Labels

Showing posts with label Garis Akhir. Show all posts
Showing posts with label Garis Akhir. Show all posts

Monday, June 4, 2018

Penyebab Seseorang Begitu Dibenci

Coba renungkan tentang Pak Jokowi. Bukankah beliau orang baik? Bukankah beliau orang yang berintegritas, cerdas, berlimpah jasa, bertabur prestasi dan tak terhitung pujian yang ditujukan kepada beliau. Belum lagi ada jutaan orang yang tertolong serta mungkin ada semilyar orang di dunia yang terinspirasi oleh beliau.

Lalu mengapa Pak Jokowi begitu dibenci?

Bandingkan dengan Mother Teresa yang juga menolong jutaan orang dan menginspirasi beberapa generasi, tapi siapa yang membenci beliau? Tidak ada.

Jadi kenapa ketika keduanya begitu luar biasa, hanya Pak Jokowi yang dibenci sedemikian rupa oleh sekian banyak orang, sedangkan Mother Teresa tidak?

Jawabannya, karena Pak Jokowi berkuasa dan memiliki otoritas. Dan kekuasaan memang berpotensi mengundang kebencian.

Coba renungkan perkataan Yesus berikut ini,

"Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."

"Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku."

Yesus tidak berkata bahwa kita akan dibenci karena iman kita, sekalipun iman kita ada mengalahkan dunia ini. Tapi kita akan dibenci karena Nama-Nya yang mulia itu. Mengapa? Karena Nama-Nya sangat berkuasa.

"Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!" - Filipi 2:9-11

Jadi kenapa karena Nama-Nya kita akan ikut dibenci? Karena kepada kita Yesus hendak berbagi kekuasaan-Nya dengan kita, itu sebabnya Beliau berkata,

"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21

Perhatikan dengan seksama, awalnya kebencian itu datang dari semua orang, namun di Akhir Zaman kebencian itu akan datang dari semua bangsa.

Di awal ada banyak yang bertahan sampai selesai, namun di Akhir Zaman justru akan banyak yang murtad dan saling menyerahkan.

Mengapa demikian? Menurut saya karena di Akhir Zaman, terutama pada Masa Tribulasi Besar, Tuhan sedang memilih orang-orang yang Beliau kehendaki untuk duduk memerintah bersama dengan-Nya.

"Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. ... Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya." Wahyu 20:4-6

Jadi bersiaplah untuk dibenci oleh semua orang bahkan oleh semua bangsa, karena kesudahan segala sesuatunya sudah tiba.

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.

Friday, February 20, 2015

Whiplash Dan Kabod

Tidak ada yang lebih menggembirakan dalam hidup seorang beriman selain ia mencapai greatness yang memang sudah Tuhan tetapkan dalam hidupnya, setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang dan mengerikan bersama dengan Tuhan. Dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, Paulus berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." Garis akhir, selesai, finish, itulah impian sekaligus target semua peserta pertandingan. Dan kita hidup memang dalam pertandingan iman lintas zaman.

Dan tidak ada hal yang lebih menakutkan dalam hidup seorang beriman selain ia mendapati bahwa keadaan di sekitarnya kelihatan buntu dan jiwanya pun dirasa telah begitu lelah disertai asa yang hampir putus. Berjalan namun menjadi lelah, berlari namun menjadi lesu dan tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Semakin banyak melangkah justru situasi terasa makin jauh dari solusi yang diharapkan.


Secara pribadi dan sebagai pecinta film, Tuhan seringkali memakai film-film yang saya tonton untuk berbicara kepada saya, untuk mengungkapkan sebuah pesan tertentu maupun membawa saya lebih lagi dalam pengenalan akan Dia. Dan di antara semua film yang ada, film Whiplash arahan sutradara Damien Chazelle merupakan film yang begitu istimewa bagi saya pribadi, khususnya untuk masa-masa penentuan seperti tahun ini. 

Jika membaca dari sinopsis singkat mengenai film ini di situs www.21cineplex.com, disebutkan:

"Andrew Neyman (Miles Teller) adalah seorang drummer muda berbakat. Keinginanannya menjadi sukses membawanya pada sebuah perjuangan yang tidak mudah. Untuk memperdalam ilmunya, Andrew belajar lagi di sebuah sekolah yang dipimpin oleh seorang profesor musik bernama Terence Fletcher (JK Simmons) yang memiliki metode mengajar yang keras. Tidak mudah bagi Andrew untuk melewati metode sang profesor. Berhasilkah Andrew?"

Bagi saya, Tuhan tidak pernah bicara begitu gamblang, rinci, terstruktur sekaligus intens sepanjang awal hingga akhir film seperti di film Whiplash ini. Dengan pertolongan Roh Kudus, saya dimampukan untuk memahami kehendak Yesus yang selama ini sering kali saya gagal paham. Dalam film tersebut dianalogikan bagaimana pertama kali kita bertemu Tuhan, bagaimana Tuhan memanggil kita, bagaimana Tuhan mendidik kita, bagaimana Tuhan memilih kita, bagaimana kita harus merespon dan mempersiapkan diri kita sampai akhirnya kita menyadari apa yang sesungguhnya Tuhan kejar, apa yang sesungguhnya Tuhan cari di dalam diri kita.

Pada akhir film tersebut, Tuhan Yesus hanya berkata begini, "Sekarang kamu sudah bisa paham akan apa yang selama ini Aku cari dari dirimu?"

Dan sungguh detik itu juga, masih di dalam bioskop sampai melihat credit title mulai berjalan, saya bertobat dan sungguh merasa malu yang amat sangat terhadap Tuhan karena selama ini saya masih mencoba memberontak dan berusaha mencari celah untuk menghindar terhadap proses didikan-Nya. Dalam sekejap saya mendapati betapa bodoh dan konyolnya diri saya selama ini berani mengeluh dan mencari berbagai alasan atas semua kebaikan kasih dan didikan-Nya buat saya.

Apa yang sesungguhnya Tuhan cari dari diri kita? Jawabannya hanya satu, yakni menjadi tempat atau wadah untuk menyatakan kemuliaan-Nya (baca: Maximum Kabod), sebab kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, namun karena dosa dan kedagingan kita maka hal itu membutuhkan proses yang bisa menjadi berkepanjangan. 

Dan apakah yang seringkali menghalangi proses Tuhan dalam diri kita? Jawabannya pun hanya satu, PRIDE (kebanggan diri sendiri), termasuk di dalamnya adalah kebenaran versi diri sendiri, selera pribadi, egoisme, agenda pribadi, pertimbangan-pertimbangan dan sebagainya. Bahkan hanya sekedar bertanya, "Kenapa begini, Tuhan?" itupun sudah bentuk kesombongan, sebab pada saat kita mengucap demikian sesungguhnya kita sudah mempertanyakan kehendak-Nya yang sempurna. Mempertanyakan itu sama dengan meragukan, karena kita merasa bahwa diri kita yang lebih benar daripada kehendak Tuhan.

Setelah film inipun Tuhan masih berfirman, "Ketika kamu merasa proses ini terlalu berat dan kamu terus menerus mengeluh sambil bertanya: kenapa begini atau kenapa begitu, Aku pastikan hal itu karena kamu belum bisa tuntas melepaskan pride kamu sendiri!"

Jadi saran saya, jika Anda memiliki waktu luang di weekend kali ini, ajaklah orang-orang yang Anda kasihi, nikmatilah Whiplash sebagai sarana hiburan sekaligus pembelajaran yang akan memperlengkapi hingga kemuliaan-Nya dinyatakan melalui kita. Tuhan memberkati. Amin.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Wednesday, February 29, 2012

Elia - Hamba Yang Tidak Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat Vol. 2

"Maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.' Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: 'Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.'" - 1 Raja-Raja 19:2-4

Elia baru saja menang mutlak atas 450 nabi Baal dan dengan fenomenal sikap imannya menyebabkan hujan lebat turun atas tanah Israel setelah 3,5 tahun tidak pernah turun hujan. Bahkan dengan kuasa Tuhan yang begitu perkasa, Elia dengan berjalan kaki mampu mendahului Ahab yang naik kereta kuda saat menuju Yizreel. Namun mengapa hanya dengan ancaman seorang Izebel maka Elia yang kelihatan hebat malah menjadi begitu ketakutan hingga mau menyelamatkan nyawanya?

Coba renungkan jika Anda adalah Elia saat itu, yang telah melakukan peperangan rohani di suatu kota dan menang besar. Namun setelah itu pemerintah daerah setempat malah memburu Anda bahkan hendak menghabisi dan membunuh Anda. Bagaimana Anda menyikapinya?

Setidaknya ada 3 kali Allah menolong dan menguatkan Elia yang menjadi lemah saat itu:
  • Pertama, Ia memberi makan dan minum sampai dua kali (jadi Elia dapat porsi ganda): "Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: 'Bangunlah, makanlah!' ... Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: 'Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.' Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb." - 1 Raja-Raja 19:5-8
  • Kedua, Allah mengujinya dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Dan pertanyaan itu dijawab dengan salah, "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Salahnya adalah Elia menjadi lengah, terfokus kepada masalah sehingga tidak mampu mempercayai anugerah Tuhan.
  • Ketiga, Allah membantu memberi petunjuk dengan angin yang besar, gunung yang terbelah, gempa yang dahsyat, api dan terakhir angin sepoi-sepoi basa. Tidak ada Allah di dalam semuanya itu KECUALI dalam angin sepoi-sepoi basa itu karena setelah angin itu berhembus Elia takut memandang Allah dengan menyelubungi wajahnya. Dari 5 fenomena itu, Tuhan seperti hendak berkata kepada Elia, "Tenanglah, Aku menyertaimu. Jangan takut, engkau tidak sendiri." Dan kenyataannya masih ada 7,000 orang Israel yang tidak ikut menyembah Baal (ayat 18), jadi bukan Elia sendirian.
  • Keempat, untuk kedua kalinya Allah menguji dengan pertanyaan yang sama setelah diberi petunjuk sebelumnya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" dan parahnya Elia tetap tidak "waras," terlalu terpaku dengan dirinya sendiri dengan menjawab Allah dengan jawaban yang sama.
Akhirnya Tuhan tidak bisa memakai Elia lebih lanjut. Elia sudah dianggap malfunction untuk meneruskan rencana Allah yang berikutnya. Bahkan ia disuruh kembali, alih-alih melanjutkan hingga ke garis akhirnya, "Firman TUHAN kepadanya: 'Pergilah, kembalilah ke jalanmu, ...'" - ayat 15a. Terakhir Elia hanya diberi beberapa tugas "kecil" untuk mengurapi beberapa calon raja dan memilih penerusnya guna menuntaskan apa yang telah Tuhan rencanakan untuk menjadi bagiannya, yaitu Hazael, Yehu dan Elisa. Jatah Elia sangat besar hingga Tuhan harus memilih 3 orang untuk menggantikan Elia seorang, "Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa." - ayat 17.

Arti nama-nama mereka adalah - Hazael artinya dia yang memandang kepada Allah; Yehu artinya Dialah Jehovah; dan Elisa artinya Allah adalah keselamatan. Tiga hal inilah yang hilang dari Elia, bahwa ia tidak lagi memandang kepada Allah, ia lupa bahwa Allah adalah Jehovah bahkan ia lupa Allah adalah sumber keselamatannya. Dapatkah kita memahami sekarang? Bahwa sia-sialah keselamatan yang kita terima jika kita tidak mengerjakannya dan jika kita mengerjakannya maka kerjakanlah terus hingga mencapai garis akhir yang Tuhan tetapkan. Jangan sisakan tugas, teruslah mengutamakan didikan Tuhan di atas segalanya, karena betapa Ia mengasihi orang-orang yang rela dididik oleh-Nya.

2012 masih ada 10 bulan lagi, dan masih banyak perkara dan kejutan bagi Gereja dan dunia maka "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." - Ibrani 12:14-17.

Elia - Hamba Yang Tidak Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat Vol. 1

4 Perkara Utama Kekristenan

"Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." - Kisah Para Rasul 20:24

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." - 2 Timotius 4:7

Ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus, maka secara otomatis orang tersebut memiliki jaminan keselamatan supaya ia bisa masuk ke dalam Sorga. Namun jaminan keselamatan itu bukan sesuatu yang dianugerahkan tanpa suatu tujuan. Karena selain perkara keselamatan, masih ada perkara TUGAS & PERTANDINGAN yang diwajibkan bagi kita semua untuk diselesaikan sampai garis akhir dengan kuat. Jadi tidak mungkin Allah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal hanya supaya kita bisa masuk Sorga tanpa kita menyelesaikan bagian kita, seperti yang telah difirmankan-Nya, "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." - 1 Petrus 1:18-19. Jadi jaminan keselamatan juga berkenaan dengan kehidupan saat ini di bumi selain kehidupan saat nanti di Sorga.

Tapi berapa banyak orang Kristen di dunia yang hidup ala kadarnya? Mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, hidup sebaik mungkin, berusaha sebisa mungkin tidak berbuat dosa, pergi sebisa mungkin tiap Minggu ke gereja, selebihnya berpikir dan memandang segala sesuatunya sama dengan cara dunia ini bekerja.

Tidak pernah mengerti bahwa paket keselamatan yang diterimanya itu, selain ada hak yang besar juga ada kewajiban dan tanggung jawab yang tidak sepele. Tidak pernah mengenal hati Tuhan. Tidak pernah mengejar kerinduan-Nya. Bahkan sekalipun beroleh keselamatan, tapi masih tidak tahu apa rencana Tuhan baginya di bumi.

Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat

Beberapa orang ada yang mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya dan dikerjakan untuk sekian waktu, namun tidak tuntas. Mereka mengerjakannya dengan mentalitas kompromi sedangkan Tuhan menuntut totalitas yang tanpa kompromi. Mereka mau berkat, mau jadi berkat tapi tidak mau menderita sama seperti Kristus menderita. Bagi mereka, yang penting "Tuhan mengerti keadaan saya" bukannya mencari dan mengerjakan kehendak-Nya yang sempurna. Jadi Tuhan yang harus menyesuaikan dengan mereka, bukannya meminta anugerah-Nya supaya bisa mengikuti ke mana pun Tuhan kehendaki. Biasanya ini golongan para pendeta, aktivis gereja, kelompok paduan suara, dan sejenisnya. Akan lebih konyol lagi ketika mereka berpulang ke Rumah Bapa, maka obituari mereka yang biasa dimuat di koran-koran dibubuhi kalimat dari Firman di Kitab 2 Timotius 4:7, padahal belum tentu jatah yang sudah Tuhan rencanakan dalam hidupnya telah diselesaikan semuanya. 

Mencapai garis akhir tidak selalu identik dengan mencapai garis kematian. Karena saat Rasul Paulus mencapai garis akhir, beliau masih hidup dan masih menuliskan surat kepada Timotius walau tidak lama setelah itu ia wafat sebagai martir. Dan hebatnya, ia mencapai garis akhir tersebut dengan kuat karena imannya tidak rontok mainkan terpelihara dengan baik. Karena jika di garis akhir kita lemah, maka sia-sialah semua yang telah dikerjakan, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." - Galatia 6:9. Tetap menjadi kuat supaya apa yang telah ditabur dapat dituai sebanyak-banyaknya. Bukankah karena pekerjaan, perjuangan dan pengorbanannya maka penyebaran Injil menjadi sedemikian dahsyat hingga ke bangsa-bangsa asing pada saat itu?

Rasul Paulus adalah teladan yang sempurna selain Tuhan Yesus:
  • Ia menerima keselamatan melalui perjumpaan dengan-Nya. (Get Salvation)
  • Ia mengerjakan keselamatannya dan melakukan tugas dan bertanding dengan baik. (Work The Salvation)
  • Ia memenangkan pertandingan dan mencapai garis akhir. (Finish)
  • Ia mencapainya dengan kuat dengan tetap terpelihara imannya. (Finish Strong)
Jadi Anugerah Kristus adalah paket lengkap yang terdiri dari 4 bagian yaitu Keselamatan, Tugas & Pertandingan, Pencapaian Garis Akhir dan Didapati Kuat Di Garis Akhir. Kita tidak bisa mengabaikan satupun di antara keempatnya. Apalagi hanya mau mengambil keselamatan namun menolak tiga lainnya, sebab itu sama saja menolak semuanya. Dan akhirnya tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Sekarang, bagaimana dengan Elia? Ia beriman, bergaul karib dengan Allah, melakukan perkara besar dengan mengalahkan 450 nabi Baal, bahkan terangkat ke Sorga (tidak mengalami kematian jasmani). Namun sesungguhnya Elia tidak menuntaskan tugasnya.

Bersambung ...

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.