Labels

Thursday, August 1, 2019

Hukum Taurat Dan Tipu Daya Lahiriah

Tidak sepantasnya pemberita Injil Kristus maupun Injil Kerajaan menyatakan bahwa Hukum Taurat masih berlaku, sebab memang Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi.

Dan Rasul Paulus pun berkata,

"Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu BUKANLAH BAGI orang yang benar, MELAINKAN BAGI orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu YANG BERTENTANGAN DENGAN AJARAN SEHAT YANG BERDASARKAN INJIL dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku." - 1 Timotius 1:8-11

Ketika saya menyadari kekeliruan dan kesalahan dari praktik-praktik penyembahan di Bahtera (termasuk Mahanaim dan AoC) dan berbagai komunitas sejenis lainnya begitu sarat dengan unsur-unsur keimaman Lewi seperti yang diatur dalam Hukum Taurat, maka saat itu juga saya menyadari bahwa semua yang dianggap profetik sesungguhnya adalah klenik.

Tumen, patok, jubah, replika Tabut Perjanjian, bokor, dupa dan berbagai bentuk lahiriah lainnya yang digunakan dalam penyembahan dan dilakukan secara prosedural, semuanya bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil yang dari Allah. 

Sedangkan melalui Tuhan Yesus dan tuntunan Roh Kudus, kita diharapkan menjadi pribadi yang dicari Bapa, yang penyembah dalam roh (batiniah) dan kebenaran.

Karena Hukum Taurat tidak diberikan bagi kita yang sudah dibenarkan melalui iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus, dan tidak akan pernah.

Standar Hukum Taurat mengenai perzinahan misalnya, adalah ketika ada tindak perzinahan, yakni bukti nyata (lahiriah) bahwa tindak perzinahan itu ada dilakukan.

Sedangkan standar Hukum Kasih Karunia mengenai perzinahan adalah ketika dalam pikiran dan hati saja sudah dianggap berzinah, walaupun sama sekali tidak ada tindakan lahiriahnya. Ini benar-benar perkara batiniah.

Hal itu sejalan dengan esensi Kerajaan Allah yang tak tergoncangkan itu,

"Kerajaan Allah datang TANPA tanda-tanda lahiriah, juga orang TIDAK DAPAT MENGATAKAN: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." - Lukas 17:20-21

Kerajaan Allah takkan pernah ditemukan dalam hal-hal lahiriah apapun di muka Bumi ini. Maka ketika hal-hal lahiriah itu dipakai atau dijadikan standar, apalagi dijadikan prosedur untuk menilai hadirnya Kerajaan Allah, sudah pasti hal itu MENYESATKAN.

Termasuk ajakan ibadah yang "mengiming-iming" atau menjanjikan bisa bertemu Tuhan Yesus secara fisik, untuk itupun Tuhan Yesus dengan gamblang menyatakan,

"Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.

"Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya." - Lukas 17:22-24

Memang ada beberapa kesaksian dari anak-anak Tuhan yang mengalami perjumpaan secara fisik dengan Tuhan Yesus, tapi hal itu sifatnya personal, TIDAK BISA "DIPERDAGANGKAN", apalagi dijanjikan bertemu. Kendalinya murni dari Tuhan Yesus saja, tidak melalui perantara siapapun.

Jadi kalau sampai ada yang mengaku dengan menjanjikan pertemuan fisik dengan Tuhan Yesus, dan apalagi mengaku merasa benar bertemu Tuhan Yesus, kita harus waspada, karena jelas yang secara fisik ditemui itu BUKAN Tuhan Yesus.

Praktik klenik lainnya lagi adalah mengajak makan emas, dengan tujuan alami kelimpahan, atau makan kembang dengan tujuan supaya hidupnya menjadi indah atau apapun alasannya. Klenik namun disebut profetik. 

Padahal yang benar profetik itu bersifat spontan dan tidak direncanakan maupun tidak melalui latihan. Semua murni karena intervensi Roh Tuhan yang tidak diketahui jadwalnya. 

Sudah saatnya menyadari bahwa yang lahiriah itu akan menuju kepada kebinasaan karena bisa dengan mudah maupun dengan canggih dipakai untuk memperdaya siapapun yang ingin dinilai baik secara lahiriah pula.

Hal ini sejalan dengan yang Rasul Paulus peringatkan,

"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!" - 2 Timotius 3:5

Mengapa mereka pada hakekatnya memungkiri kekuatannya sendiri? Karena sejatinya batiniah mereka rapuh dan tidak pernah dibangun dengan kebenaran yang sejati!

Jauhilah mereka itu.

Pembodohan Rohani Berjemaah

Tuhan Yesus sudah memberikan perintah untuk kita menilai bahkan ada pula yang namanya karunia atau kemampuan untuk membedakan roh. 

Namun ketika penilaian atau hasil membedakan roh dipublikasikan, orang yang mempublikasikan penilaiannya malah dianggap menghakimi. 

Contohnya adalah ketika saya menyebut dalam penilaian saya tentang pendeta palsu dari Zimbabwe yang bernama Paul Sanyangore, yang diundang oleh persekutuan Ark of Christ (AoC), Bandung, yang kebetulan juga mengundang nabi palsu sekaligus pelaku pencabulan anak-anak di bawah umur untuk berkotbah di mimbar yang sama, yang kasusnya sudah berjalan 5 bulan, Timothy Luke Saputra alias Yesaya Gunawan.

Pihak AoC dan banyak saudara dari Bahtera dengan secapat cahaya menganggap saya menghakimi, padahal saya hanya menilai dan tidak ada vonis apapun yang saya jatuhkan kepada mereka maupun orang yang mereka undang.

Dan karena begitu mudahnya menganggap setiap penilaian sama dengan tindak menghakimi, akibatnya jemaat tidak pernah dicerdaskan, tidak punya ruang untuk bisa menilai dengan baik suatu perkara rohani, karena takut dianggap menghakimi.

Pendeta palsu dari Zimbabwe yang saya nilai sebagai tukang sihir itu, disodorkan ke jemaat oleh pihak pengundang sambil berkata, "Saya sudah cek spiritnya, clean!" Seakan-akan dia berhak memberikan sertifikat "halal" kepada siapapun yang dia kehendaki, alih-alih mempersilakan setiap jemaat menilai sendiri setiap perkara rohani yang ada. Ini jelas pembodohan berjemaah. 

Lebih miris lagi ketika para pengkotbah palsu itu dari atas mimbar mengkotbahkan dalih yang paling manjur, yakni dalih "jangan menyentuh yang diurapi", maka semakin tumpullah kemampuan penilaian yang diharapkan Tuhan Yesus ada dalam setiap orang percaya.

Logika dan akal budi jemaat diberangus oleh citra para "hamba" Tuhan yang mengaku diurapi itu. Karena ketika logika dan akal budi digunakan untuk menilai sesuatu yang rohani, hal itu dianggap haram.

Padahal dengan tegas Tuhan Yesus katakan, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU, dan dengan segenap kekuatanmu."

Akibatnya, logika dan akal budi tidak mengalami pembaharuan seperti yang Tuhan kehendaki, tidak pernah cerdik seperti ular, hanya ada tulus seperti merpati saja, sehingga selamanya jemaat yang tulus itu menjadi target empuk pembodohan yang berkepanjangan.

Begitu juga ketika dengan gamblang dan bukti nyata saya mempublikasikan penilaian bahwa Ibu Iin Tjipto dan Bahtera terbukti ada melakukan tindak klenik dengan dalih profetik melalui segala ritual yang dilakukan dalam menyambut Perayaan Tahun Yobel Besar 5776. 

Saya diminta untuk menyampaikan "empat mata" daripada mempublikasikannya di medsos seperti ini. 

Apa tidak sekalian menyarankan untuk Tuhan Yesus bicara baik-baik secara "empat mata" dengan para imam di Bait Allah saat itu, daripada langsung mencambuk dan menunggangbalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati? 

Hello? Sampai kapan kita benar-benar secara tegas untuk sungguh-sungguh mengalami pembaharuan akal budi yang dikehendaki Tuhan itu?

Petunjuknya jelas,

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:1-2

Ketika kita benar-benar fokus dan memprioritaskan perkenan Allah daripada penerimaan (komunitas) manusia melalui persembahan yang hidup, maka secara otomatis pembaharuan akal budi itu mengalami prosesnya sehingga sejalan dengan waktu akan semakin mampu membedakan mana yang baik, mana yang berkenan kepada Allah dan mana yang sempurna.

Namun sebaliknya, ketika jiwa kita lebih mempertimbangkan apa kata orang dibanding perkenan Allah, maka pembaharuan akal budi pun akan mengalami kebuntuan, dan kemampuan membedakan tidak berkembang, sehingga selamanya menjadi target pembodohan yang berkepanjangan.

Suatu kali saya mendengar ada pengkotbah berkata, "Anda jangan mau dan tidak boleh membiarkan diri Anda dijajah dan diintimidasi oleh para pendeta, para pengkotbah maupun yang mengaku hamba Tuhan, termasuk saya. Anda harus bisa mandiri, dan menilai mana yang benar."

Itu baru pengkotbah "gentleman", berani "ditelanjangi" oleh jemaatnya sendiri dan siapapun yang bisa menilainya, dan itu memang yang mencerdaskan. 

Bukan membodohi jemaat di balik "aksesoris" karunia-karunia roh, maupun pengalaman-pengalaman spiritual dan dengan sambil berdalih "jangan menyentuh yang diurapi".

Pada akhirnya setiap orang percaya harus menyadari bahwa hanya sedikit orang yang menuju kepada kehidupan karena sesaknya pintu dan sempitnya jalan yang menuju ke sana, sedangkan kepada kebinasaan, pintunya begitu lebar dan jalannya begitu luas.

Semoga pada saat menyadarinya, kita belum terlambat.

Tuhan memberkati.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.