Labels

Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts
Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts

Tuesday, March 17, 2015

Kristus - Sang Goel (גואל) Agung

Hukum Goel - The Kinsman Redemption (Yibbum)

"Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku. Kemudian para tua-tua kotanya haruslah memanggil orang itu dan berbicara dengan dia. Jika ia tetap berpendirian dengan mengatakan: Aku tidak suka mengambil dia sebagai isteri-- maka haruslah isteri saudaranya itu datang kepadanya di hadapan para tua-tua, menanggalkan kasut orang itu dari kakinya, meludahi mukanya sambil menyatakan: Beginilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya. Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang." - Ulangan 25:5-10

Pernikahan Levirat atau levirate marriage, yang dalam bahasa Ibrani disebut Yibbum, merupakan sebuah aturan hukum yang mengatur tegaknya sebuah garis keturunan yang harus dilanjutkan oleh seorang kerabat terdekat almarhum suami dari seorang janda yang tidak memiliki anak. Namun ketika kerabat yang berkewajiban melanjutkan tanggung jawab tersebut menolak untuk menebus janda saudaranya (menolak menjadi goel), maka diadakan sebuah prosesi yang disebut Halizah (atau Chalitzah - חליצה‎) di mana penebus yang menolak untuk menebus harus menanggalkan kasutnya dan bahkan rela diludahi oleh janda kerabatnya itu. Dan janda tersebut menjadi orang merdeka dan bebas menikah dengan pria manapun yang dia kehendaki.

Di sisi lain, ketika kita membaca bagian awal dari Kitab Injil Matius, maka kita akan mendapati sebuah daftar silsilah Kristus mulai dari Abraham hingga Yesus dan jumlahnya adalah tiga kali 14 orang, yakni 42 orang. Yang menarik adalah bahwa dari keempat puluh dua orang tersebut ada 3 persona yang berperan sebagai penebus (redeemer) atau penyelamat (saviour) atau dalam bahasa Ibrani disebut goel (גואל).

Tiga Goel Dalam Silsilah Yesus Kristus

Tokoh yang pertama menjadi seorang goel adalah Yehuda ben Yakub (Kejadian 38). Saat itu Yehuda telah kehilangan kedua putranya yakni Er dan Onan, yang juga adalah suami-suami dari Tamar. Namun karena dari kedua pernikahan tersebut belum juga melahirkan seorang putra penerus garis keturunan Yehuda, maka Yehuda berjanji untuk memberikan putra bungsunya, Syela, untuk menjadi suaminya sebagai pengganti kedua kakaknya. Sejalan dengan waktu, setelah Yehuda telah menjadi duda dan Syela menjadi dewasa, Tamar tidak mendapati penggenapan dari janji Yehuda untuk memberikan Syela sebagai suaminya. Sebab Yehuda takut jika putra satu-satunya itu juga ikut mati seperti kedua kakaknya.

Tamar menyadari bahwa keadaan Yehuda yang telah menjadi duda merupakan saat yang tepat untuk menjebak Yehuda menggenapi janjinya dengan menyamar sebagai perempuan jalang dan mendapati benih dari ayah mertuanya untuk menyambung keturunan ilahi sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Dari kejadian ini kita dapat memahami bahwa Tuhan melalui Tamar telah memaksa atau lebih tepatnya menjebak Yehuda menjadi seorang goel bagi menantunya dari kedua almarhum putranya.

"Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: 'Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati.' Lagi kata Naomi kepadanya: 'Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus (goel - גואל) kita.'" - Ruth 2:20

Boas merupakan tokoh kedua dari silsilah Yesus Kristus yang menjadi goel bagi Ruth untuk menggantikan anak Elimelekh, suami Naomi dan seorang kerabatnya yang lain. Berbeda dengan Yehuda yang sempat menghindar dan mengingkari janjinya untuk memberikan Syela kepada Tamar, justru Boas dengan penuh ketulusan dan cinta mengajukan diri sebagai goel di hadapan para pemuka dan tua-tua kota Bethlehem. Hari itu ada kerabat yang lebih dekat dengan Elimelekh yang lebih berkewajiban untuk menebus Ruth, lalu penebus (goel - גואל) itu berkata kepada Boas: "Engkau saja yang membelinya." Dan ditanggalkannyalah kasutnya. (Ruth 4:8).

Apa yang telah dilakukan Boas terhadap Ruth merupakan kejadian profetik yang digenapi Roh Tuhan sendiri untuk menjadi goel bagi keturunan Daud dari sisi Yusuf, suami Miryam (Maria). Hal ini disebabkan oleh kesalahan Konya (Yekhonya), raja terakhir Yehuda sebelum dibuang ke Babel. Dan karena kesalahannya itu Tuhan mengutuknya dan seluruh keturunannya sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi memperanakkan seorang raja.

"Adakah Konya ini suatu benda yang hina, yang akan dipecahkan orang, atau suatu periuk yang tidak disukai orang? Mengapakah ia dicampakkan dan dilemparkan ke negeri yang tidak dikenalnya? Hai negeri, negeri, negeri! Dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman TUHAN: 'Catatlah orang ini sebagai orang yang tak punya anak, sebagai laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorangpun dari keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud dan memerintah kembali di Yehuda.'" - Yeremia 22:28-30

Karena ketetapan Tuhan ini maka Yusuf orang Nazaret yang adalah suami Miryam sesungguhnya merupakan seorang raja Yehuda yang telah kehilangan kapasitasnya untuk memperanakkan Yesus yang disebut Kristus. Itu sebabnya pada bagian terakhir dari silsilah Kristus TIDAK disebutkan bahwa Yusuf memperanakkan Yesus, melainkan disebut Yusuf suami Miryam, yang melahirkan Yesus (Matius 1:16).

Sedangkan Miryam dapat melahirkan Yesus juga merupakan garis keturunan Daud, namun tidak mengalami kutukan yang sama sebab ia bukan dari keturunan Konya (Yekhonya), juga bukan dari garis Salomo ben Daud, melainkan dari garis Natan ben Daud (Lukas 3:23-38). Maka goel ke-3 dari silsilah Kristus tak lain adalah Roh Tuhan sendiri dengan benih supranatural-Nya dan sel telur (natural) Miryam melahirkan Yesus Kristus ke dalam dunia.

Kebenaran penggenapan ini diteguhkan oleh Yohanes Pembaptis ketika ia bersaksi tentang Yesus Kristus, "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." - Markus 1:7-8. Dan sekarang kita mengerti bahwa ketika Yohanes Pembaptis menyinggung akan kasut-Nya Yesus, itu semata-mata bukan soal kerendahan hati yang klise, namun karena ada latar belakang legalitas ilahi yang menyatakan bahwa Yesus Kristus merupakan Sang Penebus, Juru Selamat dan Sang Goel Agung kita.

Menjadi Goel Namun Tetap Diludahi

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit." - Lukas 18:31-33

Kerelaan Kristus Yesus bukan hanya turun dari Sorga dan datang ke dunia untuk menjadi goel bagi umat pilihan-Nya, ketika orang-orang Yahudi itu meludahi-Nya, maka hari itu bangsa Israel mendeklarasikan bahwa mereka untuk menolak dinikahi oleh Sang Mesias bahkan menyesah dan membunuh-Nya. Itu sebabnya mulai sejak saat itu, Injil berhak diberitakan kepada bangsa-bangsa lain (goyim) dan Tuhan mencari para Mempelai Kudus-Nya dari Gereja-Nya untuk dijemput pada Hari Pengangkatan (Rapture) dan dibawa masuk ke dalam Pesta Pernikahan Anak Domba.

Teladan kerelaan Kristus yang sedemikian rupa menginspirasi kita, yang telah menjadi goel bagi dunia namun tetap rela direndahkan hingga titik terendah ini merupakan standar Mempelai Kristus yang sesungguhnya. Hari-hari dan tahun-tahun terakhir ini, yakni menjelang puncak penggenapan segala sesuatunya memang akan semakin berat, namun demikian Tuhan menghendaki kita untuk terus menjadi tawanan Roh-Nya dalam segala kerelaan dan kelemahlembutan, dalam segala keterbatasan dan bahkan keputusaasan, biarlah hati kita justru semakin haus akan semua didikan-Nya.

Sebagai ganti bahwa kamu mendapat malu dua kali lipat, dan sebagai ganti noda dan ludah yang menjadi bagianmu, kamu akan mendapat warisan dua kali lipat di negerimu dan sukacita abadi akan menjadi kepunyaanmu. Sebab Aku, TUHAN, mencintai hukum, dan membenci perampasan dan kecurangan; Aku akan memberi upahmu dengan tepat, dan akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu.

Wednesday, August 3, 2011

Jurnal SHRK Agustus 2011 - Hari ke-2

Yesus Kristus Sebagai Anak Daud

Bahwa Yusuf (suami Maria) disebut anak Daud oleh malaikat Tuhan sendiri (Matius 1:20). Hal ini untuk menunjukkan secara fisik bahwa Yusuf dan pada akhirnya Yesus Kristus adalah keturunan dari garis yang dijanjikan Allah akan adanya Mesias.

Tidak semua orang percaya, apalagi memahami perkara bahwa Yesus Kristus adalah anak Daud. Kisah di Matius 13:53-58 menjelaskan alasan yang amat ironis ketika Tuhan Yesus ditolak di tempat asal-Nya. Ketika banyak orang asing begitu menantikan-Nya dengan penuh harap, di tempat asal-Nya banyak yang kecewa sehingga menolak Dia. Bagi mereka, Yesus Kristus tidak lebih daripada anak seorang tukang kayu. Dan karena yang dipercaya hanya identitas-Nya sebagai anak tukang kayu, sebagaimana itu juga terjadi sesuai dengan iman mereka.

Namun di tempat lain, ada orang-orang yang diinspirasi oleh Roh Allah sendiri akan identitas Yesus Kristus sebagai anak Daud. Sekian pasal kemudian setelah penolakan di Nazaret, dua orang buta di dekat kota Yerikho menerima inspirasi Roh Allah tersebut dengan berteriak-teriak, "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" - Matius 20:29-34. Sebagai balasan-Nya, Yesus menanggapi mereka dengan berkata, "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Dan permintaan mereka supaya dapat melihat dikabulkan dalam belas kasihan-Nya.

Perhatikan tanggapan Yesus, setelah kedua orang buta tersebut menyebutnya sebagai anak Daud. Tidakkah Yesus menanggapi sesuai dengan iman mereka, menanggapi sebagai orang yang sangat berkuasa dan berkemampuan / memiliki otoritas yang sangat kuat. Sebab kalimat "tantangan" yang dilontarkan Yesus hanya bisa disampaikan jika orang tersebut mampu melakukan "segalanya". Atau pendek kata, kedua orang buta tersebut memperlakukan Yesus sebagai Raja, dan BUKAN sebagai anak tukang kayu. Karena identitas Daud disebut untuk menekankan identitasnya sebagai raja, seperti yang diakui firman Tuhan sendiri. Cermatilah silsilah Yesus Kristus di Kitab Injil Matius pasal 1. Dari Abraham hingga Yusuf, suami Maria, ada sederet nama-nama raja Yehuda & Israel. Namun hanya Daud yang gelar rajanya disebutkan. "Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria." - Matius 1:6.

Persamaan Daud dengan Yesus Kristus

Seseorang disebut anaknya seseorang yang lain biasanya karena ada kemiripan yang nampak antara dia dengan orang tuanya. Jika anaknya dikenal buruk, tentu orang akan bertanya siapakah ayahnya. Dan ketika orang mengetahui bahwa ternyata ayahnya mantan gembong kejahatan, maka pahamlah orang-orang alasan di balik semuanya itu. Begitu juga sebaliknya.

Namun cobalah renungkan, apa yang dihitung dari Yesus Kristus sehingga Ia disebut anak Daud. Bagaimana seorang Mesias disebut anak Daud? Apa yang dihitung sama di antara keduanya? Cermati beberapa kalimat ini dalam Mazmur pasal 22:
  • Ayat 2 dan 3 - "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang."
  • Ayat 8 dan 9 - "Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: 'Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?'"
  • Ayat 17 - 19 - "Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku."
Untuk kapankah Mazmur Daud ini ada? Bukankah Mazmur ini menubuatkan apa dan bagaimana penderitaan Kristus di Golgota? Jadi apakah persamaan yang diperhitungkan antara Daud dengan Yesus Kristus? "Golgota" Daudlah yang dihitung sebagai identitas Kristus sebagai anak Daud. Bahkan dalam ayat 15 dikatakan, "Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku." Gambaran hati seperti lilin (jenis wax, bukan candle) yang mudah luluh hanya dengan terkena sedikit panas, adalah gambaran hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Dan belas kasihan inilah yang mendatang demonstrasi kuasa Allah yang dahsyat dalam berbagai perkara.

Yesus sebagai Raja yang penuh otoritas memperoleh segala kemuliaan secara utuh ketika Ia telah melalui semua Golgota secara total. Pola yang sama bagi kita yang memiliki destiny sebagai generasi penakluk dunia, juga harus mengalami Golgota kita hingga genap sesuai dengan kehendaknya. Sama seperti pengakuan rasul Paulus, "Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus." - Galatia 6:17. Demikian juga kita harus memiliki tanda-tanda sah melalui Golgota kita masing-masing supaya terhisap dalam pohon kehidupan Yesus Kristus.

Tuesday, August 2, 2011

Jurnal SHRK Agustus 2011 - Hari ke-1

"Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli ..." - Lukas 3:23
Kata "memulai" diambil dari kata dasar dalam bahasa Yunani yaitu "arco", yang artinya:
  1. To be the first: bahwa Tuhan yang mengawali, yang memulai, yang memprakarsai, yang turun pertama ke arena untuk melakukan pekerjaan Bapa.
  2. To be the chief: bahwa Tuhan yang memimpin dari awal hingga akhir penggenapan semua janji-Nya.
  3. To rule: bahwa Tuhan Yesus yang memerintah dan berdaulat penuh atas segalanya.
Siapakah Yesus itu?

"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham." - Matius 1:1. Sejak ayat terakhir dari pasal terakhir dari Kitab Maleakhi dalam Perjanjian Lama menuju Matius 1:1 terdapat jeda sepanjang lebih dari 400 tahun. Dan ketika Perjanjian Baru mulai ditulis, yang pertama kali disinggung adalah silsilah dari Tuhan Yesus Kristus. Kata "silsilah" yang senada dengan kata "roda kehidupan" dalam Yakobus 3:6 memiliki arti Pohon Keluarga (Family Tree); artinya sebagaimana pohon kehidupan seseorang telah ada di masa lalunya akan mempengaruhi roda kehidupan orang tersebut sepanjang hidupnya kelak. Dengan kata lain Tuhan memulai sebuah covenant baru dengan cara "menghisapkan" kita semua ke dalam pohon kehidupan-Nya itu sendiri.

Kristus dan Kita adalah Anak-Anak Abraham

"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." - Galatia 3:29. Hampir dari kita semua sangat hafal ayat ini, namun Tuhan menghendaki kita juga percaya dan mengalaminya. Bahwa kita memang terhisap dalam pohon kehidupan-Nya, menjadi milik-Nya lewat pengorbanan-Nya, menjadi sah sebagai keturunan Abraham secara rohani dan memiliki hak untuk menerima janji Allah.

"Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman." - Roma 4:13. Dengan demikian, semua hanya soal IMAN. Bahwa keturunan Abraham yang memperoleh janji ada dua golongan; golongan jasmani (Orang Yahudi secara lahiriah) dan golongan rohani (Orang Yahudi yang terhisap dalam pohon kehidupan Yesus Kristus). 

"Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi." - Yohanes 4:22. Keselamatan kita datang dari bangsa Yahudi. Tuhan Yesus juga lahir dari bangsa Yahudi. Semua penulis Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah orang-orang Yahudi. Bahkan beberapa nabi dalam ajaran agama Islam juga adalah orang-orang Yahudi. Kenyataan-kenyataan ini dapat kita simpulkan bahwa bangsa Yahudi menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan kekristenan kita.

"Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka." - Roma 15:27. Sejak Injil diberitakan ke seluruh dunia, itu artinya bangsa-bangsa di dunia menerima harta (warisan / benih) rohani orang Yahudi dan akibatnya orang Yahudi menerima harta (kekayaan) duniawi dari bangsa-bangsa di dunia. Inilah hukum yang berlaku. 

Pintu Kairos Yang Terbuka Di Tel Aviv

"Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?" - 1 Korintus 9:11. Diceritakan kembali pertemuan dengan 3 orang Yahudi dalam 3 kali kesempatan, pada tahun 2009 di Semarang oleh Cohen University, tahun 2010 di Yerusalem dengan seorang Yahudi Mesianik bernama Yosef & 2011 ini dengan sekelompok Yahudi yang salah satunya memberikan koin Shikal di Tembok Besar - China. Orang tersebut berasal dari Karmiel, sebuah kota di sebelah utara Israel.

Selanjutnya dalam anugerah dan Kairos Tuhan, di hadapan orang-orang Yahudi Mesianik dari berbagai negara, yang telah memiliki rumah di Israel melalui sebuah konferensi yang diprakarsai oleh Morris Cerullo di Tel Aviv 12 November 2011 ini. Kesempatan di Tel Aviv nanti adalah cara yang Tuhan sediakan, berdasarkan hukum yang berlaku di atas, untuk memberkati secara rohani, bangsa Israel dan dunia sehingga kita dapat memperoleh berkat-berkat harta kekayaan duniawi untuk menggenapi rencana kegerakan Tuhan atas Indonesia & dunia. Selanjutnya dengan segala kelimpahan yang akan diperoleh, kita mempersiapkan kedatangan yang ke-2 Raja di atas segala raja.

Tuesday, May 3, 2011

Jurnal SHRK Mei 2011 - Hari ke-1

"Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir. " - Hakim-Hakim 10:1-2

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah kita merenung sejenak, terpikir untuk tujuan apa kita ada di dunia ini? Bagaimana kita memulai, mengisi dan mengakhiri kehidupan kita nanti? Adakah kita harus menjadi seorang pribadi yang begitu besar dan terkenal supaya kita disebut sukses? Supaya kita disebut "menjadi berkat bagi banyak orang"? Dan jika kita tidak menjadi besar dan terkenal seperti orang-orang besar yang kita ketahui, pantaskah kita mengomentari hidup kita dengan berkata, "Memang begini TAKDIR saya." Dan ketika kita melihat orang lain tiba-tiba menjadi sangat sukses dan terkenal dan menjadi berkat besar bagi begitu banyak orang, kita juga mengomentari dengan berkata, "Memang TAKDIRnya menjadi orang besar."

Alkitab menceritakan beraneka ragam kisah dari beraneka ragam tokoh, tokoh-tokoh besar seperti Nuh, Abraham, Daud, Salomo, nabi Elia, nabi Yesaya dan juga tokoh-tokoh yang mungkin sebagian kita menganggapnya tokoh kecil (semacam pelengkap), atau lebih ironis lagi jika ada yang menyebut mereka "figuran". Mengapa disebut demikian? Salah satu alasannya adalah karena tidak banyak tulisan di Alkitab yang menerangkan tentang tokoh tersebut, sehingga tidak banyak yang bisa diceritakan. Karena sesuatu biasanya menjadi semakin besar jika semakin dibicarakan / diceritakan. Jadi, ada tokoh-tokoh besar, ada tokoh-tokoh kecil, ada nabi-nabi besar, ada nabi-nabi kecil, ada hakim-hakim besar, ada hakim-hakim kecil. Dari sekian yang kecil, kita tetap bisa menarik pelajaran berharga karena semua yang tertulis di Alkitab bukan tanpa maksud Tuhan bagi kita.

Disebutlah seorang hakim "kecil" bernama Tola, hanya dua ayat Alkitab menceritakan tentang tokoh ini. Nama Tola artinya ulat. Dapatkah kita bayangkan, Alkitab hanya menceritakan sebanyak dua ayat tentang seorang tokoh yang "sekecil" ulat? Sekilas kita bisa terjebak dengan menganggap remeh, namun dalam dua ayat tersebut tidak diceritakan sesuatu yang buruk tentang Tola. Bahkan sebaliknya, ada catatan yang sangat baik tentang Tola. Bahwa Tola bangkit menyelematkan Israel, memerintah cukup lama yaitu 23 tahun, bertugas di luar kampung halamannya dan kemudian wafat dan dikuburkan di daerah tugasnya.

Dan inilah yang menarik dari Tola, arti namanya ulat itu bukanlah ulat yang biasa kita ketahui. Ulat Tola adalah ulat yang unik karena ketika ditekan tubuhnya, ulat ini hancur dan mengeluarkan cairan (semacam darah) berwarna ungu. Dan cairan ungu inilah yang menjadi bahan pewarna pakaian kerajaan yang memang biasanya berwarna ungu. Terlebih lagi warna ungu memang mengandung arti kerajaan atau raja atau pemerintahan yang berdaulat. Jadi tokoh yang bernama Tola memberi teladan bagaimana kita sebagai orang percaya ketika mengalami masalah dan tekanan, adakah memberikan warna Kerajaaan Allah kepada dunia? Atau sebaliknya memberikan warna busuk yang menyengat seperti ulat-ulat lainnya?

Bahkan Daud dalam Mazmurnya mengakui bahwa dirinya adalah ulat dan bukan manusia:

"Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" - Mazmur 22:7-9

Ayat-ayat di atas secara tersurat menceritakan tentang apa yang dialami Daud. Namun secara tersirat, siapakah yang dilihat orang-orang banyak ketika Ia menyerah, Ia ditunggu banyak orang untuk ditolong Tuhan saat penderitaan-Nya karena semua orang mengetahui bahwa perkenanan Tuhan ada pada-Nya? Ya, secara tersirat ayat-ayat ini menceritakan bahkan menubuatkan tentang pribadi Yesus Kristus sewaktu di dunia, terutama ketika Beliau disalibkan dan ditantang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Jalan merendah bahkan menggambarkan dirinya sebagai ulat dan bukan manusia, tidak menjadikan takdir Daud menjadi buruk. Renungkanlah bagaimana takdir Kristus yang besar di kayu salib dimulai dari gambaran orang yang "sekecil" ulat, dari sesuatu yang dipandang hina oleh banyak orang, namun memberikan warna Kerajaan Allah bagi dunia.

Lalu bagaimanakah caranya kita yang "sekecil" ulat memenuhi akhir takdir hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya? Perhatikan bahwa Tola bangkit bukan kebetulan, namun memang untuk suatu rencana dan tugas yang Tuhan tetapkan. Kata "bangkit" mengandung arti perencanaan yang harus digenapi dan tugas yang harus dituntaskan. Ia orang Ishakar, namun bertugas di Samir, daerah orang Efraim. Ini menandakan orang yang keluar dari zona kenyamanannya. Orang yang berani bayar harga dan rela mentaati apapun yang Tuhan kehendaki, di manapun, kapanpun dan bagaimanapun resikonya. Bahkan karena pengabdiannya terhadap tugas yang diberikan, setelah wafat beliau dikebumikan BUKAN di kampung halamannya, melainkan di daerah tugasnya. Hal ini berbeda dengan para hakim lainnya dan sungguh-sungguh menggambarkan bagaimana beliau menuntaskan tugasnya hingga tuntas. Dan walaupun hanya diceritakan dalam dua ayat, namun Tola memerintah cukup lama, 23 tahun. Hakim-hakim lain yang dianggap lebih besar daripada Tola, seperti Simson hanya 20 tahun, Yefta yang juga diceritakan lebih banyak ayat bahkan hanya memerintah 6 tahun.

Jadi tidak peduli apakah kita dianggap besar maupun kecil, selama kita setia dan rela membayar harga sampai tuntas segala sesuatunya, maka takdir kita adalah Kristus itu sendiri.

Sunday, May 1, 2011

Surga Dalam Sekilas Perenungan

Muda foya-foya. Tua kaya raya. Mati masuk surga. - Pepatah Ngawur

Saudara-saudari yang terkasih, istilah dalam ketiga kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi hampir semua orang. Dan siapakah di antara kita yang secara daging tidak menginginkan ketiga perkara tersebut terjadi dalam hidup kita. Tentu terutama ketika kita mati, kita berharap ke surga, bukan ke neraka. Namun apakah benar cara hidup seperti demikian bisa mengantar seseorang ke surga. Dan jika benar bisa tinggal di surga dengan catatan hidup yang foya-foya, hedonis dan serba semau gue, apa akibatnya?

Berikut ini ada sebuah kisah menarik, patut dijadikan bahan renungan. Konon suatu ketika, ada seorang yang telah tervonis di neraka mengajukan keberatan atas akibat yang diterimanya dengan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan beberapa orang lain yang dikenalnya namun mereka berada di surga. Intinya orang ini merasa hidupnya lebih baik dari beberapa orang yang dikenalnya, tidak pernah melakukan berbagai kejahatan sejahat orang-orang lain tersebut, namun heran mengapa dirinya di neraka.

Kira-kira protesnya,"Tuhan, Engkau sungguh tidak adil! Apa kesalahanku dan kejahatanku sehingga aku harus menanggung penderitaan yang sedemikian berat. Sementara beberapa dari mereka yang kukenal dahulu melakukan banyak perkara yang lebih kejam daripadaku, namun mereka bisa ada di surga?"

Setelah beberapa waktu melakukan protes sepanjang waktu, Tuhan dalam segala kemurahan-Nya mau meladeni penghuni neraka tersebut, "Malaikat! Bawa orang itu kemari, supaya dia tahu bahwa Aku benar-benar Allah yang adil!"

Dan seketika itu juga malaikat membawa penghuni neraka tersebut ke surga. Ada rasa kelegaan dan kenyamanan yang luar biasa ketika tiba di surga. Namun hal itu hanya untuk beberapa saat, karena tidak memiliki tudung jaminan maka seketika itu juga seluruh dosa dan kelemahannya terlihat secara transparan di seluruh surga. Bagaimana hatinya dan catatan semasa hidupnya menjadi begitu jelas bagi siapa saja yang ada di surga.

Dan pada saat itu juga orang tersebut menyadari betapa adilnya Tuhan, demikian pengakuannya, "Tuhan, sekarang aku sadar betapa adilnya Engkau. Begitu buruk dan hina diriku dan sepantasnya aku berada di tempat yang pojok dan gelap di neraka. Tolong kembalikan aku ke sana, yah Tuhan."

Pernah suatu ketika salah seorang hamba-Nya dari India bertatap muka dengan Tuhan Yesus, dan pada kesempatan itu, Tuhan Yesus menerangkan bahwa sesungguhnya Beliau sangat welcome dengan siapa pun di surga, namun tidak banyak yang sanggup menghadapi segala kekudusan dan kemuliaan-Nya. Itu sebabnya neraka adalah tempat yang paling pantas bagi mereka yang tidak sejalan dengan-Nya. Tuhan begitu kudus sempurna, dan kita begitu hina, jika bukan karena anugerah, takkan ada yang mampu berdiri di hadapan-Nya.

Monday, April 11, 2011

Hak Kesulungan Dan Warisan Ilahi

Bahan Renungan: Maleakhi 1:1-5; Matius 1:1-17

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Tuhan dalam kesempatan-Nya menegaskan kasih-Nya kepada bangsa Israel untuk kesekian kalinya. Namun di dalam kitab Maleakhi pasal 1, Tuhan mengungkapkan kasih-Nya tersebut dengan cara yang sangat unik dan aneh. Dikatakan bahwa Tuhan mengasihi Israel (keturunan Yakub) dengan membenci Esau, bahkan sedemikian kebencian-Nya hingga sekalipun Esau membangun kembali reruntuhannya, Tuhan akan merobohkannya terus dan murka-Nya tidak akan surut terhadap Esau.

Sekarang saudara bayangkan jika ada dua orang kakak beradik, sebut saja Andi dan Budi. Dan suatu ketika ayahnya berkata kepada Budi, "Budi anakku, ayah sayang kepadamu." Dan sebagai balasannya, Budi bertanya, "Apa buktinya ayah menasihi Budi?" Kemudian ayahnya menjawab, "Ayah mengasihi kamu dengan membenci Andi, kakakmu. Dan apapun yang dia kerjakan akan ayah hancurkan."

Tidakkah akan lebih wajar jika sang ayah menjawab kepada Budi, "Ayah akan mendukung semua usahamu, nak! Apapun yang kamu minta akan ayah kabulkan semua." Tanpa menyinggung keberadaan Andi, yang walaupun mungkin saat itu sang ayah sangat membencinya.

Pertanyaannya, mengapa Tuhan sedemikian membenci Esau? Hingga dalam mengungkapkan kasih-Nya kepada Yakub (Israel), yang dijadikan bukti adalah dengan "diumbar" segala kebencian dan "dendam"-Nya terhadap Esau. Apakah pelanggaran yang Esau lakukan sedemikian fatal di mata Tuhan? Hingga bagi Esau seperti tidak ada ampun.

Pertanyaan kedua, apakah hak kesulungan itu? Hingga sedemikian Yakub dikasihi-Nya dan Esau sedemikian dibenci-Nya. Sadarkah kita bahwa hak kesulungan bukan saja berkat materi melainkan Kristus itu sendiri. Jadi memandang rendah hak kesulungan sama dengan menolak Krsitus. Karena di dalam Kristuslah segala janji Tuhan, segalam impian Tuhan dan segala cita-cita Tuhan genap dan jadi sempurna. Kristus bukan saja jaminan keselamatan orang percaya untuk terhindar dari hukuman neraka, melainkan juga jaminan untuk mengembalikan manusia sebagai rupa dan gambar Allah untuk berkuasa dan memerintah dunia bersama dengan Kerajaan-Nya. Hak kesulungan itulah yang menjadikan Injil diberitakan ke seluruh bangsa, membuat kita memuridkan dan membaptiskan seluruh bangsa, memampukan kita mengusir setan-setan dalam nama-Nya, berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, bahkan sekalipun minum racun maut tidak akan celaka.

Adakah kita memandang keselamatan kita di dalam Kristus sebagai sesuatu yang sedemikian berharga dan istimewa dengan mengisi keselamatan kita seperti yang Tuhan kehendaki? Pada akhirnya yang tinggal hanyalah Kerajaan-Nya dan Kehendak-Nya, bukan kerajaan dan kehendaki manusiawi kita.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.