Labels

Showing posts with label Kristus. Show all posts
Showing posts with label Kristus. Show all posts

Monday, February 1, 2016

HaMashiach Yeshua (המשיח ישוע)

"Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: 'Eli, Eli, lama sabakhtani?'* Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: 'Ia memanggil Elia.' Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: 'Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.' Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: 'Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.'" - Matius 27:45-54

Berpuluh-puluh tahun Gereja menginterpretasikan seruan nyaring Yesus di atas kayu salib, "Eli, Eli, lama sabakhtani," sebagai semacam ungkapan keluhan-Nya karena menyangka bahwa Bapa sedang berpaling dari Anak Tunggal-Nya. Padahal seruan tersebut merupakan deklarasi yang tak terbantahkan bahwa Yesus yang mereka salibkan adalah Sang Kristus, Sang Mesias, yang telah lama dinubuatkan oleh para nabi pendahulunya, bahkan juga oleh raja Daud dalam salah satu Mazmurnya.

Seorang Israel atau Yahudi sejati pastilah akan memahami benar bahwa seruan nyaring Yesus kali itu bukanlah sebuah seruan biasa yang diserukan kepada Bapa di Sorga, melainkan seruan yang secara tersirat hendak berkata bahwa baca dan renungkan Mazmur Daud (pasal 22) yang telah dinubuatkan lebih dari seribu tahun sebelumnya dan apa yang tertulis di dalamnya sedang kalian saksikan penggenapannya. Sebab memang kalimat pertama atau judul atau kepala kalimat dari Mazmur tersebut berkata yang sama, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. ... Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. ... Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang. Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya." - Mazmur 22

Lebih lanjut Mazmur tersebut menubuatkan sebagaian rincian kejadian penyaliban Kristus, yakni bagaimana tangan dan kaki-Nya akan dipakukan. Juga pakaian jubah-Nya dibagi-bagi dengan mengadakan undian. 

Namun konyolnya adalah bahwa mereka yang menyaksikan penggenapan nubuatan Sang Mesias itu menyangka bahwa Yesus sedang memanggil nabi Elia. Ya mereka adalah umat pilihan-Nya yang dibangun oleh Tangan-Nya sendiri, bangsa Israel, bahkan lebih konyol lagi, mereka menunggu apakah nabi Elia akan datang menghampiri Yesus. Jelas nabi Elia takkan muncul, karena memang Yesus sedang tidak memanggilnya. Dan itulah yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam surat ke-2 kepada jemaat Korintus,

"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya." - 2 Korintus 3:14-16


Karena kebebalan umat pilihan Israel, maka Tuhan melalui raja Daud telah memazmurkan nubuatan bahwa akan ada sebuah bangsa yang akan lahir di kemudian hari untuk memberitakan Injil Keadilan-Nya, bangsa tersebut adalah Gereja-Nya (Ecclesia) yang telah berbalik kepada Tuhan lebih dulu daripada bangsa pilihan yang pertama, Israel. Dan sebagai tanda penggenapan dibangunnya umat pilihan kedua, yakni Gereja-Nya, maka kepala pasukan Romawi beserta para prajuritnya yang sedang ketakutan itu malah mengakui bahwa Yesus Kristus sungguh Anak Allah yang berdaulat sepenuhnya.

Bukankah hari itu Yohanes Pembaptis menegor orang-orang Farisi dan Saduki, "Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!" - Matius 3:9. Dan ternyata rasul Petrus menegaskan pernyataan tersebut dengan berkata, "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan. Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan." - 1 Petrus 2:7-8. Jadi memang Tuhan telah menjadikan anak-anak lain bagi Abraham dari sekumpulan batu buangan atau batu sandungan yang diubah menjadi batu-batu penjuru, yakni Gereja-Nya.

Yang terdahulu menjadi yang terkemudian, sedangkan yang terkemudian menjadi yang terdahulu, demikianlah takdir Israel dengan Gereja. Dan hal ini dikerjakan Tuhan dalam kecemburuan-Nya yang amat sangat supaya Israel menjadi amat cemburu karena telah menolak Mesias-Nya. Bahkan sebelum mereka sadar akan Mesias yang sejati, mereka harus menderita sangat hebat karena kebodohan mereka menerima Mesias Palsu, yakni Sang Antikristus untuk masuk ke Bait Suci ke-3 di beberapa waktu mendatang.

Bukankah di awal perjumpaan dengan bangsa Israel, Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Elohim yang pencemburu, El-Qanna, "Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu." - Keluaran 34:14. Dan hal ini dipertegas secara ajaib dengan mujizat pertama yang dilakukan Yesus di sebuah perjamuan kawin di Kana. Betapa Tuhan Yesus begitu detil menyampaikan semua pesan-Nya kepada Israel bahwa Ialah Sang Mesias yang dijanjikan itu. Jadi hari itu Israel telah memiliki allah lain dalam hidup mereka, yakni konsep dan kebenaran diri mereka sendiri yang lengkap dengan berbagai tradisi dan nilai-nilai agamawi mereka. 

Ya Yesus Kristuslah Sang Mesias, Anak Daud, Anak Abraham, Yang Diurapi dan Yang Dijanjikan. He is The Rock of Salvation!

Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--, namun Ia telah menjadi Batu Penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Wednesday, March 7, 2012

Hineni Itu ...

"Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu." - Filipi 1:20-24

Siapa yang mau diberkati berlimpah dengan banyak harta dan talenta? 
Saya mau, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 
Siapa yang ingin mencapai puncak penggenapan janji-janji-Nya? 
Saya ingin, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 
Siapa yang suka disertai berbagai anugerah dan kemudahan dalam hidupnya? 
Saya suka, dan kelihatannya begitu juga dengan Anda semua. 

Hidup dengan cukup uang tanpa perlu digandrungi rasa was-was. Disukai dan diterima bahkan dimengerti oleh masyarakat di sekitar kita. Tampil ke muka, menerima pujian dan sedemikian dihargai atas apapun yang kita kerjakan atau yang kita karyakan dengan gairah dan kesukaan kita. Ada rasa puas, ada rasa bangga juga ada rasa syukur karena kehidupan berjalan seperti yang diimpikan dan diidamkan.

Namun hidup dalam Kristus tidak begitu, hidup dengan hati Hineni tidak demikian mulus. Ini hidup dengan penderitaan yang panjang dan bisa sangat lama untuk meremukkan ego kita yang begitu bebal. Ini hidup dengan kebingungan dan kesalahpahaman yang terus menerus untuk membuat usang idealisme kita yang memang sudah usang. Ini hidup dengan didikan dan hajaran yang semakin hari semakin berat untuk menyelaraskan hati kita dengan hati-Nya.

Hidup untuk Kristus, bukan meniadakan keinginan manusiawi kita, namun mengembalikan semuanya kepada Dia. Karena kita tidak berani memilih mana yang terbaik yang harus dipilih. Dan kita tidak pernah tahu ke mana dan kapan Ia menghendaki kita berujung pada akhirnya. Entah masih satu pergumulan lagi ataupun seribu tangisan lagi. Tapi ketika Dia bertanya kepada kita, "Maukah kamu?" maka kita akan tetap selalu menjawab, "Aku mau asalkan itu memang kehendak-Mu."

Jadi hidup untuk Kristus itu adalah ada keinginan besar untuk pergi namun kita tetap tinggal karena Kristus, ada keinginan besar untuk kaya namun kita tetap miskin karena Kristus, ada keinginan untuk memiliki nama baik dan masyhur namun kita disalahpahami dan direndahkan karena Kristus. Dan ketika kita tidak pergi, malahan tetap tinggal, hidup miskin dan direndahkan itulah kita diberi perkenanan untuk memberi banyak buah bagi Kerajaan-Nya.

Hineni, jangan jenuh menderita, jangan jemu berbuat baik, jangan mengeluh karena tersiksa. Hineni, selalu bersukacita karena percaya bahwa selalu ada lelucon dalam setiap duka, walau kadang sulit menemukan lelucon di depan matanya sendiri.

Monday, April 11, 2011

Hak Kesulungan Dan Warisan Ilahi

Bahan Renungan: Maleakhi 1:1-5; Matius 1:1-17

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Tuhan dalam kesempatan-Nya menegaskan kasih-Nya kepada bangsa Israel untuk kesekian kalinya. Namun di dalam kitab Maleakhi pasal 1, Tuhan mengungkapkan kasih-Nya tersebut dengan cara yang sangat unik dan aneh. Dikatakan bahwa Tuhan mengasihi Israel (keturunan Yakub) dengan membenci Esau, bahkan sedemikian kebencian-Nya hingga sekalipun Esau membangun kembali reruntuhannya, Tuhan akan merobohkannya terus dan murka-Nya tidak akan surut terhadap Esau.

Sekarang saudara bayangkan jika ada dua orang kakak beradik, sebut saja Andi dan Budi. Dan suatu ketika ayahnya berkata kepada Budi, "Budi anakku, ayah sayang kepadamu." Dan sebagai balasannya, Budi bertanya, "Apa buktinya ayah menasihi Budi?" Kemudian ayahnya menjawab, "Ayah mengasihi kamu dengan membenci Andi, kakakmu. Dan apapun yang dia kerjakan akan ayah hancurkan."

Tidakkah akan lebih wajar jika sang ayah menjawab kepada Budi, "Ayah akan mendukung semua usahamu, nak! Apapun yang kamu minta akan ayah kabulkan semua." Tanpa menyinggung keberadaan Andi, yang walaupun mungkin saat itu sang ayah sangat membencinya.

Pertanyaannya, mengapa Tuhan sedemikian membenci Esau? Hingga dalam mengungkapkan kasih-Nya kepada Yakub (Israel), yang dijadikan bukti adalah dengan "diumbar" segala kebencian dan "dendam"-Nya terhadap Esau. Apakah pelanggaran yang Esau lakukan sedemikian fatal di mata Tuhan? Hingga bagi Esau seperti tidak ada ampun.

Pertanyaan kedua, apakah hak kesulungan itu? Hingga sedemikian Yakub dikasihi-Nya dan Esau sedemikian dibenci-Nya. Sadarkah kita bahwa hak kesulungan bukan saja berkat materi melainkan Kristus itu sendiri. Jadi memandang rendah hak kesulungan sama dengan menolak Krsitus. Karena di dalam Kristuslah segala janji Tuhan, segalam impian Tuhan dan segala cita-cita Tuhan genap dan jadi sempurna. Kristus bukan saja jaminan keselamatan orang percaya untuk terhindar dari hukuman neraka, melainkan juga jaminan untuk mengembalikan manusia sebagai rupa dan gambar Allah untuk berkuasa dan memerintah dunia bersama dengan Kerajaan-Nya. Hak kesulungan itulah yang menjadikan Injil diberitakan ke seluruh bangsa, membuat kita memuridkan dan membaptiskan seluruh bangsa, memampukan kita mengusir setan-setan dalam nama-Nya, berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, bahkan sekalipun minum racun maut tidak akan celaka.

Adakah kita memandang keselamatan kita di dalam Kristus sebagai sesuatu yang sedemikian berharga dan istimewa dengan mengisi keselamatan kita seperti yang Tuhan kehendaki? Pada akhirnya yang tinggal hanyalah Kerajaan-Nya dan Kehendak-Nya, bukan kerajaan dan kehendaki manusiawi kita.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.