Labels

Showing posts with label Tujuh Jemaat. Show all posts
Showing posts with label Tujuh Jemaat. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

Jemaat Laodikia Yang Merosot

Kitab Wahyu pasal 3:

ayat 14-16 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Laodikia artinya pendapat atau keputusan rakyat jelata (atau kaum beriman awam), merupakan gereja pemulihan (Filadelfia) yang merosot lagi. Tidak sampai 100 tahun setelah Tuhan memulihkan, sebagian "perhimpunan" (istilah yang dipakai oleh Kaum Saudara - FIladelfia) telah merosot. Namun kasusnya berbeda dengan Jemaat Sardis dan Jemaat Filadelfia.

Kata "Amin" dalam bahasa Ibrani berarti teguh, kukuh dan bisa diandalkan. Jadi dalam kasus ini, Laodikia merosot karena tidak teguh, tidak kukuh dan kurang bisa diandalkan, serta tidak setia dan tidak benar sebagai saksi Allah. Tuhan yang adalah Sumber dari segala sumber telah ditinggalkan.

Sebagai kaum beriman, Jemaat Laodikia pernah mengalami kenikmatan yang sedemikian rupa di dalam Tuhan, namun karena merasa nyaman, merasa layak dan merasa lebih daripada golongan lainnya, mereka mulai kehilangan api. Fisik dan pikirannya masih mengikuti Tuhan, namun hati mereka jauh dari Tuhan.  Ungkapan "dimuntahkan" artinya sudah sempat masuk dan diterima oleh Tuhan, namun kembali diusir dan ditolak.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Laodikia seumpama kisah dan masa pemerintahan Salomo, yang berujung pada kegagalan dan kemerosotan roh.

ayat 17 - Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,

Gereja pemulihan yang merosot memegahkan kekayaannya (terutama pengetahuan atas doktrin), tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya miskin atas hayat kehidupan sejati, buta atas daya lihat rohani dan telanjang atas perbuatan. Itu sebabnya mereka perlu membeli emas untuk menjadi kaya, pakaian putih untuk ketelanjangannya dan minyak atau salep mata untuk kebutaannya.

Mereka disebut melarat karena bermegah dalam doktrin "pepesan" kosong yang tidak ada Roh-Nya di dalam pengajaran tersebut. Ada kemungkinan bahwa Laodikia ini sangat kaya secara fisik, punya banyak harta duniawi dan memiliki berbagai-bagai pengetahuan mengenai gereja dan sekuler, namun tidak memiliki dan dimiliki oleh Roh Allah.

ayat 18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Kemerosotan kaum Laodikia harus dibayar supaya memiliki iman yang murni dan tahan uji seperti emas. Sebab selama ini mereka sangat mengandalkan semua kekayaan dan kekuatan duniawi yang ada. Tanpa iman yang benar, tidak ada seorangpun yang layak di hadapan-Nya.

Pakaian melambangkan perbuatan. Kemerosotan mereka juga harus dibayar dengan perbuatan yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya supaya perkenan Tuhan turun atas mereka. Jika Tuhan tidak berkenan, maka Ia akan memuntahkan mereka.

Minyak untuk mata tentu mengacu kepada fiman di 1 Yohanes 2:27 - "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia." Minyak pengurapan ini hanya tersedia jika kita terus tinggal di dalam Dia.

ayat 19-20 - Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Pengetahuan yang sia-sia dan tata cara doktrin yang mati membeuat mereka merosot lagi menjadi suam-suam kuku. Diperlukan pertobatan yang sungguh untuk kembali bergairah dan memiliki api yang menyala agar dapat menikmati kembali realitas Kristus.

Pintu di sini bukan pintu hati perorangan, melainkan pintu Gereja. Mereka memiliki segalanya namun di luar penyertaan Tuhan. Namun pendekatan obyektif dari Tuhan kepada pintu Gereja harus diresponi secara subyektif, artinya keselamatan, pemulihan dan kenikmatan di dalam Kristus serta pahala dari-Nya bersifat individu, pribadi lepas pribadi.

Makan bersama-sama mengacu kepada menerima makanan utama pada malam hari. Agama dan doktrin hanyalah untuk pemahaman sampai level jiwa, sedangkan makanan rohani yang sesungguhnya adalah Firman Yang Hidup yang mampu mensuplai hayat, roh dan kehidupan kaum percaya. Jadi makan bersama-sama memiliki arti melakukan segala yang diperintahkan Tuhan dengan penyertaan dan anugerah-Nya, karena tidak ada yang mampu mengerjakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya jika hanya mengandalkan kekuatan manusiawi kita yang tidak seberapa itu.

ayat 21-22 - Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Menang tentu mengacu kepada mengatasi kesuaman yang ada dan kembali bergairah dalam dan bagi Kristus. Pahala kemenangan ini adalah berbagian dalam kekuasaan Tuhan dan memerintah bersama dengan-Nya pada Masa Kerajaan Seribu Tahun untuk mengatur seluruh bumi.

Firman ini bukan sekedar diperuntukan kepada Gereja menurut urutan sejarah pada aspek nubuatan, namun juga diperuntukan kepada Gereja menurut destiny / takdir pada aspek panggilan masing-masing. Empat jemaat yang pertama akhirnya bermuara pada jemaat Tiatira hingga sekarang. Namun jemaat Sardis, Filadelfia dan Laodikia masing-masing eksis bersama dengan jemaat Tiatira hingga kedatangan Tuhan kembali.

Jemaat Filadelfia Yang Terpulihkan

Kitab Wahyu pasal 3:

ayat 7 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

Filadelfia artinya kasih persaudaraan, melambangkan kehidupan Gereja yang normal yang dipulihkan oleh saudara-saudara yang dibangkitkan oleh Tuhan di Inggris pada awal abad ke-19 (tahun 1800-an). Seperti halnya gereja Reformasi (Sardis), adalah reaksi Tuhan atas gereja Tiatira, demikian pula Filadelfia, adalah reaksi Tuhan atas gereja Reformasi yang mati. Reaksi ini akan berlangsung terus sebagai kesaksian yang berkebalikan terhadap Tiatira dan Sardis yang merosot, sampai Tuhan kembali.

Tuhan dalam porsi kekudusan dan kebenaran-Nya sendiri akan memulihkan, memisahkan dan menyertai gereja ini dari dunia. Dengan kunci Daud, kepada jemaat ini dibukakan begitu banyak rahasia Tuhan dan sorgawi serta kuasa untuk membuka dan menutup segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Filadelfia seumpama kisah dan masa pemerintahan raja Daud yang penuh dengan perkenan Tuhan.

ayat 8 - Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Sejak pemulihan penghidupan gereja yang wajar dimulai pada awal abad ke-19, sampai sekarang, pemulihan Tuhan selalu memiliki pintu yang terbuka. Hari ini, meskipun banyak tentangan (bahkan dari dalam kalangan gereja), pintu ini tetap terbuka di seluruh dunia karena kuncinya ada pada Kepala Gereja, bukan di tangan para penentang.

Tuhan tidak menilai kekuatan kita, karena memang kita tidak akan pernah kuat dan mampu menyelesaikan segala sesuatu yang ia tetapkan sampai garis akhir. Yang Ia inginkan adalah kerelaan dan ketersediaan kita untuk terus mengikuti-Nya sampai semuanya genap.

Firman-Nya adalah pengutaraan-Nya dan nama-Nya adalah diri-Nya sendiri. Walaupun gereja Reformasi (Sardis) sedikit banyak sudah dipulihkan kepada firman Tuhan, namun mereka menyangkal nama Tuhan dengan menjadikan diri mereka denominasi-denominasi, mengambil nama-nama lain seperti, Anglikan, Presbiterian dan sebagainya. Hal penamaan ini merupakan bentuk penyimpangan dan perzinahan rohani. Sedangkan gereja pemulihan (Filadelfia) mutlak milik Tuhan, tidak ada keterkaitan dengan sebutan apapun.

Sebagai perawan suci yang telah dipertunangkan dengan Kristus, gereja seharusnya tidak memiliki nama lain, selain nama calon Suaminya. Semua nama lain merupakan kekejian bagi Allah. Itu sebabnya dalam gereja pemulihan, tidak ada ajaran Bileam, tidak ada ajaran Nikolaus, tidak aa ajaran Izebel, juga tidak ada seluk beluk Iblis, sehingga tidak memiliki predikat denominasi dan roh agamawi serta tidak terikat tradisi.

ayat 9-10 - Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

Jemaah Iblis adalah mereka yang mengaku orang Yahudi, namun keluar dari apa yang Tuhan kehendaki. Sinagoga Yahudi mempertahankan agama dan tradisi Yahudi, yang tersusun dari imam perantara, tata cara harfiah, Bait Suci yang material, dan janji yang bumiah. Namun gereja pemulihan telah menaklukkannya dengan menyingkapkan kesalahan dan kedegilan agama Yahudi yang mempertahankan keempat hal tersebut. 

Ada firman ketekunan-Nya, yakni firman penderitaan Tuhan. Sampai hari ini Tuhan tetap dengan tekun menanggung penolakan dan penganiayaan. Jita bukan hanya berbagian dalam kerajaan-Nya, melainkan juga berbagian dengan ketekunan-Nya. Untuk itu, kita harus menanggung penolakan dan penganiayaan yang diderita-Nya.

Akan datang hari pencobaan yang besar, yakni penderitaan di masa 7 sangkakala dan 7 cawan. Namun karena gereja pemulihan berpegang pada firman ketekunan-Nya, maka Tuhan berjanji akan melindunginya terhindar, bukan hanya dari pencobaan tersebut, melainkan dari saat pencobaan itu (mengacu kepada rapture atau pengangkatan Gereja). Janji ini sama dengan yang tertulis di Lukas 21:36, "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." Sedangkan bagi mereka yang tidak berpegang pada firman ketekunan-Nya akan tertinggal dalam saat pencobaan itu.

ayat 11-13 - Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Tuhan memimpin Gereja dalam pemulihan-Nya memasuki perasaan tentang kedatangan-Nya, sebab Gereja mengasihi Tuhan. Gereja pemulihan sudah memperoleh mahkota. Tetapi harus mempertahankannya supaya tidak direbut.

Menang berarti mengacu kepada mempertahankan mahkota tersebut. Pemenang akan dijadikan sokoguru atau pilar dari bangunan Allah dan tidak akan keluar lagi. Janji ini akan tergenapi pada Masa Kerajaan Seribu Tahun, sebagai pahala bagi para pemenang.

Nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama baru Tuhan, tertulis pada diri pemenang. Ini menunjukkan bahwa kaum pemenang dimiliki oleh Allah, oleh Yerusalem Baru dan oleh Tuhan. Dan ketiganya juga milik kaum pemenang, sehingga menunjukkan bahwa kaum pemenang bersatu dengan ketiganya. Yerusalem Baru yang tunggal dalam Masa Kerajaan Seribu Tahun merupakan bagian kaum pemenang, sedangkan Yerusalem Baru pada zaman langit baru dan bumi baru merupakan bagian bersama semua orang tebusan sampai selama-lamanya.

Thursday, January 3, 2013

Jemaat Sardis Yang Tersisa

Kitab Wahyu pasal 3:

ayat 1-2 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.

Sardis artinya yang tersisa untuk pemugaran (dari gerakan Reformasi pada awal abad ke-16 sampai Kristus datang kembali. Reformasi ini merupakan reaksi Allah sendiri terhadap kemerosotan Tiatira. Reformasi datang melalui kaum beriman yang minoritas, orang-orang yang tersisa.

Ketujuh Roh Allah membuat Gereja hidup lebih kuat, dan ketujuh bintang membuat gereja lebih terang. Gereja yang mati dan direformasi memerlukan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali, serta pemimpin yang bercahaya terang. Roh yang diperkuat tujuh kali ini hidup, dan tidak pernah bisa digantikan oleh huruf yang mati dari pengetahuan (2 Korintus 3:6).

Banyak orang mengira gereja Sardis yang direformasi itu hidup, tetapi Tuhan berkata bahwa dia itu mati. Sebab itu, dalam keadaannya yang mati, dia memerlukan Roh yang hidup dan bintang yang bercahaya terang.

Frasa "apa yang masih tinggal" adalah hal-hal yang pernah hilang, kemudian dipulihkan oleh pergerakan Reformasi, di antaranya dibenarkan berdasarkan iman, Alkitab yang terbuka, dan sebagainya. Meskipun hal-hal itu telah dipulihkan, tetapi keadaannya sudah hampir mati. Karena itu, perlu dibangkitkan. Inilah  keadaan sesungguhnya dari Jemaat Sardis.

Perkara yang dirintis oleh pergerakan Reformasi tidak ada satupun "yang sempurna". Sebab itu Jemaat Filadelfia yang akan menyempurnakannya. Pergerakan Reformasi di awal abad ke-16 itu "ditunggangi" oleh kepentingan politik dari beberapa penguasa Eropa yang ingin keluar dari kekuasaan Paus dan Katholik Roma saat itu. Sebagai hasilnya, Kristen Protestan Presbyterian di Skotlandia, Kristen Protestan Anglican di Inggris, Kristen Lutheran di Jerman, Baltik dan Skandinavia dan sebagainya.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Sardis seumpama kisah dan masa pemerintahan raja Saul, yang akhirnya diakhiri dengan kegagalan dan ditinggalkan Tuhan.

ayat 3-4 - Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.

Pencuri datang untuk mencuri benda-benda yang berharga, pada waktu yang tidak diduga. Karena gereja Sardis yang direformasi itu mati, mereka tidak akan tahu kedatangan Tuhan seperti pencuri dalam pernyataan-Nya yang rahasia kepada orang-orang yang mencari-Nya. Karena itu, perlu berjaga-jaga.

Dalam Alkitab, pakaian melambangkan apa adanya diri kita dalam kelakuan dan kehidupan kita. Mencemarkan pakaian di sini khususnya berarti mengotori pakaian dengan noda maut. Di hadapan Allah maut. Di hadapan Allah maut lebih najis daripada dosa (Imamat 11:24-25; Bilangan 6:6-9).

Putih bukan hanya melambangkan kemurnia, melainkan juga melambangkan perkenanan. Di sini, pakaian putih melambangkan tingkah laku dan kehidupan yang tidak tercemar oleh maut, melainkan yang dikenan oleh Tuhan. Inilah syarat berjalan dengan Tuhan, terutama dalam kerajaan yang akan datang.

ayat 5-6 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Harus menang atas Sardis yang mati dan menerima pahala pakaian putih yang diberikan kepada para pemenang dalam Kerajaan Seribu Tahun sesuai dengan tingkah laku mereka di zaman ini. Setiap orang beriman memerlukan dua pakaian, yakni pakaian untuk keselamatan (kebenaran obyektif - Lukas 15:22 & 1 Korintus 1:30) dan pakaian perkenan agar kita dapat diperkenan (kebenaran subyektif - Filipi 1:21 & 3:9). Pakaian putih di sini mengacu kepada pakaian kedua, yang diperlukan untuk menerima pahala dan memerintah bersama-Nya (2 Timotius 2:11-12).

Berkat-berkat bagi pemenang dibagi dalam tiga tahap: (1) dalam zaman Gereja, (2) dalam Kerajaan Seribu Tahun, dan (3) dalam kekekalan. Berkat-berkat dalam zaman Gereja, yakni pengampunan, penebusan, kelahiran kembali adalah kasih karunia Allah di bagian awal. Karena ini semua nama tercatat dalam Kitab Kehidupan. Namun karena ada banyak orang percaya yang tidak secara maksimal bekerja sama dengan kasih karunia yang telah Allah anugerahkan, maka nama mereka tidak akan siap pada saat Tuhan datang kembali, untuk masuk dan menerima pahala dalam Kerajaan Seribu Tahun. Karena itulah nama mereka akan terhapus dari Kitab Kehidupan hingga mereka menerima disiplin dan pendewasaan pada masa Kerajaan Seribu Tahun maka mereka siap untuk menerima berkat-berkat pada masa kekekalan.

Pada zaman Kerajaan Seribu Tahun, Tuhan akan mengakui nama pemenang, karena nama mereka tidak dihapus dari dalam Kitab Kehidupan, melainkan tetap tercantum di dalamnya. Hal ini menyiratkan, jika orang-orang percaya bukan pemenang, pada zaman Kerajaan Seribu Tahun nama mereka akan dihapus dan Tuhan pun tidak mengakui nama mereka.

Wednesday, January 2, 2013

Jemaat Tiatira Yang Murtad

Kitab Wahyu pasal 2:

ayat 18-19 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.

Jemaat Tiatira ada sejak berdirinya sistem Paus pada akhir abad keenam hingga Kristus datang kembali. Tiatira berarti kurban wangi-wangian atau kurban yang tidak putus-putusnya. Sebagai tanda, gereja ini melambangkan gereja yang sepenuhnya terbentuk dengan sistem kepausan, penuh dengan kurban, seperti yang ditunjukkam dengan misa-misanya yang tiada henti.

Gereja Tiatira dengan sekuat tenaga menandaskan bahwa Kristus adalah anak Maria. Karena itu Tuhan dengan serius menyebut diri-Nya Anak Allah, untuk menentang mentalitas bidah ini.

Ketika berhadapan dengan gereja yang duniawi (Pergamus), Tuhan menyebut diri-Nya sebagai Yang memegang pedang tajam bermata dua. Namun dalam menghadapi Tiatira, Tuhan menyebut diri-Nya sebagai Yang mempunyai mata bagaikan nyala api dan kak-Nya bagaikan tembaga yang mengkilap. Pergamus ditanggulangi dengan firman Tuhan yang memukul dan membunuh; sedangkan Tiatira perlu penghakiman dari mata-Nya yang menyelidik dan kaki-Nya yang menginjak.

Gereja di Tiatira memiliki banyak pekerjaan dan pelayanan. Yang dikerjakannya pada hari-hari terakhir, lebih banyak daripada yang semula. Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Tiatira seumpama kisah setelah zaman para hakim Israel yang sarat dengan kekacauan dan kanibalisme seperti yang dikisahkan dalam Kitab Para Hakim pasal 19 - 21, sampai munculnya nabi Samuel.

ayat 20-21 - Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya.

Wanita di sini, sama dengan yang dinubuatkan dalam Injil Matius 13:33, yang memasukkan ragi (lambang perkara jahat, bidah & kafir) ke dalam tepung halus (lambang Kristus sebagai kurban sajian yang murni). Wanita ini juga adalah pelacur besar dalam Wahyu pasal 17, yang mencampurkan perkara ilahi dengan perkara yang keji. Izebel, istri kafir Ahab, adalah lambang dari gereja yang murtad.

Nabi adalah orang yang berbicara untuk Allah dengan kuasa-Nya. Di sini Tuhan memakai Izebel sebagai lambang, menyatakan bahwa gereja di Tiatira mengangkat dirinya sendiri sebagai nabiah, yang berpura-pura menerima kuasa dari Allah untuk berbicara bagi Allah.

Di Pergamus, ada ajaran Bileam dan Nikolaus. Ajaran-ajaran tersebut akan tetap tinggal di Tiatira. Selain itu, gereja Tiatira sendiri juga mengajar, untuk menyuruh umatnya mendengarkan dia melebihi Firman Allah. Orang-orang yang bergabung dengannya akan dibius dengan ajarannya yang bidah dan agamawi, sehingga tidak menghiraukan Kristus sebagai sumber hayat utama Gereja, seperti yang dinyatakan oleh pohon kehidupan dan manna yang tersembunyi, yang pernah Tuhan janjikan kepada gereja Efesus dan Pergamus.

Tiatira (Katholik Roma saat ini) yang murtad dipenuhi segala macam perzinahan dan berhala (praktek penyembahan kepada patung yang menyerupai Bunda Maria, Yesus dan sebagainya), baik dalam hal rohani maupun jasmani. Dalam Wahyu pasal 17, Tiatira bahkan disebut Pelacur Besar.

ayat 22-23 - Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.

Ranjang biasanya digunakan untuk tidur dan beristirahat, dan yang tidak umum, dipakai untuk merawat orang sakit. Di sini Tuhan menunjukkan, bahwa gereja yang murtad sakit sampai tidak tertolong lagi, dan akan terus berbaring sampai dihakimi untuk kali terakhir.

Kesukaran besar yang dimaksud bukanlah Masa Tribulasi Besar yang akan dialami dunia pada 3,5 tahun yang terakhir, melainkan bagian khusus penderitaan yang Tuhan rancang dan timpakan ketika Dia menghakiminya. Ujung dari penolakan mereka untuk bertobat adalah pemusnahan yang akan digenapi sesuai dengan firman-Nya, "Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api. Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi." - Wahyu 17:16-17

ayat 24-25 - Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.

Seluk beluk mengacu kepada kedalaman pemahaman. Ada yang disebut jemaah Iblis (ayat 9) yang berlawanan dengan gereja yang menderita; ada yang disebut takhta Iblis (ayat 13) yang berpautan dengan gereja yang duniawi; dan seluk beluk Iblis ada di dalam gereja yang murtad. Agama dengan jemaah, dunia yang di bawah takhta Iblis, dan filsafat misteri Iblis, semuanya digunakan Iblis untuk merusak dan menghancurkan gereja.

Mulai dari Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia akan tetap ada hingga Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Sedangkan Efesus, Smirna dan Pergamus sudah tidak ada korporasinya, hanya ada individu-individunya di antara semua gereja.

ayat 26-28 - Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk--sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku-- dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.

Menang dalam hal ini bertobat dari kemurtadan dan praktek pelacurannya. Sedangkan pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang selaras dengan Pohon Kehidupan yang berlawanan dengan pekerjaan gereja yang murtad di bawah pengaruh Iblis.

Memerintah bersama Kristus atas bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun adalah pahala yang diberikan kepada pemenang. Janji Tuhan ini dengan tegas menyiratkan, bahwa mereka yang tidak menjawab panggilan Tuhan, yang tidak mengalahkan kekristenan yang merosot, tidak akan memiliki bagian dalam pemerintahan Kerajaan Seribu Tahun.

Ketika Kristus menyatakan diri-Nya pertama kali, yang meliihat bintang-Nya (Matius 2:2, 9-10), bukanlah orang Yahudi, melainkan orang-orang Majus. Pada pernyataan-Nya yang kedua ini, Kristus akan menjadi bintang timur (bintang fajar) bagi pemenang yang menantikan kedatangan-Nya dengan berjaga-jaga. Terhadap yang lainnya, Dia hanya tampil bagaikan matahari (Maleakhi 4:2).

ayat 29 - Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Kepada Jemaat Efesus, Smirna dan Pergamus, Tuhan menyatakan frasa "siapa bertelinga" dan dilanjutkan dengan frasa "barangsiapa menang". Sedangkan kepada Jemaat Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia kedua frasa tersebut disebut terbalik. Tujuh sungguh sebuah angka kesempurnaan, ada pola "tiga dan empat" untuk menggantikan pola "enam dan satu". Pola "enam dan satu" merupakan penciptaan dunia ini, yakni 6 hari penciptaan, yang juga merupakan gambaran manusia dengan 1 sebagai gambaran Elohim. Jadi manusia dengan Elohim adalah kesempurnaan yang lama.

Sedangkan pola "tiga dan empat" merupakan penciptaan Gereja, yakni Allah Tritunggal dengan Gereja  (manusia ciptaan baru di dalam Kristus) dalam wujud 4 jenis makhluk (Wahyu 4:6-9), singa, lembu, rupa manusia dan rajawali; yang juga adalah 4 kitab Injil, Matius, Makus, Lukas dan Yohanes.

Tuesday, December 25, 2012

Jemaat Pergamus Yang Kawin Dengan Dunia

Kitab Wahyu pasal 2:

ayat 12-13 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.

Jemaat Pergamus mulai hadir sejak Konstantinus Agung menerima kekristenan hingga berdirinya sistem Paus pada akhir abad ke-6. Ini masa dimana Gereja dikarbit atau disuntik "steroid" sehingga menjadi besar dengan abnormal. Pergamus berarti kawin dengan dunia, bahkan menjadi menara tinggi yang kokoh, sama dengan pohon besar yang dinubuatkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan biji sesawi (Matius 13:31-32).

Ketika dalam tiga abad pertama Iblis tidak berdaya melenyapkan Gereja melalui penindasan kekaisaran Romawi, maka ia mengubah strategi dengan melahirkan agama Kristen sebagai agama negara Romawi untuk merusak mental Gereja. Melalui pencanangan dan pengaruh politik Konstantinus, banyak orang yang tidak beriman telah dibaptis atau dipercik sehingga Gereja membesar sedemikian rupa. Padahal bagi Kristus, Gereja adalah mempelai perempuan yang kudus dan tak bercacat; namun perkawinannya dengan dunia merupakan tindakan perzinahan rohani.

Takhta Iblis berada di dalam dunia, tempat kediamannya, dalam wilayah kekuasaannya. Karena telah berpadu dengan dunia, gereja yang duniawi tinggal di tempat kediaman Iblis. Dan ada ujian terhadap iman karena perkawinan dengan dunia menyebabkan Gereja mulai meremehkan nama Tuhan, dan menyangkal kepercayaan Kristen yang benar.

Antipas berarti menentang segalanya. Antipas ialah saksi Tuhan yang setia menentang segala yang dibawa masuk dan dipraktikkan oleh gereja duniawi. Sebab itu, ia menjadi martir yang membayar harga supaya jemaat di Pergamus tetap mempertahankan nama Tuhan dan tidak menyangkal kepercayaan yang tepat.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Pergamus seumpama kisah para hakim Israel.

ayat 14-15 - Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.

Dasar kekristenan yang benar adalah persekutuan dengan Kristus sendiri, makan dari Pohon Kehidupan yang ada di dalam-Nya. Namun gereja duniawi berpaling dari persekutuan kepada pengajaran, persekutuan dengan Kristus menghasilkan berbagai perkara yang tak terbatas berdasarkan anugerah di dalam semua aspek kehidupan, sedangkan pengajaran gereja duniawi menghasilkan agama dan mental agamawi yang penuh kemunafikan dan rekayasa manusiawi yang dengan jelas mengandalkan kekuatan serta kebenaran diri sendiri dan keluar dari kasih karunia Kristus.

Bileam adalah seorang nabi bangsa kafir, yang demi memperoleh upah membujuk umat Allah melakukan perzinahan dan penyembahan berhala (Bilangan 25:1-3; 31:16). Dalam gereja yang duniawi, ada orang mulai mengajarkan perkara yang sama. Pada masa ini, praktik-praktik yang menggunakan hipnotis, kekuatan laten jiwa adalah sebagaian dari hasil perkawinan gereja dengan dunia. Anugerah Tuhan diremehkan, prestasi manusiawi dan duniawi diagung-agungkan dan diberhalakan. Perkara seperti ini termasuk dalam penyembahan berhala dan perzinahan rohani.

Gereja yang duniawi dan merosot bukan hanya mempertahankan ajaran Bileam, bahkan mengembangkan pengajaran Nikolaus. Ajaran Bileam membuat orang percaya menyimpang dari Kristus kepada penyembahan berhala; sedangkan ajaran Nikolaus merusak fungsi orang percaya sebagai anggota Tubuh Kristus, sehingga Tubuh Tuhan tidak berdaya mengekspresikan Tuhan. Ajaran yang satu meremehkan Sang Kepala, ajaran yang lainnya merusak Sang Tubuh. Ini tipu muslihat Iblis dalam semua ajaran agamawi.

Lebih parahnya lagi, ketika di jemaat Efesus hanya ada perbuatan pengikut Nikolaus, di jemaat Pergamus praktik ini berkembang menjadi sebuah pengajaran. Hari ini, dalam dunia kekeristenan, sistem hirarki dari pengikut Nikolaus sangan menonjol dalam praktek maupun dalam pengajaran.

ayat 16-17 - Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya."

Kedatangan yang dimaksud bukanlah kedatangan Kristus yang kedua, melainkan kedatangan case by case dari praktik pengajaran, penyembahan berhala dan perzinahan dengan berperang melawan guru-guru pengikut Nikolaus. Saat itu, Tuhan akan menghakimi Gereja yang merosot dengan firman yang membunuh yang keluar dari mulut-Nya. Namun, gereja duniawi ini malah menghasilkan gereja di Tiatira, dimana keduniawian, kebenaran diri sendiri dan kejahatan dimasukkan dan terus berlangsung dan memerosotkan Gereja. Hal ini akan berlangsung terus hingga pada penghakiman-Nya yang final.

Gereja yang sejati harus menang dari tipu muslihat keduniawian ini. Upah manna merupakan sesuatu yang murni yang hanya dari Tuhan sendiri, yang dapat melahirkan berbagai terobosan, yang melahirkan berbagai mujizat, yang memberikan hikmat dan pewahyuan yang selalu baru setiap saat.

Manusia pada dasarnya adalah tanah, namun Tuhan menjadikan kita batu putih bahkan batu permata (naik tingkat / derajat), menjadi bagian dari bangunan Tubuh Kristus yang sejati. Sedangkan nama baru mengacu pada perubahan atau transformasi yang terjadi dalam hidupnya sejalan dengan pengalaman hidupnya bersama dengan Tuhan secara pribadi, sehingga hanya orang yang bersangkutan yang memahami pengenalan Tuhan atas dirinya sendiri.

Wednesday, December 19, 2012

Jemaat Smirna Yang Menderita

Kitab Wahyu pasal 2:

ayat 8 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:

Kata Smirna dalam bahasa Yunani berarti mur, yang menunjukkan makna penderitaan. Gereja Smirna adalah gereja yang menderita di bawah penganiayaan Kekaisaran Romawi, dari akhir abad pertama hingga awal abad keempat, ketika Konstantinus Agung, kaisar dari Kekaisaran Romawi menerima agama Kristen sebagai agama negaranya.

Ketika menderita, Gereja harus mengenal bahwa Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang ada untuk selama-lamanya dan Yang tidak berubah selamanya. Bagaimanapun situasi penganiayaan itu, Ia tetap sama; tidak ada sesuatu yang bisa berada di depan-Nya, juga tidak ada sesuatu yang bisa berada di belakang-Nya. Segala sesuatu berada di dalam batas pengendalian-Nya.

Selain itu, Gereja yang menderita harus mengenal Dia sebagai Yang bangkit dan menang atas maut, sehingga Gereja dapat bertahan terhadap berbagai penderitaan. Dan betapapun beratnya hal itu, Gereja akan tetap hidup karena memiliki Kristus. Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Smirna seumpama kisah perbudakan dan kehidupan padang gurun di zaman Musa.

ayat 9 - Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.

Gereja yang menderita bahkan miskin harta, namun memiliki kelimpahan dalam roh dan hayat karena Kristus. Para penganut agama Yahudi memfitnah Gereja karena mereka tetap mempertahankan ritual agamawi yang sesungguhnya sudah dirampungkan oleh Kristus di atas kayu salib. Namun mereka yang mengaku sebagai orang Yahudi sesungguh adalah jemaah Iblis di mata Allah. Karena setelah Kristus mati dan bangkit, Allah hanya mencari Gereja yang menyembah dalam roh dan kebenaran, bukan ritual maupun mentalitas agamawi.

ayat 10 - Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Iblis berperan sebagai pendakwa dan pemfitnah, sebagai seteru Allah. Ungkapan "sepuluh hari" menunjukkan bahwa penderitaan membawa kepada kesempurnaan karena betapapun hebatnya siksaan Kekaisaran Romawi, Gereja tetap masih ada hingga sekarang. Sepuluh juga berbicara tentang sejarah sepuluh jenis penganiayaan yang diderita Gereja sejak masa kaisar Nero hingga kaisar Kontantinus Agung. Mahkota kehidupan adalah pahala bagi yang setia sampai akhir dalam penderitaan. Suatu janji akan adanya kebangkitan yang luar biasa dari antara orang mati.

ayat 11 - Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."

Yang menang dan setia hingga akhir penderitaan akan terhindar dari kematian yang kedua seperti yang tertulis dalam Wahyu 20:11-15, yakni mereka yang namanya tidak tercantum dalam kitab kehidupan akan dibuang ke dalam lautan api.

Tuesday, December 18, 2012

Jemaat Efesus Yang Didambakan

Kitab Wahyu pasal 2:

ayat 1-2 - "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.

Jemaat Efesus merupakan gereja tahap pertama setelah semua rasul telah tiada. Gereja ini ada pada akhir abad pertama. Nama Efesus artinya didambakan. Hal ini menandakan, gereja mula-mula pada kesudahannya tetap didambakan Tuhan karena Tuhan menaruh pengharapan yang besar. Atau bisa disebut gereja yang ada karena sisi "idealis"-Nya. Tuhan tampil sebagai pemegang ketujuh bintang sekaligus berjalan di antara ketujuh menorah, suatu gambaran yang luar biasa indah. Di satu sisi, Tuhan adalah Imam Besar yang bersyafaat bagi kita semua (Ibrani 7:25), namun di sisi lain Beliau juga berjalan merawat di antara kita.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Efesus seumpama kisah Abraham hingga Yusuf sebagai perdana menteri di Mesir.

ayat 3-4 - Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Kasih merupakan unsur utama sekaligus kekuatan yang almuhit dalam hubungan antara Tuhan dan Gereja-Nya. Sedangkan ungkapan "yang semula" sama dengan yang terbaik seperti yang diungkapkan dalam Lukas 15:22. Jemaat ini kehilangan kasih yang terbaik, walaupun dalam pekerjaan sudah sangat baik namun gairah dan api cinta yang kudus kepada Tuhan telah padam.

ayat 5-6 - Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.

Kepada Jemaat Efesus, Tuhan tampil sebagai Majikan yang berkuasa atas ketujuh kaki dian (menorah). Ketika kasih yang semula telah hilang, itu artinya Gereja mulai meninggalkan perhatiannya dari Tuhan. Arah hati Gereja tidak lagi kepada-Nya. Sebagai akibatnya, Tuhan juga akan meninggalkan Gereja-Nya. Hanya dengan pertobatan yang utuh, tulus dan terus menerus maka kasih yang semula dapat terus terpelihara hingga kesudahannya. Sedangkan ungkapan "lakukan lagi apa yang semula engkau lakukan" mengandung arti bahwa kita sebagai Gereja-Nya harus melakukan segala sesuatu seperti semula ketika kita pertama kali jatuh cinta kepada-Nya, bukan karena rutinitas, bukan karena kebiasaan, bukan karena pengetahuan. Semua harus dilakukan atas dasar kasih yang intim kepada-Nya.

Nikolaus berarti (berdiri) menaklukkan rakyat jelata atau mengalahkan kaum awam. Ini mengacu kepada sekelompok orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada kaum beriman pada umumnya. Ini adalah bibit sistem hirarki yang kemudian dianut dan dikukuhkan oleh gereja Katholik maupun gereja Protestan. Berikut ini analoginya, Allah menetapkan bani Israel untuk menjadi kerajaan imam bagi dunia. Namun karena "insiden" anak lembu emas, seluruh bani Israel kehilangan jabatan imam kecuali suku Lewi. Jadi antara Allah dengan bani Israel, timbul kelas perantara. Pada Perjanjian Baru, kelas perantara ini sudah ditiadakan oleh kematian dan kebangkitan Anak Manusia sehingga hanya Yesus Kristus perantara kita. Namun mental Nikolaus masih tetap ada, menyebabkan adanya sistem imam di gereja Roma Katholik, sistem paderi dalam gereja negara dan sistem pendeta dalam gereja independen sehingga ada dua golongan, para pendeta, para imam Katholik, para paderi dengan para jemaat. Padahal di mata Tuhan semua orang percaya adalah imamat yang rajani.

ayat 7 - Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon (xulon) kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

Gereja kumpulan semua orang percaya pasti mampu mendengar Roh Allah, tidak terkecuali. Dan sejak semula Roh-Nya berbicara kepada kita dan tinggal di dalam kita. Dan Tuhan menuntut kita tidak sekedar mendengarkan apa yang dikatakan kepada satu jemaat, namun apapun yang Roh-Nya katakan ke semua jemaat harus didengarkan.

Jemaat Efesus harus menang dari kemerosotan karena hilangnya kasih yang terbaik dengan bertobat sungguh-sungguh dan meminta supaya kasih itu lahir kembali. Dan menghapus efek pengikut-pengikut Nikolaus.

Agama berisi hukum dan aturan yang mengajar orang, sedangkan Tuhan merawat hayat hidup orang tersebut. Ajaran agama hanya tinggal di jiwa manusia sedang pemeliharaan Tuhan meliputi ketiganya yakni roh, jiwa dan tubuh. Para rasul tinggal bersama dengan jemaat bukan sekedar mengajar namun juga merawat mereka. Sedangkan pohon yang dimaksud bukan secara literal adalah pohon, melainkan kayu. Kata Yunani untuk pohon ini adalah xulon, yang sama dipakai di 1 Petrus 2:24 untuk kayu (salib) karena dari Kristus yang tersalib itulah kehidupan yang sejati lahir. Kristuslah pohon hayat atau pohon kehidupan itu sendiri. Melalui Kristus, maka kita memiliki kehidupan kembali kepada Allah. Agama dan religius yang mematikan harus ditaklukkan oleh salib Kristus yang menghidupkan. Jadi ungkapan ini menandakan bahwa jatah kita adalah makan dari kelimpahan Krsitus untuk pribadi demi pribadi dan BUKAN karena aturan agamawi.

Taman Firdaus merupakan Yerusalem Baru, hanya di dalam Kristus yang sempurna, Gereja dapat mencicipi Yerusalem Baru sampai hal itu menjadi kenyataan yang kekal.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.