Labels

Friday, August 30, 2019

TeeBee Dan Takhta Penghakiman Tuhan Yesus

Ini adalah sepotong kisah seorang anak Tuhan bernama TeeBee, yang dialami dan diceritakan dalam sebuah kotbahnya di tahun 2018. Kisah ini saya tuliskan sebagai catatan penting dan urgent bagi Gereja Tuhan di Akhir Zaman ini.

TeeBee hanya menceritakan sepotong saja, karena yang sepotong ini yang memang wajib diketahui dan dipahami sebagai peringatan yang tidak boleh diabaikan oleh siapapun.

Sebelumnya TeeBee ada dibawa ke Neraka, dan mengunjungi berbagai bagian di sana. Dalam perjalanannya, TeeBee bertemu berbagai tokoh, di antaranya Adolf Hitler, John Lennon dan Napoleon Bonaparte. Saat Adolf Hitler melihat TeeBee, Adolf Hitler memohon dengan sangat lirih, "Tolong aku." Dan seketika itu juga TeeBee merasa hancur hati tak berdaya karena sadar bahwa tidak ada lagi pertolongan bagi mereka yang berakhir di sana.

Perjalanan berlanjut, TeeBee dibawa ke tempat terendah dan tergelap di Neraka, di mana tak satu manusia pun ada di sana. Di tingkat terendah dan tergelap itu atmosfirnya sangat demonic, kegelapannya begitu pekat dan apinya sangat menghanguskan. Namun sekalipun apinya sangat menghanguskan, di tempat itu tidak ada cahaya, tidak ada terang, hanya kegelapan yang sangat jahat.

Di sanalah tempat 10 jendral teratas Lucifer ditahan. Ya mereka ada 10 jendral tertinggi yang pernah bekerja bagi Lucifer sebelum air bah terjadi.

Dan tiba-tiba dalam sekejap TeeBee dibawa ke hadapan Takhta Penghakiman Tuhan Yesus. TeeBee melihat penghakiman yang digelar khusus bagi para pemimpin (leaders). Entah mereka ada memimpin banyak orang atau sedikit orang, atau bahkan hanya memimpin satu orang, di hadapan Tuhan mereka adalah pemimpin.

Saat itu TeeBee melihat seorang saudara yang telah dikenalnya lebih dari dua dekade. Dan setiap pemimpin diberi dua pertanyaan:

1. "Where was your heart?", maksudnya Tuhan bertanya di manakah hati mereka saat mereka masih di dunia. Kenyataannya sampai Tuhan bertanya begitu adalah karena sesungguhnya mereka telah kehilangan kasih yang semula.

Hanya pada pertanyaan pertama saja seketika semua menjadi begitu transparan, saudara yang dikenal TeeBee itu menjadi kelu, tidak berdaya menjawab, bahkan menangis tanpa kendali dan terus menangis hingga berkertak gigi dan mengharapkan adanya kesempatan ke-2 untuk menebus kesalahannya.

2. "Sekarang mari kita lihat pekerjaanmu." Dan tiba-tiba dada Tuhan Yesus terbuka di dalamnya terdapat api, yakni api kekudusan-Nya, dan TeeBee merasakan api itu begitu dahsyat bahkan api yang dahsyat di tempat terendah dan tergelap di Neraka yang berisi 10 jendral Lucifer itu tidak ada bandingannya. 

Pekerjaan orang itu dibawa masuk ke dalam dada Tuhan Yesus dan ternyata semua pekerjaannya hangus tiada tersisa. Tidak ada emas, tidak ada perak dan tidak ada batu permata yang dihasilkan dari semua pekerjaannya. Sampai di titik ini harusnya kita menyadari bahwa hanya pekerjaan yang dilandasi dengan kasih yang semula (first love) yang mampu menghasilkan emas, perak atau batu permata.

Bahkan ketika melihat api kekudusan Tuhan itu membakar habis semua pekerjaan setiap kita, TeeBee seperti merasa menyesal karena pernah dilahirkan, karena melihat betapa Tuhan dan kekudusan-Nya tidak bisa dikompromikan. Api kekudusan-Nya sangat dahsyat dan sarat akan cemburu.

Dan jika sudah divonis begini, maka hanya belas kasihan Tuhan saja yang bisa membuat orang tersebut terhindar untuk dilempar ke Neraka. 

Semua hal ini ada tertulis di 1 Korintus 3:10-15,

"Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

"Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

"Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api."

Friday, August 23, 2019

Menilai Kesanggupan Menghadapi Masa Tribulasi Besar

Sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, Gereja Tuhan akan menghadapi Masa Tribulasi Besar. Namun apakah kita sanggup menghadapinya?

Tidak ada yang tahu dengan benar kesanggupan kita masing-masing untuk menghadapi masa yang berat itu, selain Tuhan Yesus sendiri.

Tuhan bisa menilai orang-orang pilihan-Nya untuk dilindungi dari masa yang berat itu karena dinilai kekuatannya tidak seberapa,

"Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. ... Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi." - Wahyu 3:10

Dan Tuhan juga bisa menilai orang-orang pilihan-Nya untuk menanggung penderitaan, karena dinilai mampu,

"Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus." - Wahyu 13:10

Tapi baik yang dinilai kekuatannya kecil maupun yang dinilai kekuatannya besar, tidak seorang pun yang dilarikan atau dihindarkan melalui Pengangkatan (Rapture). Bahkan yang dilindungi itu diberi dua sayap burung nazar untuk dilindungi di padang gurun, BUKAN dibawa ke Sorga. 

Semua yang tertulis dalam Wahyu 11 - 13 berlangsung dalam waktu yang bersamaan atau secara simultan dan semua kejadiaannya berlangsung di Bumi, termasuk Naga Merah dan kerajaannya pun akan dijatuhkan ke Bumi.

Jadi sekali lagi harus kita sadari, masalah sanggup dan tidak sanggup sama sekali bukan bagian kita untuk menilai, itu murni hak prerogatif Tuhan untuk menentukan, dan bagaimanapun pasti penilaian-Nya yang paling benar.

Kalau kita menilai sendiri kesanggupan kita, maka itu adalah sikap self-centered yang sangat fatal dan mematikan, sedangkan penilaian Tuhan sudah jelas God-centered dan membawa kepada kehidupan yang sesungguhnya, sekalipun harus alami kemartiran.

Ingat, bahwa yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus.

Tuhan memberkati.

Tiga Tingkat Baptisan Dan Masa Tribulasi Besar

"Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." - Matius 3:10-12

Dalam pelayanannya, Yohanes Pembaptis menjanjikan adanya 3 jenis baptisan, yakni baptisan air, baptisan Roh, dan baptisan api.

Baptisan air berfungsi sebagai pernyataan atau deklarasi iman sekaligus syarat untuk memperoleh baptisan Roh, sebab baptisan Roh hanya diberikan kepada para pengikut Kristus.

Baptisan Roh berfungsi untuk memperlengkapi kaum beriman untuk mengalami proses hidup yang dituntun oleh Roh Kudus, sehingga manusia batiniah bertumbuh menjadi dewasa, sekaligus memperlengkapi kaum beriman untuk bisa mengalami baptisan api.

Baptisan api berfungsi untuk memurnikan batiniah kaum beriman dari tiga perkara maut, yakni keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Sampai ketiga perkara maut ini habis, barulah seseorang punya kelayakan menjadi Mempelai yang tak bercacat cela bagi Kristus.

Yang membuat Gereja Tuhan korup di Akhir Zaman ini adalah karena yang diajarkan hanya 2 jenis baptisan yang pertama, sedangkan baptisan api tidak diajarkan, atau sangat minim pengkotbah yang mengajarkannya.

Dan karena hampir tidak pernah diajarkan, tidak ada jemaat yang memandang baptisan api sebagai sesuatu yang wajib, melainkan dipandang sebagai sesuatu yang opsional. Dan tentu saja karena para pengkotbah begitu menghindari baptisan api sebab mereka belum bisa berperkara serius dengan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidupnya.

Saking korupnya Gereja Tuhan, Pre-Tribulation Rapture pun diajarkan untuk semakin menyesatkan jemaat. Padahal Masa Tribulasi Besar adalah kompensasi penting untuk menggantikan baptisan api yang tidak pernah atau sangat jarang diajarkan itu.

Karena jika tiga perkara maut masih ada, dan Anak Manusia sudah datang dalam segala kuasa dan kemuliaan-Nya, maka tidak ada satupun kaum beriman yang mampu bertahan berdiri di hadapan-Nya.

Semua petunjuk-Nya jelas berlaku untuk SEMUA Kristen:

1. Diserahkan untuk disiksa, dibunuh dan dibenci karena Nama-Nya (Matius 24:9)

2. Banyak yang murtad (Matius 24:10)

3. Diharapkan (imannya) bertahan, SUPAYA selamat (Matius 24:13)

4. Melarikan diri ke pegunungan (Matius 24:16)

5. Ketika di luar rumah, sebaiknya tidak lagi kembali ke rumah (Matius 24:17-18)

6. Tuhan Yesus akan mempersingkat Masa Tribulasi Besar demi orang-orang pilihan-Nya, BUKAN demi yang suam (Matius 24:22).

7. Bahkan ada yang ditentukan, apakah sekedar ditawan, atau dibunuh dengan pedang (Matius 13:10). Ini jelas martir terpilih, dan para martir terpilih ini sudah pasti BUKAN Kristen yang suam.

Sebaiknya buang jauh-jauh konsep Pre-Tribulation Rapture, karena memang itu SESAT. 

Kalau memang Tuhan Yesus mau menghindarkan sebagian orang Kristen dari Masa Tribulasi Besar, untuk apa Tuhan Yesus minta kita bertahan? Untuk apa Tuhan Yesus minta kita lari ke pegunungan? Untuk apa Tuhan Yesus minta kita untuk tidak kembali ke rumah?

Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.

Thursday, August 1, 2019

Hukum Taurat Dan Tipu Daya Lahiriah

Tidak sepantasnya pemberita Injil Kristus maupun Injil Kerajaan menyatakan bahwa Hukum Taurat masih berlaku, sebab memang Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi.

Dan Rasul Paulus pun berkata,

"Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu BUKANLAH BAGI orang yang benar, MELAINKAN BAGI orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu YANG BERTENTANGAN DENGAN AJARAN SEHAT YANG BERDASARKAN INJIL dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku." - 1 Timotius 1:8-11

Ketika saya menyadari kekeliruan dan kesalahan dari praktik-praktik penyembahan di Bahtera (termasuk Mahanaim dan AoC) dan berbagai komunitas sejenis lainnya begitu sarat dengan unsur-unsur keimaman Lewi seperti yang diatur dalam Hukum Taurat, maka saat itu juga saya menyadari bahwa semua yang dianggap profetik sesungguhnya adalah klenik.

Tumen, patok, jubah, replika Tabut Perjanjian, bokor, dupa dan berbagai bentuk lahiriah lainnya yang digunakan dalam penyembahan dan dilakukan secara prosedural, semuanya bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil yang dari Allah. 

Sedangkan melalui Tuhan Yesus dan tuntunan Roh Kudus, kita diharapkan menjadi pribadi yang dicari Bapa, yang penyembah dalam roh (batiniah) dan kebenaran.

Karena Hukum Taurat tidak diberikan bagi kita yang sudah dibenarkan melalui iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus, dan tidak akan pernah.

Standar Hukum Taurat mengenai perzinahan misalnya, adalah ketika ada tindak perzinahan, yakni bukti nyata (lahiriah) bahwa tindak perzinahan itu ada dilakukan.

Sedangkan standar Hukum Kasih Karunia mengenai perzinahan adalah ketika dalam pikiran dan hati saja sudah dianggap berzinah, walaupun sama sekali tidak ada tindakan lahiriahnya. Ini benar-benar perkara batiniah.

Hal itu sejalan dengan esensi Kerajaan Allah yang tak tergoncangkan itu,

"Kerajaan Allah datang TANPA tanda-tanda lahiriah, juga orang TIDAK DAPAT MENGATAKAN: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." - Lukas 17:20-21

Kerajaan Allah takkan pernah ditemukan dalam hal-hal lahiriah apapun di muka Bumi ini. Maka ketika hal-hal lahiriah itu dipakai atau dijadikan standar, apalagi dijadikan prosedur untuk menilai hadirnya Kerajaan Allah, sudah pasti hal itu MENYESATKAN.

Termasuk ajakan ibadah yang "mengiming-iming" atau menjanjikan bisa bertemu Tuhan Yesus secara fisik, untuk itupun Tuhan Yesus dengan gamblang menyatakan,

"Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.

"Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya." - Lukas 17:22-24

Memang ada beberapa kesaksian dari anak-anak Tuhan yang mengalami perjumpaan secara fisik dengan Tuhan Yesus, tapi hal itu sifatnya personal, TIDAK BISA "DIPERDAGANGKAN", apalagi dijanjikan bertemu. Kendalinya murni dari Tuhan Yesus saja, tidak melalui perantara siapapun.

Jadi kalau sampai ada yang mengaku dengan menjanjikan pertemuan fisik dengan Tuhan Yesus, dan apalagi mengaku merasa benar bertemu Tuhan Yesus, kita harus waspada, karena jelas yang secara fisik ditemui itu BUKAN Tuhan Yesus.

Praktik klenik lainnya lagi adalah mengajak makan emas, dengan tujuan alami kelimpahan, atau makan kembang dengan tujuan supaya hidupnya menjadi indah atau apapun alasannya. Klenik namun disebut profetik. 

Padahal yang benar profetik itu bersifat spontan dan tidak direncanakan maupun tidak melalui latihan. Semua murni karena intervensi Roh Tuhan yang tidak diketahui jadwalnya. 

Sudah saatnya menyadari bahwa yang lahiriah itu akan menuju kepada kebinasaan karena bisa dengan mudah maupun dengan canggih dipakai untuk memperdaya siapapun yang ingin dinilai baik secara lahiriah pula.

Hal ini sejalan dengan yang Rasul Paulus peringatkan,

"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!" - 2 Timotius 3:5

Mengapa mereka pada hakekatnya memungkiri kekuatannya sendiri? Karena sejatinya batiniah mereka rapuh dan tidak pernah dibangun dengan kebenaran yang sejati!

Jauhilah mereka itu.

Pembodohan Rohani Berjemaah

Tuhan Yesus sudah memberikan perintah untuk kita menilai bahkan ada pula yang namanya karunia atau kemampuan untuk membedakan roh. 

Namun ketika penilaian atau hasil membedakan roh dipublikasikan, orang yang mempublikasikan penilaiannya malah dianggap menghakimi. 

Contohnya adalah ketika saya menyebut dalam penilaian saya tentang pendeta palsu dari Zimbabwe yang bernama Paul Sanyangore, yang diundang oleh persekutuan Ark of Christ (AoC), Bandung, yang kebetulan juga mengundang nabi palsu sekaligus pelaku pencabulan anak-anak di bawah umur untuk berkotbah di mimbar yang sama, yang kasusnya sudah berjalan 5 bulan, Timothy Luke Saputra alias Yesaya Gunawan.

Pihak AoC dan banyak saudara dari Bahtera dengan secapat cahaya menganggap saya menghakimi, padahal saya hanya menilai dan tidak ada vonis apapun yang saya jatuhkan kepada mereka maupun orang yang mereka undang.

Dan karena begitu mudahnya menganggap setiap penilaian sama dengan tindak menghakimi, akibatnya jemaat tidak pernah dicerdaskan, tidak punya ruang untuk bisa menilai dengan baik suatu perkara rohani, karena takut dianggap menghakimi.

Pendeta palsu dari Zimbabwe yang saya nilai sebagai tukang sihir itu, disodorkan ke jemaat oleh pihak pengundang sambil berkata, "Saya sudah cek spiritnya, clean!" Seakan-akan dia berhak memberikan sertifikat "halal" kepada siapapun yang dia kehendaki, alih-alih mempersilakan setiap jemaat menilai sendiri setiap perkara rohani yang ada. Ini jelas pembodohan berjemaah. 

Lebih miris lagi ketika para pengkotbah palsu itu dari atas mimbar mengkotbahkan dalih yang paling manjur, yakni dalih "jangan menyentuh yang diurapi", maka semakin tumpullah kemampuan penilaian yang diharapkan Tuhan Yesus ada dalam setiap orang percaya.

Logika dan akal budi jemaat diberangus oleh citra para "hamba" Tuhan yang mengaku diurapi itu. Karena ketika logika dan akal budi digunakan untuk menilai sesuatu yang rohani, hal itu dianggap haram.

Padahal dengan tegas Tuhan Yesus katakan, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU, dan dengan segenap kekuatanmu."

Akibatnya, logika dan akal budi tidak mengalami pembaharuan seperti yang Tuhan kehendaki, tidak pernah cerdik seperti ular, hanya ada tulus seperti merpati saja, sehingga selamanya jemaat yang tulus itu menjadi target empuk pembodohan yang berkepanjangan.

Begitu juga ketika dengan gamblang dan bukti nyata saya mempublikasikan penilaian bahwa Ibu Iin Tjipto dan Bahtera terbukti ada melakukan tindak klenik dengan dalih profetik melalui segala ritual yang dilakukan dalam menyambut Perayaan Tahun Yobel Besar 5776. 

Saya diminta untuk menyampaikan "empat mata" daripada mempublikasikannya di medsos seperti ini. 

Apa tidak sekalian menyarankan untuk Tuhan Yesus bicara baik-baik secara "empat mata" dengan para imam di Bait Allah saat itu, daripada langsung mencambuk dan menunggangbalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati? 

Hello? Sampai kapan kita benar-benar secara tegas untuk sungguh-sungguh mengalami pembaharuan akal budi yang dikehendaki Tuhan itu?

Petunjuknya jelas,

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:1-2

Ketika kita benar-benar fokus dan memprioritaskan perkenan Allah daripada penerimaan (komunitas) manusia melalui persembahan yang hidup, maka secara otomatis pembaharuan akal budi itu mengalami prosesnya sehingga sejalan dengan waktu akan semakin mampu membedakan mana yang baik, mana yang berkenan kepada Allah dan mana yang sempurna.

Namun sebaliknya, ketika jiwa kita lebih mempertimbangkan apa kata orang dibanding perkenan Allah, maka pembaharuan akal budi pun akan mengalami kebuntuan, dan kemampuan membedakan tidak berkembang, sehingga selamanya menjadi target pembodohan yang berkepanjangan.

Suatu kali saya mendengar ada pengkotbah berkata, "Anda jangan mau dan tidak boleh membiarkan diri Anda dijajah dan diintimidasi oleh para pendeta, para pengkotbah maupun yang mengaku hamba Tuhan, termasuk saya. Anda harus bisa mandiri, dan menilai mana yang benar."

Itu baru pengkotbah "gentleman", berani "ditelanjangi" oleh jemaatnya sendiri dan siapapun yang bisa menilainya, dan itu memang yang mencerdaskan. 

Bukan membodohi jemaat di balik "aksesoris" karunia-karunia roh, maupun pengalaman-pengalaman spiritual dan dengan sambil berdalih "jangan menyentuh yang diurapi".

Pada akhirnya setiap orang percaya harus menyadari bahwa hanya sedikit orang yang menuju kepada kehidupan karena sesaknya pintu dan sempitnya jalan yang menuju ke sana, sedangkan kepada kebinasaan, pintunya begitu lebar dan jalannya begitu luas.

Semoga pada saat menyadarinya, kita belum terlambat.

Tuhan memberkati.

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.