Labels

Showing posts with label Daud. Show all posts
Showing posts with label Daud. Show all posts

Tuesday, March 13, 2012

Sebelum Menjadi Pembunuh Raksasa

"Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: 'Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.' Tetapi jawab Daud: 'Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!' Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi." - 1 Samuel 17:38-40

Daud sesungguhnya tidak melawan Goliat, karena sesungguhnya yang melawan Goliat adalah Tuhan. Namun Daud memiliki lawannya sendiri sebelum bersama Tuhan menghabisi Goliat, dan lawan Daud yang sesungguhnya adalah Eliab, kakaknya sendiri. Perkataan Eliablah yang menyerang iman Daud untuk menghadapi Goliat dan Daud berhasil menaklukkan tuduhan Eliab. Jika Daud tidak mampu menang terhadap tuduhan Eliab, tidak akan mungkin Daud berani maju menghadapi Goliat.

Dan bagaimanakah Daud dapat menaklukkan tuduhan Eliab? Yaitu dengan menggembalakan kambing dombanya yang dua tiga ekor itu. Daud menggembalakan tidak dengan asal-asalan, namun dengan segenap hatinya. Ketika singa dan beruang mengancam, ia mempertaruhkan nyawanya untuk kambing domba yang dua tiga ekor itu.

Dari dari manakah kekuatan menaklukkan singa dan beruang itu? Yaitu dari pergaulan dan pengenalan akan Tuhan. Inilah yang tidak diketahui Eliab dan karena itu Eliab menuduh. Jadi tidak adanya pengenalan akan Tuhan, akan menjadikan seorang percaya menjadi penuduh yang handal. Sedangkan dia yang mengenal akan Tuhan dengan dalam, hanya fokus dengan apa yang menjadi bagiannya dan tidak memusingkan apa kata orang.

Kita dipersiapkan untuk menjadi pembunuh raksasa dan penakluk dunia dengan jalan memiliki pergaulan dan pengenalan akan Tuhan sehingga apapun dan siapapun Goliat kita saat ini, tidak akan pernah menjadi masalah yang berarti.

Disadur dari www.elijahlist.com oleh Victoria Boyson - Speaking Life Ministries

Wednesday, August 3, 2011

Jurnal SHRK Agustus 2011 - Hari ke-2

Yesus Kristus Sebagai Anak Daud

Bahwa Yusuf (suami Maria) disebut anak Daud oleh malaikat Tuhan sendiri (Matius 1:20). Hal ini untuk menunjukkan secara fisik bahwa Yusuf dan pada akhirnya Yesus Kristus adalah keturunan dari garis yang dijanjikan Allah akan adanya Mesias.

Tidak semua orang percaya, apalagi memahami perkara bahwa Yesus Kristus adalah anak Daud. Kisah di Matius 13:53-58 menjelaskan alasan yang amat ironis ketika Tuhan Yesus ditolak di tempat asal-Nya. Ketika banyak orang asing begitu menantikan-Nya dengan penuh harap, di tempat asal-Nya banyak yang kecewa sehingga menolak Dia. Bagi mereka, Yesus Kristus tidak lebih daripada anak seorang tukang kayu. Dan karena yang dipercaya hanya identitas-Nya sebagai anak tukang kayu, sebagaimana itu juga terjadi sesuai dengan iman mereka.

Namun di tempat lain, ada orang-orang yang diinspirasi oleh Roh Allah sendiri akan identitas Yesus Kristus sebagai anak Daud. Sekian pasal kemudian setelah penolakan di Nazaret, dua orang buta di dekat kota Yerikho menerima inspirasi Roh Allah tersebut dengan berteriak-teriak, "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" - Matius 20:29-34. Sebagai balasan-Nya, Yesus menanggapi mereka dengan berkata, "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Dan permintaan mereka supaya dapat melihat dikabulkan dalam belas kasihan-Nya.

Perhatikan tanggapan Yesus, setelah kedua orang buta tersebut menyebutnya sebagai anak Daud. Tidakkah Yesus menanggapi sesuai dengan iman mereka, menanggapi sebagai orang yang sangat berkuasa dan berkemampuan / memiliki otoritas yang sangat kuat. Sebab kalimat "tantangan" yang dilontarkan Yesus hanya bisa disampaikan jika orang tersebut mampu melakukan "segalanya". Atau pendek kata, kedua orang buta tersebut memperlakukan Yesus sebagai Raja, dan BUKAN sebagai anak tukang kayu. Karena identitas Daud disebut untuk menekankan identitasnya sebagai raja, seperti yang diakui firman Tuhan sendiri. Cermatilah silsilah Yesus Kristus di Kitab Injil Matius pasal 1. Dari Abraham hingga Yusuf, suami Maria, ada sederet nama-nama raja Yehuda & Israel. Namun hanya Daud yang gelar rajanya disebutkan. "Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria." - Matius 1:6.

Persamaan Daud dengan Yesus Kristus

Seseorang disebut anaknya seseorang yang lain biasanya karena ada kemiripan yang nampak antara dia dengan orang tuanya. Jika anaknya dikenal buruk, tentu orang akan bertanya siapakah ayahnya. Dan ketika orang mengetahui bahwa ternyata ayahnya mantan gembong kejahatan, maka pahamlah orang-orang alasan di balik semuanya itu. Begitu juga sebaliknya.

Namun cobalah renungkan, apa yang dihitung dari Yesus Kristus sehingga Ia disebut anak Daud. Bagaimana seorang Mesias disebut anak Daud? Apa yang dihitung sama di antara keduanya? Cermati beberapa kalimat ini dalam Mazmur pasal 22:
  • Ayat 2 dan 3 - "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang."
  • Ayat 8 dan 9 - "Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: 'Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?'"
  • Ayat 17 - 19 - "Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku."
Untuk kapankah Mazmur Daud ini ada? Bukankah Mazmur ini menubuatkan apa dan bagaimana penderitaan Kristus di Golgota? Jadi apakah persamaan yang diperhitungkan antara Daud dengan Yesus Kristus? "Golgota" Daudlah yang dihitung sebagai identitas Kristus sebagai anak Daud. Bahkan dalam ayat 15 dikatakan, "Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku." Gambaran hati seperti lilin (jenis wax, bukan candle) yang mudah luluh hanya dengan terkena sedikit panas, adalah gambaran hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Dan belas kasihan inilah yang mendatang demonstrasi kuasa Allah yang dahsyat dalam berbagai perkara.

Yesus sebagai Raja yang penuh otoritas memperoleh segala kemuliaan secara utuh ketika Ia telah melalui semua Golgota secara total. Pola yang sama bagi kita yang memiliki destiny sebagai generasi penakluk dunia, juga harus mengalami Golgota kita hingga genap sesuai dengan kehendaknya. Sama seperti pengakuan rasul Paulus, "Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus." - Galatia 6:17. Demikian juga kita harus memiliki tanda-tanda sah melalui Golgota kita masing-masing supaya terhisap dalam pohon kehidupan Yesus Kristus.

Sunday, July 3, 2011

Ketepatan Daud: Roh, Jiwa dan Tubuh

Bahan renungan: 1 Samuel 19:17-24; 20:1-17; 21:1-10

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Setelah kita menjalani semua yang harus dijalani dalam Pesta Raja-Raja yang baru saja dimulai dan lebih memahami apa DESTINY kita di dalam Kristus, tentu Si Jahat tidak akan tinggal diam. Akan ada begitu banyak serangan dan tantangan dari berbagai pihak yang menentang dan bertentangan dengan kehendak Raja di atas segala raja. Hal ini pernah dialami oleh hamba-Nya, Daud. Ketika ia harus melarikan diri dari Saul. Namun Daud mengerti apa-apa saja yang harus dilakukan dalam ketepatan karena sikap hatinya yang benar. Berikut ini tindakan-tindakan Daud tersebut:
  • Ketika Daud mulai melarikan diri, orang pertama yang langsung ditemuinya ialah Samuel. Inilah ketepatan yang pertama sekaligus yang utama, karena Samuel yang paling memahami secara utuh apa destiny Daud. Demikian juga kita, pihak pertama dan utama yang harus kita temui ialah Roh Kudus, karena Dialah yang paling memahami apa destiny kita. Ketepatan Daud dalam menemui Samuel lebih dahulu menghasilkan pertolongan Tuhan yang sedemikian mengagumkan. Tiga kali Saul mengirim orang-orang suruhannya, namun semuanya dilawat Roh Allah. Bahkan ketika Saul sendiri pergi menemuinya, Roh Allah tetap menguasai dan mempermalukan Saul, sampai orang berkata: "Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?" Dalam menghadapi tekanan, Daud bertindak tepat pada level roh.
  • Hal kedua yang dilakukan Daud adalah menemui sahabat sejatinya, Yonatan. Setelah pada level roh, Daud dikuatkan, maka untuk menguatkan jiwanya, Daud menemui orang yang paling memahami dan mengasihi bahkan memiliki ikatan jiwa dengannya. Pertemuannya dengan Yonatan merupakan bentuk ketepatan yang kedua. Daud bukan sekedar datang kepada orang yang memahaminya, namun juga orang yang mengasihi, mendukung dan menjaganya. Yonatan adalah gambaran dari saudara-saudari seiman kita. Mereka yang sepakat, sehati dan sederap dengan apa yang Tuhan sudah mulai dan terus menyelesaikan hingga genap sempurna. Kasih persaudaraan kita di dalam Kristus harus sedemikian rupa seperti Daud dan Yonatan supaya kita terus dikuatkan hingga semuanya dituntaskan.
  • Dan Daud pergi ke Nob, dan Daud memperoleh dua hal. Yang satu adalah makanan untuk menguatkan tubuhnya, yang lainnya adalah senjata - pedang Goliat. Nama tempat Nob artinya high places to worship, dan sesuai arti namanya, Daud tidak mencari ke tempat lain bahkan untuk keperluan tubuhnya. Walaupun Daud telah menemui Samuel & Yonatan, namun Daud masih merasakan tekanan yang sedemikian besar. Setelah takdirnya diteguhkan Samuel dan jiwanya mendapat penghiburan dari Yonatan, Daud mencari seorang imam untuk memperoleh kekuatan lainnya. Walaupun Daud menyampaikan banyak kebohongan kepada Ahimelekh, namun ia tidak pergi kepada pihak yang salah. Ia mengetahui kemana ia harus pergi. Demikian juga kita, dalam menghadapi masalah apapun, kita harus mencari high places to worship, sehingga kita kuat menyelesaikan panggilan kita sampai garis akhir dengan kuat.

Thursday, June 9, 2011

Jurnal SHRK Juni 2011 - Hari ke-3 Vol. 2

Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: "Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia." - 1 Samuel 16:18

Daud - Memiliki sayap dengan melakukan lebih dari yang diminta / diharapkan tanpa pernah memilih pekerjaan / tanggung jawab yang ada. Saat itu Tuhan telah menolak Saul dan Roh-Nya telah undur dari pada Saul. Akibatnya Saul sering diganggu roh jahat dan untuk memperoleh kelegaan dari gangguan roh jahat dibutuhkan seorang yang pandai bermain kecapi. Dan pada saat itu pemain kecapi masih sangat jangan, indikasinya adalah karena Saul memerintahkan untuk dicarikan, jika pemain kecapi mudah dicari, tentu di istananya sudah ada minimal seorang pemain kecapi yang handal. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Daud adalah seorang yang bukan saja tangkas dan handal, namun setia dalam perkara-perkara kecil. Ia rela menjadi gembala, walau saat itu profesi seorang gembala dipandang sebagai profesi rendahan, namun dijalaninya dengan sukacita dan sepenuh hati. Keperkasaannya saat melawan singa dan beruang dalam menjalani profesinya sebagai seorang gembala menjadikan Daud dikenal sebagai seorang prajurit dan bahkan pahlawan yang gagah perkasa. Padahal saat itu, Daud belum pernah bertemu dengan Goliat.

Selain menjadi gembala dan pemain kecapi, Daud juga seorang penari. Bagi seorang laki-laki di Timur Tengah, menari bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan. Namun Alkitab hanya mencatat istilah "seperti Daud menari" dan bukan seperti orang lain. Hal ini karena Daud melakukan segala sesuatu dengan segenap hati untuk Tuhan. Daud berani melakukan hal-hal benar dan yang orang lain tidak mau lakukan. Oleh karenanya, permainan kecapi dan tarian menjadi begitu dikenal di kalangan orang-orang Israel.

Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku. - Amsal 8:17

Salomo - Memiliki sayap dengan mencintai dan mengejar hikmat lebih dari siapapun. Hikmat adalah Tuhan Yesus sendiri. Dan untuk menerima dan mengelola semua yang Tuhan janjikan bagi kita dibutuhkan hikmat yang begitu besar, supaya apapun yang Tuhan percayakan tidak menjadi sia-sia, namun menjadi berkat bagi banyak bangsa.

Jurnal SHRK Juni 2011 - Hari ke-3 Vol. 1

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. - Yohanes 20:16

Peristiwa ketika Maria Magdalena berdiri dekat kubur dan menangis di hari ke-3 setelah Tuhan Yesus dikubur. Maria telah melihat dua orang malaikat, bahkan melihat Tuhan Yesus, namun tidak mengenali-Nya. Dua kali Tuhan Yesus bertanya akan alasan Maria menangis dan siapa yang sedang dicari, Maria masih belum menyadari. Namun ketika Tuhan Yesus memanggil namanya, sesaat kemudian sadarlah Maria. Sebab hanya Dia yang memanggil Maria sedemikian rupa, dan hal ini terjadi karena adanya persahabatan dan keintiman antara Maria dengan Tuhan Yesus. Adakah kita menjalin persahabatan dan keintiman sedemikian rupa? Pernahkah Tuhan memanggil nama kita secara pribadi saat kita berinteraksi dengan-Nya?

Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. - Yehezkiel 37:24, berbicara tentang Kerajaan Israel dan Yehuda yang dipersatukan kembali.

Nabi Yehezkiel ada pada zaman sekitar 400 tahun setelah raja Daud, namun nabi Yehezkiel mampu melihat masa depan bersama dengan Tuhan. Masa depan akan bersatunya kembali Kerajaan Israel dan Yehuda di bawah kepemimpinan raja Daud di masa yang akan datang. Sampai saat ini firman nubuatan ini belum digenapi seutuhnya. Kristus yang adalah Daud yang sesungguh memang telah merampungkan tugas penebusan, namun pemulihan dan pembebasan bangsa Israel secara fisik akan terjadi pada zaman Kerajaan Seribu Tahun.

Keberadaan sayap-sayap rohani dan kemampuan kita terbang dipengaruhi dari cara dan kemampuan kita menangkap kehendak Tuhan dan kerinduan untuk melakukannya dalam hidup kita. Beberapa tokoh / pahlawan iman lainnya:

Samuel - Memiliki sayap dengan selalu memilih bereaksi yang benar sehingga memperoleh keuntungan yang besar dalam setiap keadaan / kesempatan. Dan mengenai hal ini bahkan bangsa Israel memberikan kesaksian yang meneguhkan saat Samuel minta diri dari bangsa itu (1 Samuel 12:3-4, 23). Samuel memiliki segudang alasan untuk menjadi marah, kecewa dan bereaksi yang salah dalam berbagai peristiwa hidupnya:
  • Samuel memiliki alasan untuk kecewa dan marah karena sejak kecil ia tidak lagi tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, melainkan tinggal di dalam Bait Allah di bawah pengawasan imam Eli saat itu. Ini sama sekali berbeda dengan masa kanak-kanak lainnya dimana anak-anak lain mendapat kasih sayang orang tua mereka sepenuh waktu seperti pada umumnya. Namun Samuel tetap setia mengabdi kepada Tuhan.
  • Samuel dibesarkan bersama dengan anak-anak dursila dari imam Eli, Hofni dan Pinehas, yang begitu keji dan mengerikan. Namun  hal ini juga tidak menjadikan Samuel mengikuti aksi jahat anak-anak imam Eli itu. Samuel tetap menjaga kehidupannya di hadapan Tuhan.
  • Ketika Tuhan mencurahkan segala "uneg-uneg"-Nya atas semua yang terjadi dari keluarga imam Eli, Samuel tidak surut menaruh hormat yang sepantasnya kepada imam Eli. Dia tidak memandang rendah atau bersikap kurang ajar walau semua keburukan keluarga imam Eli diketahuinya bahkan dari Tuhan sendiri. Sikap ini agaknya jarang didapati ketika para bawahan mengetahui kebobrokan atasannya dalam berbagai organisasi termasuk di dalam gereja.
  • Bangsa Israel meminta seorang raja dan sesungguhnya ini sama dengan menolak kepemimpinan Samuel, namun Samuel tetap setia melayani Tuhan dan tetap mencari kehendak-Nya untuk mengetahui orang yang tepat yang Tuhan inginkan untuk menjadi raja atas Israel saat itu.
  • Dan ketika Saul, orang yang dipilih Tuhan pertama kali untuk menjadi raja, memberontak dan mendukakan Tuhan, Samuel tidak menjadi marah terhadap Tuhan dan menyalahkan Tuhan atas pilihan-Nya memilih Saul. Sebaliknya Samuel bereaksi tetap memihak kepada Tuhan daripada egonya sendiri. Perhatikan bagaimana reaksi Tuhan ketika Saul melanggar untuk yang kedua kalinya secara fatal, bahwa Tuhan MENYESAL karena telah menjadikan Saul sebagai raja. Bahkan hati Samuel ikut sakit (1 Samuel 15:11). Namun ketika menghardik Saul, Samuel berkata bahwa Tuhan tidak berdusta dan tidak tahu menyesal, sebab Tuhan bukan manusia yang harus menyesal (1 Samuel 15:29). Dapatkah kita melihat bagaimana Samuel begitu menghargai perasaan dan kedaulatan Tuhan dengan sedemikian dalam? Dapatkah kita memahami keintiman Samuel terhadap Tuhan?
Bersambung...

About Windunatha

My photo
An ENTP Person. Saksi Terakhir Sebelum Segalanya Berakhir. One Of The Remnant In The Last Days.