Labels

Showing posts with label Hineni. Show all posts
Showing posts with label Hineni. Show all posts

Sunday, May 6, 2012

Wawancara Imajiner Dengan Malaikat Gabriel

Berikut ini adalah dialog wawancara imajiner dengan Malaikat Gabriel mengenai beberapa pesan profetik dan situasi yang sedang dan akan berlangsung terutama berkaitan dengan perang besar:


Windunatha: Semalam saya melihat kembali film Legion yang memakai Anda sebagai tokoh (antagonis) dan dua malam lalu saya nonton film The Avengers, sepertinya ada pesan profetik yang cukup halus namun jelas yang hendak disampaikan kepada kita semua, apa benar begitu? 

Gabriel: Legion memang film yang menyesatkan, namun tetap ada pesan penting di dalamnya walau dikemas dengan gaya serba Hollywood. Situasinya memang digambarkan sangat genting dan mencekam dan Iblis yang saat itu digantikan dengan nama saya mencoba dengan berbagai macam cara untuk tidak membiarkan adanya Generasi Penuntas atau Generasi Penggenap Janji atau Generasi Yoel atau bahkan disebut Generasi Mikhael muncul untuk merampungkan seluruh rencana dan janji Tuhan kita sebelum kedatangan-Nya yang ke-2. Cobaan atau ujian yang harus dihadapi Generasi Mikhael ini bukan saja pada ujian kekuatan namun juga ujian kelemahan. Kalian sebagai generasi tersebut diharapkan waspada, berjaga-jaga dan memperhatikan kelemahan-kelemahan kalian serta tidak terjebak dalam situasi merasa baik, merasa sudah oke, merasa telah berjasa maupun merasa telah diberkati sedemikian rupa. Selain tentunya juga tidak menjadi kecewa dalam menantikan penggenapan janji-janji Tuhan sekalipun hal itu belum menjadi daging.

Windunatha: Anda keberatan bahwa identitas Anda yang digunakan sebagai tokoh antagonis yang berusaha menggagalkan rencana Tuhan?

Gabriel: Hal seperti itu biasa dalam proses penyesatan yang dilakukan mantan rekan kami, Lucifer itu. Masih banyak perbuatannya yang lebih sarat dengan muslihat daripada yang dilakukannya di Legion. Tapi kami tidak peduli dengan penilaian manusiawi dunia, yang penting bagaimana Majikan kami disenangkan. Majikan kami adalah Sutradara di atas segala sutradara dan skenario apapun, Dia mampu menginisiasi perkara apa saja tanpa siapapun yang tahu dan mampu tahu dan memang sifat-Nya Beliau begitu penuh rahasia & misteri. Yang penting kita semua tetap terhubung dengan Roh Kudus-Nya dalam ketaatan, ketepatan dan kesetiaan sesuai dengan kehendak Bapa yang sempurna.

Windunatha: Kabarnya baik Legion maupun The Avengers memiliki pesan akan adanya perang besar yang akan berlangsung mulai pertengahan 2012 ini, apakah Anda berkenan menjelaskannya?

Gabriel: Ya benar sekali, namun yang perlu ditegaskan di sini bahwa perang besar ini bukan perang inisial di awal. Kita sudah menaklukkan dan menduduki sejak beberapa tahun lalu dan sekarang adalah bagian menjarah serta membagi-bagikan jarahan untuk Kerajaan Allah semakin dipermuliakan dalam Gelombang Lawatan & Tuaian Terbesar (The Great Revival & Harvest) yang dimulai tahun 2012 ini. Ini yang membuat Iblis semakin takut sekaligus senang. Takut karena waktunya sudah semakin singkat bahkan dipercepat karena hukumnya adalah ketika Injil diberitakan ke seluruh penjuru dunia dan tuaian jiwa-jiwa mencapai jumlah tertentu maka rapture akan tiba. Senang karena setelah rapture, ia diberikan kuasa dan kedaulatan penuh di dunia untuk melakukan ujian, siksaan bahkan pembunuhan bagi mereka yang tertinggal dari rapture.

Windunatha: Apa yang paling perlu diperhatikan dalam menghadapi perang besar ini?

Gabriel: Baik di Legion maupun di The Avengers kita melihat bahwa pada awalnya banyak di antara generasi ini yang masih sombong, masih merasa mampu, dan bersandar pada pengertian kalian masing-masing. Tindakan-tindakan yang dilakukan berdasarkan semua hal yang tidak tepat bukan saja merugikan diri yang bersangkutan melainkan juga bisa mematikan saudara-saudara yang lain, bahkan sering kali menyusahkan Tuhan sebagai Panglima Tertinggi. Namun ketika korban mulai banyak berjatuhan sebagian mulai menyadari kelemahan dan kesalahannya dan berusaha kembali ke jalur yang benar. Itulah sebabnya kita semua diajarkan untuk Hineni supaya bisa semakin bersatu (UNITY). Sebab perang besar ini tidak akan bisa dihadapi dan dimenangkan jika tidak ada kesatuan hati, roh dan pikiran. Sedangkan unity hanya bisa sempurna ketika kita semua Hineni dalam anugerah-Nya.

Windunatha: Apakah ada komentar terakhir dari Anda?

Gabriel: Tetap memilih didikan-Nya dengan penuh ucapan syukur karena hanya dalam didikan terdapat jaminan bagi generasi ini untuk bisa ikut menggenapkan semua rencana dan janji Tuhan kita dan kalian bisa mencapai garis akhir dengan kuat. Didikan-Nya memang bisa semakin berat, itu tergantung reaksi dan sikap hati kalian. Mintalah roh dan hati yang terus mau diajar dan belajarlah untuk semakin tahu diri. Jangan mengeluh, jangan marah dan jangan menjadi kecewa apapun yang terjadi. Ingat bahwa ini tahun perkenanan-Nya dan mata Tuhan tertuju kepada bait-Nya yaitu kalian semua, jadi kejarlah terus perkenanan itu di atas segala-galanya. Tuhan memberkati.

Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: 'Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.' Ungkapan 'Satu kali lagi' menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Thursday, March 29, 2012

Dua Sisi Panggung Kehidupan

"TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik. Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati. Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat, siapakah yang tampil bagiku melawan orang-orang yang melakukan kejahatan? Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi. Ketika aku berpikir: 'Kakiku goyang,' maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku." - Mazmur 94:11-18

Jadi sesungguhnya benar-benar tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Entah itu impian maupun umpatan, entah itu rancangan baik maupun rancangan buruk, entah itu ide yang mulia maupun ide yang hina, semuanya bisa Dia genapi sesuka hati-Nya. Karena Dia adalah segala-galanya. Namun apapun yang terjadi, tetap pilih didikan-Nya, tetap pilih hajaran-Nya, laksana orang tua yang memahami jauh lebih ke depan terhadap anak-anaknya sendiri yang sering kali ceroboh dan sembrono.

Dan sesungguhnya, jika bukan Tuhan, kita semua telah NYARIS binasa di tempat sunyi yang dingin dan penuh gertak gigi. Sokongan-Nya adalah didikan-Nya, didikan-Nya adalah sokongan-Nya. Pilih terus Hineni, pilih terus untuk semakin tahu diri, pilih terus untuk mengingat dari mana kita diambil daripada memimpikan ke mana kita ingin capai. Ke depan kita akan menghadapi banyak sekali tugas dan tanggung jawab yang sudah pasti mustahil bagi kemanusiaan kita. Ke depan kita hanya bisa bertanya kepada-Nya, "Bagianku apa, Tuhan?" Dan melakukannya dengan ketepatan yang sempurna.

Di depan kita akan disoroti lampu panggung dan menjadi sorotan dunia di mana-mana. Di depan akan terus kita dengar decak kagum dan tepuk tangan yang semakin hari semakin kencang. Namun itu hanya satu sisi panggung acara yang harus kita penuhi. Sedangkan masih ada sisi panggung satunya lagi, sisi ruang ganti itu. Sisi di mana kita berdua secara pribadi dengan Roh-Nya yang kudus yang selalu semakin keras menegur dan menjagai hati kita, supaya kita tidak menjadi mabuk karena decak kagum dan tepuk tangan dari sisi panggung yang pertama.

Di puncak segala puncak tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Di puncak segala puncak yang boleh ada hanya perkenanan-Nya. Haleluya! Amin! Amin!

Wednesday, March 28, 2012

Perkenanan Tuhan Adalah Segalanya

"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya ... Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." - Efesus 5:25-28

Dulu ada seorang teman saya berkata bahwa Tuhan itu luas tiada batas, dan jika dijabarkan dalam kata-kata dan tulisan maka tidak akan ada habisnya. Namun jika bisa digambarkan dalam satu kata saja, maka kata itu adalah KASIH, karena Allah adalah kasih, katanya.

Saya kurang setuju dengan pendapatnya, karena kasih itu hanya mewakili sebagian besar dari Allah, sebab firman-Nya tertulis bahwa kasih menutupi banyak pelanggaran. Namun kata "kasih" belum mencakup keseluruhan Allah. Dan jika saya harus menyimpulkan Allah dalam satu kata saja, maka kata yang menurut saya paling tepat adalah SEGALANYA. Yes, He is EVERYTHING! Bukan hanya kasih tapi Dia juga punya benci. Perhatikan Firman-Nya ini, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." - Lukas 14:26.

Tidak mengasihi isteri adalah pelanggaran. Tidak membenci isteri pun adalah pelanggaran. Bingung?
Mengasihi isteri adalah tindakan murid Kristus. Membenci isteri pun adalah tindakan murid Kristus. Tambah bingung?

Ini realita iman dan kebijaksanaan rohani yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita, bahwa kita tidak tahu sesungguhnya kapan harus mengasihi dan kapan harus membenci orang-orang yang sama, ya isteri, ya suami, ya anak-anak, ya orang tua, ya saudara-saudari kita. Apakah ketika mereka baik maka kita mengasihi dan ketika mereka menjengkelkan maka kita membenci? Tentu bukan begitu yang Tuhan kehendaki.

Tidak ada formula yang baku untuk mengasihi dan membenci semuanya itu selain kita bergaul karib dengan Tuhan. Dia yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk semuanya itu. Firman yang kita baca, pada akhirnya hanyalah logos yang mati dan bahkan mematikan jika tanpa disertai dengan rhema dari Roh-Nya yang kudus. Dan pergaulan yang erat dengan-Nya akan membuat kita semakin bergantung dengan-Nya, dan kita semakin menyadari bahwa pengertian dan kebenaran diri kita sendiri sesungguhnya tidak ada artinya, bahkan bisa mencelakakan hidup kita. 

Ada pepatah pewahyuan yang sangat bijaksana dari Tuhan:
Orang yang diurapi, belum tentu Aku sertai. Orang yang Kusertai, belum tentu Kusayang. Orang yang Kusayang, belum tentu Aku berkenan. Aku mencari orang-orang yang mengejar perkenanan-Ku.

Friday, March 16, 2012

Setelah Semuanya Itu

"Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: 'Abraham,' lalu sahutnya: 'Hineni.' ... Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: 'Bapa.' Sahut Abraham: 'Hineni.' ... Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: 'Abraham, Abraham.' Sahutnya: 'Hineni.' ... " - Kejadian 22

Apa yang telah terjadi sebelum semuanya ITU dalam hidup Abraham? Sampai akhirnya ia menyambut Allah dengan menyebut "Hineni." Jika harus diceritakan dan dijabarkan ulang Kitab Kejadian dari pasal 12 hingga pasal 21, maka itulah yang telah terjadi sebelum akhirnya ia memperoleh kehormatan untuk mengorbankan anak tunggal dari perjanjian dengan Allah. Kisah hidupnya dalam 10 pasal itu sesungguhnya sangat menyakitkan bagi dagingnya, sejak keluar dari kampungnya, tertahan oleh ayahnya, berpisah dari keponakannya, menuruti keinginan manusiawi dari Sara untuk menghampiri Hagar hingga memperoleh anak kedagingan - Ismael, terjepit dalam konflik "2 isteri" hingga harus mengusir Hagar dan Ismael, dan sebagainya. Dan yang paling dramatis adalah melihat serta membesarkan anak perjanjian - Ishak. 

25 tahun penantian dan sekian tahun kebersamaan dengan putera tunggal tercinta tidak menjadikan Abraham merasa memiliki Ishak, sama seperti Bapa tidak pernah ragu untuk mengorbankan Putera tunggal-Nya - Yesus Kristus. Lebih hebatnya lagi adalah Ishak tidak memberontak, namun taat dan kelu hingga di atas kayu bakar, sama seperti Yesus tidak menganggap keallahan-Nya sebagai milik yang harus dipertahankan dan tetap setia hingga mati di atas kayu salib.

Sekarang renungkanlah masa lalu kita semua dengan segala pengalaman yang pernah ada hingga saat kita mambaca tulisan ini. Dan jika sekarang Tuhan meminta untuk mempersembahkan seluruh hidup kita secara total bahkan itu adalah sesuatu yang kita takutkan atau kita hindari selama ini, dan Tuhan minta kita mengalaminya TANPA mengeluh, namun dengan kerelaan dan kepercayaan penuh kepada Dia, adakah kita akan tetap menjawab Hineni - Here I Am?

"Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa. ... Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup." - Keluaran 21:2-6

Tuesday, March 13, 2012

12 Jaminan Hineni

Acara ulang tahun ke-77 Om Tjipto di Bandung kemarin sungguh sebuah anugerah besar Tuhan untuk semua pasukan pilihan-Nya dan menjadi bekal bagi kita semua sampai akhir masa 7 tahun kelimpahan (sekitar akhir September 2015 nanti). Atas perkenanan Tuhan sendiri, Ia memberikan 12 jaminan bagi semua yang rela menempuh jalan Hineni untuk terus setia hingga mencapai garis akhir dengan kuat. Berikut keduabelas jaminan itu:


1. Jaminan Kelimpahan

2. Jaminan Kekuatan Masuk Dalam Ekstra Akselerasi

3. Jaminan Keberhasilan dalam Melewati Ujian dan Proses dan Didapati Setia hingga Garis Akhir

4. Jaminan Jadi Yang Dikasihi-Nya

5. Jaminan Terobosan Dalam Semua Masalah

6. Jaminan Keharmonisan Keluarga

7. Jaminan Bebas Dari Kekeringan

8. Jaminan Hidup di Dalam Gelora Cinta-Nya

9. Jaminan untuk Mengerti Ketetapan Ilahi

10. Jaminan untuk Terus Naik Level

11. Jaminan Dreams Come True

12. Jaminan Multiplikasi / Pelipatgandaan

Jaminan hanya berlaku jika kita terus berkata "YA" atas apapun yang Dia kehendaki dan tidak berlaku ketika kita berhenti dan keluar dari kasih karunia-Nya. Jadi jangan mengeluh, jangan kecewa, jangan marah, dan jangan menyerah karena sesungguhnya anugerah-Nya cukup. Haleluya, Tuhan memberkati.

Wednesday, March 7, 2012

Hineni Itu ...

"Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu." - Filipi 1:20-24

Siapa yang mau diberkati berlimpah dengan banyak harta dan talenta? 
Saya mau, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 
Siapa yang ingin mencapai puncak penggenapan janji-janji-Nya? 
Saya ingin, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 
Siapa yang suka disertai berbagai anugerah dan kemudahan dalam hidupnya? 
Saya suka, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 

Hidup dengan cukup uang tanpa perlu digandrungi rasa was-was. Disukai dan diterima bahkan dimengerti oleh masyarakat di sekitar kita. Tampil ke muka, menerima pujian dan sedemikian dihargai atas apapun yang kita kerjakan atau yang kita karyakan dengan gairah dan kesukaan kita. Ada rasa puas, ada rasa bangga juga ada rasa syukur karena kehidupan berjalan seperti yang diimpikan dan diidamkan.

Namun hidup dalam Kristus tidak begitu, hidup dengan hati Hineni tidak demikian mulus. Ini hidup dengan penderitaan yang panjang dan bisa sangat lama untuk meremukkan ego kita yang begitu bebal. Ini hidup dengan kebingungan dan kesalahpahaman yang terus menerus untuk membuat usang idealisme kita yang memang sudah usang. Ini hidup dengan didikan dan hajaran yang semakin hari semakin berat untuk menyelaraskan hati kita dengan hati-Nya.

Hidup untuk Kristus, bukan meniadakan keinginan manusiawi kita, namun mengembalikan semuanya kepada Dia. Karena kita tidak berani memilih mana yang terbaik yang harus dipilih. Dan kita tidak pernah tahu ke mana dan kapan Ia menghendaki kita berujung pada akhirnya. Entah masih satu pergumulan lagi ataupun seribu tangisan lagi. Tapi ketika Dia bertanya kepada kita, "Maukah kamu?" maka kita akan tetap selalu menjawab, "Aku mau asalkan itu memang kehendak-Mu."

Jadi hidup untuk Kristus itu adalah ada keinginan besar untuk pergi namun kita tetap tinggal karena Kristus, ada keinginan besar untuk kaya namun kita tetap miskin karena Kristus, ada keinginan untuk memiliki nama baik dan masyhur namun kita disalahpahami dan direndahkan karena Kristus. Dan ketika kita tidak pergi, malahan tetap tinggal, hidup miskin dan direndahkan itulah kita diberi perkenanan untuk memberi banyak buah bagi Kerajaan-Nya.

Hineni, jangan jenuh menderita, jangan jemu berbuat baik, jangan mengeluh karena tersiksa. Hineni, selalu bersukacita karena percaya bahwa selalu ada lelucon dalam setiap duka, walau kadang sulit menemukan lelucon di depan matanya sendiri.

Sunday, December 25, 2011

Dua Macam Ujian, Dua Macam Penentuan

"Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." - Ayub 2:9-10

"Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.'" - Bilangan 20:12

"Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya." - Mazmur 106:32-33

2012 tinggal sesaat lagi, dan sesaat lagi pula semua penggenapan, peninggian dan penentuan mulai terjadi sesuai dengan porsinya. Ketika mendengar Ev. Iin Tjipto berkotbah saat perayaan Natal di Balai Samudera beberapa hari lalu, langsung terbayang sebuah film berjudul Legion yang dirilis tahun 2010. Terbayang sebuah adegan dimana sekelompok orang terjebak di sebuah kafe di tengah gurun dan dikepung oleh banyak makhluk jahat. Mereka menghadapi berbagai tekanan dan cobaan dalam dua tahap, karena sebelumnya mereka telah diperingatkan bahwa ujian pertama adalah menguji KEKUATAN mereka, yang berikutnya adalah menguji KELEMAHAN mereka. Pada ujian pertama semua dapat mengatasi dengan baik, namun pada ujian kedua banyak yang tewas.

Sesaat setelah saya kembali teringat akan film tersebut, Roh Kudus memberi pengertian yang sejalan dengan hal itu, "Hampir semua hamba-Ku yang tertulis di Alkitab lulus ketika diuji kekuatannya, namun sangat banyak yang gugur dan gagal ketika diuji kelemahannya." Apa yang dialami Ayub itu hanyalah ujian KEKUATAN, begitu juga saat Daud masih dalam kejaran Saul. Namun apa yang dialami Musa, Simson, Saul, Salomo bahkan raja Daud hingga Ananias & Safira, semuanya adalah ujian KELEMAHAN yang mematikan.

Ketika kita semua berjalan dalam penantian panjang sampai janji yang kita terima menjadi daging, yang kita perlukan hanya percaya supaya kita tidak menjadi kecewa. Namun ketika kita mulai masuk & menikmati semua penggenapan janji tersebut, menikmati keindahan dan segala kemegahan yang menyilaukan, adakah hati kita tetap setia? Musa teledor hingga tidak dapat masuk Tanah Perjanjian, Simson sombong, sembrono & main-main, Saul takut tidak dihormati, Salomo terlalu dipuja karena hikmatnya, raja Daud lengah memilih kenyamanan saat harus berperang hingga harus jatuh menderita karena berzinah dengan Batsyeba, Ananias & Safira bahkan harus mati bahkan di tengah-tengah atmosfir kebangunan rohani yang dahsyat di masa itu.

Ujian KEKUATAN biasanya datang dari luar, untuk menghadapinya diperlukan PERISAI IMAN. Namun ujian KELEMAHAN datang dari dalam, dari kedagingan dan kelemahan kita, dari kesukaan kita akan dosa, dari kebanggaan kita, bahkan dari suatu pemikiran yang menurut kita baik tapi belum tentu benar. Itu sebabnya untuk menghadapi ujian tersebut diperlukan ROH KUDUS dan HATI HAMBA (Hineni) secara total.

"Banyak orang, banyak orang di lembah penentuan! Ya, sudah dekat hari TUHAN di lembah penentuan!" - Yoel 3:14

Ketika semua impian jadi kenyataan, semua janji menjadi daging, semua peninggian telah terjadi maka semua penentuan bersifat FINAL! Itulah sebabnya kita selalu diingatkan akan SIKAP HATI yang dapat menentukan, karena semua yang bersifat final tidak dapat diganggu gugat, tidak dapat diubah.

Saya berharap baik diri saya sendiri dan Anda semua menyadari satu hal ini, yaitu bahwa bukan penggenapan janji maupun memasuki masa keemasan yang jadi masalah, melainkan apakah kita memenangkan pertandingan ini hingga garis akhir, sampai Tuhan datang kembali.

"Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." - Lukas 17:10

Wednesday, July 13, 2011

Jurnal SHRK Juli 2011 - Hari ke-2

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. - Kejadian 21:12

Kepadanya (Abraham) telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." - Ibrani 11:18

Berkat Ishak

Anak-anak Abraham ada banyak, namun HANYA Ishak yang SAH sebagai pewaris janji Allah dengan Abraham. Yang dari padanya sebuah bangsa yang besar dilahirkan dan disebut KETURUNAN ABRAHAM.

"Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya." - Kejadian 17:17-19

Menarik sekali bahwa Allah menamakan anak Abraham dengan nama Ishak dikarenakan reaksi Abraham yang secara sembunyi tertawa sambil berkata dalam hati. Allah sungguh-sungguh menjadikan apa yang ada di dalam hati Abraham kepada kenyataan (daging). Bukan saja soal waktu, namun juga nama Ishak ada karena tawa Abraham itu. Tuhan sungguh sedang membawa apa yang timbul dan kerinduan di hati kita untuk menjadi kenyataan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Namun untuk kita mampu menerima yang besar dari Tuhan, ada hal yang sangat fundamental, yang sama sekali tidak bisa diabaikan, untuk kita memiliki sikap hati yang sedemikian rupa, supaya apapun yang terjadi, naik maupun turun, kita tetap memiliki kesetiaan untuk tidak menjadi kecewa ataupun meninggalkan Tuhan.

Tetap Berjalan Bersama Dengan Tuhan

Coba renungkan kisah pengorbanan Ishak oleh Abraham di tanah Moria (Kejadian 22:6-14). Baik Abraham dan Ishak berjalan bersama-sama. Sesaat Ishak bertanya, "Di mana anak domba untuk korban bakaran?" Abraham menjawab dengan jawaban yang sungguh tidak masuk akal, "Allah yang akan menyediakan." Bagi dunia, jawaban Abraham sama sekali konyol, dan seperti tidak menjawab apa yang ditanyakan Ishak. Namun perhatikan reaksi Ishak! Ia TETAP berjalan bersama-sama.

Dan kita tahu setelahnya Ishak sedia untuk dikorbankan TANPA memberontak, bahkan sama sekali TIDAK MEMPERTANYAKAN tindakan Abraham. Usia Ishak hari itu masih muda, sementara Abraham sudah sangat tua, namun Ishak bahkan tidak memberikan perlawanan secara fisik. Jadi baik Abraham maupun Ishak sama-sama berkorban. Padahal sejak awal Allah menjanjikan sesuatu yang kekal kepada mereka. Namun  baik Abraham maupun Ishak tidak mencoba untuk mengerti, apalagi mempertanyakan keputusan Tuhan. Mereka mentaati sampai tuntas sesuai dengan yang diperintahkan.

Sekarang renungkanlah ini, renungkanlah kehidupan perjalanan kerohanian kita dengan Tuhan. Renungkan apa yang sudah kita doakan, perkatakan, taburkan, tarikan, bahkan yang kita yakini. Semua kepengikutan kita kepada Tuhan, bahwa kita juga berharap semua berkat dan janji-Nya menjadi nyata di dalam hidup kita. Kelimpahan, kejayaan dan masa keemasan kita berharap kita nikmati semuanya sedemikian rupa. Namun sesungguhnya, DESTINASI PERTAMA dari perjalanan kita bersama Tuhan adalah GOLGOTA.

Golgota Bagi Semua Pahlawan Iman

Tidakkah kita memperhatikan pola Tuhan dalam setiap rencana-Nya terhadap masing-masing hamba-Nya. Bahwa Abraham & Ishak harus menghadapi Gunung Moria. Yakub bahkan Benyamin pun harus direlakannya. Yusuf juga harus menjalani perbudakan selama belasan tahun. Daud juga harus menghadapi kejaran raja Saul bertahun-tahun. Dan bahkan Tuhan Yesus harus disiksa dan dikorbankan hingga mati di atas kayu salib di Golgota.

Sadarilah bahwa tidak mungkin kita memasuki puncak kejayaan dan keemasan TANPA Golgota. Bapa tidak mungkin mempermuliakan Tuhan Yesus tanpa Dia menjadi korban bagi kita semua. Nama di atas segala nama pun diberikan karena Tuhan Yesus terus berjalan bersama dengan kehendak Bapa yang sempurna. Sungguh bahwa kerinduan kita untuk mengalami kemuliaan bersamanya harus didahului dengan kerelaan mati bersama-Nya supaya kita dapat bangkit bersama-Nya.

Coba renungkan hal berikut ini; bagaimana jika seandainya lawan kita itu sebenarnya bukan musuh kita? Kita telah melakukan peperangan terhadap pihak Si Jahat, dan Iblis dengan segala muslihatnya memang musuh kita. Namun siapakah lawan kita yang sejati? Tepat! Jika kita menjawab bahwa diri kita sendirilah lawan terberat kita. Semua kedagingan kita, kedagingan kita, kemalasan kita, kebenaran diri sendiri, kemanjaan kita dan seterusnya. Semua hal inilah yang memaksa Tuhan "menyeret" kita untuk "mampir" di Golgota, sebelum segala kekayaan dan kemulian-Nya menjadi nyata.

Bahwa Rut adalah orang Moab, namun memperoleh tempat sebagai salah satu dari moyangnya Raja di atas segala raja. Bahwa tidak ada bagian apapun bagi Rut saat itu, bahkan Naomi terus menghalang-halangi niatnya, namun karena kebulatan tekad Rut yang sedemikian rupa mampu memaksa Tuhan menulis ulang takdirnya.

Bahwa Elisa hanyalah seorang bujang nabi Elia, telah meninggalkan segalanya, setia menyertai tuannya selama bertahun-tahun, didera krisis kepercayaan oleh hampir seluruh nabi di Israel saat itu, bahkan dibuat down oleh tuannya sendiri. Namun Elisa tetap jalan hingga menyeberangi Yordan (yang artinya juga kematian).

Ujungnya Ialah Tuhan

Ketika Abraham teruji, setelah dua kali Malaikat Tuhan memanggil namanya, Abraham tetap menjawab, "Hineni." Tuhan menyatakan kelulusannya, dan menyediakan seekor domba jantan sebagai gantinya. Di tempat itu, Abraham menamai, "Tuhan menyediakan", God is my Provider. Awalnya berjalan bersama, dan ketika perjalanan semakin tidak menentu, kita diharapkan terus berjalan bersama, dan ketika sampai pada puncaknya, Golgota menjadi bagian utama kita, namun ujung yang sesungguhnya ialah Jehovah Jireh. Bukankah yang kita impikan dan yakini selama ini adalah bahwa semuanya tersedia? Sungguh pada akhirnya, Dia menyediakan segalanya bagi kita.

Sikap hati Ishak yang juga Hineni, mengakibatkan apapun yang ditaburkan menjadi hasil seratus kali lipat sehingga ia menjadi semakin kaya, bahkan kian lama kian kaya, dan akhirnya menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-25). Bahkan ketika orang-orang Filistin mencemburui dan menggangunya, sikap hati Ishak tetap terjaga, memilih untuk pergi dalam damai sejahtera. Hingga akhirnya Allah melantik Ishak dan menjadi Allahnya. Dan setelah pelantikan itu semua musuhnya menjadi takut dan memohon untuk mengadakan perjanjian damai (Kejadian 26:26-31).

Kepahlawanan Ishak

Begitu banyak perkara yang dialami Ishak, namun kitab Ibrani mencatat kepahlawan iman Ishak hanyalah pada saat beliau dengan memandang jauh ke depan memberkati Yakub dan Esau. Ishak bukan saja saja mampu mewarisi dengan baik segala yang dari Abraham, namun juga mampu mewariskan kepada keturunan-keturunannya. Sesungguhnya Ishak bukan sama sekali tidak mengetahui bahwa Yakublah yang mendatanginya dengan tipu daya untuk memperoleh berkat kesulungan, namun Ishak dengan segala hikmatnya memandang jauh ke depan dan memahami kepada siapa berkat kesulungan harus diwariskan. Dan kepada Esau juga dijanjikan kemerdekaan, sekalipun ia ditakdirkan menjadi budak adiknya. Karena dengan memandang ke depan pulalah, Ishak meyakini takdir bisa berubah.

When You Are Faithful, Prosperity is Your Very Next Deal!

Wednesday, July 6, 2011

Penentuan Yesaya 6

Bahan Renungan: Yesaya 6; 2 Tawarikh 26

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kita telah mendengar mengenai apa yang sedang dan akan terjadi, terutama berkaitan dengan berbagai tanda dan kejadian yang telah dinubuatkan menjelang kedatangan-Nya yang ke-2. Jika bisa disimpulkan secara umum hal-hal yang sedang dan akan kita hadapi itu adalah berbagai bencana sekaligus kegerakan Roh Allah atas dunia. Dan semakin hari yang dulu kita anggap tanda sudah semakin nyata. Penglihatan-nubuatan sudah banyak yang menjadi daging.Dan kita tahu juga bahwa kedatangan-Nya yang ke-2 bukan saja sebagai Mempelai Kristus, melainkan juga sebagai Raja. Identitas sebagai penguasa memang adalah identitas tertinggi sekaligus identitas terakhir sesuai dengan tujuan semula penciptaan manusia.

Berkaitan dengan kedatangan-Nya sebagai Raja, ada protokoler urutan kejadian yang akan terjadi, dan hal itu tercantum dalam kitab Yesaya pasal 6. Yang pertama terjadi adalah apa yang disebut dengan "kematian Uzia", segala sesuatu yang bersifat Uzia harus mati karena semua yang bersifat Uzia bukan saja tidak memperoleh perkenanan Tuhan, melainkan juga bertentangan dengan kehendak Tuhan. Yang dimaksud dengan yang bersifat Uzia dapat kita ketahui dari sejarah pemerintahan pada kitab 2 Tawarikh pasal 26. Diceritakan bahwa Raja Uzia mengawali pemerintahannya dengan sangat baik, melakukan apa yang benar di mata Tuhan bahkan mencari Allah sehingga segala usahanya dibuat berhasil oleh Tuhan.

Namun semua kebaikan yang dilakukan Uzia hanya sebatas karena ada pengawasnya yaitu nabi Zakharia. Setelah nabi Zakharia dan segala keberhasilan yang diperolehnya, Uzia berubah setia dan menjadi sombong. Protokoler keimaman yang seharusnya hanya dilakukan oleh imam malah dicampuri dengan memasuki bait Tuhan dan membakar ukupan. Uzia sempat dtegor dengan keras oleh imam Azarya, namun bukannya bertobat malah meluapkan amarah, sehingga seketika itu juga timbul kusta pada dahinya. Dan sampai kematiannya ia hidup di pengasingan, sungguh tragis.

Sekarang renungkan berapa banyak hamba-hamba-Nya, gereja-gereja-Nya termasuk diri kita sendiri yang bersikap seperti Uzia. Yang merasa bahwa pola pikir, liturgi, doktrin, budaya dan kebiasaan yang biasa diritualkan dalam kehidupan bergereja adalah paten dan tidak bisa diubah bahkan oleh Tuhan sekalipun. Menjadi lupa diri bahkan tidak tahu diri persis seperti ketika Uzia merasa sudah sangat berjasa. Namun kedatangan-Nya sebagai Raja akan diawali (bukan sekedar ditandai) dengan kematian segala sesuatu yang bersifat seperti Uzia. Karena ketika semua yang bersifat Uzia mati, maka kita baru bisa melihat Tuhan. Semua pola pikir manusiawi dan kedagingan yang ada pada kita adalah penghalang bagi kuasa Tuhan untuk bekerja sesuai dengan kehendak-Nya.


Kedua Mempelai Bersahut-Sahutan, "Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan!"

Ketika Tuhan telah tampak, maka tidak ada hal lain yang dilakukan gereja-Nya selain terus memuji, terus menyembah, terus memuliakan dan terus membicarakan kemuliaan-Nya. Tuhan dan segala rencana-Nya yang luar biasa menjadi topik paling utama yang sering dibicarakan oleh gereja-Nya bahkan sampai keluar ke bangsa-bangsa melalui doa, penginjilan dan berbagai mujizat serta manifestasi kuasa kasih-Nya.

Dan yang terpenting ketika pembicaraan dan kerinduan akan Dia semakin bertambah-tambah, kita sebagai gereja-Nya semakin disadarkan akan keburukan dan kelemahan kita. Kita semakin sadar bahwa apa atau bahkan siapa yang biasanya menjadi andalan kita akan terlihat begitu buruk. Sama seperti nabi Yesaya, saat itu beliau adalah seorang nabi Tuhan, dan kekuatan utama seorang nabi ada pada ucapannya. Ucapan seorang nabi penuh kuasa bahkan mampu menentukan nasib banyak bangsa. Namun begitu Tuhan mulai tampak dan kekudusan-Nya makin menggema, nabi Yesaya justru makin menyadari betapa buruknya beliau di hadapan Tuhan.

Kesadaran akan keburukan kita menjadikan kita semakin tahu diri dan rendah hati, tak ada lagi alasan untuk meninggikan diri, apalagi di hadapan Tuhan. Dan sebagai akibatnya kita dan melihat Tuhan sebagai Raja, kita dapat mengalami berbagai terobosan dalam kehidupan kita ketika Tuhan sebagai Raja mengambil alih kehidupan kita - "Then I, GOD, will burst all confinements and lead them out into the open. They'll follow their King. I will be out in front leading them" - Mikha 2:13. Terobosan apa saja yang kita rindukan saat ini? Terobosan finansial? Terobosan pelayanan? Terobosan jiwa-jiwa? Terobosan keluarga? Terobosan atas karakter, watak dan semua kelemahan kita? Semua akan menjadi kenyataan saat Raja kita turun ke gelanggang arena ganti kita. Dan hal tersebut juga dialami nabi Yesaya, ketika sepit bara itu menyentuh bibirnya, maka semua kesalahan dan dosanya dihapus.

Jawablah kepada-Nya, "Hineni!"

Terobosan dan pemulihan yang kita alami bukan tanpa maksud diberikan Tuhan kepada kita. Karena setelah itu kita sebagai generasi penuntas memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian untuk menuntaskan dan menggenapi semua janji dan pekerjaan-Nya sampai kedatangan-Nya yang ke-2. Dan apapun yang Tuhan minta kita lakukan, jawablah dengan, "Hineni!"

Saat Tuhan membutuhkan partner untuk menjalankan rencana-Nya, Tuhan tidak langsung bertanya kepada nabi Yesaya, melainkan sebuah pertanyaan terbuka, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Dan siapa pun yang bersedia berjalan seirama dengan-Nya akan memahami maksud hati-Nya tanpa Tuhan perlu berkata-kata. Inilah pentingnya kita sebagai gereja untuk semakin ber-Hineni menjelang kedatangan-Nya yang ke-2.

I see the Lord, I see the Lord
Exalted high upon the worship
Of the people of the earth
I see the Lord, I see the Lord
My eyes have seen the King
The Lamb upon the throne
Who reigns forever more

Tuesday, July 5, 2011

Keistimewaan Kuasa Perjanjian (Tuhan Dengan Abraham)

Bahan renungan: Lukas 13:10-17

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Suatu kali Tuhan Yesus sedang mengajar dalam sebuah rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah 18 tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri dengan tegak. Seketika itu juga Tuhan Yesus memanggil dan mendeklarasikan kesembuhan bagi ibu tersebut. Diletakkan tangan-Nya atasnya, seketika itu juga ibu tersebut dapat berdiri tegak kembali dan memuliakan Allah.

Kejadian berikutnya sungguh mengherankan karena mujizat kesembuhan tersebut menjadikan kepala rumah ibadat gusar, karena apa yang diperbuat Tuhan Yesus diperhitungkan sebagai pelanggaran Hukum Taurat, yaitu mengenai kekudusan hari Sabat. Bahkan kepala rumah ibadat menggurui dengan menganggap bahkan menyamakan tindakan menyembuhkan orang sakit sebagai sebuah pekerjaan sekuler (seperti beternak, mengolah tanah, dan sebagainya).

Dalam "kemarahan"-Nya, Tuhan Yesus membalas kemunafikan kepala rumah ibadat yang memahami Taurat dengan sangat ahli, namun tidak memiliki belas kasihan terhadap sesama seperti yang dikehendaki Allah. Kepala rumah ibadat menuding dengan mempergunakan dasar Hukum Taurat, namun Tuhan Yesus menegaskan tindakan mujizat-Nya dengan mempergunakan dasar Perjanjian dengan Abraham. Dan seketika itu juga kepala rumah ibadat beserta semua kroninya merasa malu karena salah menuding dan "kalah telak" berdebat dengan Tuhan Yesus. Perhatikan hal ini dengan seksama. Bahwa perempuan yang sakit itu tidak memiliki iman, juga tidak ada orang lain yang sedang beriman untuk perempuan itu disembuhkan. Semua terjadi semata-mata hanya karena janji Allah terhadap Abraham yang berlaku kekal.

Allah menghendaki agar manusia beristirahat dan mencari wajah-Nya dalam persekutuan pada hari Sabat, bukan tinggal terikat dalam belenggu Iblis. Hukum Taurat merupakan "undang-undang" yang sangat kuat dan solid, namun Kuasa Perjanjian melampaui kuasa Hukum Taurat. Karena Hukum Taurat lahir akibat ketegaran tengkuk bangsa Yahudi saat di padang gurun, sementara Kuasa Perjanjian lahir dalam sebuah hubungan yang sedemikian rupa istimewa, juga karena hati Abraham yang HINENI. Perjanjian Tuhan dengan Abraham adalah perkataan Tuhan lahir karena cinta dan keterpikatan Tuhan terhadap ketaatan & kesetiaan Abraham. Hukum Taurat adalah perkataan Tuhan yang lahir karena "kepasrahan" Tuhan terhadap kebebalan bangsa Israel.

Dengan demikian Tuhan seperti hendak berkata kepada semua lawannya saat itu, "Kalian hendak menuding Aku dengan hukum yang Kubuat karena kebebalan kalian?! Sementara Aku menyembuhkan perempuan ini karena cinta dan kasih setia-Ku terhadap bapak kalian, Abraham!" Sungguh tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Hukum Taurat ada karena ketidakpercayaan bangsa Israel terhadap pribadi Allah, namun perjanjian-Nya diberikan kepada orang yang mengenal hati-Nya.

Selagi masih ada waktu, kejarlah Tuhan dan inginilah Dia lebih dari segalanya. Pengenalan yang benar tidak akan membawa kesia-siaan. Dari sanalah kita menyadari bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup.

Wednesday, March 16, 2011

HINENI: Bezaleel bin Uri bin Hur

Bahan Renungan: 2 Tawarikh 1:1-7; Wahyu 3:7-13

Saudara-saudari dalam Kristus, telah dinubuatkan, digenapi dan hampir akan kita nikmati dalam tempo yang sesingkat-singkatnya atas datangnya masa keemasan Salomo yang akan digenapi oleh para Yusuf Akhir Zaman-Nya. Namun kelimpahan yang Tuhan rencanakan perlu dihadapi dengan sikap hati yang benar.

Salomo mulai masuk dalam masa keemasannya setelah mempersembahkan kurban BUKAN di hadapan Tabut Allah yang adalah lambang kehadiran Tuhan yang saat itu berada di Yerusalem, MELAINKAN di depan Kemah Suci Tuhan tempat terdapatnya mezbah tembaga buatan Bezaleel bin Uri bin Hur. Sesungguhnya hal ini tidak lazim, peristiwa ini seperti ingin mengatakan bahwa mezbah tembaga lebih berkenan daripada Tabut Allah. Namun sesungguhnya bukanlah demikian. Kita harus mengerti bahwa Tuhan sebagai Raja memiliki protokoler tersendiri untuk setiap perkara yang hendak digelar-Nya.

Pertanyaannya adalah mengapa dalam perkara memasuki masa keemasan Tuhan ingin memulai dengan mezbah tembaga tersebut? Seperti kita semua sudah ketahui bahwa arti nama Bezaleel adalah di bawah bayang-bayang Tuhan, orang yang hanya ada di mana Tuhan ada, namun tidak pernah tampak karena yang nyata hanyalah Tuhan dan dia adalah bayangan-Nya. Namun sebelum tampilnya Bezaleel, kita harus mencermati dua orang pendahulunya yaitu Hur (kakeknya) dan Uri (ayahnya).

Hur dalam catatan Alkitab diceritakan sebagai satu di antara dua orang yang menopang tangan Musa saat Yosua berperang melawan bangsa Amalek. Penopang atau pilar atau sokoguru dalam tujuh jemaat di kitab Wahyu termasuk jemaat Filadelfia. Seperti apakah jemaat Filadelfia itu?

Jemaat Filadelfia adalah satu-satunya jemaat yang berkenan di hati Tuhan, mereka adalah jemaat yang mentaati firman (ketekunan / kesabaran) - Nya secara total. Total artinya firman-Nya bukan saja didengar, namun ditaati sampai TUNTAS, tidak setengah-setengah, namun sampai Tuhan berkata, "Aku puas, Aku berkenan." Jemaat ini rela menaati firman-Nya berapa pun harga dan risiko yang harus ditanggungnya.

Sementara arti nama Uri adalah gairah (passion). Terhadap Tuhan dan apapun yang dikehendaki-Nya, orang tersebut selalu bergairah. Api cinta yang ada di dalamnya tidak pernah padam bahkan TAK TERPADAMKAN. Adakah kita sedemikian bergairah terhadap Tuhan kita?

Dengan demikian Tuhan hendak berkata kepada kita bahwa kelimpahan & masa keemasan Salomo hanya bisa dinikmati dengan benar oleh orang yang TOTAL menaati firman-Nya, bergairah terhadap Tuhannya, namun tetap tahu diri dengan memilih keberadaannya sebagai bayang-bayang Tuhannya.

Sesungguhnya menjadi budak sejati-Nya lebih berkuasa dari raja-raja dunia mana pun. Seperti raja Salomo tidak seorang pun dalam sejarah manusia ada yang lebih kaya daripada dia, baik sebelum maupun setelahnya.

Tuesday, March 15, 2011

HINENI (הנני): Ini Aku, Budak-Mu (Karena Cinta).

"Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup." - Keluaran 21:5-6

Dalam 6 bulan terakhir ini ada segolongan orang dari kaum percaya Kristus mendengungkan sebuah slogan baru "HINENI", yang dalam bahasa Ibrani berarti "ini aku, budakmu" (here i am, your slave - not servant). Melihat artinya dapat kita simpulkan bahwa seorang beriman yang mencapai atau berusaha mencapai level HINENI adalah seseorang yang berbulat tekad, iman dan cintanya untuk mengabdi sepenuh hati kepada Tuannya apapun risiko yang akan dihadapinya.

Mari kita berandai-andai sejenak. Seandainya Tuhan yang kita sembah datang kepada kita dan berkata, "Relakah kamu jika sepanjang hidupmu bahkan sampai akhir hayatmu, Aku tidak memberkati kamu, adakah kamu masih tetap percaya, taat dan setia mengikuti ke manapun Aku kehendaki kamu ada?" Jawaban apa yang akan kita balaskan kepada-Nya? Beranikah kita berkata, "Ya Tuhan, aku rela." atau kita berubah menjadi kecewa seperti orang muda yang kaya itu? Dan janganlah kita memiliki pikiran bahwa Tuhan akan berubah pikiran suatu waktu ketika kita sudah menjawab bersedia, karena kita tidak bisa membohongi-Nya. Sebab Dia memahami hati.

Kondisi HINENI tidak terjadi begitu saja dan tidak dipaksakan oleh siapa pun termasuk Tuhan sekali pun. Keputusan seorang percaya untuk ber-Hineni tidak didasari oleh sebuah kepasrahan apalagi sebuah keputusasaan. Dasar orang percaya ber-Hineni adalah karena CINTA kepada Tuannya. Imannya bukan lagi kuat, namun sudah bulat. Orang tersebut sadar bahwa dia memiliki pilihan untuk menjadi orang "merdeka", hidup berdasarkan kehendak bebas (free will) yang Tuhan berikan sejak mulanya, namun pada akhirnya ia MEMBUANG KEMERDEKAANNYA dan mengikat seluruh hidupnya total kepada Tuannya KARENA CINTA.

Karena cinta, maka sekalipun orang tersebut adalah budak, namun ia cukup memahami hati Tuannya. Budak ini bukan budak yang jauh dalam hubungan dengan Tuannya, namun memiliki keintiman dengan Tuannya. Ia tidak sekedar menaati perintah Tuannya, namun memahami isi hati, selera, mood bahkan ketidaksukaan Tuannya. Dan walaupun ia begitu memahami Tuannya, ia tidak menjadi sombong, sebaliknya semakin hari semakin tahu diri dan semakin merendah.

Demikianlah Kristus merelakan segalanya, termasuk hidup-Nya. Relakah kita?

Thursday, March 10, 2011

Jurnal SHRK Maret 2011 - Hari ke-1

Bahan renungan Kitab Keluaran 36:1-7; Kitab 2 Tawarikh 1:1-7; Kidung Agung 1:7-8

Saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Masa kelimpahan pasti akan terjadi dalam waktu dekat ini, bahkan seorang hamba-Nya bernama Ps. Darrel Stott menerima pesan Tuhan tentang kegerakan dan rencana-Nya di Indonesia saat beliau sedang di sebuah tempat yang disebut Lembah Malaikat di Irlandia bulan Januari 2011 ini. Bahwa pada waktunya gereja-gereja di Indonesia akan memasuki zaman Salomo, berkat Tuhan menjadi begitu limpah karena Tuhan telah menetapkan gereja-gereja di Indonesia untuk mendanai semua kegerakan Tuhan di bangsa-bangsa di dunia.

Oleh karena kelimpahan yang begitu pasti dan sangat dahsyat, gereja harus memastikan kapasitasnya untuk mampu menerima dan mengelola semua kelimpahan yang akan datang dengan sikap hati HINENI. Kita mesti mengerti bahwa ujung dari kelimpahan tersebut adalah Tuhan sendiri, tanpa sikap hati Hineni maka gereja tidak akan sanggup bahkan murtad ketika kelimpahan yang dahsyat itu datang.

Zaman keemasan pada masa Salomo dimulai ketika dia mempersembahkan korban bakaran dan malamnya Tuhan datang dengan berfirman, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Yang mengherankan adalah saat itu Raja Salomo meminta petunjuk Tuhan dan mengadakan upacara pembakaran korban tidak di tempat dimana tabut Allah berada (Yerusalem), namun di padang gurun tempat adanya Kemah Suci (Kemah Pertemuan), tempat adanya mezbah tembaga yang dulu dibuat oleh Bezaleel bin Uri bin Hur.

Nama Bezaleel sendiri artinya orang yang tinggal tetap di bawah bayang-bayang Tuhan (Elohim). Digambarkan sebagai orang yang selalu (total) bertindak hanya berdasarkan perintah dan petunjuk Tuhan, tidak memiliki inisiatif sendiri ketika melaksanakan tugasnya. Sementara Hur, kakeknya, adalah seorang dengan panggilan Pilar (Sokoguru) karena menopang tangan Musa saat Yosua berperang melawan bangsa Amalek.

Dengan demikian Tuhan hendak mengatakan, yang pertama bahwa masa kelimpahan zaman Salomo akan tiba dan dapat dinikmati dengan benar ketika gereja memiliki sikap hati Hineni, yang selalu menantikan petunjuk Tuannya dan bertindak tepat sesuai dengan petunjuk tersebut. Yang kedua bahwa masa tersebut dimulai dari orang yang memiliki panggilan tertinggi sebagai Pilar saat ini (Ev. Yusak Tjipto - penulis menafsirkan sendiri) merayakan hari jadinya di tahun 2011 ini.

Hamba Yang Di Bawah Bayang-Bayang Tuannya

Kejadian 26:12-18 menceritakan ketika Ishak menjadi semakin kaya bahkan sangat berkelimpahan, namun Ishak tidak berjalan keluar dari tempat atau garis yang telah ditetapkan melalui ayahnya (Abraham). Ishak tidak menggali sumur-sumur baru, namun sumur-sumur yang pernah dibuka ayahnya bahkan menamai sumur-sumur tersebut sama seperti yang dinamai oleh ayahnya. Hal ini menandakan bahwa sikap hati Hineni (berjalan & bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan) yang mampu membawa gereja pantas masuk ke dalam zaman keemasan.

Bezaleel dan Aholiab adalah lambang dari gereja yang memiliki integritas yang tinggi. Dikatakan bahwa ketika rakyat membawa begitu banyak segala sesuatu yang diperlukan untuk membangun Kemah Suci Tuhan, mereka tetap melaporkan hal tersebut kepada Musa dan tidak menyimpan sebagian untuk diri mereka sendiri (seperti yang sering dilakukan banyak hamba-Nya, ex: Imam Eli dan anak-anaknya).

Hamba memang tidak mengerti dengan seutuhnya apa yang dipikirkan dan direncanakan Tuannya, begitu pula gereja sebagai Mempelai Wanita terhadap Mempelai Kristus, namun Tuhan telah memberikan petunjuk agar kita mengikuti jejak-jejak Anak Domba Allah (Kidung Agung 1:7-8). Hamba yang benar adalah hamba yang rela mengikuti kemana pun Tuannya kehendaki. Dengan demikian gereja mampu untuk masuk dalam zaman keemasan dan kelimpahan yang Tuhan rencanakan.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.