Labels

Showing posts with label Rasul Paulus. Show all posts
Showing posts with label Rasul Paulus. Show all posts

Wednesday, February 29, 2012

Elia - Hamba Yang Tidak Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat Vol. 2

"Maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.' Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: 'Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.'" - 1 Raja-Raja 19:2-4

Elia baru saja menang mutlak atas 450 nabi Baal dan dengan fenomenal sikap imannya menyebabkan hujan lebat turun atas tanah Israel setelah 3,5 tahun tidak pernah turun hujan. Bahkan dengan kuasa Tuhan yang begitu perkasa, Elia dengan berjalan kaki mampu mendahului Ahab yang naik kereta kuda saat menuju Yizreel. Namun mengapa hanya dengan ancaman seorang Izebel maka Elia yang kelihatan hebat malah menjadi begitu ketakutan hingga mau menyelamatkan nyawanya?

Coba renungkan jika Anda adalah Elia saat itu, yang telah melakukan peperangan rohani di suatu kota dan menang besar. Namun setelah itu pemerintah daerah setempat malah memburu Anda bahkan hendak menghabisi dan membunuh Anda. Bagaimana Anda menyikapinya?

Setidaknya ada 3 kali Allah menolong dan menguatkan Elia yang menjadi lemah saat itu:
  • Pertama, Ia memberi makan dan minum sampai dua kali (jadi Elia dapat porsi ganda): "Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: 'Bangunlah, makanlah!' ... Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: 'Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.' Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb." - 1 Raja-Raja 19:5-8
  • Kedua, Allah mengujinya dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Dan pertanyaan itu dijawab dengan salah, "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Salahnya adalah Elia menjadi lengah, terfokus kepada masalah sehingga tidak mampu mempercayai anugerah Tuhan.
  • Ketiga, Allah membantu memberi petunjuk dengan angin yang besar, gunung yang terbelah, gempa yang dahsyat, api dan terakhir angin sepoi-sepoi basa. Tidak ada Allah di dalam semuanya itu KECUALI dalam angin sepoi-sepoi basa itu karena setelah angin itu berhembus Elia takut memandang Allah dengan menyelubungi wajahnya. Dari 5 fenomena itu, Tuhan seperti hendak berkata kepada Elia, "Tenanglah, Aku menyertaimu. Jangan takut, engkau tidak sendiri." Dan kenyataannya masih ada 7,000 orang Israel yang tidak ikut menyembah Baal (ayat 18), jadi bukan Elia sendirian.
  • Keempat, untuk kedua kalinya Allah menguji dengan pertanyaan yang sama setelah diberi petunjuk sebelumnya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" dan parahnya Elia tetap tidak "waras," terlalu terpaku dengan dirinya sendiri dengan menjawab Allah dengan jawaban yang sama.
Akhirnya Tuhan tidak bisa memakai Elia lebih lanjut. Elia sudah dianggap malfunction untuk meneruskan rencana Allah yang berikutnya. Bahkan ia disuruh kembali, alih-alih melanjutkan hingga ke garis akhirnya, "Firman TUHAN kepadanya: 'Pergilah, kembalilah ke jalanmu, ...'" - ayat 15a. Terakhir Elia hanya diberi beberapa tugas "kecil" untuk mengurapi beberapa calon raja dan memilih penerusnya guna menuntaskan apa yang telah Tuhan rencanakan untuk menjadi bagiannya, yaitu Hazael, Yehu dan Elisa. Jatah Elia sangat besar hingga Tuhan harus memilih 3 orang untuk menggantikan Elia seorang, "Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa." - ayat 17.

Arti nama-nama mereka adalah - Hazael artinya dia yang memandang kepada Allah; Yehu artinya Dialah Jehovah; dan Elisa artinya Allah adalah keselamatan. Tiga hal inilah yang hilang dari Elia, bahwa ia tidak lagi memandang kepada Allah, ia lupa bahwa Allah adalah Jehovah bahkan ia lupa Allah adalah sumber keselamatannya. Dapatkah kita memahami sekarang? Bahwa sia-sialah keselamatan yang kita terima jika kita tidak mengerjakannya dan jika kita mengerjakannya maka kerjakanlah terus hingga mencapai garis akhir yang Tuhan tetapkan. Jangan sisakan tugas, teruslah mengutamakan didikan Tuhan di atas segalanya, karena betapa Ia mengasihi orang-orang yang rela dididik oleh-Nya.

2012 masih ada 10 bulan lagi, dan masih banyak perkara dan kejutan bagi Gereja dan dunia maka "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." - Ibrani 12:14-17.

Elia - Hamba Yang Tidak Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat Vol. 1

4 Perkara Utama Kekristenan

"Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." - Kisah Para Rasul 20:24

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." - 2 Timotius 4:7

Ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus, maka secara otomatis orang tersebut memiliki jaminan keselamatan supaya ia bisa masuk ke dalam Sorga. Namun jaminan keselamatan itu bukan sesuatu yang dianugerahkan tanpa suatu tujuan. Karena selain perkara keselamatan, masih ada perkara TUGAS & PERTANDINGAN yang diwajibkan bagi kita semua untuk diselesaikan sampai garis akhir dengan kuat. Jadi tidak mungkin Allah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal hanya supaya kita bisa masuk Sorga tanpa kita menyelesaikan bagian kita, seperti yang telah difirmankan-Nya, "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." - 1 Petrus 1:18-19. Jadi jaminan keselamatan juga berkenaan dengan kehidupan saat ini di bumi selain kehidupan saat nanti di Sorga.

Tapi berapa banyak orang Kristen di dunia yang hidup ala kadarnya? Mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, hidup sebaik mungkin, berusaha sebisa mungkin tidak berbuat dosa, pergi sebisa mungkin tiap Minggu ke gereja, selebihnya berpikir dan memandang segala sesuatunya sama dengan cara dunia ini bekerja.

Tidak pernah mengerti bahwa paket keselamatan yang diterimanya itu, selain ada hak yang besar juga ada kewajiban dan tanggung jawab yang tidak sepele. Tidak pernah mengenal hati Tuhan. Tidak pernah mengejar kerinduan-Nya. Bahkan sekalipun beroleh keselamatan, tapi masih tidak tahu apa rencana Tuhan baginya di bumi.

Mencapai Garis Akhir Dengan Kuat

Beberapa orang ada yang mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya dan dikerjakan untuk sekian waktu, namun tidak tuntas. Mereka mengerjakannya dengan mentalitas kompromi sedangkan Tuhan menuntut totalitas yang tanpa kompromi. Mereka mau berkat, mau jadi berkat tapi tidak mau menderita sama seperti Kristus menderita. Bagi mereka, yang penting "Tuhan mengerti keadaan saya" bukannya mencari dan mengerjakan kehendak-Nya yang sempurna. Jadi Tuhan yang harus menyesuaikan dengan mereka, bukannya meminta anugerah-Nya supaya bisa mengikuti ke mana pun Tuhan kehendaki. Biasanya ini golongan para pendeta, aktivis gereja, kelompok paduan suara, dan sejenisnya. Akan lebih konyol lagi ketika mereka berpulang ke Rumah Bapa, maka obituari mereka yang biasa dimuat di koran-koran dibubuhi kalimat dari Firman di Kitab 2 Timotius 4:7, padahal belum tentu jatah yang sudah Tuhan rencanakan dalam hidupnya telah diselesaikan semuanya. 

Mencapai garis akhir tidak selalu identik dengan mencapai garis kematian. Karena saat Rasul Paulus mencapai garis akhir, beliau masih hidup dan masih menuliskan surat kepada Timotius walau tidak lama setelah itu ia wafat sebagai martir. Dan hebatnya, ia mencapai garis akhir tersebut dengan kuat karena imannya tidak rontok mainkan terpelihara dengan baik. Karena jika di garis akhir kita lemah, maka sia-sialah semua yang telah dikerjakan, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." - Galatia 6:9. Tetap menjadi kuat supaya apa yang telah ditabur dapat dituai sebanyak-banyaknya. Bukankah karena pekerjaan, perjuangan dan pengorbanannya maka penyebaran Injil menjadi sedemikian dahsyat hingga ke bangsa-bangsa asing pada saat itu?

Rasul Paulus adalah teladan yang sempurna selain Tuhan Yesus:
  • Ia menerima keselamatan melalui perjumpaan dengan-Nya. (Get Salvation)
  • Ia mengerjakan keselamatannya dan melakukan tugas dan bertanding dengan baik. (Work The Salvation)
  • Ia memenangkan pertandingan dan mencapai garis akhir. (Finish)
  • Ia mencapainya dengan kuat dengan tetap terpelihara imannya. (Finish Strong)
Jadi Anugerah Kristus adalah paket lengkap yang terdiri dari 4 bagian yaitu Keselamatan, Tugas & Pertandingan, Pencapaian Garis Akhir dan Didapati Kuat Di Garis Akhir. Kita tidak bisa mengabaikan satupun di antara keempatnya. Apalagi hanya mau mengambil keselamatan namun menolak tiga lainnya, sebab itu sama saja menolak semuanya. Dan akhirnya tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Sekarang, bagaimana dengan Elia? Ia beriman, bergaul karib dengan Allah, melakukan perkara besar dengan mengalahkan 450 nabi Baal, bahkan terangkat ke Sorga (tidak mengalami kematian jasmani). Namun sesungguhnya Elia tidak menuntaskan tugasnya.

Bersambung ...

Tuesday, August 30, 2011

Rasul Paulus Dalam Sekilas Perenungan

"Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, ... Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng." - 2 Korintus 10:1-4

"Tetapi roh jahat itu menjawab: 'Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?'" - Kisah Para Rasul 19:15

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Jika ada yang bertanya akan siapakah manusia terhebat di dunia ini, selain Manusia Allah Yesus Kristus, mungkin yang kedua terhebat adalah Rasul Paulus. Beliau menggambarkan sedemikian rupa dengan teladan mutlak akan kehidupan Kristen yang begitu militeristik dalam kasih, kedisplinan, keteraturan dan komitmen. Ketika Tuhan Yesus di dunia, Beliaulah yang mencetuskan sekaligus memberi teladan akan perjuangan orang percaya. Namun ketika Rasul Paulus berkiprah, ia benar-benar menggenapi perkataan Tuhan Yesus bahwa penerus-penerus-Nya akan melakukan perkara-perkara yang lebih dahsyat daripada diri-Nya.

Dalam penampilan dan perawakan, sesungguhnya Rasul Paulus adalah seorang yang kurang sedap dipandang. Secara manusia, boleh dibilang penampilannya sangat meragukan dan tidak memberi keyakinan bahwa ia seorang pejuang (warrior) Kristus. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa ia buruk rupa hingga tak pernah menikah. Namun lepas dari semuanya itu, sadarkah bahwa lebih dari separuh isi Perjanjian Baru adalah tulisannya.

Rasul Paulus secara fisik bahkan menyebut dirinya begitu rendah hingga ia malu ketika bertemu dengan berbagai jemaat Kristus di berbagai tempat. Tidak sedikit penginjil-penginjil saat itu yang mencoba menjatuhkan "pamor"nya dengan menyerang penampilan fisiknya. Namun dalam dunia roh, seluruh kerajaan Iblis takut kepadanya. Ketika salah satu roh jahat berperkara dengan anak-anak imam Skewa, roh jahat hanya menyebut dua nama, Yesus dan Paulus. Roh jahat tersebut menyebut kedua nama tersebut bukan hanya sekedar tahu, seperti kebanyakan kita. Nama tersebut disebut karena roh jahat itu memiliki pengalaman-pengalaman melawan Yesus dan Paulus. Intinya roh jahat tersebut pernah deal dan dikalahkan oleh kedua warriors tersebut. 

"Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna." - 2 Korintus 10:5-6

Kita semua tahu karya terbesar Yesus Kristus hingga di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati hingga semua kerajaan Iblis tunduk. Namun bagaimana Rasul Paulus dikenal? Beliau menyebutkan bahwa hidupnya memang masih di dunia, namun tidak berjuang secara duniawi. Kata "berjuang" yang digunakannya bukanlah suatu gambaran perjuangan hidup yang banyak kita ketahui secara umum. "Berjuang" dalam perkara ini adalah peperangan secara roh. Dan di dalam alam roh, Rasul Paulus dianggap sebagai raksasa rohani yang amat perkasa. Penampilan yang secara fisik begitu lemah, namun secara roh, beliau "membantai" pekerjaan-pekerjaan Iblis dengan "sadis" dan tanpa ampun.

Bahkan kata "berjuang" secara mendalam juga diartikan bullying, sebuah istilah dalam dunia anak-anak, yaitu ketika seorang anak yang 2 atau 3 tahun lebih tua menggangu (membully) anak-anak yang lebih muda. Demikianlah Rasul Paulus membully roh-roh jahat itu. Namun walau demikian perkasanya Rasul Paulus, beliau tetap rendah hati dan sangat tahu diri. Perpaduan keperkasaan dan kerendahan hati yang demikian indah yang menjadikan dirinya begitu dikagumi bahkan dipuji oleh Tuhan sendiri.

Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.