkan durian runtuh. Karena pada hari itu, Hagar memiliki kesempatan, bahkan lebih dulu daripada Tamar, Rahab, Rut, dan Batsyeba untuk namanya dapat tercatat dalam Silsilah Kristus.

Namun karena sikap Hagar yang mudah sombong dan begitu menghina nyonya Abraham, maka kesempatan yang begitu mulia itu hilang dan tak pernah terulang kembali. Itulah sebabnya ketika Abraham menyodorkan Ismael untuk menjadi anak perjanjian, Tuhan langsung dengan tegas menolaknya. 

Walau Sarah sempat ceroboh dalam perkara Hagar, namun sesungguhnya Sarah telah teruji dalam berbagai perkara lainnya. Sarah setia menemani Abraham walaupun saat itu mereka berdua tidak pernah tahu ke mana mereka harus melangkah. Bahkan ketika Abraham meminta Sarah berdusta atas status mereka di hadapan Firaun maupun Abimelekh, Sarah pun menuruti Abraham tanpa ada keluhan sama sekali.

Sedangkan Hagar, baru hamil satu kali saja ia telah begitu ceroboh bersikap dengan begitu menghina Sarah. Jatah yang begitu besar dan mulia akhirnya harus kembali kepada empunya yang semula. Seandainya hari itu Hagar tetap bersikap setia dan menghormati Sarah, seperti Daud menghormati Saul, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Hagar akan melahirkan adik-adik Ismael dan Tuhan langsung menjadikan mereka sebagai bapak-bapak bangsa seperti keduabelas anak Yakub. Pertanyaannya, jika hari ini apa yang dialami Hagar sungguh terjadi dalam hidup kita, akankah kita tetap mau ceroboh dengan sikap hati kita?

b. Belajar dari Yehuda dan keluarganya: "Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul." - Kejadian 46:12. "Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. ... ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur. Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu." - Kejadian 49:8-12.

Yehuda adalah manusia biasa yang memiliki segala kelemahan dan kecenderungan. Namun padanya ada perjanjian Tuhan yang sedemikian rupa sehingga raja-raja bahkan Kristus lahir dari garis keturunannya. Namun kedua anaknya, yakni Er & Onan tidak mampu mewarisi perjanjian tersebut, bahkan mereka berbuat jahat di hadapan Tuhan sehingga Tuhan membunuh mereka. Namun dalam kehendak-Nya yang ajaib, Tuhan mampu menghadirkan penerus yang luar biasa dan "melunasi" nyawa kedua anaknya yang dibunuh Tuhan, yakni melalui Peres & Zerah.

Perhatikan! Bahwa perjanjian Tuhan kepada Yehuda tetap adanya, Tuhan tidak mencari pengganti Yehuda. Dalam kerjasama-Nya dengan Tamar, perjanjian itu tetap bisa diwariskan. Apa yang istimewa dari Yehuda, sehingga Tuhan tetap setia kepadanya? Yehuda bersama Ruben ikut menyelamatkan nyawa Yusuf (Kejadian 37:26-27). Pada saat Yehuda memiliki kesempatan untuk membungkam menantunya, Tamar, ia tidak melakukan hal itu, melainkan dengan sikap yang demikian mulia mengakui kesalahannya (Kejadian 38:26). Bayangkan jika hari itu Yehuda menyangkal dan Tamar dibunuh, maka bukan saja Peres dan Zerah tidak lahir, melainkan juga Tuhan akan menggeser Yehuda dan mencari penggantinya untuk mewarisi perjanjian yang sama.

Yehuda tulus memberikan solusi untuk meyakinkan ayahnya akan keselamatan Benyamin saat mereka hendak ke Mesir untuk kedua kalinya (Kejadian 43:8-16). Yehuda bahkan dengan berani mengajukan permohonan sehingga hati Yusuf tidak dapat lagi tahan (Kejadian 44-45) untuk mengakui identitasnya.

Setelah kelahiran Kristus, maka apa yang telah diwariskan Tuhan kepada Yehuda tidak mampu lagi diwarisi oleh bangsa Israel, sebab dengan ceroboh dan gegabah bangsa Israel menyalibkan Kristus dan harus menanggung secara turun temurun darah Anak Manusia yang tak berdosa. Apa yang harus dinikmati oleh Israel, akhirnya harus digeser Tuhan, salah satunya kepada Inggris Raya (Great Britain / United Kingdom). Itulah sebabnya ada istilah "the sun never sets on British Empire" sebab Inggris dengan semua negara persemakmurannya mewarisi berkat Yehuda, Lewi dan Efraim.


Inggris dan negara-negara persemakmuran (mulai dari ujung paling Timur, New Zealand, Australia, Papua New Guinea, beberapa negara Asia dan belasan negara Afrika) telah menjadi banyak bangsa seperti yang dinubuatkan bagi Efraim, dengan total penduduk sekitar 2,5 trilliun jiwa. Begitu juga negara Amerika Serikat, yang adalah pewaris Yehuda, Lewi dan Manasye, menjadi sebuah bangsa yang begitu berkuasa di dunia. Dari kedua negara ini, dapatkah kita pahami betapa luar biasa kuasa dan dampak dari perjanjian tersebut?

- Belajar dari Yosua & Kaleb: "Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir dan Anab, dari seluruh pegunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua. Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod masih ada yang tertinggal." - Yosua 11:21-22

Jika Anda bertanya alasan Gaza masih membara dan menjadi duri dalam daging bagi Israel saat ini, maka kisah pada zaman Yosua yang menjadi jawabannya. Ada bagian yang tidak dituntaskan. Yang harus kita pahami adalah demikian, jika urusan yang tertunda ribuan tahun saja masih memiliki dampak hingga saat ini, apalagi urusan yang tertunda dalam sehari-hari kehidupan kita. Sikap yang masih suka menunda-nunda dan enggan bertindak cepat serta seirama dengan kehendak Roh-Nya, bisa berakibat fatal.

"Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: 'Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea. ... Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.'" - Yosua 14:6-12

Kaleb paham bahwa dirinya bukanlah "pilihan utama" untuk urusan bangsanya. Seperti arti namanya, yakni anjing, ia tetap memiliki sikap tahu diri yang baik. Namun hal itu tidak membuatnya berpangku tangan atau menunggu perintah dari Yosua untuk merebut apa yang menjadi jatah maupun warisannya. Kaleb percaya akan janji Tuhan melalui perkataan Musa, dan berdasarkan perjanjian itu, ia dengan gagah berani meminta dan menggenapi apa yang menjadi bagiannya.

Kita sebagai Gereja-Nya seharusnya juga memiliki sikap yang sama. Kita tidak boleh lagi menjadi pasif maupun manja untuk mengerjakan panggilan dan pelayanan kita bagi Kerajaan-Nya. Apa yang hendak kita lakukan sebagai kontribusi kita kepada Kerajaan-Nya, hal itu tidak perlu menunggu orang lain yang mengajak kita. Dengan meminta penyertaan dan petunjuk Roh Kudus-Nya, lakukanlah segera apa yang sudah seharusnya kita kerjakan. Tidak perlu memusingkan hasilnya, melainkan belajar untuk menikmati prosesnya bersama dengan Tuhan. Selama kita mau mengikuti semua kehendak-Nya, maka hasilnyapun telah dijamin-Nya.

"Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." - 2 Petrus 1:5-10

Ketahuilah bahwa panggilan dan pilihan kita di tahap awal tidaklah teguh dan amat rentan untuk kandas! Proses yang harus kita jalani bersama dengan Roh-Nya akan memperkokoh iman dan panggilan kita melalui persekutuan dengan-Nya dan melahirkan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, bahkan akhirnya kasih agape. Sehingga pada akhirnya, kelimpahan yang dijanjikan menjadi nyata untuk dinikmati.

Namun jika kita keluar dari panggilan kita dan bahkan membuang destiny kita, maka kita dapat terhilang karena ego kita. Bintang yang terang, akhirnya lenyap dalam kekelaman (black hole) untuk selamanya, Yudas 13.

Perjalanan destiny kita bersama dengannya merupakan sebuah rangkaian tahapan demi tahapan. Dari dipanggil, lalu dipilih dan akhirnya ditetapkan. Demikian juga perjanjian yang diberikan, akan menjadi ketetapan sampai akhirnya menjadi kenyataan. Bahkan orang yang tadinya hanya sekedar mendapat kesempatan, bisa menjadi orang pilihan sampai akhirnya menjadi orang yang berkenan.

5. Mengenai Survey & Mapping. Untuk poin ini, silakan klik di sini. Atau memperoleh rincian pengajarannya secara audio dengan klik, mencari dan download di sini.

5 Hal Penting Untuk Mempeoleh Kanaanmu - Vol. 1

6 Hal Untuk Meresponi Destiny Kita

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

Monday, May 12, 2014

Menolak Menjadi Pahit

"Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya." - Mazmur 106:32-33

"Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: 'Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?' Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.' Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka." - Bilangan 20:10-13

Di Meriba, Musa harus menelan pil pahit akibat kepahitan hatinya yang terpancar dari ucapannya di hadapan hadirat Tuhan. Jerih payah usahanya memimpin bangsa yang tegar tengkuk tidak bisa membatalkan keputusan Tuhan yang melarangnya masuk Tanah Perjanjian, sungguh tragis! Memang Musa memperoleh keistimewaan dalam hubungannya dengan Tuhan, sebab ia berbicara dengan Tuhan dengan cara muka berhadapan dengan muka. Dan itulah sebabnya Tuhan memberikan tuntutan yang amat berat ketika sebuah keteledoran terjadi karena ucapannya. Beruntunglah Musa, karena kedigdayaan rohaninya, ia bertobat dan tetap melaksanakan tugas hingga bagian terakhirnya, yakni di tepi batas Tanah Perjanjian, karena perjalanan masuk Tanah Perjanjian sudah diserahkan kepada Yosua.

Namun apa yang dialami Musa dalam perkara tersebut memberikan pesan pelajaran yang amat penting bagi kita semua, Gereja dan Pasukan-Nya di Akhir Zaman. Bahwa menjadi pahit merupakan pilihan yang amat fatal karena akibatnya adalah tidak bisa masuk Kerajaan Sorga. Menjadi pahit lebih buruk daripada menjadi beku dan menjadi letih. Akibat dari kepahitan adalah mendendam dan tidak bisa mengampuni. Dan tidak mengampuni merupakan dosa terberat kedua setelah dosa menghujat Roh Tuhan. Orang yang menjadi pahit akan membela egonya lebih buruk daripada orang yang beku dan letih. Ia juga akan mengasihani dirinya jauh lebih kuat daripada orang yang beku dan yang letih. 

Kepahitan bukan sekedar menghentikan langkah kita untuk terus berjalan dalam rencana dan kehendak Tuhan, melainkan juga menghentikan anugerah dan kasih karunia Tuhan untuk masuk ke dalam hidup kita. Sedangkan tidak mau mengampuni merupakan bentuk pelanggaran yang amat berat karena mengingkari kemampuan anugerah Tuhan menanggulangi beban hati kita. Dan satu-satunya jalan untuk lepas dari kepahitan adalah dengan membuka diri terhadap kesembuhan yang dari Tuhan.

Di Akhir Zaman ini, nasib bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia makin menjadi perebutan antara Kerajaan Tuhan melalui Gereja-Nya dengan kerajaan Iblis dan Antikristusnya. Kita yang bertugas di garis terdepan menahan semaksimal mungkin kuasa Antikristus, hendaknya memperhatikan serta mengawasi hati dan pikiran kita sendiri dengan tuntunan Roh Kudus-Nya.

Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.



Menolak Menjadi Letih

"Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.' Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: 'Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.' ... Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: 'Apakah kerjamu di sini, hai Elia?' Jawabnya: 'Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.'" - 1 Raja-Raja 19:1-14

Tidakkah kelihatan aneh, Elia yang sebelumnya begitu gagah perkasa membantai habis ratusan nabi Baal kemudian ia menjadi begitu takut dan nyali menciut drastis hanya oleh seorang Izebel? Bahkan lebih konyol lagi karena Elia minta mati kepada Tuhan. Bukankah ini Elia yang sama, yang menutup langit selama tiga setengah tahun dari hujan, yang dengan doanya menurunkan api dari langit dengan dahsyatnya, yang membawa seluruh rakyat Israel kembali bertobat kepada Tuhan? Mengapa jiwa Elia menjadi berubah drastis dalam tempo yang relatif singkat hanya ancaman seorang ratu dari bangsa yang tak bersunat?

Bagaimana dengan Anda? Sudah berapa lama Anda mengikuti kegerakan Tuhan di penghujung Akhir Zaman ini? Apa yang telah Anda alami bersama Tuhan dalam sekian tahun terakhir ini? Dan jika ke depan Tuhan mengagendakan rencana-rencana yang lebih dahsyat lagi, akankah Anda tetap bersedia mengikuti ke manapun Ia kehendaki? Atau Anda telah menjadi letih karena merasa sudah berbuat begitu banyak bagi Kerajaan Tuhan, namun kenyataan yang Anda hadapi saat ini begitu meletihkan, merasa seakan-akan Tuhan tidak mau membela Anda dari kesulitan-kesulitan yang sedang Anda hadapi? Entah itu masalah keuangan yang tak pernah cukup, masalah pasangan atau keluarga yang jauh dari ekspektasi Anda maupun masalah dalam organisasi pelayanan.

Adakah hal-hal yang meletihkan Anda itu benar-benar membuat Anda menjadi letih, sampai-sampai Anda merasakan adanya keinginan yang kuat untuk berhenti dari semua agenda kegerakan Tuhan yang sudah Anda alami selama ini? Padahal nasib bangsa masih harus ditentukan dalam tahun-tahun yang paling menentukan ini karena waktunya telah tiba untuk berbagai keputusan dibuat oleh Tuhan, keputusan yang akan mengubah sejarah Indonesia untuk selamanya.

Jiwa Elia berubah drastis karena ia sempat merasa bahwa segala perkara ajaib yang ia saksikan adalah jerih payahnya, padahal semua itu adalah pekerjaan Roh Tuhan semata. Tuhan sudah berusaha menolong jiwanya dengan memberikan kekuatan dan mengajarkan hikmat-Nya melalui bunyi angin sepoi-sepoi itu, namun jiwanya telanjur rusak dan terjerumus dalam jebakan mengasihani diri sendiri dengan amat kuat. Elia merasa bahwa ia hanya seorang diri yang berjuang dan berhadapan dengan ancaman Izebel, padahal masih ada tujuh ribu orang Israel yang sepihak dengannya.

"Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia." 1 Raja-Raja 19:15-18

Setelah Tuhan mendapati jiwa Elia sudah tidak "tertolong", Tuhan memutuskan pengalihan tugas kepada tiga orang lainnya, yakni Hazael, Yehu dan Elisa dengan semua rincian teknis. Namun apa yang terjadi berikutnya? Tidak satupun dari rincian teknis tersebut dikerjakan Elia! Karena sampai terangkatnya ia ke Sorga, Elia tidak mengurapi satupun dari ketiga orang itu.

Di kemudian hari, Izebel memang tewas di tangan Yehu dan bangsa Israel "digembalakan" oleh Elisa, namun sesungguhnya bagian atau jatah Elia masih belum tuntas. Dan mungkin Anda bertanya-tanya sekarang, bagaimana mungkin Elia yang jatah masih tersisa bisa terangkat ke Sorga? Kenyataannya Elia masih ada dua kali tugas lagi setelahnya, yakni melalui Yohanes Pembaptis menjadi pembuka jalan bagi kedatangan Sang Mesias yang pertama dan di Masa Tribulasi nanti dengan menjadi Dua Saksi Elohim harus berhadapan langsung dengan Antikristus. Dengan demikian kita semua harus menyadari bahwa jika jatah tugas yang harus kita habiskan masih ada yang tersisa, maka akibatnya kita harus selesaikan yang tersisa tersebut di kesempatan paling akhir, yakni Masa Tribulasi yang dikuasai oleh Iblis melalui Antikristusnya.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Elohim bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Elohim. Sebab kami hanya menuliskan kepada kamu apa yang dapat kamu baca dan pahamkan. Dan aku harap, mudah-mudahan kamu akan memahaminya sepenuhnya, seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya dari kami, yaitu bahwa pada hari Tuhan Yesus kamu akan bermegah atas kami seperti kami juga akan bermegah atas kamu.

Saturday, May 10, 2014

Menolak Menjadi Beku

"Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: 'Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.' Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN." - Yunus 1:1-3

"Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya. Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: 'Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.'" - Yunus 3:10 - 4:3

Yunus diutus Tuhan ke Niniwe dan segera ia pergi menghindari tugas pengutusan itu. Tuhan memaksa Yunus untuk tetap melakukan tugasnya dengan cara yang demikian ajaib. Ketika akhirnya Yunus menyerah, ia menjalani tugas tersebut dengan hati terpaksa. Yunus mengenali sifat-sifat Tuannya, namun ia gagal membaca isi hati Tuannya itu. Jadi ketika Tuannya membatalkan rencana malapetaka atas Niniwe, ia menjadi marah kepada Tuannya bahkan lebih lagi, ia berharap mati daripada melihat sebuah bangsa diluputkan dari bahaya. Padahal sebelumnya ia berharap dihindarkan dari dunia orang mati.

Jika Tuhan menugaskan Anda kepada suatu (suku) bangsa atau sekedar kepada sekelompok orang supaya kepada mereka diberikan peringatan dan dikehendaki untuk bertobat serta berbalik kepada Tuhan, bagaimanakah Anda menyikapinya? Akankah hal itu merupakan tanggung jawab dan kehormatan yang datang kepada Anda? Atau Anda akan menganggap hal itu sebagai beban yang merepotkan, yang sebaiknya tidak perlu menghampiri Anda?

Sedangkan Anda telah menikmati belas kasihan dan kasih karunia Tuhan yang sedemikian rupa, bukankah sudah selayaknya kita berjuang supaya sebanyak mungkin orang bisa kita ajak dan berbagi anugerah yang sama sehingga bumi penuh kemuliaan-Nya? Baik itu dengan menginjil, bersaksi, bersyafaat dan segala macam tindakan kebaikan lainnya yang bisa kita lakukan demi terjadinya sebuah lawatan pertobatan bagi mereka yang dikasihi-Nya.

Atau kita akan bersikap seperti Yunus, yang dengan sengaja berpaling dari perintah Tuhan sehingga Tuhan harus memaksanya sedemikian rupa supaya Niniwe bisa memperoleh peringatan serta kesempatan untuk bertobat dan luput dari malapetaka yang sudah direncanakan Tuhan sendiri? Anda yang rutin tiap minggu ke gereja bahkan lebih dari sekali dalam seminggu, bagaimana Anda menyikapi keadaan orang-orang di sekitar Anda, atau bahkan keselamatan kota dan bangsa Anda sendiri? Tidakkah Anda rindu untuk mereka ikut diselamatkan dan masuk ke dalam Bahtera-Nya?

Anda mencari nafkah bagi keluarga Anda dan kota tempat Anda tinggal telah memberikan begitu banyak peluang dan keuntungan yang telah Anda nikmati sekeluarga. Dan ketika sebuah insiden terjadi atau sebuah ancaman secara nyata akan menimpa, apakah Anda akan tinggal diam atau bahkan melarikan diri? Atau Anda dengan rela dan berani berdiri di hadapan Tuhan dan kota Anda untuk supaya ada belas kasihan Tuhan berkenan meluputkan kota Anda dari ancaman yang lebih besar terjadi?

Sadarkah Anda bahwa masa-masa ini adalah masa-masa yang kritis baik bagi Indonesia maupun bangsa-bangsa lain di dunia? Perang dan rumor tentang perang, krisis dan rumor tentang krisis dan bencana dan rumor tentang bencana semakin banyak dan semakin nyata hingga kita tak bisa lagi menghindari semua kabarnya, adakah ini sekedar kebetulan? Atau memang hari-Nya sudah semakin dekat? 

"Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya. Berbahagialah (diberkatilah) ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat." - Wahyu 1:1-3

Dulu sebagian besar Gereja enggan untuk membahas Kitab Wahyu karena isinya yang terasa begitu abstrak dan multitafsir. Namun kini kita hidup pada sebuah masa yang ekstrim dan semakin ekstrim, Kitab Wahyu akan semakin dibaca, dibahas dan direnungkan. Namun tetap saja ada kaum pencemooh dari dalam Gereja yang berpikir dan bersikap begitu dangkal ketika berkenaan dengan Kitab Wahyu ini. Padahal secara jelas ada tertulis bahwa diberkatilah mereka yang membacakan, mendengarkan bahkan menuruti apa yang tertulis di dalam kitab tersebut. Tentu tujuannya adalah untuk menjadi bagian dari puncak penggenapan sedang terjadi.

Adakah Anda akan terus membeku dan tetap bersikap tidak peduli ketika segala sesuatunya sudah semakin jelas dan semakin genap? Kisah Yunus berakhir dengan ketidakjelasan, padahal jatahnya begitu besar. Yesus sebagai Anak Manusia hanya mengasosiasikan diri-Nya dengan tanda Yunus, namun kitabnya tidak lebih dari lima lembar. Kebekuan dan kebenaran dirinya sendiri akhirnya memotong takdirnya di tengah jalan, kiranya hal itu tidak terjadi kepada Pasukan-Nya di Akhir Zaman.

Luputkanlah aku, ya TUHAN, dengan tangan-Mu, dari orang-orang dunia ini yang bagiannya adalah dalam hidup ini; biarlah perut mereka dikenyangkan dengan apa yang Engkau simpan, sehingga anak-anak mereka menjadi puas, dan sisanya mereka tinggalkan untuk bayi-bayi mereka. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Wednesday, July 17, 2013

Jurnal SHRK Juli 2013 - Hari Ke-2

Sang Penjungkirbalik Dunia

Suatu kali Tuhan memperlihatkan dua jenis transportasi udara, yakni sebuah helikopter dan sebuah pengangkut kargo udara berukuran sangat besar (sejenis C-5, C-130 atau Antonov) yang bahkan mampu mengangkut truk tronton, tank atau kendaraan berat lainnya. Tuhan mengarahkan pikiran atas landasan yang diperlukan untuk kedua jenis kendaraan udara tersebut. Untuk sebuah helikopter, bahkan tidak diperlukan landasan karena hanya dengan mengambang di udara, helikopter tetap dapat menaikkan atau menurunkan muatannya.


C-5 Aircraft

Namun berbeda dengan pesawat jenis C-5 yang demikian besar dalam ukuran volume dan demikian kuat dalam ukuran tenaga, sehingga dibutuhkan landas pacu yang demikian kuat, besar dan sangat panjang untuk menerbangkan maupun mendaratkan pesawat tersebut. Dan itulah Rasul Paulus dengan segala sepak terjangnya yang menjungkirbalikkan dunia melalui Injil Kristus di awal Zaman Kasih Karunia.

"And last of all He appeared to me also, as to one prematurely and born dead [no better than an unperfected fetus among living men]. For I am the least [worthy] of the apostles, who am not fit or deserving to be called an apostle, because I once wronged and pursued and molested the church of God [oppressing it with cruelty and violence]. But by the grace (the unmerited favor and blessing) of God I am what I am, and His grace toward me was not [found to be] for nothing (fruitless and without effect). In fact, I worked harder than all of them [the apostles], though it was not really I, but the grace (the unmerited favor and blessing) of God which was with me." - 1 Corinthians 15:8-10 (Amplified Version)

"Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, yang prematur dan lahir mati (tidak lebih baik dari janin yang cacat di antara yang hidup). Karena aku yang paling tidak layak di antara para rasul, tidak cocok atau pantas disebut seorang rasul, karena aku bersalah dan mengejar dan menganiaya gereja Tuhan (menindas dengan kekejaman dan kekerasan). Namun karena anugerah (perkenanan dan berkat yang tidak sepantasnya) dari Tuhan, aku sebagaimana aku ada, dan anugerah-Nya bagiku tidak ditemukan sia-sia (tidak berbuah dan tanpa dampak). Faktanya, aku telah bekerja lebih keras daripada semua rasul, meskipun itu bukan benar-benar aku, melainkan anugerah Tuhan (perkenanan dan berkat yang tidak sepantasnya) yang menyertai aku." - 1 Korintus 15:8-10

Rasul Paulus mengawali pelayanannya dengan kondisi yang sedemikian rupa kontrasnya dengan hasil akhir pelayanannya. Kekontrasan itu bahkan tampak jelas dibandingkan dengan semua rasul lainnya, dan tidak mengherankan bahwa ia disebut yang terbaik kedua setelah Tuhan Yesus sendiri dan dua pertiga dari Perjanjian Baru ditulis oleh dirinya sendiri. Pertanyaannya, mengapa bisa demikian dahsyatnya? (insert kanan: Antonov Aircraft)

Salah satu keistimewaan Rasul Paulus adalah ia memiliki baik kesadaran akan dirinya sendiri maupun kesadaran akan Tuhan, kesadaran yang sedemikian rupa sehingga ia rela untuk dirinya dibangun dan dibentuk serta dididik sampai mampu sejalan dengan semua kehendak Kristus hingga perkara-perkara yang ekstrim sekalipun. Tidak ada tokoh lain yang lebih ekstrim daripada Rasul Paulus, namun di saat yang sama tetap seimbang dan sejalan dengan kehendak Kristus. Ini sama seperti pesawat C-5 yang memiliki ukuran ekstrim, untuk mengangkut bobot yang ekstrim namun tetap bisa lepas landas, terbang dan mendarat dengan seimbang.

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." - Filipi 3:8-11

Rasul Paulus membahasakan tulisannya dengan gaya yang ekstrim karena memang ia menghidupkan apa yang ia tuliskan dengan cara yang ekstrim pula. Keekstriman yang sejalan dengan kehendak Tuhan inilah yang menghasilkan daya jungkir balik yang dahsyat terhadap dunia di sekitarnya. Surat kepada jemaat di Filipi merupakan bagian akhir dari pelayanan dan kehidupannya, dan sampai saat itu ia bahkan memiliki kehausan yang ekstrim untuk mengenal Tuhan dan menjadi serupa dengan Kristus sampai ia dapat memperoleh kebangkitan yang sama dan Kristus menjadi sedemikian nyata dalam hidupnya.

Rasul Paulus tidak pernah memilih jalan yang mudah, jalan yang ditempuhnya adalah jalan kemustahilan dan keajaiban. Hal ini karena ia memiliki kedalaman pemahaman dan kesadaran yang tinggi bahwa anugerah yang telah ia terima harus ia kembalikan sesuai dengan kehendak Empunya anugerah tersebut. Apa yang Tuhan anggap berharga, seringkali dianggap sampah oleh dunia. Begitu juga apa yang dunia anggap berharga, Tuhan anggap sampah. Dan Rasul Paulus melihat sebagaimana Tuhan melihat. Bagaimana dengan kita, Generasi Penuntas dan Generasi Penakluk Dunia?

Wednesday, May 15, 2013

Jurnal SHRK Mei 2013 - Hari Ke-2

Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, terima atau tidak terima, saat ini Gereja Tuhan dan dunia sudah mulai memasuki (maksimal) 7 tahun terakhir sebelum Pengangkatan dan Masa Tribulasi Besar. Ini akan menjadi 7 tahun yang paling spektakuler, 7 tahun yang paling sensasional, 7 tahun yang paling dramatis dalam sejarah manusia. Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai Gereja dan sekaligus Mempelai-Nya mempersiapkan diri dan bersikap untuk menghadapi masa-masa paling menentukan ini?

Dibutuhkan sayap keintiman dan sayap keagungan (wing of intimacy and wing of greatness) untuk mampu terbang dan menaklukkan setiap tantangan dan berbagai perkara dalam 7 tahun ke depan. Tanpa keintiman yang selaras dengan hati Sang Raja, tidak akan pernah ada keagungan yang bisa dihasilkan untuk memenangkan pertempuran terbesar ini. Ini saatnya bagi Gereja dan Pasukan Akhir Zaman untuk bertindak sebagai imamat yang rajani, sebagai raja-raja-Nya, memerintah dengan otoritas, ketepatan, dan perkenanan sampai kemuliaan Tuhan nyata di seluruh bumi.

Belajar Dari Saul

"Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Elohim, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi." - 1 Samuel 10:5

Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan:

1. Bahwa ketika Tuhan mengurapi dan melantik Saul menjadi raja, hal itu BUKAN terjadi di Israel, melainkan di Gibea, Filistin, yang adalah daerah musuh. Dengan hal ini, Tuhan hendak menegaskan bahwa Gereja didaulat Tuhan bukan untuk menjadi penguasa yang pasif, yang hanya sekedar duduk-duduk atau menjalani hal-hal yang rutinitas. Gereja-Nya di Akhir Zaman ditakdirkan untuk menaklukkan dan menguasai dunia secara aktif dan agresif sesuai dengan kehendak-Nya .

2. Gambus, rebana, suling dan terutama kecapi merupakan lambang keintiman dalam hubungan dan penyembahan terhadap Sang Raja. Tanpa level keintiman tertentu, Gereja tidak akan mampu menyelesaikan destinynya dengan kuat.

3. Bahwa di Akhir Zaman, melalui keintiman yang sedemikian rupa, Gereja menjadi penakluk dan penguasa dengan unsur dan suara kenabian yang amat peka dan tajam, yang sesuai dengan apa yang hendak disampaikan-Nya. Ini bukan Gereja yang hidup dengan firman yang bersifat logos, namun yang kuat dengan rhema Roh Kudus-Nya. Unsur kenabian akan menjadikan Gereja berjalan dalam ketepatan sesuai dengan kehendak-Nya.

Namun Saul ternyata menjadi Gereja yang gagal sebab ia memilih untuk melihat dan mendengar apa yang tampak daripada melihat dan mendengar Tuhan yang nyata:

1. Saul menjadi khawatir ketika rakyat mulai meninggalkannya dalam penantian akan Samuel (1 Samuel 13:8-14), dan dengan sembrono dan bodoh ia melakukan apa yang bukan bagiannya, yakni mempersembahkan korban, yang seharusnya menjadi bagian Samuel.
2. Saul menjadi bebal dan berkhianat terhadap kehendak Elohim, ketika seharusnya ia menumpas habis semua orang Amalek, namun ia malah menangkap raja Agag hidup-hidup (1 Samuel 15).
3. Saul menjadi emosi ketika orang-orang membandingkan dia dengan Daud (1 Samuel 18:8).
4. Saul menjadi gemetar ketika melihat Goliat dan tentara Filistin (1 Samuel 28:5)

Saul sungguh merupakan gambaran kegagalan, kebebalan dan kebodohan Gereja yang mengerikan. Mentalitas seperti Saul tidak akan mungkin menjadikan Gereja sanggup menyelesaikan bagiannya di Akhir Zaman ini.

Kecapi, Keintiman & Kuasa

"Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: 'Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.'" - 1 Samuel 16:18

Alkitab mencatat bahwa keindahan Daud disebutkan pertama kali adalah pandai main kecapi, mendahului kemampuannya bermain pedang dan berperang. Mengapa bermain kecapi menjadi prioritas? Dalam bermain kecapi ada penyembahan kepada Tuhan, ada pencarian akan kehendak-Nya dan ada pengenalan akan Dia lebih lagi. Dan semua hal ini jauh lebih menentukan daripada kemampuan berperang, kepandaian bicara, perawakan yang elok bahkan penyertaan Tuhan. Kita harus mengerti bahwa penyertaan Tuhan BUKAN segalanya, melainkan perkenanan Tuhanlah yang paling menentukan.

"Berkatalah Elisa: 'Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu. Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi.' Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia." - 2 Raja-Raja 3:14-15

Bukan hanya Daud yang mengerti, Elisa pun melakukan hal yang sama. Ketika masalah datang, yang pertama kali dilakukan Elisa adalah mencari pemain kecapi (karena Elisa tidak dapat bermain kecapi seperti Daud). Namun Elisa mengerti bahwa keintiman yang hendak dibangun melalui permainan kecapi akan mendatangkan kekuasaan Tuhan. Dan inilah yang seharusnya dilakukan Gereja dan Pasukan-Nya, karena dalam 7 tahun ke depan semua pemikiran dan kekuatan manusiawi tidak akan ada yang mampu dipakai sampai ke garis akhir dengan kuat.

Pepatah mengatakan, "Kecapimu adalah kekuatanmu." Kecapi tidak selalu berupa pujian dan penyembahan. Ada orang yang kecapinya dengan membaca Alkitab hingga beberapa puluh pasal dalam sehari setiap harinya. Ada orang yang kecapinya dengan meluangkan waktu bicara dari hati ke hati dengan Tuhan secara pribadi. Ada pula yang kecapinya dengan berpuasa lebih banyak, yang lainnya dengan menyelidiki firman dan sebagainya. Intinya adalah untuk membawa dirinya makin selaras dengan kehendak Tuhan di setiap kesempatan.

Orang-orang yang sudah semakin intim dan mengerti akan kehendak serta isi hati Tuhan, bahkan hanya dengan isyarat-isyarat tertentu ia akan mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam setiap perkara. Namun konyolnya adalah ketika ada yang bersikap seperti Bileam, yang walaupun sudah mengerti jelas mau-Nya Tuhan, tapi masih bebal serta berani minta tanda tertentu yang sebenarnya tidak perlu karena memang sudah mengerti. Bileam menganggap kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan, dan ia melakukan negosiasi sedemikian rupa hingga Tuhan menjadi muak dan menyerahkan dirinya tewas di tangan musuh dan masuk Neraka.

Kecapi Nan Abadi

"Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus." - Wahyu 5:8

Tuhan di atas takhta-Nya dengan dikelilingi oleh keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua merupakan suatu pemandangan yang luar biasa, suatu kemuliaan yang tak terkatakan. Namun dalam keadaan yang sedemikian mulia, kecapi tetap selalu ada, keintiman merupakan paket yang terus melekat dan menyatu hingga pada kekekalan.

"Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Elohim." - Wahyu 15:2

Dan jelaslah bahwa keintiman bersama dengan Elohim adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan apapun serangan dari binatang Antikristus di Akhir Zaman ini. Sungguh bahwa tanpa keintiman dengan Tuhan, tidak ada kemenangan, kemuliaan dan keagungan yang bisa dilahirkan untuk menggenapi semua kehendak-Nya.

Wednesday, April 3, 2013

Jurnal SHRK April 2013 - Hari Ke-2

"Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: 'Ibu, mengapa engkau menangis?' Jawab Maria kepada mereka: 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.' Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: 'Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?' Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: 'Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.' Kata Yesus kepadanya: 'Maria!' Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: 'Rabuni!', artinya Guru." - Yohanes 20:11-16

Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus dengan Petrus dan Yohanes, dan ketika mendapati kubur tersebut kosong, kedua murid itu pulang. Namun Maria tetap mencari dan menanti di sana, ia sungguh hanya mengingini Yesus. Kerinduannya akan Yesus menggerakkan kedua malaikat untuk tampil dan berbicara langsung kepadanya. Tapi hati Maria sungguh hanya inginkan Yesus daripada siapapun juga karena kenyataannya, penampilan kedua malaikat tersebut tidak membuatnya takjub. Hanya ketika Tuhan Yesus menyapa namanya, Maria baru berhenti menangis.

Sadarkah kita bahwa Maria adalah orang pertama yang kepadanya Tuhan Yesus mau tampil, bahkan sebelum Ia menghadap kepada Bapa di Sorga? Padahal seharusnya Yesus harus menghadap kepada Bapa sebelum bertemu manusia manapun. Tapi Maria membuktikan, betapa cinta dan gelora cinta yang sungguh-sungguh luar biasa, mampu menunda hal itu dan Maria sungguh mendapatkan keistimewaan atau privilege yang luar biasa ini.

Sedangkan jika kita membandingkan dengan dua orang murid yang sedang berjalan ke Emaus (Lukas 24:13-31), betapa sedih hati-Nya ketika Yesus mendapati kedua murid itu "buta" setelah sekian jam perjalanan. Ia bahkan sempat memarahi kedua murid tersebut, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" - ayat 25-26. Pertanyaannya sekarang, yang manakah kita di hadapan-Nya? Adakah kita mengasihi-Nya dengan gelora cinta yang sedemikian rupa selama ini? Atau kita cenderung mengabaikan-Nya karena kelambanan hati kita bahkan ketika Ia sudah di depan mata?

Wednesday, February 6, 2013

Jurnal SHRK Februari 2013 - Hari Ke-2 Vol. 2

Gunung Karmel juga berbicara mengenai: 

2. Kutuk Diubah Menjadi Berkat - "Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita." - Yesaya 35:1-2. 

Bukit Karmel dekat dengan padang belantara dan lembah Saron. Ketika pada saatnya angin berhembus membawa serbuk bunga mawar Saron ke padang belantara sehingga terjadi pembenihan, yang pada waktunya padang belantara tersebut berubah menjadi taman bunga Saron. Pohon mawar Saron memiliki tinggi 2 hingga 3 meter dengan besar bunganya sebesar telapak tangan orang dewasa.

Mawar Saron berbicara hidup kita di dalam perkenan-Nya, angin yang berhembus ialah Roh Kudus, sedangkan padang belantara adalah jiwa-jiwa yang membutuh keselamatan, pertolongan dan damai sejahtera Tuhan. Kuncinya adalah mengikuti ke manapun yang Roh Tuhan kehendaki, untuk membawa perubahan, membawa pembalikan keadaan, mengubah kutuk menjadi berkat kapanpun Ia kehendaki.

3. Pertobatan Seluruh Bangsa Kepada Allah Jehovah - "Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: 'TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!'" - 1 Raja-Raja 18:38-39. Suatu hari dan tidak akan lama lagi, seluruh Indonesia akan sujud menyembah dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Raja atas negeri ini. Namun untuk menuju ke sana, semua korban bakaran, kayu, batu dan tanah bahkan air harus habis dengan api Tuhan.

Korban bakaran berbicara mengenai kehidupan yang dipersembahkan. Kayu berbicara tentang kedagingan. Batu berbicara mengenai kekerasan hati. Tanah berbicara mengenai segala sesuatu yang sia-sia. Dan air berbicara mengenai sesuatu yang amat berharga. Semua hal ini akan menjadi persembahan dan korban yang akan dihabiskan sampai hanya tinggal Allah saja yang menjadi pusat dari segalanya. Dan ini tidak akan lama lagi, sebab Indonesia akan segera memenuhi panggilan dan takdirnya sebagai Yusuf di Akhir Zaman bagi bangsa-bangsa lain, yang memberi makan seluruh dunia baik rohani maupun jasmani.

Karmel masih berbicara mengenai beberapa perkara lainnya, yang dapat kita pelajari sendiri dengan tuntunan Roh Kudus:

4. Ketika Daud terluput dari hutang darah dan memperoleh seorang istri yang begitu bijaksana, Abigail. Hal ini tercatat di Kitab Pertama Samuel pasal 25.

5. Setelah memperoleh hak kesulungan dari Elia, Elisa pergi menuju ke Karmel melalui Yerikho dan Betel. Tidak diceritakan alasan ia ke Karmel. Namun hal ini tidak lepas kaitannya dengan aksi Tuhan mengalahkan Baal dan memenangkan hati seluruh rakyat Israel melalui nabi Elia.

6. Perempuan Sunem yang memohon kepada Elisa supaya dihidupkan kembali putra tunggalnya, juga di gunung Karmel (2 Raja-Raja 4:25).

Takdir Yedija VS Takdir Salomo

Daud pernah mengambil Batsyeba dari Uria, dan anak pertama dari hubungan mereka mati dalam tujuh hari. Setelah Daud bertobat dari kejahatannya tersebut, ia menghampiri Batsyeba untuk menghibur dan bersetubuh, dan tentu kita tahu bahwa dari mereka lahirlah seorang raja yang termasyur bernama ... Salomo. Hampir semua orang akan menjawab "Salomo" daripada nama lainnya, yakni Yedija (2 Samuel 12:25) dan catatan Alkitab mengenai sejarah Salomo pun tidak menyebut nama Yedija sama sekali.

Tidak disebutkan dengan jelas alasan Daud tidak menamainya Yedija. Kuat dugaan mengatakan kemungkinan besar Daud "tidak tega" jika anaknya mengalami nasib yang sama dengan dirinya, yakni dicintai dan dicemburui Tuhan sedemikian rupa sehingga harus membayar sangat mahal untuk menjadi yang dikasihi dan diingini-Nya. Arti nama Yedija mirip dengan Daud, yakni yang dikasihi Allah Jehovah. Sedangkan nama Salomo, yang berasal dari kata "Shalom", memiliki arti damai sejahtera, kelimpahan, kemakmuran dan kekayaan yang baik.

Inti rhema firman kali ini hendak mengatakan, manakah yang akan kita pilih dalam hidup ini? Menjadi Yedija, yang melalui proses dan didikan Tuhan yang sedemikian rupa sampai Tuhan berkata, "Kepadamu, Aku berkenan." Atau menjadi Salomo, yang memiliki segala harta kekayaan jasmani dan jiwani, hikmat yang luar biasa, pujian dan kekaguman baik dari para sahabat maupun musuh-musuhnya, namun di akhir hidupnya, ia hampir terhilang.

Jurnal SHRK Februari 2013 - Hari Ke-2 Vol. 1

Gunung Karmel - arti namanya adalah tanah kebun, terletak di pantai Mediterania, sebelah utara Israel, tepat di bawah kota Haifa. Dalam kehidupan kaum beriman, gunung Karmel berbicara mengenai banyak perkara rohani yang sangat penting dan esensial, di antaranya:


1. Kehidupan yang memikat hati Tuhan"Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya." - Kidung Agung 7:5. Pertama-tama, coba renungkan adakah kehidupan kita memikat minat-Nya dan bahkan menawan hati-Nya? Apakah Tuhan begitu mengingini kita sedemikian rupa, bahkan Ia "tergila-gila" dengan kita? Seorang raja tertawan dalam kepang-kepang kepala nan indah bagai bukit Karmel. Raja ini tentulah Tuhan Yesus, sedangkan kepala yang membuat-Nya tertawan, tentu saja kepala kita yang adalah Gereja sebagai mempelai wanita-Nya.

Kepala atau isi kepala yang bagaimanakah yang mampu menawan hati Raja kita? Salah satunya adalah Filipi 4:8, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Jika hendak dijabarkan satu per satu secara rinci, terlalu banyak untuk dituliskan semuanya. Namun ada beberapa hal yang dapat kita simak. 

Suatu kali, Ev. Iin Tjipto akan berulang tahun yang ke-8 esok hari. Adiknya, Ev. Daniel telah menyiapkan kejutan berupa anak-anak katak (kecebong) dalam jumlah sangat banyak. Kejutan ini bocor sebelum waktunya karena Ev. Iin mendengar pembicaraan Ev. Daniel dengan pembatu rumah tangga mereka, "Mbak, kecebongnya sudah disiapkan semua untuk besok yah?" Padahal Iin kecil sangat membenci kecebong dan baginya sangat menjijikan, namun Daniel kecil tulus untuk memberi kejutan dan tidak mengerti bahwa kakaknya membenci kejutan itu. Mendengar hal itu, Iin kecil gelisah, namun Tuhan menasehati sambil mengancam untuk menerima serta membahagiakan hati adiknya. Iin kecil menerima dan mentaati apa yang dikatakan Tuhan, keesokan harinya acara kejutan berjalan baik sesuai yang diharapkan dan sampai dua minggu ke depan, mereka berdua "mengasuh" sambil mengamati metamorfosa kecebong hingga menjadi katak dewasa.

Sikap dan pemikiran tersebut adalah benar seperti yang dikehendaki Tuhan. Memilih untuk mengalah dan membahagiakan hati adiknya daripada mengecewakannya. Sikap dan pemikiran seperti ini adalah salah satu yang membuat hati-Nya tertawan.

Begitu pula dengan nilai kemuliaan. Sebuah batu disebut batu mulia, bukan karena mahal harganya karena harga yang mahal adalah akibat. Sedangkan penyebabnya adalah potongan-potongan yang membentuk batu permata tersebut. Sebuah batu permata yang terbaik memiliki ribuan proses pemotongan sehingga menjadi begitu indah. Kehidupan dan segala jalan pemikiran kita pun demikian, rela untuk dididik dengan berbagai cara pemotongan kedagingan kita hingga berkali-kali, untuk didapati indah, mulia dan berharga di mata-Nya.

Kerinduan untuk memiliki dan dimiliki oleh hati Raja juga berbicara mengenai kerelaan untuk dimiliki dengan cemburu-Nya, rela untuk dibedakan, dikhususkan dan dipisahkan dari yang lain hingga tercipta keintiman yang sedemikian rupa antara Tuhan dengan pribadi kita masing-masing.

Suatu kali yayasan yang dipimpin Ev. Iin Tjipto membutuhkan dana untuk suatu kebutuhan, dan ada seorang anak Tuhan yang baik hati membantu untuk mengadakan acara malam penggalangan dana. Sayangnya, acara itu diadakan tanpa bertanya lagi kepada Tuhan. Apalagi secara kebetulan acara tersebut bersamaan dengan SHRK. Dan inilah cara Tuhan "guyon" dengan orang yang dicemburui-Nya, yang hadir di acara tersebut hanya 5 orang dan Yesus hadir di atas mimbar. Kata-Nya sambil tersenyum, "Bagus, Nak. Kamu mau melihat bagaimana Aku guyon dengan caramu? Ini!" Dan Ia melanjutkan, "Kamu segera kotbah dan tidak perlu menunggu tambahan orang yang akan datang. Percayalah, hanya 5 orang ini dan kamu harus kotbah di depan kelimanya sekarang. Lima sebagai tanda anugerah-Ku cukup menyertaimu." Dan sampai acara selesai Tuhan Yesus tetap hadir di atas panggung.

Pada kesempatan yang lain, Ev. Iin ingin mengadakan acara apresiasi kepada para donatur yang selama ini mendukung. Acara inipun diadakan tanpa persetujuan-Nya. Hari itu cuaca cerah dan acara diadakan secara outdoor. Ketika jam 4 acara hendak dimulai, tiba-tiba langit menjadi gelap dalam sekejap dan begitu musik mulai dimaikan, gerimis mulai turun. Musiknya semakain naik, hujannya semakin kencang. Sedangkan kursi-kursi yang dikhususkan bagi para donatur, yang sebelumnya telah disusun di baris terdepan, semuanya kosong. Begitu diketahui, ternyata para donatur hadir, namun ketika mengisi buku tamu semuanya memakai nama lain sehingga tidak cocok dengan daftar undangan yang sudah disiapkan. Akibatnya semua tamu donatur duduk di barisan agak belakang. Inipun juga cara Tuhan guyon karena kecemburuan-Nya.

bersambung ...

Wednesday, January 16, 2013

Jurnal SHRK Januari 2013 - Hari Ke-2

13 Masa Kelaparan Yang Tercatat Di Alkitab

Tahun 2013 merupakan awal dari bencana kelaparan besar-besaran yang akan semakin memuncak di beberapa tahun ke depan seperti yang sudah dinubuatkan. Kelaparan kali ini bukan hanya bicara pangan, namun juga kelaparan di jiwa dan roh. Gereja dan umat pasukan-Nya diharapkan bersiap menghadapi peluang terbesar dan terakhir ini supaya penggenapan pemberitaan Injil terjadi sesuai dengan rencana-Nya. Berikut 13 masa kelaparan itu:

1. Kelaparan di zaman Abraham - "Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu." - Kejadian 12:10. Pada saat kelaparan datang, Abraham (Abram saat itu) harus pergi ke Mesir, yang adalah lambang dari dunia (sekuler). Ini berbicara bahwa kita sebagai Gereja harus keluar dari zona nyaman, masuk ke dalam dunia dan menaklukkannya. Momentum atau kairos Tuhan di 2013 ini akan membuka pintu bagi banyak anak-anak-Nya terutama mereka yang biasa hanya melayani pelayanan gerejawi untuk terjun ke dunia sekuler, menjadi terang bagi masyarakat di sekitarnya.

Ada cerita seorang pendeta di Jawa Tengah sekian puluh tahun lalu mengalami masa kelaparan dan kekurangan uang yang cukup parah. Pendeta ini berdoa dan Tuhan mengirimkan hamba-Nya untuk memberikan sejumlah modal untuk membuka usaha roti. Karena uang modal awal tidak seberapa, pendeta ini mulai membuat dan berjualan donat, yang hanya membutuhkan penggorengan (belum mampu membeli mesin pemanggang roti). Dalam 6 bulan, ia sudah mampu membeli 2 mesin pemanggang roti, sebuah rumah sederhana dan dalam 2 tahun, ia mendirikan gedung gerejanya, sekolah TK dan klinik bagi masyarakat sekitar. Karena kelaparan, akhirnya pendeta ini mampu menjadi besar dalam anugerah-Nya. Dan jika saat itu keadaan berjalan baik dan mulus, kemungkinan ia hanya menjadi pendeta saja tanpa punya kesempatan untuk menjadi besar dan berkat bagi banyak orang.

2. Kelaparan di zaman Ishak"Maka timbullah kelaparan di negeri itu. --Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin." - Kejadian 26:1. Kelaparan terjadi lagi, dan kali ini Ishak hendak mengikuti jejak ayahnya untuk pindah ke Mesir, namun Tuhan melarangnya dan menyuruh ia tetap diam di Gerar. Mengapa demikian? Ishak memiliki kelemahan seperti ayahnya, takut mati dibunuh karena paras elok istrinya. Namun hati dan mental Ishak tidak sekuat Abraham. Tuhan memilih Gerar karena saat itu moralitas masyarakat di Gerar sangat tinggi, cocok dengan keadaan Ishak.

Dalam hal ini, dibutuhkan KETEPATAN dan KETAATAN untuk mengikuti apa yang benar menurut Tuhan daripada menurut pemikiran kita sendiri. Bayangkan jika Ishak memaksa pergi ke Mesir, mungkin Ribka tidak akan pernah kembali kepadanya. Ada saatnya bahwa bagian kita tidak lagi mengikuti pemimpin atau pendahulu kita, melainkan berjalan hanya dengan Tuhan saja dan dengan demikian kita semakin mengenal hati-Nya.

Ada cerita seorang anak Tuhan, ia tinggal di Semarang, namun disuruh datang ke Jakarta, yang saat itu sedang memanas di tahun 1998 menjelang kerusuhan Mei. Seluruh keluarga dan temannya berusaha mencegahnya, namun firman Tuhan kuat berkata. Akhirnya beberapa minggu sebelum pecah puncak kerusuhan Mei, ia tiba di Jakarta dan bekerja kepada seorang majikan yang memiliki usaha beberapa showroom mobil bekas. Pada saat kekacauan terjadi di berbagai tempat di Jakarta, ia bisa melayani dan melindungi sebanyak orang dengan doa dan pengurapan atas petunjuk Tuhan. Begitu banyak mobil dan spare part mobil korban kerusuhan yang ia peroleh untuk diuangkan dan hanya dalam 2 bulan ia memiliki uang tunai sebanyak Rp 5.000.000.000,-. 

3. Kelaparan di zaman Yusuf"Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: 'Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?'" - Kejadia 41:38. Bencana kelaparan di 2013 ini tidak bisa lagi dihadapi dengan solusi-solusi manusiawi yang canggih sekalipun. Karena kemampuan manusiawi kita sangat terbatas menghadapi bencana-bencana dari si jahat. Namun Tuhan menginisiasi pelayanan berdasarkan Roh yang bersifat kenabian seperti Yusuf ini untuk bukan saja sekedar bertahan dari bencana, namun juga supaya menjangkau jiwa-jiwa dan membawa sebanyak mungkin orang kepada Tuhan. Dan ada di antara kita (mungkin tidak banyak) yang dalam beberapa waktu ini bahkan hingga 7 bulan ke depan mengalami tuaian secara finansial besar-besaran, apapun usaha yang dikerjakan menghasilkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Jika hal itu terjadi pada saudara-saudari, ketahuilah itu adalah rencana Tuhan untuk Anda semua menjadi Yusuf-Yusuf Akhir Zaman.

(Kemungkinan nubuatan ini untuk menghadapi krisis ekonomi global yang ke-7 yang bisa bertepatan dengan perayaan Rosh Hashanah 5774 di 4 September 2013, seperti yang sudah dinubuatkan oleh banyak hamba-Nya mengenai kejatuhan ekonomi Amerika Serikat di tahun ini).

4. Kelaparan di zaman Daud"Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut, lalu Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN. Berfirmanlah TUHAN: 'Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.'" - 2 Samuel 21:1. Saat Yosua merebut Tanah Perjanjian, tanpa bertanya kepada Tuhan, ia tertipu oleh akal orang Gibeon sehingga akhirnya tercapai kesepakatan perjanjian (covenant) antara Israel dengan Gibeon sehingga Gibeon memperoleh keselamatan dan hidup damai dengan bangsa Israel. Namun Saul melanggar perjanjian itu dengan membunuh orang-orang Gibeon.

Di Indonesia dan di berbagai belahan dunia lainnya, kasus bencana yang disebabkan oleh hutang darah sangatlah banyak. Kerawang - Bekasi adalah salah satunya, di mana telah terjadi pembantaian besar di masa transisi Orde Lama ke Orde Baru, dan akibatnya sangat banyak masalah yang timbul di sana. Begitu juga ada keluarga yang memiliki kutuk-kutuk tertentu karena pendahulu atau moyangnya memiliki ikatan dengan berbagai kuasa gelap di masa lalu. Untuk hal ini dibutuhkan tuntunan Roh Kudus secara mutlak untuk bisa mengatasi perkara ini.

5. Kelaparan di zaman Rut"Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing." - Rut 1:1. Elimelekh "kabur" ke tanah terkutuk Moab tanpa petunjuk Tuhan. Karena seharusnya ia tetap bertahan di Betlehem. Kepergian Elimelekh menjadikan dirinya tidak dapat dipakai Tuhan, namun ia masih bisa dimanfaatkan-Nya. Ia dan kedua putranya dibiarkan binasa dan hanya tinggal seorang janda Naomi. Kedua menantunya tidak perlu dihitung karena mereka dari bangsa terkutuk Moab dan dapat dengan mudah kembali ke kampung mereka untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Namun Rut memiliki iman dan kesetiaan yang luar biasa, ia mempertaruhkan segalanya demi sesuatu yang sudah pasti "kosong" karena saat itu Naomi benar-benar sebatang kara tanpa memiliki harta sama sekali. Rut berkeras mengikatkan diri dengan Allah Jehovah melalui Naomi dan hal ini membuat Tuhan jatuh hati.

Iman dan kesaksian Rut mengantarkan dirinya dari orang terkutuk menjadi moyang dari dua raja mulia, Daud dan Yesus Kristus. Akan ada panggilan bagi orang-orang tertentu yang akan mengalami pembalikkan keadaan di 2013 ini melalui berbagai bencana yang terjadi, dan panggilan-panggilan ini akan mengantarkan ke suatu level yang tak terduga.

Wednesday, December 5, 2012

Jurnal SHRK December 2012 - Hari Ke-2

Perhatikan benih pohon beringin (oak wood), ketika ditanam dan dipupuk untuk beberapa hari pertumbuhannya tidak seberapa. Namun dengan jangka waktu yang relatif cepat, pohon beringin yang memiliki tinggi 1 - 1,5 meter akan memiliki kedalaman akar yang lebih panjang daripada tinggi pohon tersebut dan panjang akar yang juga lebih panjang daripada tingginya. Dan ketika hendak dicabut, akarnya sudah terlalu luas dan dalam untuk dimusnahkan. Dan jika pohon ini ditanam dekat rumah atau teras, dalam waktu beberapa minggu, akarnya akan sangat merusak rumah tersebut. Demikian pula dengan dendam, kepahitan, kekecewaan, amarah dan sejenisnya. Jika semua itu tidak segera dibereskan sedini dan sesegera mungkin maka hal itu akan terus merusak kehidupan, iman dan harapan kita. Semua TANPA TERKECUALI, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki benih kejahatan seperti, semua kita memilikinya. Kita perlu memohon kepada Tuhan untuk Dia menyelidiki hati kita masing-masing dan menunjukkan kepada kita serta menanggulangi (benih) "beringin" yang ada di hati dan batin kita.

Pemberontakan Yang Fatal

"Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: 'Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?'" - Bilangan 16:1-3. Demikianlah Korah, Datan, Abiram, On dan 250 orang yang merasa benar, merasa terkenal serta merasa punya nama baik di antara kalangan bangsanya sehingga mereka merasa berhak menggulingkan Musa dan Harun.

Lebih fatal lagi, ketika Musa memanggil Datan dan Abiram untuk dicarikan solusi yang terbaik, maka respon mereka terhadap panggilan Musa, "Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang." - Bilangan 16:13-14. 

Sikap hati seperti itu jelas ada kepahitan dan kekecewaan, sama seperti sebagian besar kita semua pasukan-Nya. Yang merasa sudah berkorban sedemikian rupa, sudah kehabisan waktu, tenaga, bahkan uang, namun melihat kenyataan tidak ada yang berubah dan fakta yang masih terlalu jauh dari harapan yang dijanjikan. Dan ujung-ujungnya menuduh pemimpin-pemimpin kita sendiri dengan rasa penuh kecewa dan marah.

Dan lebih berbahaya lagi sikap seperti ini sangat mudah dan cepat "menular" tanpa dapat disadari sebelumnya. "Tetapi pada keesokan harinya bersungut-sungutlah segenap umat Israel kepada Musa dan Harun, kata mereka: 'Kamu telah membunuh umat TUHAN.' Ketika umat itu berkumpul melawan Musa dan Harun, dan mereka memalingkan mukanya ke arah Kemah Pertemuan, ... Dan mereka yang mati kena tulah itu ada empat belas ribu tujuh ratus orang banyaknya, belum terhitung orang-orang yang mati karena perkara Korah. Ketika Harun kembali kepada Musa di depan pintu Kemah Pertemuan, tulah itu telah berhenti." - Bilangan 16:41-50.

Perhatikan kasus cerita ini, Korah, Datan, Abiram dan gerombolannya meng"kudeta" Musa & Harun. Lalu Musa langsung menyerahkan kasus ini kepada Tuhan. Keesokan harinya Musa meminta semua rakyat menjauh dari Korah sehingga hukuman Tuhan tidak ikut menimpa rakyat. Karena ada jarak tertentu, maka ada "missing link" yang tidak diketahui oleh rakyat. Jadi ketika Korah dikubur hidup-hidup ke dalam dunia orang mati oleh Tuhan sendiri, rakyat menganggap itu sebagai ulah Musa yang sedang mengutuki secara verbal kepada Korah. Maka pada hari yang berikutnya rakyat memberontak kepada Musa dengan pemahaman yang sama sekali keliru.

Respon Musa

Pada titik peristiwa ini, Musa sudah dipastikan "kena penalti" untuk tidak beroleh masuk ke Tanah Perjanjian. Namun Musa tidak pernah mencondongkan hatinya kepada berkat, baginya hati Tuhan jauh lebih penting daripada janji-Nya. Pernah suatu ketika Tuhan sudah ingin meninggalkan bangsa yang tegar tengkuk itu, dan memberi jaminan supaya seorang malaikat diutus untuk menghalau semua musuh, Musa tetap menginginkan penyertaan Tuhan lebih dari segalanya, untuk berapapun lamanya waktu yang harus dihabiskan lagi di padang gurun. Itu sebabnya, Musa tetap memiliki sikap hati yang benar, ia tetap mengerjakan pertobatannya dengan benar. Kita harus memiliki sikap yang sama untuk dapat berjalan dari kemuliaan kepada kemuliaan, untuk dapat menari di atas gelombang, untuk menaklukkan dunia. "Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia." - ayat 4. "Tetapi sujudlah mereka berdua dan berkata: 'Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?'" - ayat 22. "Ketika ia berdiri di antara orang-orang mati dan orang-orang hidup, berhentilah tulah itu." - ayat 48. Musa tidak membela dirinya, namun masih tetap bersyafaat bagi "musuh"nya. 

Satu-satunya reaksi yang bisa kita lakukan ketika keadaan semakin tidak dapat kita pahami dan tidak menentu adalah semakin bersujud di hadapan-Nya. Ingatlah bahwa selalu ada Iblis yang berdiri di samping Tuhan karena mereka bersama-sama menantikan reaksi sikap hati kita. Kita tidak dapat melakukan hal lainnya lagi, meragukan Tuhan jelas bukan pilihan, karena keadaan yang ada hanya sementara seperti sebuah turbulensi ketika kita sedang terbang tinggi. Namun dengan bersujud, kita akan terus naik melampaui semuanya itu. 

"Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." - Daniel 3:16-18. Diberkati ataupun tidak diberkati, sikap hati mereka tetap sama. Dan sikap inilah yang harus lahir dari diri kita masing-masing.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.