Labels

Showing posts with label Ishak. Show all posts
Showing posts with label Ishak. Show all posts

Friday, July 29, 2011

Abraham Dan 30 Raja Keturunannya

"Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma. Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya." - Kejadian 25:13-16

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Ketika angka 1 melambangkan Tuhan / Yang terutama, angka 3 melambangkan Tritunggal, angka 8 melambangkan awal yang baru, maka angka 12 melambangkan suatu kegenapan dari sebuah sistem atau administrasi atau siklus kehidupan yang diberkati atau direstui oleh Tuhan sendiri. Kita dapat melihat adanya 12 bulan dalam setahun dalam berbagai almanak (Masehi, Yahudi, Islam, Tiongkok, dll), 12 pintu gerbang, 12 suku baik Israel maupun Ismael. Pola 12 ini juga ditiru Iblis dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai tujuan jahatnya. Sebagai contoh, untuk merangsang manusia melanggar aturan mengenai masa depan dengan jalan ramalan lewat 12 zodiak, 12 shio dan sebagainya.

Abraham, bapa orang beriman, dari padanya lahir total 30 suku besar atau dapat juga disebut 30 raja-raja besar. Enam raja pertama berasal dari seorang gundik bernama Ketura, dua belas raja berikutnya berasal dari keturunan Ismael, dan dua belas raja terakhir dari Ishak & Israel. Sebagai catatan, 30 suku atau 30 raja ini menggambarkan 30 makhluk di takhta Allah, yaitu 24 tua-tua dan (awalnya) 6 makhluk - serupa singa (karnivora / binatang buas), serupa lembu (herbivora / ternak), serupa manusia, serupa rajawali (unggas), serupa ular (reptil / makhluk yang merayap di bumi), yang mewakili hewan laut. Pada masa bumi baru dan Yerusalem baru dua makhluk sudah tidak ada, yaitu reptil & hewan laut.

Sekarang mari kita cermati. Bahwa Abraham membawa kehidupan 30 suku / raja melalui 3 orang wanita berbeda:
  • Dari Ketura, anak-anak Abraham langsung menjadi raja-raja di bumi.
  • Dari Hagar, cucu-cucu Abraham, anak-anak Ismael menjadi raja-raja.
  • Dan terakhir dari Sara, cicit-cicit Abraham, cucu-cucu Ishak dan anak-anak Yakub menjadi raja-raja yang menaklukkan dunia.
Dapatkah kita melihat perbedaan yang sedemikian jelas ini? Mengapa yang disebut umat pilihan memiliki "proses" paling panjang dan lama? Mengapa mereka yang sekedar umat "yang diberkati" memiliki proses lebih pendek? Bahkan dari Ketura, yang "proses"nya paling cepat, langsung muncul raja-raja itu.

Keturunan-keturunan dari Ketura, lahir dari kedagingan Abraham yang masih kuat, kemampuan ilahi yang di"manfaat"kan untuk nafsu pribadi. Walau Sara saat itu telah wafat, namun kejadian dengan Ketura bukan atas kehendak Tuhan yang sempurna. Sementara keturunan-keturunan dari Hagar, lahir dari jiwa yang lemah. Saat itu Abraham lebih berpihak kepada logika Sara daripada kesetiaan janji Tuhan. Namun keturunan-keturunan dari Sara, lahir dari iman dan roh yang taat, itupun ketika tubuh (daging) Abraham telah mati pucuk. Dan bahkan Sara telah mati haid.

Dengan gambaran tersebut, Tuhan hendak mengatakan bahwa segala sesuatu yang lahir dari daging sungguh-sungguh cepat namun mematikan. Sementara yang lahir dari roh yang kuat membutuhkan semua kematian daging, amat lama namun menghidupkan. Baik dari Ketura maupun dari Hagar, raja-raja tersebut lahir dengan mudah. Namun raja-raja dari pada Sara, lahir melalui berbagai proses yang amat menyakitkan daging. Proses-proses tersebut adalah:
  • Kematian daging Abraham dan Sara ketika mereka menjadi tua, mati pucuk & mati haid.
  • Kematian di gunung Moria, ketika Abraham mempersembahkan Ishak. Dan Ishak rela dikorbankan.
  • Kematian jiwa, bahwa Ishak tidak memilih perempuan-perempuan Kanaan bahkan dari saudara-saudara sepupunya pun tidak.
  • Kematian jiwa lainnya, bahwa Yakub pun tidak memilih baik perempuan-perempuan Kanaan, saudara-saudara dari pamannya, Ismael, juga dari sepupu-sepupunya yang dari Ketura. Serta proses didikan Tuhan baik di dalam rumah Laban maupun setelah keluar dari rumah Laban.
  • Kematian jiwa atas orang-orang yang amat dikasihinya, bahwa Yakub harus merelakan Rahel, Yusuf dan Benyamin.
Dan akhirnya Yakub dihormati Firaun yang saat itu adalah penguasa dunia bahkan dengan mata kepalanya sendiri, Yakub menyaksikan Yusuf menjadi penguasa Mesir yang paling dihormati.

Dengan Hagar dan Ketura ada banyak kekuatan manusia yang masih bercampur, namun dari Sara semua kekuatan manusia dilucuti sampai habis, bukan saja untuk menerima janji Tuhan, namun juga menerima penggenapan atas janji tersebut. Dengan demikian, kita juga perlu menyadari bahwa ketika Tuhan menjanjikan sesuatu kepada kita, itulah saatnya bagi kita untuk bersiap menerima proses "pelucutan" tersebut. Karena janji yang diberikan atas kehendak-Nya, maka sudah seharusnya kita makin mencari kehendak dan kebenaran-Nya, bukan mencari "tambahan"nya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang dunia (Matius 6:33-34).

TANPA GOLGOTA YANG SEJATI, TAKKAN ADA MAHKOTA YANG ABADI

Thursday, July 14, 2011

Jurnal SHRK Juli 2011 - Hari ke-3

Bahan renungan: Keluaran 2:23-25; Kejadian 28:1-5; 29:31-30:24

Berkat Yakub

"Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham." - Pesan & ucapan berkat Ishak kepada Yakub

Abraham harus menunggu puluhan tahun hanya untuk mendapatkan seorang Ishak. Sementara Ishak hanya memperanakkan Yakub dan Esau dari Rahel, itupun hanya Yakub yang terpilih. Namun dari Yakub akan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Kita harus menyadari bahwa ucapan pesan dan berkat dari Ishak kepada Yakub tersebut di atas bukan sebuah ucapan bisa, seperti kita sering mengucapkan "Tuhan memberkati" kepada banyak orang. Yakub memiliki sejarah dan cerita dengan Ishak sejak lahirnya. Yakub bahkan sempat bergaul dengan Abraham  selama kurang lebih 10 tahun awal hidupnya sebelum Abraham wafat. Jadi ketika Ishak menyebut perkara berkat yang untuk Abraham, Yakub sudah sangat memahaminya sejak dulu bahkan kemungkinan besar dari sumbernya langsung, Abraham. Itu sebabnya hanya Yakub yang mengikuti jejak Abraham juga Ishak dalam hal mengambil jodoh / pasangan hidup dari kampung halamannya di Padan Aram, sementara Esau bahkan mengambil 2 orang perempuan Kanaan.

Mengenai keluarga Yakub, bahwa Yakub hanya menyukai Rahel dan sejak awal pertemuan mereka Yakub hanya memikirkan Rahel. Dan Yakub tak pernah menduga bahwa pada akhirnya dia memiliki juga Lea dan kedua budak istri-istrinya. Semua hal ini terjadi memang atas penentuan Tuhan. Destiny Yakub adalah melahirkan sekumpulan bangsa-bangsa. Coba renungkan, jika Laban tidak pernah menipu Yakub, dan di awal 7 tahun pertama Rahel sudah diberikan sehingga Yakub tidak "terjebak" dalam kekisruhan rumah tangga yang disebabkan oleh persaingan kedua istrinya. Dari hanya seorang Rahel, tidak mungkin lahir 12 tunas suku-suku Israel. Itu sebabnya Yakub harus memiliki Lea, Bilha dan Zilpa. Sebab berkat yang Yakub miliki sampai Tuhan menyebut diri-Nya Allah Yakub mengandung Kuasa Berkat Pembalikkan Keadaan, Kuasa Berkat Percepatan dan Kuasa Berkat Pelipatgandaan. Perhatikan Firman berikut ini:

"Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel, oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat buah dada dan kandungan. Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya." - Ucapan pesan dan berkat Yakub kepada Yusuf

Yusuf dianggap masalah oleh saudara-saudaranya, sehingga ketika Yakub telah wafat, saudara-saudara menjadi takut kalau-kalau Yusuf balas dendam. Namun Yusuf malah menghibur hati saudara-saudaranya, menggantikan peran ayahnya secara tidak langsung dengan berkata bahwa walau saudara-saudara telah mereka-rekakan yang jahat terhadap dirinya namun Allah MEMBALIKKAN KEADAAN Yusuf dengan mereka-rekan yang baik.

Bahan Renungan: Kejadian 25:19-34; 29:4-11

Kelahiran dan kehadiran Yakub sejak awal timbul karena KEINGINAN Ribka untuk memperoleh keturunan. Dan sepanjang hidupnya, Yakub dipenuhi berbagai KEINGINAN yang sedemikian rupa sehingga ia diberkati dan menjadi berkat. Mulai dari mengingini hak kesulungan, berkat kesulungan, mengingini Rahel, kekayaan dari pada Laban, lolos dari kejaran Esau hingga berjumpa lagi dengan Yusuf di Mesir. Dengan demikian Tuhan hendak berkata bahwa berkat Allah Yakub kita terima dari keinginan-keinginan dalam hati kita. Masalahnya, apa-apa saja yang kita inginkan ituah yang menentukan destiny kita di depan. Jika Abraham dan Ishak melihat segala janji Tuhan "dari kejauhan", namun Yakub melihat bahkan terlibat secara langsung bagaimana Tuhan menggenapi janji-Nya. Tidakkah Yusuf menjadi "penguasa dunia" hari itu dan Yakub wafat dalam dekapan Yusuf? Yakub melihat secara nyata bahwa keturunannya menjadi penakluk dunia zaman itu.

Dengan demikian Tuhan hendak berkata, ketika berbicara mengenai Allah Abraham, Tuhan berbicara tentang janji dan perjanjian-Nya. Ketika berbicara mengenai Allah Ishak, Tuhan berbicara tentang kesetiaan dan hati hamba. Namun ketika berbicara mengenai Allah Yakub, Tuhan berbicara bagaimana janji-Nya menjadi daging dan impian / keinginan menjadi nyata.

Berbicara tentang Yakub adalah berbicara mengenai hal yang paling kompleks dibanding dengan Abraham dan Ishak karena dibutuhkan ketepatan, kejelian, mampu membaca dan memanfaatkan bukan saja kesempatan namun juga kairos Tuhan dengan benar. Karena kesempatan bisa datang dua kali, namun kairos Tuhan hanya satu kali. Juga dibutuhkan keahlian, keberanian dan sebagainya. Jadi berbicara mengenai berkat Allah Yakub dibutuhkan semua selengkap senjata Allah untuk menaklukkan dunia.

Renungkanlah bagaimana Yakub "menjebak" Esau untuk memperoleh hak kesulungan, bagaimana strategi Yakub untuk membuat kesan pertama yang sedemikian rupa ketika pertama kali berjumpa dengan Rahel, bagaimana memperoleh kekayaan yang sedemikian besar dari pada Laban dalam tempo yang sedemikian singkat (hasil kerja dari 6 tahun terakhirnya melebihi hasil kerja dari 14 tahun pertama, bahkan melebihi semua kekayaan Laban), dan bagaimana meluluhkan hati Esau yang sedemikian dendam.

Namun dari semua senjata yang Yakub miliki, yang terampuh dan tidak dapat ditandingi adalah gelora CINTA. Keinginan-keinginan yang ada dalam hidup Yakub sejak awal, semuanya ada karena gelora cinta yang tak terpadamkan dan yang paling dicintai Yakub adalah semua janji dan perjanjian-Nya, semua warisan dan kuasa yang "hanya" dijanjikan, namun dikejar dengan sedemikian rupa, hingga mempertaruhkan nyawanya, hingga akhirnya menjadi daging dan menjadi nyata dalam hidupnya. Cinta tak pernah gagal, itu sebabnya Esau memperoleh semua kekayaan fisik dari pada Ishak, namun dari Yakub dilahirkan bangsa ISRAEL.

Wednesday, July 13, 2011

Jurnal SHRK Juli 2011 - Hari ke-2

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. - Kejadian 21:12

Kepadanya (Abraham) telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." - Ibrani 11:18

Berkat Ishak

Anak-anak Abraham ada banyak, namun HANYA Ishak yang SAH sebagai pewaris janji Allah dengan Abraham. Yang dari padanya sebuah bangsa yang besar dilahirkan dan disebut KETURUNAN ABRAHAM.

"Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya." - Kejadian 17:17-19

Menarik sekali bahwa Allah menamakan anak Abraham dengan nama Ishak dikarenakan reaksi Abraham yang secara sembunyi tertawa sambil berkata dalam hati. Allah sungguh-sungguh menjadikan apa yang ada di dalam hati Abraham kepada kenyataan (daging). Bukan saja soal waktu, namun juga nama Ishak ada karena tawa Abraham itu. Tuhan sungguh sedang membawa apa yang timbul dan kerinduan di hati kita untuk menjadi kenyataan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Namun untuk kita mampu menerima yang besar dari Tuhan, ada hal yang sangat fundamental, yang sama sekali tidak bisa diabaikan, untuk kita memiliki sikap hati yang sedemikian rupa, supaya apapun yang terjadi, naik maupun turun, kita tetap memiliki kesetiaan untuk tidak menjadi kecewa ataupun meninggalkan Tuhan.

Tetap Berjalan Bersama Dengan Tuhan

Coba renungkan kisah pengorbanan Ishak oleh Abraham di tanah Moria (Kejadian 22:6-14). Baik Abraham dan Ishak berjalan bersama-sama. Sesaat Ishak bertanya, "Di mana anak domba untuk korban bakaran?" Abraham menjawab dengan jawaban yang sungguh tidak masuk akal, "Allah yang akan menyediakan." Bagi dunia, jawaban Abraham sama sekali konyol, dan seperti tidak menjawab apa yang ditanyakan Ishak. Namun perhatikan reaksi Ishak! Ia TETAP berjalan bersama-sama.

Dan kita tahu setelahnya Ishak sedia untuk dikorbankan TANPA memberontak, bahkan sama sekali TIDAK MEMPERTANYAKAN tindakan Abraham. Usia Ishak hari itu masih muda, sementara Abraham sudah sangat tua, namun Ishak bahkan tidak memberikan perlawanan secara fisik. Jadi baik Abraham maupun Ishak sama-sama berkorban. Padahal sejak awal Allah menjanjikan sesuatu yang kekal kepada mereka. Namun  baik Abraham maupun Ishak tidak mencoba untuk mengerti, apalagi mempertanyakan keputusan Tuhan. Mereka mentaati sampai tuntas sesuai dengan yang diperintahkan.

Sekarang renungkanlah ini, renungkanlah kehidupan perjalanan kerohanian kita dengan Tuhan. Renungkan apa yang sudah kita doakan, perkatakan, taburkan, tarikan, bahkan yang kita yakini. Semua kepengikutan kita kepada Tuhan, bahwa kita juga berharap semua berkat dan janji-Nya menjadi nyata di dalam hidup kita. Kelimpahan, kejayaan dan masa keemasan kita berharap kita nikmati semuanya sedemikian rupa. Namun sesungguhnya, DESTINASI PERTAMA dari perjalanan kita bersama Tuhan adalah GOLGOTA.

Golgota Bagi Semua Pahlawan Iman

Tidakkah kita memperhatikan pola Tuhan dalam setiap rencana-Nya terhadap masing-masing hamba-Nya. Bahwa Abraham & Ishak harus menghadapi Gunung Moria. Yakub bahkan Benyamin pun harus direlakannya. Yusuf juga harus menjalani perbudakan selama belasan tahun. Daud juga harus menghadapi kejaran raja Saul bertahun-tahun. Dan bahkan Tuhan Yesus harus disiksa dan dikorbankan hingga mati di atas kayu salib di Golgota.

Sadarilah bahwa tidak mungkin kita memasuki puncak kejayaan dan keemasan TANPA Golgota. Bapa tidak mungkin mempermuliakan Tuhan Yesus tanpa Dia menjadi korban bagi kita semua. Nama di atas segala nama pun diberikan karena Tuhan Yesus terus berjalan bersama dengan kehendak Bapa yang sempurna. Sungguh bahwa kerinduan kita untuk mengalami kemuliaan bersamanya harus didahului dengan kerelaan mati bersama-Nya supaya kita dapat bangkit bersama-Nya.

Coba renungkan hal berikut ini; bagaimana jika seandainya lawan kita itu sebenarnya bukan musuh kita? Kita telah melakukan peperangan terhadap pihak Si Jahat, dan Iblis dengan segala muslihatnya memang musuh kita. Namun siapakah lawan kita yang sejati? Tepat! Jika kita menjawab bahwa diri kita sendirilah lawan terberat kita. Semua kedagingan kita, kedagingan kita, kemalasan kita, kebenaran diri sendiri, kemanjaan kita dan seterusnya. Semua hal inilah yang memaksa Tuhan "menyeret" kita untuk "mampir" di Golgota, sebelum segala kekayaan dan kemulian-Nya menjadi nyata.

Bahwa Rut adalah orang Moab, namun memperoleh tempat sebagai salah satu dari moyangnya Raja di atas segala raja. Bahwa tidak ada bagian apapun bagi Rut saat itu, bahkan Naomi terus menghalang-halangi niatnya, namun karena kebulatan tekad Rut yang sedemikian rupa mampu memaksa Tuhan menulis ulang takdirnya.

Bahwa Elisa hanyalah seorang bujang nabi Elia, telah meninggalkan segalanya, setia menyertai tuannya selama bertahun-tahun, didera krisis kepercayaan oleh hampir seluruh nabi di Israel saat itu, bahkan dibuat down oleh tuannya sendiri. Namun Elisa tetap jalan hingga menyeberangi Yordan (yang artinya juga kematian).

Ujungnya Ialah Tuhan

Ketika Abraham teruji, setelah dua kali Malaikat Tuhan memanggil namanya, Abraham tetap menjawab, "Hineni." Tuhan menyatakan kelulusannya, dan menyediakan seekor domba jantan sebagai gantinya. Di tempat itu, Abraham menamai, "Tuhan menyediakan", God is my Provider. Awalnya berjalan bersama, dan ketika perjalanan semakin tidak menentu, kita diharapkan terus berjalan bersama, dan ketika sampai pada puncaknya, Golgota menjadi bagian utama kita, namun ujung yang sesungguhnya ialah Jehovah Jireh. Bukankah yang kita impikan dan yakini selama ini adalah bahwa semuanya tersedia? Sungguh pada akhirnya, Dia menyediakan segalanya bagi kita.

Sikap hati Ishak yang juga Hineni, mengakibatkan apapun yang ditaburkan menjadi hasil seratus kali lipat sehingga ia menjadi semakin kaya, bahkan kian lama kian kaya, dan akhirnya menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-25). Bahkan ketika orang-orang Filistin mencemburui dan menggangunya, sikap hati Ishak tetap terjaga, memilih untuk pergi dalam damai sejahtera. Hingga akhirnya Allah melantik Ishak dan menjadi Allahnya. Dan setelah pelantikan itu semua musuhnya menjadi takut dan memohon untuk mengadakan perjanjian damai (Kejadian 26:26-31).

Kepahlawanan Ishak

Begitu banyak perkara yang dialami Ishak, namun kitab Ibrani mencatat kepahlawan iman Ishak hanyalah pada saat beliau dengan memandang jauh ke depan memberkati Yakub dan Esau. Ishak bukan saja saja mampu mewarisi dengan baik segala yang dari Abraham, namun juga mampu mewariskan kepada keturunan-keturunannya. Sesungguhnya Ishak bukan sama sekali tidak mengetahui bahwa Yakublah yang mendatanginya dengan tipu daya untuk memperoleh berkat kesulungan, namun Ishak dengan segala hikmatnya memandang jauh ke depan dan memahami kepada siapa berkat kesulungan harus diwariskan. Dan kepada Esau juga dijanjikan kemerdekaan, sekalipun ia ditakdirkan menjadi budak adiknya. Karena dengan memandang ke depan pulalah, Ishak meyakini takdir bisa berubah.

When You Are Faithful, Prosperity is Your Very Next Deal!

Wednesday, June 8, 2011

Jurnal SHRK Juni 2011 - Hari ke-2

The Future Belongs To Those Who Can Fly

Melanjutkan Jurnal SHRK Juni 2011 - Hari ke-1, berikut ini tokoh-tokoh iman lainnya:

Abraham - Dua hal yang menjadi sayap imannya. Pertama, melangkah tanpa mengetahui tempat yang dituju. Bagi orang dunia, ini sebuah kekonyolan. Namun orang yang mengenal Tuhan dengan benar bertindak tanpa mempertanyakan maksud-Nya. Memang ada hal-hal yang harus direncanakan sejak awal, namun ada hal-hal lain yang bahkan rencana akan berakibat bencana. Hal ke-dua adalah bahwa Abraham ketika diam di tanah yang dijanjikan tetap memperlakukan hal tersebut seolah-olah sebagai sesuatu yang asing. Ini sikap yang sama sekali berbeda dari orang kebanyakan, dimana ketika rejeki atau berkat tertentu datang ke dalam kehidupan seseorang, maka orang tersebut akan menganggap berkat tersebut adalah miliknya dan hatinya berubah setia hingga melupakan Tuhan. Abraham tidak membiarkan hatinya terikat kepada apapun bahkan siapapun selain kepada Tuhan. Itu sebabnya bahkan ketika Ishak diminta untuk dikorbankan, Abraham tetap mentaatinya hingga tuntas. 

Ishak - Memiliki sayap iman dengan memandang jauh ke depan ketika memberkati Yakub dan Esau. Perkara memberkati keturunan adalah tradisi turun temurun, namun Ishak melakukan hal ini bukan sekedar meneruskan tradisi yang ada dan semua ini dapat kita lihat dari berkat yang diturunkan kepada Yakub berbeda dengan berkat yang diturunkan kepada Esau. Ishak tidak hanya memikirkan perkara-perkara sesaat, namun beliau juga memikirkan perkara-perkara di masa depan. Apa yang akan terjadi di masa depan terhadap anak-anaknya menjadi beban mulia di hatinya. Walau pada masa tuanya penglihatannya menjadi jauh berkurang, namun visinya akan masa depan anak-anaknya tidak memudar. Apa yang diwariskan dari ayahnya, diyakini sepenuh hati dan diteruskan kepada anaknya seperti yang Tuhan kehendaki tanpa pernah melihat lebih dulu apa yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham.

Yakub - Memiliki sayap iman dengan memberkati kedua anak Yusuf - Efraim dan Manasye. Yakub awalnya seorang yang egois & licik, menghalalkan segala cara untuk menguntungkan dirinya.  Namun Yakub yang menjelang akhir hidupnya ialah seorang pribadi yang sama sekali berbeda. Ada berbagai perkara besar yang dialami oleh Yakub, namun kitab Ibrani pasal 11 memperhitungkan iman beliau hanya ketika memberkati kedua anak Yusuf. Beliau bukan saja memikirkan dirinya sendiri, namun juga peduli akan kehidupan orang-orang yang di bawah. Efraim dan Manasye walaupun secara biologis adalah cucu-cucunya Yakub, namun secara hukum rohani mereka diangkat sebagai anak-anak Yakub. Perkara mengangkat kehidupan atau nasib orang lain adalah perkara yang bukan saja mendatangkan percepatan bagi orang yang kita bantu namun juga bagi diri sendiri. Ini saatnya bagi kita orang percaya, bukan sekedar memajukan kehidupan diri sendiri maupun kelompok kita sendiri, namun berpikir lebih luas seperti yang Tuhan kehendaki supaya bangsa ini bahkan seluruh dunia mengalami lawatan Tuhan yang semakin nyata.

Monday, April 11, 2011

Hak Kesulungan Dan Warisan Ilahi

Bahan Renungan: Maleakhi 1:1-5; Matius 1:1-17

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Tuhan dalam kesempatan-Nya menegaskan kasih-Nya kepada bangsa Israel untuk kesekian kalinya. Namun di dalam kitab Maleakhi pasal 1, Tuhan mengungkapkan kasih-Nya tersebut dengan cara yang sangat unik dan aneh. Dikatakan bahwa Tuhan mengasihi Israel (keturunan Yakub) dengan membenci Esau, bahkan sedemikian kebencian-Nya hingga sekalipun Esau membangun kembali reruntuhannya, Tuhan akan merobohkannya terus dan murka-Nya tidak akan surut terhadap Esau.

Sekarang saudara bayangkan jika ada dua orang kakak beradik, sebut saja Andi dan Budi. Dan suatu ketika ayahnya berkata kepada Budi, "Budi anakku, ayah sayang kepadamu." Dan sebagai balasannya, Budi bertanya, "Apa buktinya ayah menasihi Budi?" Kemudian ayahnya menjawab, "Ayah mengasihi kamu dengan membenci Andi, kakakmu. Dan apapun yang dia kerjakan akan ayah hancurkan."

Tidakkah akan lebih wajar jika sang ayah menjawab kepada Budi, "Ayah akan mendukung semua usahamu, nak! Apapun yang kamu minta akan ayah kabulkan semua." Tanpa menyinggung keberadaan Andi, yang walaupun mungkin saat itu sang ayah sangat membencinya.

Pertanyaannya, mengapa Tuhan sedemikian membenci Esau? Hingga dalam mengungkapkan kasih-Nya kepada Yakub (Israel), yang dijadikan bukti adalah dengan "diumbar" segala kebencian dan "dendam"-Nya terhadap Esau. Apakah pelanggaran yang Esau lakukan sedemikian fatal di mata Tuhan? Hingga bagi Esau seperti tidak ada ampun.

Pertanyaan kedua, apakah hak kesulungan itu? Hingga sedemikian Yakub dikasihi-Nya dan Esau sedemikian dibenci-Nya. Sadarkah kita bahwa hak kesulungan bukan saja berkat materi melainkan Kristus itu sendiri. Jadi memandang rendah hak kesulungan sama dengan menolak Krsitus. Karena di dalam Kristuslah segala janji Tuhan, segalam impian Tuhan dan segala cita-cita Tuhan genap dan jadi sempurna. Kristus bukan saja jaminan keselamatan orang percaya untuk terhindar dari hukuman neraka, melainkan juga jaminan untuk mengembalikan manusia sebagai rupa dan gambar Allah untuk berkuasa dan memerintah dunia bersama dengan Kerajaan-Nya. Hak kesulungan itulah yang menjadikan Injil diberitakan ke seluruh bangsa, membuat kita memuridkan dan membaptiskan seluruh bangsa, memampukan kita mengusir setan-setan dalam nama-Nya, berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, bahkan sekalipun minum racun maut tidak akan celaka.

Adakah kita memandang keselamatan kita di dalam Kristus sebagai sesuatu yang sedemikian berharga dan istimewa dengan mengisi keselamatan kita seperti yang Tuhan kehendaki? Pada akhirnya yang tinggal hanyalah Kerajaan-Nya dan Kehendak-Nya, bukan kerajaan dan kehendaki manusiawi kita.

Misteri Kejadian 38

Bahan Renungan: Kejadian 38, Matius 1

Saudara-saudari dalam kasih Kristus,
Baca, selidiki dan renungkanlah kisah tentang seorang perempuan bernama Tamar di kitab Kejadian pasal 38. Sebagaimana kita ketahui bahwa Alkitab mencatat berbagai silsilah dari beberapa tokoh besar, baik itu "protagonis" maupun "antagonis", mereka di antaranya adalah silsilah keturuanan Adam, Kain, Nuh, Sem, Ham, Yafet, Abraham, Daud. Semua silsilah hanya mencatat nama dari pihak laki-laki saja. Namun ketika Injil Matius pasal 1 menjabarkan silsilah Tuhan Yesus, terungkap 5 nama perempuan, yang pertama ialah Tamar, selanjutnya ialah Rahab, Rut, Batsyeba dan Maria (satu-satunya yang perawan sekaligus satu-satunya perempuan Yahudi).

Jika sepintas kita membaca Kejadian 38, maka kita akan mendapati kesan bahwa Tamar seperti seorang yang bukan saja nekad, namun juga "gila". Setelah mengalami dua kali kematian suami-suaminya, Tamar secara hukum berhak untuk mendapati "kesempatan" ke-tiga untuk melahirkan keturunan yang sah dari garis Abraham, Ishak, Yakub dan Yehuda. Dan hak tersebut sempat "ditagihkan" kepada Yehuda yang adalah ayah mertuanya sendiri. Namun Yehuda "berkelit" karena Syela, putranya yang ke-tiga (juga sekaligus putra bungsu) masih belum cukup umur untuk menikah, dia juga menggunakan alasan ini karena "trauma" dengan kematian dua putranya dan kebetulan Syela adalah satu-satunya kesempatan saat itu untuk meneruskan keturunannya.

Pertanyaannya, apa yang membuat Tamar begitu menginginkan untuk melahirkan keturuan dari garis keturunan Yakub dan Yehuda? Apa yang dilihat Tamar? Apa yang Tamar percayai saat itu? Sesungguhnya apa yang dilakukan Tamar terhadap Yehuda adalah sebuah kekejian, namun itu bukan dosa. Jauh sebelum adanya Hukum Taurat, beberapa hal telah berlaku sama. Di antaranya adalah ketentuan bahwa seorang adik laki-laki harus menikahi istri kakaknya setelah kakaknya meninggal dan tidak memberikan keturunan. Begitu pula ketika menantu bersetubuh dengan mertua, hal itu adalah kekejian karena kesalahan ini dianggap setara dengan incest antara orang tua dengan anak kandungnya.

Tamar, demi "ambisi" pribadinya, melihat sebuah peluang dan melakukan "pertaruhan nyawa" yang sangat berbahaya. Kesempatan itu datang ketika ibu mertuanya (istri Yehuda) telah meninggal, sehingga saat itu Yehuda berstatus duda. Inilah kecerdikan Tamar, dia tidak terburu-buru bertindak, namun menunggu di saat yang tepat. Dan Tamar cukup mengenali sifat ayah mertuanya yang suka "jajan". Perihal ini dapat kita pahami karena sejak awal Yehuda tidak mengambil istri dari kaumnya sendiri, melainkan dari perempuan Kanaan. Seperti pamannya, Esau, yang juga mengambil perempuan-perempuan Kanaan dan tidak menjaga dirinya dengan baik (Kejadian 27:46, 28:6-9), demikian juga Yehuda.

Di saat "kekosongan" Yehuda itulah, Tamar masuk dan berperan sebagaimana pemikirannya, dengan melepaskan pakaian kejandaannya dan berpenampilan seperti perempuan sundal. Setelah selesai melakukan niatnya, Tamar dalam kecerdikan dan ketelitiannya tak lupa meminta "kunci" atau "kartu As" dari ayah mertuanya - sesuatu yang dapat dijadikan jaminan keselamatan, bukan hanya bagi dirinya namun juga bagi anak yang akan dikandungnya - berupa cap meterai, kalung dan tongkat Yehuda.

Ketika saatnya tiba, Tamar ketahuan "bersundal" dan itu sudah dalam perhitungannya. Dan ketika cap meterai, kalung dan tongkat Yehuda dikeluarkan, saat itulah "pertaruhan" terjadi. Yehuda pada saat itu punya kesempatan untuk menyangkal semua yang diperbuat Tamar, sekalipun "kartu As" telah dikeluarkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa posisi Tamar tetap saja lemah sekali pun memiliki "kartu As" tersebut. Namun Yehuda dalam anugerah Tuhan bukan saja mengakui perbuatannya melainkan juga mengakui kesalahannya karena tidak memberikan Tamar kepada putra bungsunya Syela, tindakan ini diperhitungkan sebagai sebuah pertobatan di hadapan Tuhan. Hal ini dibuktikan bahwa Yehuda tidak bersetubuh lagi dengan Tamar. Dan konon pernyataan tersebut juga menyiratkan bahwa sejak peristiwa tersebut, Yehuda tidak pernah "jajan" lagi.

Tamar, pada akhirnya melahirkan dua putra kembar. Ini pun juga merupakan "pertaruhan" tersendiri lainnya. Sebab pada akhirnya dia tidak diberikan kepada Syela dan Yehuda tak pernah lagi bersetubuh dengannya. Jika anak yang dikandungnya adalah seorang perempuan dan jika dari Syela dan istrinya lahir anak(-anak) laki-laki, maka habislah "ambisi" dan impian Tamar. Namun kenyataannya melahirkan dua anak laki-laki kembar adalah anugerah sangat besar. Dan catatan tentang kelahiran Peres dan Zerah memiliki arti yang luar biasa.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa yang dilihat Tamar saat itu hingga dia berbuat senekad dan se"gila" itu? Orang lain boleh memberi cap kepadanya sebagai perempuan "liar". Namun persetubuhannya dengan Yehuda bukan didasarkan oleh hawa nafsu. Lalu atas dasar apa Tamar berbuat demikian? Hal ini tak lain adalah karena Tamar memandang keluarga suami(-suaminya), yakni keluarga Yehuda seperti Yakub memandang hak kesulungan. Tamar ialah orang kafir pertama yang mempercayai kebenaran janji Tuhan kepada Abraham dan berusaha mengambil bagian di dalamnya bahwa suatu hari nanti keturunan Abraham akan menjadi penguasa dunia. Dan hal ini pun adalah "pertaruhan" tersendiri, karena saat itu tidak ada bukti ataupun pegangan apapun yang didukung dengan pemikiran yang masuk akal bahwa janji Tuhan kepada Abraham akan menjadi nyata.

Jadi melalui peristiwa ini, Tamar melakukan pertaruhan dalam 3 "pertaruhan" sekaligus, yaitu  untuk memperoleh anak dari Yehuda, sekaligus anak laki-laki dan kegenapan dari apa yang diyakininya dalam janji Tuhan kepada Abraham. Memang tidak ada catatan lain di Alkitab yang menceritakan lebih lanjut tentang Tamar dan apapun alasan dari tindakannya tersebut, namun Injil Matius pasal 1 mengakui iman dan perbuatannya dengan mencantumkan namanya sebagai satu di antara lima perempuan "hebat" yang menjadi nenek moyang dari Tuhan Yesus Kristus.

Tamar mempertaruhkan segalanya demi keyakinannya akan janji Tuhan kepada Abraham, dan dalam janji-Nya terkandung Kristus yang almuhit,  Inti dari segala yang Tuhan janjikan dalam kekekalan. Adakah kita yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Raja mengingini pribadi-Nya sedemikian rupa hingga rela mempertaruhkan nyawa?

Peres Dan Zerah

Bahan Renungan: Kejadian 38; Matius 1

Saudara-saudari dalam kasih Kristus,
Kita telah mengetahui apa yang telah diceritakan Alkitab mengenai Tamar, ibu dari kembar Peres dan Zerah. Kejadian kelahiran mereka seperti mengulang peristiwa kelahiran kembar Esau dan Yakub. Dan peristiwa kelahiran kembar Peres dan Zerah membuktikan betapa kuatnya iman Tamar akan janji Tuhan kepada Abraham.

Jika pada peristiwa kelahiran kembar Esau dan Yakub terjadi perebutan hak kesulungan yang saat itu masih "dimenangkan" oleh Esau, maka tidaklah demikian pada saat kelahiran kembar Peres dan Zerah. Zerah yang pada saat kelahirannya telah sempat mengulurkan tangannya keluar dan ditandai dengan kain kirmizi, malah "diserobot" oleh Peres saat itu juga, sehingga Peres tidak perlu lagi "memperebutkan" hak kesulungan dari saudara kembarnya, seperti yang dilakukan kakeknya, Yakub.

Peres berarti TEROBOSAN sementara Zerah artinya CAHAYA atau TERANG. Hal ini menandakan sejak semula bahwa janji Tuhan kepada Abraham bukan saja dapat dinikmati oleh bangsa Israel saja, namun di dalam Kristus juga dapat dinikmati oleh bangsa-bangsa lain. Kristuslah yang menjadi terobosan dan terang bagi hidup kita. Kedua nama kembar ini memperoleh perkenan Tuhan, itu sebabnya kedua nama mereka tertulis dalam Injil Matius pasal 1: "... Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar ..."

Melihat catatan ayat di atas, sesungguhnya Alkitab sangat unik, teliti dan penuh dengan makna. Ketika Yehuda memperanakkan Peres, Zerah disebut. Begitu juga ketika Yakub memperanakkan Yehuda, saudara-saudara Yehuda disebut. Namun ketika Ishak memperanakkan Yakub, Esau TIDAK disebut. Hal ini tentu disebabkan karena selama hidupnya, Esau begitu memandang rendah bukan saja hak kesulungannya, melainkan Esau juga memandang rendah janji Tuhan kepada Abraham. Suatu sikap yang sama sekali berlawanan, bukan saja dengan sikap Yakub, namun juga sikap Tamar, Rahab dan Rut yang notabene adalah kafir semua.

Silsilah Tuhan Yesus dalam Injil Matius pasal 1 adalah ibarat miniatur dari Kitab Kehidupan, adakah nama kita akan tercatat karena sikap hati dan kehidupan kita yang begitu mengingini-Nya? Atau tidak tercatat karena kita begitu mengabaikan-Nya? Menjadi keturunan Abraham tidak menjamin Esau memperoleh apa yang dijanjikan-Nya. Begitu pula menjadi seorang Kristen tidak menjamin kita memperoleh keselamatan yang dijanjikan-Nya.

Thursday, March 10, 2011

Jurnal SHRK Maret 2011 - Hari ke-1

Bahan renungan Kitab Keluaran 36:1-7; Kitab 2 Tawarikh 1:1-7; Kidung Agung 1:7-8

Saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Masa kelimpahan pasti akan terjadi dalam waktu dekat ini, bahkan seorang hamba-Nya bernama Ps. Darrel Stott menerima pesan Tuhan tentang kegerakan dan rencana-Nya di Indonesia saat beliau sedang di sebuah tempat yang disebut Lembah Malaikat di Irlandia bulan Januari 2011 ini. Bahwa pada waktunya gereja-gereja di Indonesia akan memasuki zaman Salomo, berkat Tuhan menjadi begitu limpah karena Tuhan telah menetapkan gereja-gereja di Indonesia untuk mendanai semua kegerakan Tuhan di bangsa-bangsa di dunia.

Oleh karena kelimpahan yang begitu pasti dan sangat dahsyat, gereja harus memastikan kapasitasnya untuk mampu menerima dan mengelola semua kelimpahan yang akan datang dengan sikap hati HINENI. Kita mesti mengerti bahwa ujung dari kelimpahan tersebut adalah Tuhan sendiri, tanpa sikap hati Hineni maka gereja tidak akan sanggup bahkan murtad ketika kelimpahan yang dahsyat itu datang.

Zaman keemasan pada masa Salomo dimulai ketika dia mempersembahkan korban bakaran dan malamnya Tuhan datang dengan berfirman, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Yang mengherankan adalah saat itu Raja Salomo meminta petunjuk Tuhan dan mengadakan upacara pembakaran korban tidak di tempat dimana tabut Allah berada (Yerusalem), namun di padang gurun tempat adanya Kemah Suci (Kemah Pertemuan), tempat adanya mezbah tembaga yang dulu dibuat oleh Bezaleel bin Uri bin Hur.

Nama Bezaleel sendiri artinya orang yang tinggal tetap di bawah bayang-bayang Tuhan (Elohim). Digambarkan sebagai orang yang selalu (total) bertindak hanya berdasarkan perintah dan petunjuk Tuhan, tidak memiliki inisiatif sendiri ketika melaksanakan tugasnya. Sementara Hur, kakeknya, adalah seorang dengan panggilan Pilar (Sokoguru) karena menopang tangan Musa saat Yosua berperang melawan bangsa Amalek.

Dengan demikian Tuhan hendak mengatakan, yang pertama bahwa masa kelimpahan zaman Salomo akan tiba dan dapat dinikmati dengan benar ketika gereja memiliki sikap hati Hineni, yang selalu menantikan petunjuk Tuannya dan bertindak tepat sesuai dengan petunjuk tersebut. Yang kedua bahwa masa tersebut dimulai dari orang yang memiliki panggilan tertinggi sebagai Pilar saat ini (Ev. Yusak Tjipto - penulis menafsirkan sendiri) merayakan hari jadinya di tahun 2011 ini.

Hamba Yang Di Bawah Bayang-Bayang Tuannya

Kejadian 26:12-18 menceritakan ketika Ishak menjadi semakin kaya bahkan sangat berkelimpahan, namun Ishak tidak berjalan keluar dari tempat atau garis yang telah ditetapkan melalui ayahnya (Abraham). Ishak tidak menggali sumur-sumur baru, namun sumur-sumur yang pernah dibuka ayahnya bahkan menamai sumur-sumur tersebut sama seperti yang dinamai oleh ayahnya. Hal ini menandakan bahwa sikap hati Hineni (berjalan & bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan) yang mampu membawa gereja pantas masuk ke dalam zaman keemasan.

Bezaleel dan Aholiab adalah lambang dari gereja yang memiliki integritas yang tinggi. Dikatakan bahwa ketika rakyat membawa begitu banyak segala sesuatu yang diperlukan untuk membangun Kemah Suci Tuhan, mereka tetap melaporkan hal tersebut kepada Musa dan tidak menyimpan sebagian untuk diri mereka sendiri (seperti yang sering dilakukan banyak hamba-Nya, ex: Imam Eli dan anak-anaknya).

Hamba memang tidak mengerti dengan seutuhnya apa yang dipikirkan dan direncanakan Tuannya, begitu pula gereja sebagai Mempelai Wanita terhadap Mempelai Kristus, namun Tuhan telah memberikan petunjuk agar kita mengikuti jejak-jejak Anak Domba Allah (Kidung Agung 1:7-8). Hamba yang benar adalah hamba yang rela mengikuti kemana pun Tuannya kehendaki. Dengan demikian gereja mampu untuk masuk dalam zaman keemasan dan kelimpahan yang Tuhan rencanakan.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.