Labels

Showing posts with label Keturunan Abraham. Show all posts
Showing posts with label Keturunan Abraham. Show all posts

Tuesday, August 2, 2011

Jurnal SHRK Agustus 2011 - Hari ke-1

"Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli ..." - Lukas 3:23
Kata "memulai" diambil dari kata dasar dalam bahasa Yunani yaitu "arco", yang artinya:
  1. To be the first: bahwa Tuhan yang mengawali, yang memulai, yang memprakarsai, yang turun pertama ke arena untuk melakukan pekerjaan Bapa.
  2. To be the chief: bahwa Tuhan yang memimpin dari awal hingga akhir penggenapan semua janji-Nya.
  3. To rule: bahwa Tuhan Yesus yang memerintah dan berdaulat penuh atas segalanya.
Siapakah Yesus itu?

"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham." - Matius 1:1. Sejak ayat terakhir dari pasal terakhir dari Kitab Maleakhi dalam Perjanjian Lama menuju Matius 1:1 terdapat jeda sepanjang lebih dari 400 tahun. Dan ketika Perjanjian Baru mulai ditulis, yang pertama kali disinggung adalah silsilah dari Tuhan Yesus Kristus. Kata "silsilah" yang senada dengan kata "roda kehidupan" dalam Yakobus 3:6 memiliki arti Pohon Keluarga (Family Tree); artinya sebagaimana pohon kehidupan seseorang telah ada di masa lalunya akan mempengaruhi roda kehidupan orang tersebut sepanjang hidupnya kelak. Dengan kata lain Tuhan memulai sebuah covenant baru dengan cara "menghisapkan" kita semua ke dalam pohon kehidupan-Nya itu sendiri.

Kristus dan Kita adalah Anak-Anak Abraham

"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." - Galatia 3:29. Hampir dari kita semua sangat hafal ayat ini, namun Tuhan menghendaki kita juga percaya dan mengalaminya. Bahwa kita memang terhisap dalam pohon kehidupan-Nya, menjadi milik-Nya lewat pengorbanan-Nya, menjadi sah sebagai keturunan Abraham secara rohani dan memiliki hak untuk menerima janji Allah.

"Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman." - Roma 4:13. Dengan demikian, semua hanya soal IMAN. Bahwa keturunan Abraham yang memperoleh janji ada dua golongan; golongan jasmani (Orang Yahudi secara lahiriah) dan golongan rohani (Orang Yahudi yang terhisap dalam pohon kehidupan Yesus Kristus). 

"Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi." - Yohanes 4:22. Keselamatan kita datang dari bangsa Yahudi. Tuhan Yesus juga lahir dari bangsa Yahudi. Semua penulis Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah orang-orang Yahudi. Bahkan beberapa nabi dalam ajaran agama Islam juga adalah orang-orang Yahudi. Kenyataan-kenyataan ini dapat kita simpulkan bahwa bangsa Yahudi menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan kekristenan kita.

"Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka." - Roma 15:27. Sejak Injil diberitakan ke seluruh dunia, itu artinya bangsa-bangsa di dunia menerima harta (warisan / benih) rohani orang Yahudi dan akibatnya orang Yahudi menerima harta (kekayaan) duniawi dari bangsa-bangsa di dunia. Inilah hukum yang berlaku. 

Pintu Kairos Yang Terbuka Di Tel Aviv

"Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?" - 1 Korintus 9:11. Diceritakan kembali pertemuan dengan 3 orang Yahudi dalam 3 kali kesempatan, pada tahun 2009 di Semarang oleh Cohen University, tahun 2010 di Yerusalem dengan seorang Yahudi Mesianik bernama Yosef & 2011 ini dengan sekelompok Yahudi yang salah satunya memberikan koin Shikal di Tembok Besar - China. Orang tersebut berasal dari Karmiel, sebuah kota di sebelah utara Israel.

Selanjutnya dalam anugerah dan Kairos Tuhan, di hadapan orang-orang Yahudi Mesianik dari berbagai negara, yang telah memiliki rumah di Israel melalui sebuah konferensi yang diprakarsai oleh Morris Cerullo di Tel Aviv 12 November 2011 ini. Kesempatan di Tel Aviv nanti adalah cara yang Tuhan sediakan, berdasarkan hukum yang berlaku di atas, untuk memberkati secara rohani, bangsa Israel dan dunia sehingga kita dapat memperoleh berkat-berkat harta kekayaan duniawi untuk menggenapi rencana kegerakan Tuhan atas Indonesia & dunia. Selanjutnya dengan segala kelimpahan yang akan diperoleh, kita mempersiapkan kedatangan yang ke-2 Raja di atas segala raja.

Wednesday, July 13, 2011

Jurnal SHRK Juli 2011 - Hari ke-2

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. - Kejadian 21:12

Kepadanya (Abraham) telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." - Ibrani 11:18

Berkat Ishak

Anak-anak Abraham ada banyak, namun HANYA Ishak yang SAH sebagai pewaris janji Allah dengan Abraham. Yang dari padanya sebuah bangsa yang besar dilahirkan dan disebut KETURUNAN ABRAHAM.

"Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya." - Kejadian 17:17-19

Menarik sekali bahwa Allah menamakan anak Abraham dengan nama Ishak dikarenakan reaksi Abraham yang secara sembunyi tertawa sambil berkata dalam hati. Allah sungguh-sungguh menjadikan apa yang ada di dalam hati Abraham kepada kenyataan (daging). Bukan saja soal waktu, namun juga nama Ishak ada karena tawa Abraham itu. Tuhan sungguh sedang membawa apa yang timbul dan kerinduan di hati kita untuk menjadi kenyataan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Namun untuk kita mampu menerima yang besar dari Tuhan, ada hal yang sangat fundamental, yang sama sekali tidak bisa diabaikan, untuk kita memiliki sikap hati yang sedemikian rupa, supaya apapun yang terjadi, naik maupun turun, kita tetap memiliki kesetiaan untuk tidak menjadi kecewa ataupun meninggalkan Tuhan.

Tetap Berjalan Bersama Dengan Tuhan

Coba renungkan kisah pengorbanan Ishak oleh Abraham di tanah Moria (Kejadian 22:6-14). Baik Abraham dan Ishak berjalan bersama-sama. Sesaat Ishak bertanya, "Di mana anak domba untuk korban bakaran?" Abraham menjawab dengan jawaban yang sungguh tidak masuk akal, "Allah yang akan menyediakan." Bagi dunia, jawaban Abraham sama sekali konyol, dan seperti tidak menjawab apa yang ditanyakan Ishak. Namun perhatikan reaksi Ishak! Ia TETAP berjalan bersama-sama.

Dan kita tahu setelahnya Ishak sedia untuk dikorbankan TANPA memberontak, bahkan sama sekali TIDAK MEMPERTANYAKAN tindakan Abraham. Usia Ishak hari itu masih muda, sementara Abraham sudah sangat tua, namun Ishak bahkan tidak memberikan perlawanan secara fisik. Jadi baik Abraham maupun Ishak sama-sama berkorban. Padahal sejak awal Allah menjanjikan sesuatu yang kekal kepada mereka. Namun  baik Abraham maupun Ishak tidak mencoba untuk mengerti, apalagi mempertanyakan keputusan Tuhan. Mereka mentaati sampai tuntas sesuai dengan yang diperintahkan.

Sekarang renungkanlah ini, renungkanlah kehidupan perjalanan kerohanian kita dengan Tuhan. Renungkan apa yang sudah kita doakan, perkatakan, taburkan, tarikan, bahkan yang kita yakini. Semua kepengikutan kita kepada Tuhan, bahwa kita juga berharap semua berkat dan janji-Nya menjadi nyata di dalam hidup kita. Kelimpahan, kejayaan dan masa keemasan kita berharap kita nikmati semuanya sedemikian rupa. Namun sesungguhnya, DESTINASI PERTAMA dari perjalanan kita bersama Tuhan adalah GOLGOTA.

Golgota Bagi Semua Pahlawan Iman

Tidakkah kita memperhatikan pola Tuhan dalam setiap rencana-Nya terhadap masing-masing hamba-Nya. Bahwa Abraham & Ishak harus menghadapi Gunung Moria. Yakub bahkan Benyamin pun harus direlakannya. Yusuf juga harus menjalani perbudakan selama belasan tahun. Daud juga harus menghadapi kejaran raja Saul bertahun-tahun. Dan bahkan Tuhan Yesus harus disiksa dan dikorbankan hingga mati di atas kayu salib di Golgota.

Sadarilah bahwa tidak mungkin kita memasuki puncak kejayaan dan keemasan TANPA Golgota. Bapa tidak mungkin mempermuliakan Tuhan Yesus tanpa Dia menjadi korban bagi kita semua. Nama di atas segala nama pun diberikan karena Tuhan Yesus terus berjalan bersama dengan kehendak Bapa yang sempurna. Sungguh bahwa kerinduan kita untuk mengalami kemuliaan bersamanya harus didahului dengan kerelaan mati bersama-Nya supaya kita dapat bangkit bersama-Nya.

Coba renungkan hal berikut ini; bagaimana jika seandainya lawan kita itu sebenarnya bukan musuh kita? Kita telah melakukan peperangan terhadap pihak Si Jahat, dan Iblis dengan segala muslihatnya memang musuh kita. Namun siapakah lawan kita yang sejati? Tepat! Jika kita menjawab bahwa diri kita sendirilah lawan terberat kita. Semua kedagingan kita, kedagingan kita, kemalasan kita, kebenaran diri sendiri, kemanjaan kita dan seterusnya. Semua hal inilah yang memaksa Tuhan "menyeret" kita untuk "mampir" di Golgota, sebelum segala kekayaan dan kemulian-Nya menjadi nyata.

Bahwa Rut adalah orang Moab, namun memperoleh tempat sebagai salah satu dari moyangnya Raja di atas segala raja. Bahwa tidak ada bagian apapun bagi Rut saat itu, bahkan Naomi terus menghalang-halangi niatnya, namun karena kebulatan tekad Rut yang sedemikian rupa mampu memaksa Tuhan menulis ulang takdirnya.

Bahwa Elisa hanyalah seorang bujang nabi Elia, telah meninggalkan segalanya, setia menyertai tuannya selama bertahun-tahun, didera krisis kepercayaan oleh hampir seluruh nabi di Israel saat itu, bahkan dibuat down oleh tuannya sendiri. Namun Elisa tetap jalan hingga menyeberangi Yordan (yang artinya juga kematian).

Ujungnya Ialah Tuhan

Ketika Abraham teruji, setelah dua kali Malaikat Tuhan memanggil namanya, Abraham tetap menjawab, "Hineni." Tuhan menyatakan kelulusannya, dan menyediakan seekor domba jantan sebagai gantinya. Di tempat itu, Abraham menamai, "Tuhan menyediakan", God is my Provider. Awalnya berjalan bersama, dan ketika perjalanan semakin tidak menentu, kita diharapkan terus berjalan bersama, dan ketika sampai pada puncaknya, Golgota menjadi bagian utama kita, namun ujung yang sesungguhnya ialah Jehovah Jireh. Bukankah yang kita impikan dan yakini selama ini adalah bahwa semuanya tersedia? Sungguh pada akhirnya, Dia menyediakan segalanya bagi kita.

Sikap hati Ishak yang juga Hineni, mengakibatkan apapun yang ditaburkan menjadi hasil seratus kali lipat sehingga ia menjadi semakin kaya, bahkan kian lama kian kaya, dan akhirnya menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-25). Bahkan ketika orang-orang Filistin mencemburui dan menggangunya, sikap hati Ishak tetap terjaga, memilih untuk pergi dalam damai sejahtera. Hingga akhirnya Allah melantik Ishak dan menjadi Allahnya. Dan setelah pelantikan itu semua musuhnya menjadi takut dan memohon untuk mengadakan perjanjian damai (Kejadian 26:26-31).

Kepahlawanan Ishak

Begitu banyak perkara yang dialami Ishak, namun kitab Ibrani mencatat kepahlawan iman Ishak hanyalah pada saat beliau dengan memandang jauh ke depan memberkati Yakub dan Esau. Ishak bukan saja saja mampu mewarisi dengan baik segala yang dari Abraham, namun juga mampu mewariskan kepada keturunan-keturunannya. Sesungguhnya Ishak bukan sama sekali tidak mengetahui bahwa Yakublah yang mendatanginya dengan tipu daya untuk memperoleh berkat kesulungan, namun Ishak dengan segala hikmatnya memandang jauh ke depan dan memahami kepada siapa berkat kesulungan harus diwariskan. Dan kepada Esau juga dijanjikan kemerdekaan, sekalipun ia ditakdirkan menjadi budak adiknya. Karena dengan memandang ke depan pulalah, Ishak meyakini takdir bisa berubah.

When You Are Faithful, Prosperity is Your Very Next Deal!

Tuesday, July 12, 2011

Jurnal SHRK Juli 2011 - Hari ke-1

"Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka." - Keluaran 2:23-25

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus,
Mengawali sidang sore ini, SP7 memberikan pernyataan bahwa melalui trip ke China yang baru saja dituntaskan, Tuhan benar-benar telah menggenapkan semua janji-Nya bahwa kitalah Generasi Penakluk Dunia. Diceritakan bagaimana peperangan, pujian, tarian dan segala yang profetik dilakukan dengan sedemikian lancar untuk sebuah negara komunis. Dan melalui perjumpaan beliau dengan seorang Yahudi di Tembok Raksasa, yang merupakan perjumpaan ke-3 (yang pertama pada 14 Februari 2009 di Semarang dengan yang bermarga Cohen dan yang kedua pada bulan September 2010 di Yerusalem dengan seorang Yahudi Mesianik bersuku Lewi bernama Yosef).

Ditegaskan bahwa 3 hari seminar ini, Tuhan meminta untuk SP7 bukan sekedar mengajar, namun juga bernubuat. Jadi isi sidang seminar kali ini adalah nubuatan yang dari Tuhan.
Cermati dan renungkanlah 3 ayat terakhir dari Kitab Keluaran pasal ke-2 di atas. Bahwa ketika Allah mendengar keluhan, seruan dan erangan bangsa Israel pada zaman perbudakan Mesir, Beliau MENGINGAT kepada janji-Nya dengan Abraham. Kata "mengingat" ini mengandung sebuah pengertian akan reaksi aktif, BUKAN reaksi pasif. Sebagai bandingannya, baca Kejadian 30:22, ketika Allah teringat akan Rahel. Dengan demikian Tuhan hendak menegaskan bahwa mengenai perjanjian-Nya dengan Abraham, tidak perlu manusia yang mengingatkan Beliau, melainkan Tuhan SECARA AKTIF mengingat perjanjian tersebut. Sebagai bukti akan keaktifan-Nya tersebut, bacalah kisah di Lukas 13:10-17 yang menggambarkan Keistimewaan Kuasa Perjanjian itu.

Kuasa Dalam Nama

Ketika Abram berusia 99 tahun, Tuhan menampakkan diri-Nya sambil mengadakan perjanjian dengan Abram. Dari pihak Tuhan ada 8 kali disebutkan "Aku akan", menandakan bahwa perjanjian tersebut merupakan new beginning, sebuah awal yang baru. Sementara dari pihak Abraham adalah dengan sunat. Sebagai salah satu akibatnya, nama Abram diubah dengan ditambah unsur Yahweh, menjadi Abraham. Seorang Abram yang memiliki unsur Yahweh, menjadi seorang bapa atas sejumlah besar bangsa. Dan kita yang di dalam Kristus menjadi keturunan Abraham juga, kita yang disebut Kristen (yang memiliki arti bahwa kita serupa dengan Kristus - Yang Diurapi).

Jadi ketika kita mengaku diri sebagai seorang Kristen yang hidupnya menyerupai Yang Diurapi, berarti kita juga memproklamirkan bahwa kita adalah keturunan Abraham. Dan NAMA itu memiliki kuasa sebagaimana kuasa nama Abraham berhak memperoleh apa yang dijanjikan, "Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua." - Kisah Para Rasul 3:16

Penetapan Tahun Depan

"Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." - Kejadian 17:21

Renungkan pasal 17 dari Kitab Kejadian dan cermatilah. Saat itu Abraham berusia 99 tahun. Tuhan menyebutkan semua detil perjanjian dari kedua pihak. Baik nama Abram & Sarai diubah menjadi Abraham & Sara. Abraham bahkan sempat "menawarkan alternatif", Ismael. Namun Tuhan menolaknya. Sampai Tuhan menetapkan pada tahun berikutnya Abraham akan memperoleh keturunan. Pertanyaannya, ketetapan siapakah bahwa Abraham akan memperoleh Ishak dari Sara dalam waktu SATU TAHUN? Tentu kita semua menjawab bahwa itu adalah ketetapan Tuhan. Namun sadarilah bahwa ketetapan Tuhan itu berasal dari "kerinduan" hati Abraham sendiri, seperti yang tertulis pada ayat 17: "Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?"

Perjanjian ini sungguh mengandung Kuasa Kesepakatan, dimana Tuhan sepakat dengan Abraham. Dan melalui seminar ini Tuhan juga hendak menegaskan bahwa Ia bukan saja secara aktif mengingat perjanjian-Nya dengan kita sebagai keturunan Abraham, melainkan juga Ia sepakat dengan kerinduan hati kita, supaya impian jadi kenyataan, Firman jadi daging dalam hidup setiap kita.

"Akulah yang menguatkan perkataan hamba-hamba-Ku dan melaksanakan keputusan-keputusan yang diberitakan utusan-utusan-Ku." - Yesaya 44:26a

Terakhir diadakan perjamuan seperti sebagaimana Raja Salem Melkisedek menyambut Abraham dengan roti dan anggur, demikian tubuh dan darah-Nya disajikan untuk menandakan bahwa Tuhan menyambut kita, raja-raja-Nya, Generasi Penakluk Dunia karena perjanjian-Nya dengan Abraham.

Tuesday, July 5, 2011

Keistimewaan Kuasa Perjanjian (Tuhan Dengan Abraham)

Bahan renungan: Lukas 13:10-17

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Suatu kali Tuhan Yesus sedang mengajar dalam sebuah rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah 18 tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri dengan tegak. Seketika itu juga Tuhan Yesus memanggil dan mendeklarasikan kesembuhan bagi ibu tersebut. Diletakkan tangan-Nya atasnya, seketika itu juga ibu tersebut dapat berdiri tegak kembali dan memuliakan Allah.

Kejadian berikutnya sungguh mengherankan karena mujizat kesembuhan tersebut menjadikan kepala rumah ibadat gusar, karena apa yang diperbuat Tuhan Yesus diperhitungkan sebagai pelanggaran Hukum Taurat, yaitu mengenai kekudusan hari Sabat. Bahkan kepala rumah ibadat menggurui dengan menganggap bahkan menyamakan tindakan menyembuhkan orang sakit sebagai sebuah pekerjaan sekuler (seperti beternak, mengolah tanah, dan sebagainya).

Dalam "kemarahan"-Nya, Tuhan Yesus membalas kemunafikan kepala rumah ibadat yang memahami Taurat dengan sangat ahli, namun tidak memiliki belas kasihan terhadap sesama seperti yang dikehendaki Allah. Kepala rumah ibadat menuding dengan mempergunakan dasar Hukum Taurat, namun Tuhan Yesus menegaskan tindakan mujizat-Nya dengan mempergunakan dasar Perjanjian dengan Abraham. Dan seketika itu juga kepala rumah ibadat beserta semua kroninya merasa malu karena salah menuding dan "kalah telak" berdebat dengan Tuhan Yesus. Perhatikan hal ini dengan seksama. Bahwa perempuan yang sakit itu tidak memiliki iman, juga tidak ada orang lain yang sedang beriman untuk perempuan itu disembuhkan. Semua terjadi semata-mata hanya karena janji Allah terhadap Abraham yang berlaku kekal.

Allah menghendaki agar manusia beristirahat dan mencari wajah-Nya dalam persekutuan pada hari Sabat, bukan tinggal terikat dalam belenggu Iblis. Hukum Taurat merupakan "undang-undang" yang sangat kuat dan solid, namun Kuasa Perjanjian melampaui kuasa Hukum Taurat. Karena Hukum Taurat lahir akibat ketegaran tengkuk bangsa Yahudi saat di padang gurun, sementara Kuasa Perjanjian lahir dalam sebuah hubungan yang sedemikian rupa istimewa, juga karena hati Abraham yang HINENI. Perjanjian Tuhan dengan Abraham adalah perkataan Tuhan lahir karena cinta dan keterpikatan Tuhan terhadap ketaatan & kesetiaan Abraham. Hukum Taurat adalah perkataan Tuhan yang lahir karena "kepasrahan" Tuhan terhadap kebebalan bangsa Israel.

Dengan demikian Tuhan seperti hendak berkata kepada semua lawannya saat itu, "Kalian hendak menuding Aku dengan hukum yang Kubuat karena kebebalan kalian?! Sementara Aku menyembuhkan perempuan ini karena cinta dan kasih setia-Ku terhadap bapak kalian, Abraham!" Sungguh tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Hukum Taurat ada karena ketidakpercayaan bangsa Israel terhadap pribadi Allah, namun perjanjian-Nya diberikan kepada orang yang mengenal hati-Nya.

Selagi masih ada waktu, kejarlah Tuhan dan inginilah Dia lebih dari segalanya. Pengenalan yang benar tidak akan membawa kesia-siaan. Dari sanalah kita menyadari bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.