Labels

Showing posts with label Puisi Windu. Show all posts
Showing posts with label Puisi Windu. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

Hanya Kau Yang Tetap Kuingini

Simpan aku dalam perkenan-Mu, sebab aku ini kepunyaan-Mu selamanya.
Biar batinku penuh dengan didikan-Mu, meluap karena cinta yang Kau beri.
Walau langit tak selalu biru, namun aku aman dalam terang-Mu senantiasa.
Yang kuingini adalah Hati-Mu, dan jangan pernah ambil Roh-Mu dari hidupku.


Kalaupun aku harus jatuh, biarlah aku jatuh ke Tangan-Mu saja.
Karena Tangan-Mu jugalah yang menopang aku dan memberi kemenangan.
Jangan biarkan aku pergi, sebab aku ingin mengagumi diri-Mu selamanya.
Lagipula, ke mana lagi aku bisa menjauh, sebab Kau mencemburuiku dengan sangat.


Akankah kita sepakat dalam setiap kesempatan yang ada, Kekasih?
Namun telah kubuang semua impianku ke dalam tubir laut dan gelungan ombak.
Supaya hanya impian-Mu yang terus menari-nari dalam cakrawala imajinasiku selalu.
Ke manapun Engkau berada, di situlah aku bersenandung karena Engkau berkenan kusertai.


Sampai pada hari itu, semuanya akan terungkap dalam gegap sanubari kita.
Bahwa cinta ini tetap tak pernah salah memilih, tak pernah salah percaya, dan juga tak pernah salah berharap.
Sampai pada momen itu, hari yang paling membahagiakan kita berdua.
Hari di mana cinta ini bertemu muka dengan muka dengan Tuannya, Raja di atas segala raja.

Monday, August 24, 2015

Yang Lama Telah Berlalu

Di tepi jalan sang jendral
Kulihat bayang-bayang impianku
Yang telah lama hanyut dalam
Hiruk pikuk ibukota

Mereka memang diam membisu
Pun tak sanggup menyapa dalam tatapan
Namun jelas sekali terhenyak
Bahwa sanubariku tersapa 

Dan jelaslah sudah tergadai impian haram
Yang tertebus oleh darah termahal
Kini hanya dapat menatap bisu
Dari balik tutup peti mati

Sejak hari ini juga hatiku mantap
Sambil bersenandung dari relung
Di mana Engkau berada, di situ juga aku
Impian-Mu jadi mimpiku, selamanya

Jakarta, 18 Agustus 2015

Wednesday, December 31, 2014

Kegelisahan Di Lembah Penentuan


Di Kota Mempelai aku menutup tahun yang lama
Di Kota Mempelai aku membuka tahun yang baru
Di Kota Mempelai kunikmati pergantian tahun
Tahun Yang Melampaui Segala Akal, 2015


Dalam lintasan-lintasan perenunganku
Kucoba mereka-reka dan menangkap imajinya
Apakah yang melampaui segala akal itu
Akupun mengingat kegemilangan yang telah lalu
Dan mengukur palung terdalam di sanubari ini


Apakah itu semua kekuatan dan keperkasaanku
Apakah itu semua kelemahan dan kebodohanku
Namun satu hal yang harus kusadari selalu
Hati ini begitu mudah menipu diriku sendiri


Maka kukuatkan hatiku ini kuat-kuat
Dan kuteguhkan kalbuku ini teguh-teguh
Apapun yang terjadi takdir ini harus berlanjut
Sebab aku percaya suatu hari nanti di awan-awan
Bahwa cinta ini akan bertemu muka dengan muka
Dengan Tuannya, Raja di atas segalanya, Kristus Yesus Tuhan


Tapak Pusaka, Tapak Nusantara

Indonesia tapak pusaka
Tapaknya menampung sarat
Tapaknya menggenggam limpah
Tapaknya padat bernas berisi
Yang kecil berpotensi tak hingga
Empunya penuh gairah bermanifestasi segera

Saat genap sepuluh langkah
Di tiap-tiap perkara kejadiannya
Maka takkan ada lagi penundaan
Semua takdirnya akan segera tergenapi
Tanpa dapat ditahan oleh pihak manapun

Karena Sang Empu terus teringat
Dengan segala cita-cita-Nya yang bulat
Dengan segala kerinduan-Nya yang menumpuk
Bagai arak tua nan berabad-abad

Supaya nyata Kabod-Nya di Nusantara
Setelah hina dina menutupi semua celah
Dan cawan syafaat telah meluap deras
Roh Kudus-Nya kan mengawali Tahun Segala Rahmat

Pembaharuan Indonesia

Pada hari pentahiran itulah
Kita akan mendiami lagi kota-kota
Dan reruntuhan-reruntuhan dibangun kembali
Tanah yang tandus menjadi subur lagi makmur

Sehingga bangsa-bangsa akan mendeklarasikan
Bahwa pembalikkan keadaan sungguh jadi nyata
Yang tandus gersang telah menjadi Taman Eden
Yang runtuh musnah telah menjadi kubu-kubu kuat

Saat itulah bangsa-bangsa akan menyadarinya
Bahwa mereka yang dahulu melampaui kita
Menjadi tertinggal semakin jauh terbelakang
Buah kerinduan Tuhan menjadi buah bibir mereka
Dielu-elukan di berbagai penjuru kota dan negeri
Menjadi salutan dan sanjungan dari para tetangga

Pada waktu itulah Tuhan nyatakan gelora-Nya
Supaya Pasukan-Nya memintakan kehendak-Nya
Menjadikan seluruh bangsa jadi lautan manusia
Untuk perayaan dan persembahan kudus selamanya
Dengan begitu mereka mengetahui, Kristuslah TUHAN

Monday, December 29, 2014

Sang Pencipta Keajaiban

Tangga dari Bumi telah menjulang kokoh
Tingkap-tingkap Sorga telah terbuka lebar
Gerbang-gerbang telah deras mengundang
Meja perjamuan telah lengkap tersaji
Santapan-santapan nan penuh keajaiban
Semua tampil penuh misteri dan gelora

Yang dinanti jauh berabad-abad
Telah tiba sekarang ini juga
Yang dirindu bergunung-gunung
Telah mengerupsi tanpa penundaan

Yang manis akan teramat manis
Yang indah akan teramat indah
Yang ajaib akan teramat ajaib
Yang takjub akan teramat takjub
Bahkan yang mahadahsyat sudah tak sabar

Siapakah yang seperti Engkau, TUHAN
Di antara para dedewa langit bumi sejagat
Engkau begitu mulia karena kekudusan-Mu
Masyhur dan menakutkan Sang Pencipta Keajaiban

Saturday, December 20, 2014

Mau "Take Off"

Sesaat lagi, ya sesaat lagi
Kita akan segera lepas landas
Terbang dari semua kemustahilan
Melayang dalam berbagai keajaiban

Yang dulu keras bagai tembaga
Kini mudah untuk diterobos
Yang dulu sekuat besi
Akan semakin mudah dibentuk

Didikan, didikan dan didikan
Itulah yang terus kita perlukan
Supaya tetap utuh jatah kita
Sehingga makin genap takdir kita
Dan kemuliaan itu menjadi bagian kita

Sampai di sini saja semua keletihan
Sampai di sini saja semua kejenuhan
Sampai di sini saja semua kebekuan
Sampai di sini saja semua kepahitan
Kita sudah mau terbang sebentar lagi
Sampai kita bertemu dengan-Nya di awan-awan

Tuesday, July 29, 2014

Nikmat Kekasihku, Didikan Rajaku

Engkaukah itu, Kekasih

Yang menginginkanku
Dengan sepenuh cemburu
Yang mendekapku erat
Dengan nafsu kudus-Mu
Yang bernyanyi indah
Dengan senandung rahasia
Yang menari-nari mesra
Dengan gairah penuh pesona

Engkaukah itu, Kekasih

Yang dalam segala keberadaan-Mu
Begitu mengingin seluruh keberadaanku
Yang dalam segala waktu
Begitu mengingat jiwaku
Yang dalam segala kesempatan
Begitu menyergap hatiku
Yang dalam segala jalan
Begitu menyesak pikiranku

Ini aku, Kekasih. Perlakukanlah aku sesuka-Mu. Aku berserah dalam segala cinta dan didikan-Mu. Aku takkan bisa ke mana, sebab ke manakah aku dapat pergi, menjauhi Roh-Mu, ya Yang Mahakudus.

Di bawah kaki-Mu, aku menanti. Kunikmati setiap tetesan cinta-Mu. Dan kupercaya tangan kanan-Mu selalu menggenggamku kepada kemenangan demi kemenangan sampai Garis Akhir.

Pikatlah hatiku selalu dan ajariku dalam semua didikan-Mu untuk mampu memikat hati-Mu senantiasa, ya Rajaku. Sebab untuk siapa lagi aku harus hidup, selain untuk diri-Mu semata, ya Baginda. Engkaulah yang bahkan ketika kupikir telah kalah pun, ternyata aku menang, ya Paduka.

Saturday, June 21, 2014

Aku

Aku sudah di sini
Dan ini aku, ya Tuhan
Dengan segala yang telah
Kulalui dan kualami

Banyak yang kusesali
Namun lebih banyak lagi
Yang bisa kusyukuri
Semua karena diri-Mu

Dan jika waktu bisa terulang
Aku tetap kan memilih diri-Mu
Sebagaimana Kau telah memilih diriku
Untuk kita lalui dan alami bersama

Dan jika aku bisa memilih
Maka sekali lagi aku memilih
Untuk serahkan tali kendali
Kepada niatan-Mu nan mulia

Sebab aku ini sesungguhnya
Melarat, malang, miskin, buta dan telanjang
Namun hanya Engkaulah kebajikanku
Dan sebenarnya aku sepenuhnya milik-Mu

Maka kumerendah di kaki-Mu
Mampukanlah aku sekarang
Untuk membeli emas dari-Mu
Yang telah murni diapikan itu

Supaya aku menjadi kaya
Juga pakaian putih
Untuk kukenakan segera
Menutupi ketelanjanganku yang hina

Serta memiliki minyak itu
Pelumas bagi kebutaanku ini
Supaya aku terus melihat
Sebagaimana Engkau melihat


Tidak Ada Gunanya Lagi Aku Memberi Jawab. Jika TUHAN Yang Kupuja Sanggup, Maka IA Pasti Melepaskanku Segera. Tetapi Seandainya Tidak, Aku Takkan Menyerah Dan Berputus Asa. Aku Akan Jalan Terus, Hingga Di Garis Akhir Dengan Kuat!

Friday, June 20, 2014

Harapan Sederhana

Kumpul, ayo kumpul
Duduk, ayo duduk
Sebab aku hendak menceritakan
Yang kan segera terjadi

Dengar, ayo dengar
Simak, ayo simak
Sebab aku takkan merahasiakan
Masa depan yang segera terjadi

Ujian akan semakin berat
Tantangan kan semakin hebat
Upah pun semakin dahsyat
Di bumi maupun di akhirat

Setelah semuanya ini terlalui
Yang berlari teruslah berlari
Jangan pernah pikir tuk berhenti
Naik ke puncak penggenapan

Yang telah lama terdidik
Kiranya terus semakin merunduk
Persis padi yang utuh berisi
Tak lagi minat berbangga diri

Ada didikan tuk terus memberi
Ada didikan tuk rela menerima
Ketika keduanya telah sinergi
Maka akan mudah sehati

Sungguh amatlah sederhana cita-citaku
Memberi dengan penuh ikhlas
Jauh dari segala kepura-puraan
Semakin rajin dan makin menyala

Terus bersukacita mengharap
Sabar dan tekun melalui segalanya
Supaya bisa terus saling mengasihi
Dan saling mendahului untuk menghormati

Thursday, June 19, 2014

Rumahku, Kapan Kau Kembali

Tenang dalam genggaman
Lelap dalam pelukan
Hidup dalam perhentian
Ketika kutemui dirimu

Rumahku, siapakah diriku ini
Terasa begitu beruntung
Nyata bertemu dirimu
Dalam rangkaian waktu

Kuharap rangkaian ini 
Terus terangkai terjalin
Dalam ikatan kudus mesra
Hingga pada kekekalan

Di tepian kalbu biru
Diriku termenung sendiri
Mencerna semua rangkaiannya
Mereka-reka yang kan terjadi 

Kutengok ke belakang waktu
Sekali lagi sekedar mengingat
Dari manakah ku diambil kemarin
Hingga aku dianugerahi dirimu

Ya, dirimu itu, hidupmu juga
Yang sempat membuatku lupa
Semua derita yang pernah ada
Semua sesal yang t'lah berlalu

Maka ketika tiba kuterjaga
Kusadari semua rangkaian itu
Hanya mimpi yang belum berakhir
Yang masih menanti nyatanya

Kini aku berbalik meniti lagi
Lanjutkan panggilan yang tinggi
Menjadi pilihan yang mengabdi
Sampai takdir jumpa di Garis Akhir

Wednesday, June 18, 2014

Momen Menuai

Lupakan air mata itu
Lupakanlah kepedihannya
Lupakan sakit itu
Lupakanlah perihnya

Biarlah derita mengalir
Ke manapun ia kehendaki
Jangan ditahan lagi
Tak perlu lagi dipikirkan

Sekarang tengoklah ke ladang
Semua telah menguning
Berkas-berkasnya penuh
Bertih-bertihnya pulen membulat

Masa yang baru segera datang
Momennya begitu kukuh menyapa
Tuaian limpah siap sedia
Siapkan diri untuk menuai

Sebab Empunya tuaian
Amat tak sabar menanti
Bahkan Ia ikut turun gelanggang
Dengan sabit emas nan tajam

Sebab Empunya tuaian 
Begitu tergesa memenuhi
Lumbung-lumbung Kerajaan-Nya
Ia menghitung dengan akurat

Segala jerih payah kita
Segala hasil kesetiaan kita
Yang terpanggil di jam terakhir
Di jam ke-sebelas yang mengharukan

Upah takkan pernah kurang

Sebab Ia amat murah hati
Namun camkanlah selalu bahwa
Kita hamba yang tak berguna

Tuesday, June 17, 2014

Di Pintu Embarkasi

Indonesiaku, Ibu Pertiwiku
Hampir genap waktumu
Hampir sampai puncakmu
Hampir nyata takdirmu

Indonesia, negeriku
Buka lebar gerbang-gerbangmu
Jangan pernah tertutup lagi
Sebab bangsa-bangsa mengantri

Masuk dalam momen penentu
Untuk menjadi terang dunia
Di kala kegelapan melanda
Dan semua telah diserahkan

Terus tambah mezbah-mezbah
Biarkan saja panggung-panggung
Sebab panggilan kita melayani
Sebagai hamba-hamba tak guna

Pulau-pulaumu mendadak penuh
Pelabuhan-pelabuhanmu terkejut ramai
Bandara-bandaramu makin banyak
Kemiskinan hampir terlupakan


Siang malam kekayaanmu makin berlimpah
Susu, anggur, gandum, padi, ikan
Dan semakin tak terhitung ternakmu
Jadi jawaban dan kepuasan bagi dunia

Tembagamu menjadi emas
Besimu menjadi perak
Kayumu menjadi tembaga
Batumu menjadi besi

Keselamatan dan puja puji itu
Kan menjadi tantanganmu selalu
Di pintu embarkasi
Bersiaplah terbang tinggi, Indonesia

Monday, June 16, 2014

Cangkokan Sezaman

Elohim yang hidup, yang Mahapilih
Ia memilih dengan cinta-Nya
Ia tetapkan dengan setia-Nya
Ia jalani tanpa penyesalan

Elohim yang hidup, yang Mahatahu
Ia memberi dengan sukacita-Nya
Ia menerima dengan kerelaan-Nya
Ia hadapi tanpa berputus asa

Semua resiko yang pernah
Sedang dan akan terus terjadi
Semua diterima sebagai perkara
Yang semakin memacu diri-Nya

Dari Sion, Ia datang menebus
Semua kefasikan disingkirkan-Nya
Ia siapkan Perjanjian Pembaharuan
Ketika Ia menghapus semua dosa

Dari kecemburuan sampai kecemburuan
Ia menebus semua pelanggaran kita
Ia menjadikan kita cangkokan
Tunas liar jadi cabang kemuliaan

Dan setelah semuanya itu
Biarlah tunas liar ini
Menyembah-Mu selamanya
Mengabdi pada-Mu seutuhnya

Melayani-Mu sepenuhnya

Memberkati-Mu dengan gelora
Mendamba-Mu dalam gairah
Merefleksikan diri-Mu, jernih!

Kemurahan-Mu dan kekerasan-Mu

Biarlah semua mendidik kami selalu
Sampai semua kerinduan-Mu
Genap menjadi kerinduan kami

Sunday, June 15, 2014

Hosea

Ya Tuhan, Elohim yang hidup
Engkaulah suami kami yang sungguh
Engkaulah kekasih kami yang sejati
Kepada-Mu akhirnya kami menyatu

Sebab kami mengakhiri saat ini
Semua persundalan dan zinah kami
Baal telah jauh dari mulut kamu
Mereka takkan disebut lagi selamanya

Ya Tuhan, Jehovah yang satu
Kamilah istri-istri-Mu yang sadar
Kamilah kekasih-Mu dalam pencarian
Kepada kami, Engkau selalu tertuju

Sebab Engkau hendak memulai
Sebuah awal yang sama sekali baru
Pembaharuan perjanjian nan kekal
Yang membawa damai lampaui akal

Engkau jadikan kami istri-Mu
Untuk dan tetap selama-lamanya
Dalam kebenaran dan keadilan
Dalam kesetiaan dan kasih sayang

Kami bawa Indonesia kami
Ke hadapan Yang Mahatinggi
Berpaling dari ilah-ilah asing
Dan menjauhkan kue kismis kami

Sungguh kami sadari bahwa ternyata
Bukan kami yang memilih Engkau
Namun Engkau yang memungut kami
Sebagai Yizreel, Ruhama dan Ami

Dengan tebusan yang genap
Kami akan diam tidak lagi bersundal
Namun melayani-Mu selamanya
Dan menjadi umat keagungan-Mu

Saturday, June 14, 2014

Maleakhi

Sang utusan telah bersuara
Berjarak sama dengan pembebasan
Ia mengungkap sebuah rasa ilahi
Kasih kepada umat pilihan

Sang utusan amat memahami
Bahwa ia adalah yang terakhir
Dan waktunya amat singkat
Sebelum masa sunyi nan panjang

Ia sampaikan kekecewaan Tuhan
Akan cemarnya korban persembahan
Ia sampaikan murka Tuhan
Akan rendahnya para imam

Imam-imam yang tak setia
Imam-imam yang berkhianat
Imam-imam yang keras kepala
Imam-imam yang tak lagi rajani

Sang utusan juga bersabda
Bahwa Sang Penggenap Janji
Pasti akan datang pada waktunya
Namun tak ada yang tahan

Sebab yang akan datang itu
Adalah api pemurni loga
Sabun tukang penatu
Pentahir perak dan emas

Sang Penggenap Janji menantang
Untuk kita menguji janji-Nya
Ketika kita melampaui Mamon
Dan tingkap-tingkap Sorga terbuka

Ia meminta kita tak kecewa
Sebab Ia setia dan adil sungguh
Sebab menjelang Hari-Nya
Akan ada Penyingkapan Besar

Friday, June 13, 2014

Takdir - Kalbu Seperjuangan

Aku mengetuk takdir
Mengikuti irama kalbu
Dan kudapati mereka
Mesra dalam derita

Keduanya saling mengisi
Mereka percaya bahwa
Mereka ada untuk bersatu
Sepakat dalam tiap pergolakan

Mereka saling menguatkan
Seperjuangan menuju puncak
Hingga akhirnya menjadi
Fenomena yang tak terbantahkan

Takdir tidak kejam
Kalbu tidak lemah
Saling mengisi dalam keseimbangan
Fenomena yang teramat matang

Kalbu dan takdir meriwayat
Dalam setiap sanubari insan
Bersaksi untuk Sang Pencipta
Tercipta untuk kebahagian-Nya

Siapa hendak menolak takdir
Ia juga menyangkali kalbunya
Siapa hendak mendusta kalbu
Ia juga menghina takdir

Takdirku menjaga kalbuku
Kalbuku menopang takdirku
Tak ada yang tak dapat dilunakkan
Tak ada yang tak dapat ditundukkan

Ini kalbuku, ini takdirku
Kepersembahkan di atas mezbah
Dari suci hingga suci
Untuk tergenapi dalam hayat

Thursday, June 12, 2014

Indonesia 2014

Di pertempuran terakhir
Bangsa ini tak punya
Pilihan untuk memilih
Sebab tenggatnya hampir genap

Ini bukan soal seperti biasa
Ini bukan lagi tentang itu saja
Sekedar perubahan radikal
Atau sekedar status quo lagi

Ini soal hidup penuh kejayaan
Atau bubar dalam kehancuran
Antara berkat Tahun Yobel
Atau bernasib jadi gembel

Bukankah telah begitu jelas
Perbedaan yang amat kontras
Terbelahnya begitu merata
Protagonisnya, antagonisnya

Tengoklah NU juga Muhammadiyah
Perhatikan Golkar juga PPP
Bahkan di berbagai gereja
Juga di dalam keluarga kita

Ada yang bilang seperti perang badar
Yang lain berkata pesta demokrasi
Namun sungguh ini bangsa besar
Sedang ditentukan di pintu embarkasi

Kotrasnya bagai masa Ahasyweros
Yang satu berperan sebagai
Ester dan Mordekhai
Yang satunya lagi mirip Haman

Jadi jelas bagian kita sekarang
Menjadi Mempelai yang berperang
Melenggang di atas gelombang
Bersama Sang Raja, kita menang

Wednesday, June 11, 2014

Kenang Duka, Kenang Takdir

Jiwaku, batinku
Malang benar nasibmu
Petaka demi petaka
Silih berganti menepi

Apakah engkau masih kuat
Jiwaku, batinku
Apakah engkau tabah
Wahai yang di kalbuku

Aku juga tak tahu
Harus berbuat apalagi
Ke mana harus kutuju
Di mana harus berhenti


Masih ingatkah ketika
Langit begitu cerah
Anginnya sepoi melanda
Dan mentari begitu bersahabat

Ya kala itu, jiwaku
Kamu masih amat belia
Belum duka, tanpa lara
Hati riang, akal sehat

Namun setelah semuanya ini
Kuharap engkau makin kuat
Kuharap engkau baik-baik
Sejahtera sebagaimana Sang Sumber

Sebab Iapun adalah Saksi duka
Dan merasakan deras petaka
Ia mengerti linangan nelangsa
Dan jerit pencari jawaban

Maka sekarang kupinta dikau
Kuatlah jiwaku, kuatlah
Makmurlah jiwaku, makmurlah
Masyhurlah jiwaku, masyhurlah

Tuesday, June 10, 2014

Takkan Lari Paksaan-Nya Dikejar

Akankah ibuku menjadi kuburanku
Haruskah rahimnya jadi kerandaku
Layu sebelum pantas berkembang
Gugur sebelum nyata dilahirkan

Terkutukkah pembawa berita kelahiranku
Malangkah nasib ayah dan moyangku
Terkutukkah hari kelahiranku itu
Sekali-kali tidak dan takkan pernah

Namun Engkau membujuk aku
Aku terjerat dalam rekayasa-Mu
Terjebak dalam rancangan-Mu
Bahkan terlena dalam paksaan-Mu

Sungguh Engkau terlalu kuat
Cinta-Mu begitu pekat
Hasrat-Mu geram mengikat
Dan api-Mu menyala hebat

Aku sudah tak tahan
Sampai berapa lama lagi
Aku harus jalani kegilaan ini
Sampai berapa jauh lagi

Siang hari jadi cercaan
Malam hari jadi sandungan
Petang mendatangkan omelan
Pagi mengundang ocehan

Aku tak dapat mengubah jurusan
Maupun mengatur laju percepatan
Karena aku sudah telanjur penasaran
Terpikat dengan Sang Idola idaman

Jadi sekarang, tunggu apalagi, hai jiwaku
Mari undang paksaan-Nya lebih lagi
Karena pemaksaan-Nya menyelamatkan
Dan di Garis Akhir kita kan gemilang

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.