Labels

Showing posts with label Raja Saul. Show all posts
Showing posts with label Raja Saul. Show all posts

Monday, March 5, 2012

Gereja Yang Memerintah, Gereja Yang Berdoa Vol. 2

Raja Saul dan Adolf Hitler

"Waktu mereka berkata: 'Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,' perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: 'Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." - 1 Samuel 8:6-8

"Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin. Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan." - 1 Samuel 10:20-21

Baik Saul maupun Hitler adalah seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya dan awalnya dicintai oleh rakyatnya. Bahkan masa kecil mereka sama-sama berpredikat "anak alim" atau "anak soleh" yang taat orang tua, taat agama, dididik dan diasuh dalam tradisi dan nilai-nilai keagamamaan yang kuat. Dan awalnya pun mereka memulai kepemimpinan mereka dengan baik.

Sama seperti Saul yang mendapat dukungan kuat dari rakyat pada saat itu, Adolf Hitler didukung oleh rakyat Jerman yang mayoritas adalah Kristen Protestan (saat itu aliran Kristen Reformis karena pengaruh reformasi Gereja oleh Martin Luther) dan yang minoritasnya adalah Katholik Roma. Jadi Gereja berperan sangat besar dan menentukan untuk mendukung Adolf Hitler secara total sampai kepada puncak kepemimpinan pemerintahan Jerman saat itu. Semua menghormatinya sebagai pemimpin mereka sedemikian rupa hingga akhirnya Hitler dipuja bagai manusia setengah dewa. Dan dari sejarahnya kita semua sadar bagaimana sepak terjang kepemimpinan Hitler dan Nazi, bagaimana seorang Kristen "saleh" bisa membantai jutaan bangsa Yahudi, dan bahkan akhir kehidupan Hitler yang tidak jauh berbeda dengan akhir kehidupan Saul. Mengapa demikian?

Sadarilah Gereja, bahwa kitalah umat-Nya sebagai imamat yang rajani MENENTUKAN arah dan nasib sebuah bangsa, bahwa Tuhan tetap hendak berdaulat dalam segala perkara melalui kita sebagai Gereja-Nya. Dan Ia tetap berkehendak bahwa Gereja-Nya hidup mengandalakan Dia dan BUKAN mengandalkan kepemimpinan manusia. Tuhan sama sekali tidak berkeberatan dengan kepemimpinan manusia, itu sebabnya bahkan Ia menetapkan pemerintah-pemerintah untuk tetap menyandang pedang di wilayah kedaulatannya masing-masing. Namun Gereja tetap tidak boleh memandang dan mengandalkan kepemimpinan manusia di atas kepemimpinan Tuhan.

Gereja Pun Menyandang Pedang

"Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu." - Efesus 6:11-13

Bukan hanya pemerintah yang dimandatkan pedang oleh Allah, namun Gereja pun menyandang pedang Firman dan selengkap senjata yang ada. Namun peperangan Gereja bukan melawan darah dan daging, peperangan kita bukanlah manusia-manusia yang kelihatan secara fisik. Bukan cara ilahi untuk ikut berdemo bahkan secara anarki memberontak kepada pemerintahan yang ada. Sadarilah peperangan rohani itu nyata, dan lawan kita adalah roh-roh penguasa jahat di udara. Untuk inilah Gereja menyandang pedang yang berbeda namun dampaknya lebih nyata dan lebih berkuasa. Karena sementara pemerintah-pemerintah di dunia menyandang pedang dan berkuasa secara natural, Gereja menyandang pedang dan berkuasa secara supranatural. Dan kuasa supranatural Gereja yang berjalan dalam kehendak Kristus inilah yang dikehendaki Tuhan untuk berkuasa menentukan segala sesuatunya alih-alih mengandalkan kuasa yang hanya natural itu.

Jadi sekali lagi, di 2012 ini, bukan lagi masanya untuk menuding & menyalahkan pemerintah, ataupun sampai turun ke jalan, berdemo dengan segala keluhan dan sungut-sungut kepada pemerintah, bukan saatnya lagi untuk melakukan protes dengan mengganggu kepentingan umum, dan sebagainya hingga anarkis itu. Ini adalah masanya untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, berdoa, mencari wajah-Nya, berbalik dari jalan yang jahat dan mengejar kehendak-Nya yang sempurna supaya Tuhan mendengarkan & memperhatikan masalah-masalah yang kita hadapi, mengampuni dosa-dosa kita dan memulihkan bahkan mengangkat negeri kita untuk menjadi terang bagi dunia.

Saturday, March 3, 2012

Gereja Yang Memerintah, Gereja Yang Berdoa Vol.1

Jika sesuatu yang buruk terjadi pada negeri dan bangsa kita, jangan pernah menyalahkan pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini. Entah itu eksekutifnya, legislatifnya maupun yudikatifnya. Apapun bentuk pemerintahannya, entah presidensial, parlementer, maupun monarki, jika sesuatu yang buruk itu terjadi PASTI karena kita sebagai Gereja-Nya tidak cukup berdoa dan tidak memerintah secara spiritual dengan sungguh sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.

Sesuatu yang buruk terjadi dalam sebuah bangsa, bisa saja karena eksekutif maupun legislatifnya bahkan sampai terbukti bersalah secara hukum, namun yang paling BERTANGGUNG JAWAB adalah Gereja-Nya. Bukan presidennya, bukan kabinetnya maupun wakil rakyatnya, tapi Gereja-Nya. Bukankah Gereja-Nya adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib? (1 Petrus 2:9).

Sistem pemerintahan demokrasi yang paling banyak dianut oleh hampir semua negara di dunia memang menjadikan pemerintah bertanggung jawab kepada rakyat, namun dalam hal inipun Gereja bertanggung jawab kepada Tuhan! Dan ketahuilah bahwa tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. ... Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. (Roma 13:1-4)

Jadi bagaimanapun tindakan menentang dan mengutuk pemerintah adalah penentangan terhadap Allah sekalipun pemerintahan yang sedang berdaulat memiliki andil dalam berbagai masalah yang diderita oleh seluruh bangsanya. Penilaian Tuhan yang berkata bahwa Gereja-Nya yang bersalah adalah karena mentalitas umat-Nya yang lebih mengandalkan manusia (pemerintah dan wakil rakyat) daripada mengandalkan Tuhan. Padahal Firman-Nya jelas berkata, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! ... Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" - Yeremia 17:5-7. 

Ini sama sekali tidak berarti Gereja dan umat-Nya harus golput ataupun abstain setiap kali ada Pemilu ataupun Pilkada. Karena golput pun terjadi akibat dari mentalitas mengandalkan manusia yang kecewa dan masih mencari manusia lainnya untuk dianggap cakap di pemerintahan. Gereja tetap harus memilih dan menggunakan hak pilihnya dalam setiap kesempatan, namun hak tersebut digunakan SESUAI dengan kehendak-Nya yang sempurna, BUKAN sesuai dengan penilaian manusiawi Gereja itu sendiri. 

Eksekutifnya bisa saja sangat korup, legislatifnya bisa saja sangat bejad, yudikatifnya bisa saja sangat culas, dan bahkan rakyatnya bisa saja sangat kacau, namun Tuhan telah berjanji kepada kita, "Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." - 2 Tawarikh 7:14. Bukankah kita Gereja-Nya adalah umat-Nya yang atas kita nama-Nya disebut? Dan bukankah setelah kematian dan kebangkitan-Nya, sesungguhnya segala kuasa telah diserahkan kepada-Nya? (Matius 28:18). Maka dengan demikian tidak ada alasan apapun bagi Gereja untuk tidak bertanggung jawab apalagi sampai menyalahkan pihak lain terutama pemerintahnya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi menimpa bangsa dan negaranya.

Inilah saatnya bagi Gereja untuk mengambil kembali tanggung jawab tersebut dengan mencari wajah-Nya dan kehendak-Nya yang sempurna dan berdiri di antara Tuhan dan bangsa kita sebagai imamat yang rajani untuk membawa damai dan sejahtera supaya ketika Hari Tuhan akan datang, Ia tidak memukul bangsa kita (Maleakhi 4:6).

Tuesday, February 28, 2012

Saul - Umat Yang Terluka, Fatal Dan Binasa

Prolog: Letih

Raja Saul adalah seorang pria yang letih. Sejak awal tidak semua rakyat percaya kepadanya.
Saat ingin mendapatkan kepercayaan rakyat, malah kehilangan kepercayaan Tuhan.
Saat menyelamatkan raja Agag, malah mahkotanya dicopot oleh Tuhan.
Saat menang harusnya menjarah dengan kuat, malah rakyat disuruh puasa.

Hidupnya terasa selalu salah dan tidak pas. Mempersembahkan korban juga salah.
Menarik jubah Samuel malah merobeknya. Ah... terlalu dan selalu salah. Mengapa?

LUKA! ... Itu yang menyebabkan dia tak pernah maksimal bahkan tak bisa NORMAL.

Akibatnya jadi letih dan Tuhan pun letih dengan dia. Seorang yang luka akan mengacaukan semua yang di hidupnya. Karena itu jangan biarkan ada luka menganga di hidupmu. Penolakan rakyat membuat Saul luka. Jika ada yang menolakmu, jangan biarkan itu melukaimu. Daging seringkali frustrasi karena terlalu banyak yang diingini, tetapi tidak sesuai kehendak Tuhan dan akhirnya tidak mendapatkannya. 

Rancangan Yang Mulia Dari Tuhan Bagi Saul

"Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau." - 1 Samuel 10:6-7

Tuhan merancangkan hal yang luar biasa bagi Saul pada awalnya, namun kenyataannya dalam hidup Saul apa yang dilakukannya malah serba salah. Lama kelamaan dia frustrasi, marah dan memberontak, makin seperti itu di depan Tuhan makin salah lagi. Mengapa Saul bisa jadi seperti itu? Karena Saul punya satu kelemahan yang saat disentuh atau dididik, lukanya luar biasa dan tidak mau disembuhkan.

"Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa ... Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: 'Apa orang itu juga datang ke mari?' TUHAN menjawab: 'Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.' Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: 'Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.' Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: 'Hidup raja!' ... Tetapi orang-orang dursila berkata: 'Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!' Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli." - 1 Samuel 10:17-27

Saat Saul sudah dinubuati, lalu dibuang undi tetapi Saul malah bersembunyi di antara barang-barang. Saul mempunyai masalah rendah diri luar biasa dan tidak yakin akan dirinya karena tinggi perawakannya. Jadi kelainan fisiknya dibanding orang-orang di sekitarnya membuat jiwanya sangat minder. Orang yang minder sering menutupinya karena takut ditolak oleh orang lain, sehingga tidak nyaman berkumpul dengan orang-orang, orang seperti ini kalau dilukai dengan penolakan, maka lukanya akan terasa sakit sekali.

Inilah awal luka yg tidak pernah mau disembuhkan, yaitu ketika para dursila menghinanya. Cara Saul mengurusi kelemahannya dengan cara yang salah, pura-pura tuli, lukanya tidak pernah dibereskan atau diurusi, malah ditutupi seakan-akan tidak ada luka, tiap kali disentuh itu akan menimbulkan persoalan.

Kata "dilukai" dalam bahasa aslinya dicemari, seperti sumur yang diracun, maka air yang keluar dari sumur tersebut semuanya cemar, itulah mengapa apapun yang Saul perbuat menjadi error. Padahal Saul menerima janji Tuhan bahwa apapun yang diperbuatnya akan berhasil, tapi karena ada luka yang tidak pernah ditanggulangi maka semua yang dikerjakan jadi salah.

Saul pura-pura tuli, tapi penyakitnya masih ada, maka jiwanya mengejar sesuatu untuk menyembuhkan sendiri lukanya. Padahal seharusnya luka tersebut di bawa ke hadapan Tuhan untuk minta disembuhkan. Jiwa tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri, maka naluri jiwa akan melenceng ke arah yang salah. Jiwanya melenceng sehingga cenderung untuk mencari dukungan dan perkenan manusia (rakyatnya).

Berikut ini adalah berbagai peristiwa tindakan Saul yang selalu error karena jiwanya yang luka dan tidak pernah bersedia untuk disembuhkan:

1. "Saul berumur sekian tahun ketika ia menjadi raja; dua tahun ia memerintah atas Israel. Saul memilih tiga ribu orang dari antara orang Israel; dua ribu orang ada bersama-sama dengan Saul di Mikhmas dan di pegunungan Betel, sedang seribu orang ada bersama-sama dengan Yonatan di Gibea Benyamin, tetapi selebihnya dari rakyat itu disuruhnya pulang, masing-masing ke kemahnya. Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin yang ada di Geba; dan hal itu terdengar oleh orang Filistin. Karena itu Saul menyuruh meniup sangkakala di seluruh negeri, sebab pikirnya: "Biarlah orang Ibrani mendengarnya." Demikianlah seluruh orang Israel mendengar kabar, bahwa Saul telah memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin dan dengan demikian orang Israel dibenci oleh orang Filistin. Kemudian dikerahkanlah rakyat itu untuk mengikuti Saul ke Gilgal." - 1 Samuel 13:1-4

Awalnya Israel dikuasai Filistin, lalu Yonatan mengambil inisiatif untuk berperang dan menang, tetapi Saul yang meniup sangkakala untuk mengabarkan bahwa pihaknya telah menang supaya seluruh rakyat mengikuti Saul. Kekalahan Filistin yang menyakitkan malah terasa lebih menyakitkan lagi karena tindakan Saul tersebut sehingga membuat Israel makin dibenci orang Filistin. Jadi Saul memanipulasi kemenangan Yonatan untuk mendapat dukungan seluruh rakyat kepadanya.

2. "Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. Sebab itu Saul berkata: 'Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.' Lalu ia mempersembahkan korban bakaran." - 1 Samuel 13:8-9. 

Tiap kali rakyat meninggalkan Saul, dia panik dan lukanya menganga lagi. Dia mencoba menarik kembali simpati rakyat dengan mempersembahkan korban, namun bukan untuk Tuhan tetapi untuk manipulasi Tuhan, supaya rakyat kembali mendukung dia. Akhirnya Samuel datang dan memarahi Saul, karena mempersembahkan korban BUKAN wewenang Saul. Jadi Saul bahkan berani menyalahgunakan wewenang demi mendapat dukungan rakyatnya.

Mungkin luka kita beda dengan Saul tetapi bisakah kita mengenali luka terdalam dalam hidup kita? Kalau kita tidak membereskannya di hadapan Tuhan, luka tersebut akan menghancurkan diri kita sendiri.

3. "Ketika orang-orang Israel terdesak pada hari itu, Saul menyuruh rakyat mengucapkan kutuk, katanya: 'Terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku.' Sebab itu tidak ada seorangpun dari rakyat yang memakan sesuatu. ... Tetapi Yonatan tidak mendengar, bahwa ayahnya telah menyuruh rakyat bersumpah. Ia mengulurkan tongkat yang ada di tangannya dan mencelupkan ujungnya ke dalam sarang madu; kemudian ia mencedoknya ke mulutnya dengan tangan, lalu matanya menjadi terang lagi. ... Lalu kata Yonatan: 'Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini. Apalagi, jika sekiranya rakyat pada hari ini boleh makan dengan bebas dari jarahan musuhnya, yang telah didapatnya! Tetapi sekarang tidaklah besar kekalahan di antara orang Filistin.'" - 1 Samuel 14:24-30

Kecenderungan jiwanya mencari perkenan manusia dan hal itu Tuhan tidak suka. Dan kalau Tuhan tidak suka artinya dia keluar dari jalur anugerah-Nya, maka semua janji-Nya menjadi mandul dan tidak bisa digenapi. Padahal kalau kita disertai anugrah Tuhan, apapun yang disentuh akan menjadi luar biasa, seperti janda Sarfat, apapun yang ada di sekeliling kita bisa jadi mujizat saat disentuh. Jadi tidak perlu jauh-jauh karena miracle is in the house. Seperti pernikahan di Kana, anggur dari air yang ada di dalam rumah itu.

4. "Berkatalah Saul kepada Samuel: 'Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. ... Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak. Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: 'TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu. ... Tetapi kata Saul: 'Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu.'" - 1 Samuel 15:24-30

Kecenderungan jiwanya selalu ingin mencari penghormatan dan penerimaan rakyat atau manusia. Ada orang-orang yang ingin jadi sukses & kaya hanya untuk membuktikan pada orang lain maupun keluarganya bahwa dia bisa. Karena sebenarnya dulu pernah dihina sehingga ada luka di dalam. Ada orang yang suka pamer supaya tidak ada orang yang menghina lagi, karena dulu pernah terhina dan terluka. Pembuktian diri seperti itu ternyata salah, itu sebenarnya sebuah kesombongan yang mengerikan. Bagaimana kita bisa mendapat perkenanan & berkat Tuhan di tengah-tengah kesombongan yang begitu mengerikan? Mari minta kesembuhan dari Tuhan!

5. "Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong ... dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: 'Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.' Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: 'Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.' Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, ..." - 1 Samuel 18:6-10a

Dari orang yang dijanjikan Tuhan bahwa apapun yang disentuhnya akan jadi dan berhasil, akhirnya menjadi orang yang kerasukan roh jahat, hanya karena ada luka yang tidak mau diselesaikan. Perlu kejujuran hati kita sendiri, minta Tuhan tunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya, buka hati. Apakah masih ada kecenderungan-kecenderungan jiwa tertentu karena luka, selalu mengejar hal-hal tertentu yang membuat Tuhan tidak suka, yang akhirnya menyebabkan kita keluar dari jalur anugerah Tuhan. Karena begitu kita keluar maka semua janji Tuhan akan susah tergenapkan dalam hidup kita.

Thursday, February 16, 2012

Meminta Raja, Menolak Tuhan

"Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya:  'Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.' ... perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: 'Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. ... hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.'" - 1 Samuel 8:4-9

Apa ada yang salah dari permintaan bangsa Israel, hingga Samuel menjadi kesal karenanya? Apa yang dimaksud oleh semua tua-tua Israel saat itu dengan meminta sebuah jabatan raja, sebuah sistem pemerintahan kerajaan diberlakukan saat itu? Mengapa Tuhan memperhitungkan sebagai tindakan penolakan atas diri-Nya? Apakah jabatan raja dan sistem kerajaan itu bukan sesuatu yang alkitabiah dan bertentangan dengan kehendak Tuhan yang sempurna?

Cobalah baca dan renungkan Kitab Hakim-Hakim 19-21, saat itu tidak ada baik hakim maupun raja yang memerintah di Israel, Samuel pun belum ada. Namun keadaan Israel amat kacau dan mengerikan, semua hidup menurut aturan masing-masing. Keadaan zaman itu mungkin menjadi salah satu alasan tua-tua Israel meminta seorang raja kepada Samuel.

Dulu saya tidak memahami perbedaannya antara dipimpin oleh para hakim maupun dipimpin oleh para raja karena keduanya adalah manusia, namun mengapa ketika jabatan raja diminta untuk diadakan, Tuhan menilai hal itu sebagai tindakan penolakan atas diri-Nya? Sampai akhirnya Roh Kudus memberi pengertian begini; bangsa Israel sesungguhnya ingin mengambil alih kendali atas sistem pemerintahan yang ada karena pada zaman para hakim, semua hakim ditunjuk langsung oleh Tuhan. Ketika seorang hakim sudah sangat tua dan harus dicarikan penggantinya, maka bangsa Israel harus menantikan petunjuk Tuhan melalui para imam untuk menunjuk hakim atau pemimpin yang berikutnya. Dan jika saat itu Tuhan tidak berkeinginan untuk adanya seorang hakim hadir maka hal itu bisa saja terjadi dan pernah terjadi dan sangat menakutkan bagi mereka yang lebih menyukai mengandalakan manusia daripada mengandalkan Tuhan.

Sementara dengan adanya sistem kerajaan, rakyat dengan mudah mengetahui siapa yang berikutnya akan menjadi pemimpin mereka ketika raja yang sedang memerintah sudah mendekati umurnya untuk wafat. Biasanya seorang putra mahkota telah dipersiapkan di antara putra-putra raja yang ada saat itu. Jadi mereka tidak perlu bertanya-tanya, tidak perlu untuk resah menantikan para imam untuk memperoleh petunjuk dari Tuhan karena sudah ada "kepastian" yang manusiawi yang menggantikan "ketegangan" yang ilahi untuk hal tersebut. Dengan mengetahui siapa yang berikutnya akan memimpin, minimal mereka akan memiliki gambaran seperti apa dan bagaimana keadaan bangsanya di tangan pemimpin yang berikutnya. Jika seorang putra mahkota dinilai saleh sejak mudanya, tentu ada ketentraman yang timbul ketika masa transisi terjadi. Begitu pula sebaliknya.

Jadi, sudahkah Anda menangkap semua maksud mereka itu? Mengapa sampai Samuel kesal? Mengapa sampai Tuhan mengatakan bahwa Ia ditolak seperti dulu ketika mereka baru keluar dari Mesir juga menolak Tuhan? Bangsa Israel menolak gaya Tuhan yang penuh misteri untuk memimpin mereka. Mereka lebih suka mencari jalan yang sesuai dengan kehendak mereka sendiri daripada mencari kehendak Allah yang sempurna. Dan sesungguhnya baik jabatan raja maupun sistem kerajaan adalah alkitabiah. Bukankah Sorga dan kediaman-Nya disebut Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah?

Ketahuilah bahwa konsep sistem kerajaan adalah konsep sorgawi, sama halnya dengan konsep kehidupan pernikahan. Rasul Petrus menuliskan, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" - 1 Petrus 2:9. Namun yang dimaksud Tuhan adalah mentalitas kita yang lebih menginginkan kendali atas segalanya daripada Tuhan yang memegang kendalinya.

Sunday, July 3, 2011

Ketepatan Daud: Roh, Jiwa dan Tubuh

Bahan renungan: 1 Samuel 19:17-24; 20:1-17; 21:1-10

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Setelah kita menjalani semua yang harus dijalani dalam Pesta Raja-Raja yang baru saja dimulai dan lebih memahami apa DESTINY kita di dalam Kristus, tentu Si Jahat tidak akan tinggal diam. Akan ada begitu banyak serangan dan tantangan dari berbagai pihak yang menentang dan bertentangan dengan kehendak Raja di atas segala raja. Hal ini pernah dialami oleh hamba-Nya, Daud. Ketika ia harus melarikan diri dari Saul. Namun Daud mengerti apa-apa saja yang harus dilakukan dalam ketepatan karena sikap hatinya yang benar. Berikut ini tindakan-tindakan Daud tersebut:
  • Ketika Daud mulai melarikan diri, orang pertama yang langsung ditemuinya ialah Samuel. Inilah ketepatan yang pertama sekaligus yang utama, karena Samuel yang paling memahami secara utuh apa destiny Daud. Demikian juga kita, pihak pertama dan utama yang harus kita temui ialah Roh Kudus, karena Dialah yang paling memahami apa destiny kita. Ketepatan Daud dalam menemui Samuel lebih dahulu menghasilkan pertolongan Tuhan yang sedemikian mengagumkan. Tiga kali Saul mengirim orang-orang suruhannya, namun semuanya dilawat Roh Allah. Bahkan ketika Saul sendiri pergi menemuinya, Roh Allah tetap menguasai dan mempermalukan Saul, sampai orang berkata: "Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?" Dalam menghadapi tekanan, Daud bertindak tepat pada level roh.
  • Hal kedua yang dilakukan Daud adalah menemui sahabat sejatinya, Yonatan. Setelah pada level roh, Daud dikuatkan, maka untuk menguatkan jiwanya, Daud menemui orang yang paling memahami dan mengasihi bahkan memiliki ikatan jiwa dengannya. Pertemuannya dengan Yonatan merupakan bentuk ketepatan yang kedua. Daud bukan sekedar datang kepada orang yang memahaminya, namun juga orang yang mengasihi, mendukung dan menjaganya. Yonatan adalah gambaran dari saudara-saudari seiman kita. Mereka yang sepakat, sehati dan sederap dengan apa yang Tuhan sudah mulai dan terus menyelesaikan hingga genap sempurna. Kasih persaudaraan kita di dalam Kristus harus sedemikian rupa seperti Daud dan Yonatan supaya kita terus dikuatkan hingga semuanya dituntaskan.
  • Dan Daud pergi ke Nob, dan Daud memperoleh dua hal. Yang satu adalah makanan untuk menguatkan tubuhnya, yang lainnya adalah senjata - pedang Goliat. Nama tempat Nob artinya high places to worship, dan sesuai arti namanya, Daud tidak mencari ke tempat lain bahkan untuk keperluan tubuhnya. Walaupun Daud telah menemui Samuel & Yonatan, namun Daud masih merasakan tekanan yang sedemikian besar. Setelah takdirnya diteguhkan Samuel dan jiwanya mendapat penghiburan dari Yonatan, Daud mencari seorang imam untuk memperoleh kekuatan lainnya. Walaupun Daud menyampaikan banyak kebohongan kepada Ahimelekh, namun ia tidak pergi kepada pihak yang salah. Ia mengetahui kemana ia harus pergi. Demikian juga kita, dalam menghadapi masalah apapun, kita harus mencari high places to worship, sehingga kita kuat menyelesaikan panggilan kita sampai garis akhir dengan kuat.

Friday, April 8, 2011

Roman 3 Raja

Bahan Renungan: Kitab Samuel; Kitab 1 Raja-raja

Sejarah Kerajaan Israel dikenal dengan salah satunya dengan 3 raja mula-mula, Raja Saul, Raja Daud dan Raja Salomo. Uniknya adalah masing-masing memerintah sama persis 40 tahun. Namun kali ini kita akan membahas perbedaan masing-masing raja tersebut.

Raja Saul

Mulai disebutkan namanya di pasal 9 kitab pertama Samuel. Seorang yang elok rupanya, bahkan yang terelok di antara para Israel saat itu. Saul juga taat dan sayang pada orang tuanya. Dia dipilih sebagai raja atas Israel atas restu Tuhan melalui nabi Samuel. Ini sungguh sebuah awal yang sangat baik. Namun semuanya itu hanya berlangsung 2 tahun saja. Suatu ketika sebuah ujian atas kesetiaan melalui benturan dengan bangsa Filistin, Saul lebih mendengar rakyatnya daripada perintah Tuhan. Kelemahannya untuk tidak pernah bisa menerima harga dirinya direndahkan dan sifatnya yang pendendam menjadi malapetaka besar bagi hidupnya.

Setelah kesalahan besar tersebut, Tuhan masih memberi kesempatan kedua saat penumpasan total orang Amalek. Tuhan menghendaki semua ditumpas tanpa terkecuali. Namun Saul menyayangkan ternak Amalek yang bagus bahkan raja Agag yang seharusnya dibunuh malahan ditawan hidup-hidup. Semuanya dilanggar Saul karena tidak mampu mengatasi kelemahannya dan begitu rupa memprioritaskan hormat manusia daripada mentaati Tuhan. Karena hal ini bahkan Alkitab mencatat betapa menyesalnya Tuhan telah menjadikan Saul sebagai raja. Padahal di kemudian hari raja Agag menjadi moyang dari seorang pembenci Israel yang bernama Haman bin Hamedata di zaman ratu Ester.

Akhir hidup Saul begitu tragis, karena takut kalah dalam berperang dan tidak mampu menerima dirinya sebagai pecundang maka dia membunuh dirinya sendiri di medan pertempuran. Dan kita ketahui semua bahwa akhir hidup yang demikian hanya mengantarkan dia kepada neraka yang kekal. Takhta kerajaan akhirnya harus berpindah tangan, bukan saja tidak dilanjutkan oleh kaum keluarganya bahkan kaum sesukunya. Yehuda diangkat Tuhan menggeser Benyamin.

Raja Daud

Mengawali hidup sebagai anak "yang ditirikan" bahkan konon merupakan "anak haram" antara Isai dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Namun sejak semula mengisi seluruh hidupnya dengan cinta akan Tuhan melalui berbagai mazmur dan nyanyian yang begitu memberkati banyak orang bahkan banyak bangsa sampai saat ini. Setelah diurapi nabi Samuel menjadi raja menggantikan Saul, karir pertamanya sebagai tentara kerajaan yang sangat fenomenal itu adalah mengalahkan dan memenggal kepala Goliat, pahlawan Filistin.

Berbagai kemenangan di medan pertempuran terus berlanjut menghiasi karir militernya, hingga suatu saat ketika para biduanita begitu memuja-muji Daud dan membanding-bandingkan dengan Saul, Saul menjadi begitu meluap dalam amarah dan berikhtiar untuk membunuh Daud. Namun Daud bukanlah pendendam seperti Saul, dua kali Daud melepaskan Saul dalam dua kesempatan berbeda. Padahal hari itu semua orang yang besertanya memohon kepada Daud untuk membunuh Saul. Bahkan ketika Saul mati, Daud begitu menangisi kematiannya. Menurut protokoler kerajaan, Yonatan yang seharusnya menjadi raja menggantikan Saul, dan Daud bukan saja takkan merebut takhta tersebut bahkan begitu mengasihi Yonatan. Karena kasihnya, hingga Tuhan harus membiarkan Yonatan terbunuh di medan pertempuran dan Daud memiliki jalan sebagai raja Israel.

Kesalahan keji pun pernah dilakukan ketika Daud telah menjadi seorang raja. Mengambil istri Uria dan membunuh suaminya untuk menutupi kesalahan tersebut. Namun begitulah orang yang memiliki hati yang lemah lembut, ketika teguran keras di depan umum datang dari nabi Natan, Daud memilih untuk bertobat dan menerima segala akibat perbuatannya dengan kerelaan. Begitu pula ketika terjadi perselisihan hebat dengan anaknya sendiri, Absalom, Daud memilih untuk menyingkir dan merelakan Tuhan turun tangan beperkara atas segalanya. Absalom yang meninggal dalam aksi kudeta melawan ayahnya malahan kematiannya ditangisi Daud secara mendalam. Dalam segala perkara, baik suka, baik duka, baik kemenangan maupun teguran hebat dari Tuhan, reaksi raja Daud hanya bermazmur. Hati yang bermazmur inilah yang menyukakan hati Tuhan.

Catatan penting mengenai silsilah Tuhan Yesus pada kitab Injil Matius pasal 1 hanya mencantumkan satu kali jabatan "raja" yaitu Daud di antara para raja Yehuda dan Israel yang pernah ada. Dan selama pelayanan Tuhan Yesus di dunia, Beliau hanya berkenan disebut Yesus, anak Daud. Demikian kita pahami betapa Daud begitu berkenan di hadapan-Nya.

Raja Salomo

Inilah raja pertama yang lahir di istana kerajaan. Memperoleh segala warisan kemuliaan dari ayahnya. Keberadaannya sebagai raja bahkan lebih mengundang decak kagum daripada Daud. Begitu juga segala hikmat, kepandaian dan pengertiannya masih berpengaruh dan menjadi inspirasi bagi dunia sampai sekarang. Segala hormat dan kemuliaan diperolehnya dari begitu banyak kerajaan. Dan di bawah kuasanya, Israel menjadi begitu kaya dan sangat berlimpah. Di zamannya emas bernilai seperti batu karena kekayaan yang diterima begitu luar biasa.

Namun begitulah sifat manusia yang tidak mampu menerima segala hormat dan kemuliaan yang sedemikian besar, Salomo yang pernah beramsal untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan bahkan jatuh juga dalam penyembahan berhala. Walau pada akhir hidupnya beliau bertobat dan menyesali segala kesalahannya, namun pertobatannya tidaklah seindah dan sejujur ayahnya, Daud. Tiliklah kitab Pengkotbah dengan teliti, perhatikan gaya dan tuturnya dan bandingkan dengan Mazmur Daud.

Di penghujung hidup raja Salomo berkata, "Semuanya sia-sia." Sedangkan raja Daud menutup dengan menyebut dirinya, "Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang manis di Israel"

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.