Wednesday, January 2, 2013

Jemaat Tiatira Yang Murtad

Kitab Wahyu pasal 2:

ayat 18-19 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.

Jemaat Tiatira ada sejak berdirinya sistem Paus pada akhir abad keenam hingga Kristus datang kembali. Tiatira berarti kurban wangi-wangian atau kurban yang tidak putus-putusnya. Sebagai tanda, gereja ini melambangkan gereja yang sepenuhnya terbentuk dengan sistem kepausan, penuh dengan kurban, seperti yang ditunjukkam dengan misa-misanya yang tiada henti.

Gereja Tiatira dengan sekuat tenaga menandaskan bahwa Kristus adalah anak Maria. Karena itu Tuhan dengan serius menyebut diri-Nya Anak Allah, untuk menentang mentalitas bidah ini.

Ketika berhadapan dengan gereja yang duniawi (Pergamus), Tuhan menyebut diri-Nya sebagai Yang memegang pedang tajam bermata dua. Namun dalam menghadapi Tiatira, Tuhan menyebut diri-Nya sebagai Yang mempunyai mata bagaikan nyala api dan kak-Nya bagaikan tembaga yang mengkilap. Pergamus ditanggulangi dengan firman Tuhan yang memukul dan membunuh; sedangkan Tiatira perlu penghakiman dari mata-Nya yang menyelidik dan kaki-Nya yang menginjak.

Gereja di Tiatira memiliki banyak pekerjaan dan pelayanan. Yang dikerjakannya pada hari-hari terakhir, lebih banyak daripada yang semula. Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Tiatira seumpama kisah setelah zaman para hakim Israel yang sarat dengan kekacauan dan kanibalisme seperti yang dikisahkan dalam Kitab Para Hakim pasal 19 - 21, sampai munculnya nabi Samuel.

ayat 20-21 - Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya.

Wanita di sini, sama dengan yang dinubuatkan dalam Injil Matius 13:33, yang memasukkan ragi (lambang perkara jahat, bidah & kafir) ke dalam tepung halus (lambang Kristus sebagai kurban sajian yang murni). Wanita ini juga adalah pelacur besar dalam Wahyu pasal 17, yang mencampurkan perkara ilahi dengan perkara yang keji. Izebel, istri kafir Ahab, adalah lambang dari gereja yang murtad.

Nabi adalah orang yang berbicara untuk Allah dengan kuasa-Nya. Di sini Tuhan memakai Izebel sebagai lambang, menyatakan bahwa gereja di Tiatira mengangkat dirinya sendiri sebagai nabiah, yang berpura-pura menerima kuasa dari Allah untuk berbicara bagi Allah.

Di Pergamus, ada ajaran Bileam dan Nikolaus. Ajaran-ajaran tersebut akan tetap tinggal di Tiatira. Selain itu, gereja Tiatira sendiri juga mengajar, untuk menyuruh umatnya mendengarkan dia melebihi Firman Allah. Orang-orang yang bergabung dengannya akan dibius dengan ajarannya yang bidah dan agamawi, sehingga tidak menghiraukan Kristus sebagai sumber hayat utama Gereja, seperti yang dinyatakan oleh pohon kehidupan dan manna yang tersembunyi, yang pernah Tuhan janjikan kepada gereja Efesus dan Pergamus.

Tiatira (Katholik Roma saat ini) yang murtad dipenuhi segala macam perzinahan dan berhala (praktek penyembahan kepada patung yang menyerupai Bunda Maria, Yesus dan sebagainya), baik dalam hal rohani maupun jasmani. Dalam Wahyu pasal 17, Tiatira bahkan disebut Pelacur Besar.

ayat 22-23 - Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.

Ranjang biasanya digunakan untuk tidur dan beristirahat, dan yang tidak umum, dipakai untuk merawat orang sakit. Di sini Tuhan menunjukkan, bahwa gereja yang murtad sakit sampai tidak tertolong lagi, dan akan terus berbaring sampai dihakimi untuk kali terakhir.

Kesukaran besar yang dimaksud bukanlah Masa Tribulasi Besar yang akan dialami dunia pada 3,5 tahun yang terakhir, melainkan bagian khusus penderitaan yang Tuhan rancang dan timpakan ketika Dia menghakiminya. Ujung dari penolakan mereka untuk bertobat adalah pemusnahan yang akan digenapi sesuai dengan firman-Nya, "Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api. Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi." - Wahyu 17:16-17

ayat 24-25 - Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.

Seluk beluk mengacu kepada kedalaman pemahaman. Ada yang disebut jemaah Iblis (ayat 9) yang berlawanan dengan gereja yang menderita; ada yang disebut takhta Iblis (ayat 13) yang berpautan dengan gereja yang duniawi; dan seluk beluk Iblis ada di dalam gereja yang murtad. Agama dengan jemaah, dunia yang di bawah takhta Iblis, dan filsafat misteri Iblis, semuanya digunakan Iblis untuk merusak dan menghancurkan gereja.

Mulai dari Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia akan tetap ada hingga Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Sedangkan Efesus, Smirna dan Pergamus sudah tidak ada korporasinya, hanya ada individu-individunya di antara semua gereja.

ayat 26-28 - Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk--sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku-- dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.

Menang dalam hal ini bertobat dari kemurtadan dan praktek pelacurannya. Sedangkan pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang selaras dengan Pohon Kehidupan yang berlawanan dengan pekerjaan gereja yang murtad di bawah pengaruh Iblis.

Memerintah bersama Kristus atas bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun adalah pahala yang diberikan kepada pemenang. Janji Tuhan ini dengan tegas menyiratkan, bahwa mereka yang tidak menjawab panggilan Tuhan, yang tidak mengalahkan kekristenan yang merosot, tidak akan memiliki bagian dalam pemerintahan Kerajaan Seribu Tahun.

Ketika Kristus menyatakan diri-Nya pertama kali, yang meliihat bintang-Nya (Matius 2:2, 9-10), bukanlah orang Yahudi, melainkan orang-orang Majus. Pada pernyataan-Nya yang kedua ini, Kristus akan menjadi bintang timur (bintang fajar) bagi pemenang yang menantikan kedatangan-Nya dengan berjaga-jaga. Terhadap yang lainnya, Dia hanya tampil bagaikan matahari (Maleakhi 4:2).

ayat 29 - Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Kepada Jemaat Efesus, Smirna dan Pergamus, Tuhan menyatakan frasa "siapa bertelinga" dan dilanjutkan dengan frasa "barangsiapa menang". Sedangkan kepada Jemaat Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia kedua frasa tersebut disebut terbalik. Tujuh sungguh sebuah angka kesempurnaan, ada pola "tiga dan empat" untuk menggantikan pola "enam dan satu". Pola "enam dan satu" merupakan penciptaan dunia ini, yakni 6 hari penciptaan, yang juga merupakan gambaran manusia dengan 1 sebagai gambaran Elohim. Jadi manusia dengan Elohim adalah kesempurnaan yang lama.

Sedangkan pola "tiga dan empat" merupakan penciptaan Gereja, yakni Allah Tritunggal dengan Gereja  (manusia ciptaan baru di dalam Kristus) dalam wujud 4 jenis makhluk (Wahyu 4:6-9), singa, lembu, rupa manusia dan rajawali; yang juga adalah 4 kitab Injil, Matius, Makus, Lukas dan Yohanes.

No comments:

Post a Comment